I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 49



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Di tempat lain terlihat Rubina baru saja bergabung di meja makan bersama dengan anggota keluarganya. Dia tiba di meja makan masih dengan muka bantal, masih mengenakan piyama, dan rambutnya kala itu sedang acak-acakan.


"Astaga, lihat deh, Bu, masa anak perempuannya Ibu baru bangun jam segini? Ck, ck, ck" sambut Emerald begitu adiknya bergabung di meja makan. Seperti biasa, pria yang sudah dengan setelan kantor itu tidak melewatkan momen di mana dia bisa menggoda adik keaayangannya itu.



"Ck... Masih pagi loh, Kak Em. Jangan mulai deh," ucap Rubina. Dia memandang dengan ekor mata kakaknya yang sedang mengunyah. Wajah Emerald saat itu benar-benar sangat menyebalkan di matanya.


"Eme!" Danniel menegur, dan Rubina merasa cukup puas saat kakaknya langsung meminta maaf padanya saat itu juga.


"Kalian berdua tuh yah, kayak nggak hidup aja kalo nggak saling berantem satu sama lain. Inget ya Kak, bentar lagi Bina mau nikah loh. Dan otomatis setelah nikah nanti dia bakalan ikut sama suaminya. Yang ada nanti kamu kesepian kalo adik kamu udah nggak tinggal di rumah ini lagi."


"Biarin aja Bu. Nanti Kak Eme bakalan nangis-nangis soalnya kangen sama anak Ibu yang cantik ini."


"Dih, najis gue kangenin lo. Lihat aja ntar, pasti lo yang bakal kangen sama gue kalo udah nikah sama Sean," Emerald menyahuti seakan dia tidak mendapatkan kepuasaan jika dia tidak menyahuti cibiran adiknya.


"Ogah," balas Rubina. Kali ini dia menyertakan gerakan bahu mengedik. Sebagai penegas satu kata yang diucapkannya.


"udah, udah," Althea melerai. "Heran deh. Kalian berdua kalo masalah adu mulut enggak ada kelar-kelarnya. Mending ngomongin soal persiapan nikahan kamu aja Bi dari pada adu mulut sama Kakak kamu."


"Emangnya apa lagi yang mau dibahas soal pernikahan itu?" tanya Rubina.


"Banyak banget. Masalah undangannya gimana, emang kamu nggak mau permintaan khusus?"


"Enggak ada kok, Bu. Bina terserah aja buat undangannya." Rubina masa bodo soal undangan. Pikirnya untuk urusan undangan Rubina tidak perlu terlibat karena tentu saja lebih baik dia fokus kepada hal lain yang jauh lebih penting.


"Emangnya udah ada tanggal pasti soal pernikahan itu ya?" tanya Rubina. Gadis itu menatap Ibu juga Ayahnya yang sedari tadi hanya diam saat sang istri memilih topik pernikahan putri kesayangannya.


"Untuk tanggal pastinya Grandpa sementara berdiskusi sama Kakek dan kedua orang tua Sean tapi yang jelas pernikahan kalian akan berlangsung dalam waktu dekat. Maka dari itu sebaiknya hal-hal kecil yang menyangkut pernikahan bisa dipersiapkan mulai dari sekarang supaya nanti nggak terlalu banyak yang diurus menjelang hari pernikahan."


"Bi, apa nggak bisa dipikirin lagi soal pernikahan kamu? Kamu masih muda loh, banyak hal yang harus kamu nikmati!" akhirnya Danniel pun membuka suara dengan tetap meminta pertimbangan sang putri.


"Niel..." Althea menggenggam tangan Danniel sambil menenangkan suaminya. Tak lama Danniel pun beranjak dari meja makan dan meninggalkan istri juga kedua anaknya.


"Ibu ngurus Papah kalian dulu ya, kalian sarapan aja dulu!" ucap Althea yang ikut beranjak dari meja makan.


"Kak, Papah masih nggak rela ya kalo aku nikah?"


"Ya kamu pikir aja, kamu tuh putri kesayangannya Papah, Papah tuh lebih sayang kamu ketimbang Kakak, ibaratnya kamu tuh cibta pertamanya Papah--" berfikir sesaat. "eh kebalik ya harusnya Papah yang cinta pertama kamu... Ya... pokoknya gitulah, Papah tuh masih nggak rela kalo kamu harus dimiliki cowok laen selain Papah, sesayang itu loh Papah sama kamu!"


"Tapi kan cepet atau lambat Papah juga harus relain aku buat nikah sama cowok yang aku pilih."


"Ya... kayaknya kamu harus ngobrol serius ama papah buat kelancaran acara kamu sama Sean..."


"Kalo Kakak setuju kan kalo nikah sama Sean?!"


"Sejauh ini Kakak liat Sean no problem, lagian ini soal waktu aja buat Sean jatuh cinta sama kamu... Tapi, kalo Sean ampe macem-macem dan buat kamu nangis atau apapun yang nyakitin kamu, kakak nggak bakalan tinggal diem!"


Rubina hanya tersenyum puas mendengar dukungan dari sang kakak. "Thank's Kak..."


Rubina hanya harus berbicara dari hati ke hati dengan sang Ayah. Dan Rubina pikir semakin cepat dia menikah dengan Sean maka semakin cepat pula dia bisa mendapatkan pria itu. Mungkin memang tidak sepenuhnya karena setelah menikah pun Rubina masih tetap dihadapkan kenyataan bahwa dia harus berusaha untuk membuat sikap dingin Sean mencair. Rubina masih perlu effort lebih untuk membuat Sean memiliki perasaan lebih-sama seperti perasaan yang dia miliki.


****


Menganggap aktivitas paling menyenangkan di dunia ini yang mampu menghilangkan rasa lelahnya setelah seharian bekerja adalah bermain dengan kucing kesayangannya. Seperti saat ini Sean sedang bermain dengan Lion di ruang keluarga.


"Lucu Lion apa aku?"


Suara itu adalah alasan kenapa Sean berhenti mengarahkan titik fokusnya kepada si hewan menggemaskan. Suara yang begitu familier mengambil alih perhatiannya.



Sean menemukan Rubina sedang tersenyum ke arahnya ketika dia memutar kepala ke sumber suara. Sungguh, rasanya Sean ingin mengumpat saat itu juga kalau seandainya dia tidak teringat dengan pembicaraannya dengan Nino saat di apartemen waktu itu.


Tenang! Saat itu Sean mencoba untuk menahan emosinya yang sudah di ujung tanduk.


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku. Lucuan mana antara aku dan Lion?" tanya Rubina.


"Tahan Sean! Jangan sampe kepancing lagi emosi lo karena tingkah absurdnya Bina. Kayaknya dia emang terlahir buat jadi manusia yang nyebelin" Sean lewat dewa batinnya memilih untuk meredam emosi yang coba diciptakan oleh sisi menyebalkan Rubina. Sekarang Rubinq sudah jadi kesayangan ibunya, kalau ibunya melihat tingkah kasarnya sama Rubina bisa-bisa dia kembali mendapat jeweran telinga.


"Tanpa saya bilang juga kamu pasti udah tau jawabannya. Lion jauh lebih lucu dari kamu. Sekarang kamu puas sama jawaban saya?"


"Oke, kalau Lion punya sisi lucu, berarti aku punya sisi yang cantik? Gimana menurut kamu?" tanya Rubina sambil memainkan rambut hitamnya, berlagak sok cantik.


"Kamu ada urusan apa malam-malam datang ke sini?" Tiap kali diberikan pertanyaan jebakan oleh Rubina maka Sean akan menggunakan senjatanya dengan mengalihkan topik pembicaraan. Hal itu terbilang mampu untuk menghindarkannya dari keharusan menjawab pertanyaan Rubina.


"Aku juga nggak tau. Soalnya Tante Marisa yang menelpon nyuruh aku buat dateng ke sini."


"Kamu nggak lagi bohong kan?" tanya Sean penuh selidik.


"Astaga calon suami mah enggak percayaan banget deh," Rubina mengambil ponsel dari saku celananya. "Nih liat riwayat panggilan aku sama tante Marisa! Sekarang kamu percaya kan sama aku?"


"Eh Bina. Kamu udah dateng dari tadi?" Marisa dari arah dapur sudah tersenyum sewaktu menyadari calon menantunya sedang di ruang keluarga.


"Baru aja kok, Tan," Rubina menjawab. Dia juga memberikan senyum tak kalah ramah.


"Apa Sean ngomong kasar lagi sama kamu?" tanya Marisa menatap putranya selama beberapa sekon dilanjutkan dengan membawa tatapannya itu kembali ke arah Rubina.


"Enggak kok, Bu!" Sean mencoba membela dirinya sendiri.


"Ibu enggak nanya kamu. Ibu nanya sama Bina."


"Sean nggak ngomong kasar ke Bina kok, Tan," jawab Rubina.


"Kalau dia ngomong kasar sama kamu, kamu jangan sungkan buat lapor sama Tante. Nanti biar Tante yang ngasih hukuman ke dia!" Marisa maju mendekat Rubina. Dia mengambil pergelangan tangan kanannya, menuntunnya untuk ikut bersamanya ke dapur.


"Tante ngajakin kamu ke sini karena sebenarnya Tante mau buat brownis yang waktu itu kamu bilang enak. Kamu bantuin Tante ya!" seru Marisa sambil menyiapkan peralatan yang dibutuhkan.


"Hah?" kaget Rubina.