I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 24



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Kamu yakin?" sebelah alis Sean terlihat sedang terangkat meninggalkan tempat semestinya.


"Nanti dijalan kamu bakalan terpapar sinar matahari loh. biasanya kan kalo cewek paling ga mau tuh kulitnya kena sinar matahari. kamu serius bakalan ikut sama saya pake motor?"


"Yakin! Aku nggak takut terkena terik matahari kok. Kan matahari juga mengandung vitamin C yang bagus buat tubuh. Dan aku bukan cewek menyek-menyek yang kamu bayangin ya... Jadi aku bakalan ikut sama kamu pake motor.”


“Sinar matahari mah menghasilkan vitamin D, kalau buah dan sayur baru menghasilkan vitamin C,” jelas Sean atas kekeliruan Rubina.


‘Ah sial, lagi-lagi gue harus deket sama dia,’ dalam batinnya Sean menyayangkan keputusan Rubina yang tetap saja menyanggupi walau Sean telah memberikan warning lewat alibi cahaya matahari yang dapat membakar kulitnya jika kekeh ingin berangkat dengan motor.


"Ck.... Ya udah! tapi jangan manja ya! Yang penting saya udah ngingetin kamu sebelumnya. Ya sudah, tunggu apa lagi, ayo buruan naik!"


"Tapi aku kan nggak punya helm."


"Tunggu sebentar!" Marisa langsung menghamburkan diri kembali ke dalam. Tidak lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa sebuah helm biru di tangannya.


"Pakai helm ini saja," Marisa memberikan helm di tangannya menuju ke Rubina.


"Makasih Tan," helm pemberian Marisa segera dipasang oleh Rubina. Lalu setelah itu Rubina buru-buru mengubah posisinya jadi terduduk di belakang Sean yang tugasnya mengemudikan motor.


"Tunggu sebentar!" ucap Marisa disaat Sean baru saja akan menancap gas.


Sean menoleh. Dengan bantuan tangan kirinya dia membuka kaca helm dan menatap ibunya intens. Sebuah pertanyaan menyusulnya, "Kenapa lagi Bu?"


Marisa mengambil tangan milik Rubina. Tangan milik gadis itu dilingkarkan di bagian perut milik Sean tanpa aba-aba. Jujur saja Sean kaget saat itu, dan hal yang sama juga berlaku untuk Rubina. Rubina juga tidak berekspektasi bahwa Marisa akan mengarahkan tangannya untuk dilingkarkan di bagian perut pria di hadapannya.


"Ibu ngapain sih?" tanya Sean.


"Ibu hanya menyuruh Bina meluk kamu dari belakang supaya dia nggak jatuh dari motor. Kamu kan kalau bawa motor suka ugal-ugalan. Oh ya, karena hari ini Bina ikut sama kamu jadi jangan ngebut-ngebut bawa motornya!" peringat Ibu.


“Ada-ada saja, padahal dia juga bukan anak kecil.”


Di sepanjang jalan menuju ke kampusnya Rubina merasakan darahnya mengalir lebih deras dari yang biasanya. Sesederhana melingkarkan tangan di perut Sean sudah lebih dari cukup untuk menghadirkan perasaan tidak keruan di diri Rubina.


Berbeda dengan Rubina yang berusaha menikmati kenyataan yang ada di tengah perasaan tidak keruan yang didapatkan. Sean sendiri malah merasakan yang sebaliknya. Sean seolah tidak menikmati perjalanan ini. Sean risih dengan kenyataan tangan Rubina yang melingkar di perutnya dengan sangat erat. Tapi di satu sisi dia tidak bisa bertindak selain membiarkan itu terjadi. Paling tidak dia akan segera terbebas dari pelukan si gadis menyebalkan itu saat dia berhasil mengantarnya sampai kampus.


Begitu sampai di depan kampus tempat Rubina menempuh pendidikan. Sontak Sean membuka kaca helmnya. Kedua tangannya digunakan untuk menyingkirkan tangan milik Rubina dari badannya.


"Heh, nunggu apa lagi kamu? Apa kamu mau nunggu saya nyeret kamu buat turun?" sarkas Sean kemudian merapatkan gerahamnya.


Rubina turun dari boncengan Sean dengan muka berseri-seri. "Maka---"


Brum!


Belum Rubina meloloskan ucapan terima kasih. Dan Sean sudah tancap gas meninggalkannya sendirian di tempat itu. "Makasih!" teriaknya sambil membentuk tangannya menjadi corong di depan bibir, Rubina tidak yakin apakah Sean bisa mendengar teriakan rasa terima kasihnya. Tapi satu hal yang pasti Rubina telah mengatakannya.


Rubina memperhatikan sesuatu yang ada di tumpukan bukunya tepat setelah dia baru saja kembali dari toilet. Seingatnya benda itu belum ada saat Rubina memutuskan untuk ke toilet. Di atas bukunya terdapat sebuah kotak cokelat dan juga sebuah catatan kecil yang ditulis di atas stick note berwarna merah muda.


...*Cokelat untuk si manis, ketahuilah bahwa aku akan selalu ada di sini, aku akan sabar menunggu sampai cintaku akan dibalas olehmu....


^^^Tertanda,^^^


^^^pengagum rahasiamu*!^^^


Rubina mengerutkan kedua halisnya bingung menebak siapa pemiliknya. Rubina menghela napasnya sambil mengecek kotak cokelat di hadapannya.


"Kerjaannya siapa sih?" gumamnya. Memang bukan sekali dua kali dia mendapat kejutan seperti ini. Sering kali dia menemukan hadiah dari seseorang yang tidak dikenalnya. Dibilang risih, jawabannya iya. Tiap kali dia mendapatkan hadiah seperti itu pastinya Rubina akan merasa bersalah. Rubina kasihan kepada pengagum rahasianya itu. Tentu saja Rubi a tidak akan pernah membalas perasaan orang itu karena di hatinya hanya tertulis nama Sean seorang.



"Cieee, dapat cokelat lagi nih?" Caca-salah satu temannya seketika mencolek lengan milik Rubina sewaktu melihat kehadiran kotak cokelat di meja. "Ck... Kak Bina beruntung banget sih, tiap hari dikirimin hadiah mulu sama pengagum rahasia." Caca memekik gemas merasa iri dengan Rubina yang selalu mendapatkan banyak hadiah entah dari siapa.


“Plis deh, Ca! Stop manggil gue dengan embel-embel ‘Kak,’ gue nggak setua itu kali!”


“Tapi kan kenyataannya emang kayak gitu? Kakak lebih tua dari gue, jadi ya udah sewajarnya gue manggil kakak dengan sebutan kak Bina.”


“nih, buat lo aja deh” ujar Rubina menyerahkan sebuah kotak cokelat yang sebenarnya ditujukan untuknya.


“Hah, Serius Kak?”


“Iya, ambil aja Ca!”


“Tapi ini kan buat kak Bina.”


“Ya gue juga nggak tau itu dari siapa. Lagian kalo orang itu ngasih buat gue, ya otomatis cokelat ini udah jadi hak milik gue. Kalo gitu terserah gue dong mau ngasih cokelatnya ke siapa. Ambil aja yah, Ca. Lagian kalau gue tau siapa pengirimnya gue bakalan langsung ngomong sama dia buat berhenti ngejar-ngejar cinta gue, soalnya gue udah punya calon.." Caca mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, meski di satu sisi dia masih penasaran kenapa Rubina terlalu terobsesi mengejar seorang pria yang bahkan tidak menyukainya. Padahal sejak jaman mereka masih berstatus sebagai mahasiswi baru kampus ini sudah banyak pria popular kampus yang mencoba mendekati Rubi a, namun sikap gadis itu seolah acuh tak acuh. Dari yang Caca tahu sudah banyak pria di kampus ini yang pernah merasakan penolakan dari Rubina.


"Gue juga penasaran loh, Kak. Kira-kira siapa yah pria yang jadi pengagum rahasia lo," Caca mengumbar raut yang juga sedang berpikir. Dia berusaha untuk menebak-nebak.


"Kalo misalnya lo tahu siapa orangnya, lo jangan lupa kasih informasi ke gue yah!"


Caca manggut-manggut. "Yupz... Udah pasti gue bakalan ngasih tau siapa orangnya kalo gue tau."