I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 3



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Sean yang hendak keluar dari ruangan langsung terdiam ketika sang pimpinan sekaligus pemilik utama rumah sakit tempat Sean bekerja langsung datang ke ruang resusitasi IGD. Melihat Tyo melewatinya dan bergegas memeluk cucunya dengan khawatir. Sean mulai mengerutkan keningnya.


“Kenapa bisa sampai seperti ini, Nak?!” sementara yang dikhawatirkan hanya cengar-cengir.


“Aku nggak apa-apa Grandpa... Cuma luka dikit doang...” ucap Rubina sambil melirik kearah Sean yang tengah berdiri memperhatikan interaksi antara kakek dan dirinya. “Untung ada dokter Sean yang nanganin aku, jadi aku bisa nggak trauma lagi sama darah maupun jarum suntik!”


Mata Tyo pun melirik kearah Sean yang sedang berdiri di belakangnya sambil memperhatikan mereka.


“Aaahhh dokter Sean, maaf saya tidak menyadari keberadaan anda tadi... Dan terima kasih sudah menindak cucu saya. Biasanya Bina tidak bisa ditindak oleh orang lain. Kalau tidak dia pasti akan sangat histeris.”


Yeaahhhh... I see... gumam sean dalam hati sambil menampilkan senyum pada Tyo.


“Tidak apa-apa Dok, ini memang sudah tugas saya sebagai dokter.”


“Memang anda adalah dokter terbaik di rumah sakit ini...”


Tak lama seseorang yang sebelumnya menabrak sekaligus menolong Rubina pun muncul menampakkan batang hidungnya. Bahkan si pelaku penabrakan itu masih saja menampilkan raut muka bersalah.


"Mba maafkan saya yah!" katanya.


"Sudahlah Pak. Saya bosan banget denger kata maaf. Saya juga udah nggak kenapa-kenapa kok. Lagian ini cuma luka ringan. Sebentar lagi juga bakalan sembuh lukanya, iya kan dok?" Ucapnya pada Sean setelah perasaannya sudah lebih membaik.


Malah dia bersyukur karena kejadian ini, dia bisa bertemu lagi dengan pria idamannya setelah sekian lama tidak bertemu.


"Ini..." Ucap Tyo bingung dengan orang yang baru saja datang itu.


"Bapak ini yang udah nabrak aku Grandpa, tapi ini juga salah aku kok bukan salah Bapaknya..."


"Saya telah mengurus segala biaya administrasinya. Sekarang saya hanya perlu bertemu dengan dokter."


"Itu dia dokternya Pak!" potong Rubina cepat.


"Tapi kan kaki Mbak..."


"Tidak masalah Pak, tadi saya juga sudah menanganinya."


"Benar dok? Alhamdulillah, sekali lagi maaf ya Mbak..."


"Terima kasih sebelumnya anda sudah bertanggung jawab terhadap cucu saya dengan membawanya kemari dan menjaminnya, tapi lain kali tolong lebih hati-hati..." Ucap Tyo sedikit tegas.


"Iya Bapak pulang duluan aja, nanti saya pulang bareng Grandpa."


"Baiklah?" Rubina mengangguk mantap. "Kalau begitu saya pamit pergi. Sekali lagi saya minta maaf."


Saat Bapak itu pergi meninggalkan ruangan itu tak lama Sekretaris Tyo datang ke ruangan.


"Dok, waktunya Anda untuk rapat semua pemegang saham sudah berkumpul di ruang rapat."


"Ya, sebentar..." melihat kearah Rubina cemas.


"Grandpa telpon Papah sama Ibumu ya Bi .."


Meskipun masih belum mempercayai ucapan cucunya, tapi Tyo melihat kearah Sean sejenak dan mengangguk.


"Baiklah, Dokter Sean... Saya percayakan cucu saya padamu... dan tolong jaga dia..." Ucapnya lalu diangguki oleh Sean sedikit ragu. Tak lama setelah meninggalkan Rubina dengan kecupan di kulepalanya Tyo pun meninggalkan ruangan itu diikuti oleh sang sekretaris.


Rubina melengkungkan bibirnya melihat kearah Sean. Sementara Sean hanya menghela napas kesal karena sudah terjebak dengan gadis aneh seperti Rubina.


"Jadi kamu adalah cucu dari Tyo Henney?!" Ucap Sean sambil mengambil berkas di meja depannya.


"Nama kamu Rubina Henney?"


"Benar," Rubina menganggukkan kepalanya membenarkan yang dokter Sean sampaikan. "Nama lengkapku Rubina Henney Wiriawan, tapi dokter boleh manggil aku Bina. Selain itu dokter juga bisa memanggilku sayang."


"No, thanks!" Jawab Sean dingin. "Kamu nggak pantes mendapatkan panggilan seperti itu dari saya."


Kruk.... Kruk..


Sean mendengar suara itu. Suara yang begitu familier. Karena dia menyadari suara tanda perut keroncongan itu berasal dari gadis di hadapannya jadi dengan segera dia mengangkat dagu memperhatikan gadis itu. Tidak seperti sebelumnya, kali ini gadis itu membuang mukanya tidak ingin mengadunya dengan manik mata milik Sean. Sean menilai bahwa gadis di hadapannya saat itu tentu saja merasa malu akibat dari suara perutnya.


"Kamu belum makan?" tanya Sean dan dijawab gelengan kepala oleh Rubina.


"Belum, soalnya aku belum sampe ke kafe nemuin teman-teman aku pas kejadiaan naas itu. Mungkin karma juga sih, soalnya aku kabur dari kampus," saat berbicara Rubina. Sean pun mendesah pasrah.


Jujur saja Sean benar-benar sudah sangat tidak tahan dengan celotehannya yang malah menghadirkan kekesalan. Sean tidak menampik kenyataan bahwa gadis itu cukup andal dalam membuatnya kesal.


"Kita ke kantin rumah sakit aja!"


"Dok, untuk jadwal poliklinik—" ucap seorang perawat yang bekerjasama dengannya di poliklinik.


"Gantikan saja sama dokter Azriel, dia hari ini hanya mengikuti seminar..."


"Baik, dok!"


Rubina tersenyum gembira. Rupanya ada banyak kejutan di tengah-tengah kesialan yang menimpanya hari ini. Betul kata orang, dibalik musibah pasti ada yang namanya hikmah yang bisa dipetik. Lihat saja sekarang. Bukan hanya berhasil bertemu dengan Sean, dia juga bisa makan dengan pria itu.


"Hmmm emang bener kata Grandpa, makanan di kantin rumah sakitnya ter the best, Kenapa Om Rafael nggak mau nerusin rumah sakit ini sih? Kan kasian Grandpa, diusianya ampe sekarang ini, dia masih berkutat sama kerjaannya..." ucapnya saat Rubina sudah memesan makanan di kantin tersebut.


"HM... Bukannya ada Alpha?"


"Mmh... nggak, Kak Alpha udah dicarter sama Om Reyandra buat nerusin hotelnya." Ucapnya tanpa sadar dan masih memakan makanannya lalu terdiam baru ingat. "Eh... Kok dokter tau Kak Alpha?" Ditanya seperti itu tidak lantas membuat Sean menjawab. Alih-alih menjawab dia hanya terdiam menerawang.


"Dokter nggak makan?!"


"Nggak!" Jawabnya irit. Lalu mengalihkan perhatiannya ke sudut lain. Rubina pun terdiam memperhatikan Sean sambil tersenyum lalu mengarahkan sendok yang berisi makanannya kearah mulut Sean.


"Aaa..."


"Apa?" Jawabnya masih dingin dengan mata memincing ke arah Rubina.


"Aku tau dokter pasti belum makan, sebelum nanganin luka aku dokter abis selesai operasi kan?! So, sebagai tanda terima kasih aku, aku suapin dokter..." Sean masih terdiam menautkan kedua halisnya. "Tenang dok, aku nggak masalahin kok satu sendok sama dokter, yaaa... Anggap aja sekarang kita baru melakukan ciuman." Bisik Rubina sambil mengedipkan satu matanya kearah Sean menggoda.


'Perempuan satu ini beneran sinting!' batin Sean mendumal.