I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 22



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"EMAIL-NYA UDAH MASUK BRO. THANK YOU YA!" lewat sambungan telepon Sean melantunkan ucapan terima kasih kepada sahabatnya Nino. Untung saja ada Nino di apartemennya.


Dengan begitu Sean tidak perlu sampai buang-buang tenaga lagi untuk kembali ke apartemennya dan mengambil laptopnya yang ketinggalan.


“Kayaknya malam ini gue masih nginap di rumah bokap nyokap, No. Besok pagi gue langsung start ke RS dari sini. Lo anggap aja apartement gue sebagai apartement lo sendiri ya. Nggak usah sungkan. Di dalam freezer juga ada makanan beku, lo tinggal masak aja. Tapi ingat satu hal, syarat dan ketentuan masih berlaku yah!"


"Udah kayak promo provider aja lo pakek syarat dan ketentuan segala," pria di seberang sana membuat kepalanya menggeleng lebih kepada tidak habis pikir sama kelakuan sahabatnya. "gue nggak akan masukin cewek ke dalam apartement lo kok. lo tau gue kan?!"


"ok gue percaya sama lo, No! trus hubungan lo sama Salsa gimana? kalian udah baikan kan?"


"Belum. Dia masih marah sama gue Vin. Tapi tadi sore sih dia udah bales pesan gue, ya... walaupun cuma singkat doang. Tapi gue pikir udah ada perubahan kok sama sikapnya, udah nggak sedingin yang kemarin. Mungkin besok atau lusa kita baikan lagi."


"Oh, Syukur deh. gue turut seneng dengernya, semoga cepet baikan deh. seenggaknya pas gue balik ke apartement gue udah nggak liat muka lo yang lagi ngecosplay jadi Donald bebek!" cibir Sean.


"Sialan lo! Awas aja yah, tar gue geprek kepala lo pas ketemu!"


"Lah, emang bener kan? Waktu itu gue sampe nahan ketawa liat lo datang-dateng ke apartement dengan muka yang semerawut."


"Sean! Makan malamnya udah siap nih," di tengah-tengah kesibukan Sean yang kala itu sedang melakukan interaksi verbal via telepon dengan sahabatnya, suara dari lantai bawah-lebih tepatnya suara ibunya menyerukan perintah untuk makan malam terdengar. "Ya udah deh, nyokap gue udah manggil. tanda makan malem udah siap" Sean memutuskan sambungan telepon secara sepihak, "Iya... Tunggu bentar Bu," ujarnya meninggikan suara, namun tetap terkesan lembut.


Karena saat itu dia baru selesai mandi dan baru sempat memasang celana boxer, dia pun bergegas ke lantai bawah tanpa mengenakan kaos. Pria itu mempertontonkan aset perut kotak-kotaknya yang mirip papan penggilasan.


'Anjrit! kaget gue! Ck... ngapain sih dia disini?' kaget Sean saat memijakkan kaki di dapur. Sean pikir di meja makan hanya ada Ayah dan Ibunya saja seperti yang biasanya. Namun ternyata, di luar dugaan ternyata di meja makan juga ada Rubina.



"Kenapa kamu telanjang dada sih?" Tanya Marisa kepada putranya yang baru saja datang. Secara tidak langsung pertanyaan yang diucapkannya kala itu berhasil menjadikan Sean sebagai sumber perhatian semua orang. Termasuk Rubina yang jadi salah tingkah sendiri menyaksikan roti sobek milik Sean yang dipertontonkan.



'****! gue lupa ga pake baju lagi!?'


Dibilang kesal tentu saja dia mengakuinya lantaran gadis yang sedang berbaur bersama keluarganya itu adalah manusia yang sangat terobsesi dengan dirinya. Sejurus kemudian Alvin sudah balik badan disusul mengambil langkah cepat kembali ke kamarnya.


'Cih... Dia pikir gue bakalan mempertontonkan aset gue ini lebih lama apa? Enak aja!nggak semudah itu ya Rubina Henney Wiriawan!'


'Whaaaattt?? Apaan tuh tadi? Thank's God, nikmat mana lagi yang kau distakan... ga sia-sia gue disini, liat seauatu yang--- Aaaarrrggjhhttt, pengen gue pegang Ya Lord' batin Rubina berteriak.


'Emang ya, akhir-akhir ini gue kayak dikasih banget banyak keberuntungan yang beruntun!' lanjutnya masih dalam batin. Rasanya ingin memekik dengan gemas tapi untuk saat ini Rubina menyadari itu tidaklah mungkin. Sekarang dia sedang bersama dengan calon mertuanya, eh ralat, maksudnya dia sedang bersama orangtua Sean.


Dia memberikan dorongan semangat untuk dirinya sendiri.


Di kamarnya Sean menampilkan raut muka perpaduan antara kesal dan marah. Meski begitu dia tetap pada tujuannya balik ke kamar. mengambil sebuah kaos lalu dipasangnya menutup tubuh bagian atasnya. Sehingga saat ini Sean sudah tidak lagi mempertontonkan otot perutnya.


"Ck, kenapa harus dia lagi sih ya Tuhan," Sean meringis.


Lama-lama kesal juga rasanya harus bertemu dengan orang paling dibencinya setiap saat. Sean merasa tidak memiliki lagi yang namanya kebebasan, bahkan sekarang pun dia masih bisa bertemu Rubina. Padahal kenyataan saat ini dia sedang ada di rumah orangtuanya.


***


ADITYA-lebih dulu menghabiskan makanannya.


"yang banyak makannya ya, Bi!" katanya kepada Rubina. Rubina pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menyengir.


"Anggap saja di rumah sendiri," lanjut Aditya.


"Iya, Pah, eh maksudnya Om," ujar Rubina mengoreksi ucapan salahnya dengan cepat. 'Ck.. duh mulut gue kenapa pakek salah sebut segala sih. keliatan banget deh kebelet nikahnya!' pikir Rubina dalam hati.


Aditya mengerti bahwa suasana di meja makan begitu canggung, dia pun bangkit menuju ke ruang keluarga yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja makan.


"Bu, tolong bikinin kopi!" katanya sambil menuju ke ruang keluarga.


"Iya," Marisa menyahut. "Bina, makan yang banyak yah sayang. Tante bikin kopi dulu."


“Iya, Tante.”


Sean menoleh ke kanan lalu ke kiri. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk dia menanyakan alasan kenapa Rubina harus datang dan bergabung menikmati makan malam dengannya dan kedua orangtuanya.


“Heh,”.


“Aku punya nama ya... bukan seenaknya manggil hah heh hah heh...!” ujar Rubina. Sean memutar kedua bola matanya malas.


"kenapa bisa kamu ada di sini? Apa kamu nggak punya rumah! sampe harus datang ke sini malam-malam?" cecarnya dengan beberapa kata yang mungkin akan membuat lawan bicaranya merasa sakit hati. Dan yah, tentu saja Sean memelankan suaranya agar hanya Rubina yang bisa mendengarnya.


"Aku tadi..."


"Asal kamu tahu ya, kehadiran kamu di sini cuma buat saya jadi hilang nafsu makan!" seperti biasa, Sean selalu mendahului tiap kali Rubina ingin memberikan penjelasan.


"Kamu kenapa sih, galak banget sama calon istri. Aku tuh calon istri kamu loh." Rubina membalas dengan penuh percaya diri.


"Calon istri? Ogah saya punya calon istri kayak kamu."