I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 100



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"ADA APA BI? ITU TELEPON DARI SIAPA?" penasaran Sean karena saat itu kondisinya Rubina tidak sedang me loudspeaker ponselnya sehingga Sean tidak tahu telepon itu dari siapa dan kabar apa yang orang itu sampaikan sampai membuat Rubina panik begini. Oleh karena itu tepat setelah sambungan telepon terputus Sean bertanya.


"Telepon dari Kak Eme, By."


"Apa katanya? Kenapa kamu meliatan panik banget pas nerima teleponnya?" Sean jadi ikutan panik saat melihat ketegangan di wajah Rubina.


"Papah By," suara Rubina terdengar parau saat mengatakannya.


"Kenapa sama Papah?"


"Kak Eme ngasih kabar kalo Papah masuk rumah sakit." Rubina membagikan kepada Sean soal kabar yang sebelumnya membuat Rubina sampai membulatkan matanya.


"Rumah sakit? Kok bisa?"


"Nggak tau, katanya Papah tiba-tiba ngeluh dadanya sakit dan katanya rada sesak gitu." ucapnya sambil berurai air mata panik.


"Ya udah, kalo begitu kita langsung ke rumah sakit aja!" ajak Sean.


Sejenak Rubina lupa soal kemarahannya pada Sean. Untuk saat ini tidak ada yang lebih penting dari pada memikirkan tentang kondisi Papahnya yang tengah masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang Rubina hanya mengambil shoulder bag dari tepian ranjang dan bersama dengan Sean dia berangkat ke rumah sakit.


Dengan V4R nya Sean mengantar Rubina sampai rumah sakit. Sesampainya mereka di sana terlihat bibir Rubina yang terus berkomat-kamit. Tentu saja Rubina memanjatkan doa agar Papahnya senantiasa diberikan perlindungan dari Allah SWT.


"Papah di mana sekarang?" Sean bertanya setelah dia baru saja berdiri di sebelah Rubina setelah tadi dia memarkirkan motornya. "Apa masih di IGD?" lanjutnya menambah jumlah pertanyaannya jadi dua buah.


"Aku nggak tau. Aku telepon Kak Eme dulu deh." Rubina berhenti melangkah. Benda segera diambil dari dalam shoulder bag bawaannya.


Tanpa banyak pertimbangan Rubina langsung mencari kontak milik saudaranya dan langsung menelponnya.


"Halo, Kak? Sekarang Papah masih di IGD ya?"


"Udah pindah, baru aja."


"Pindah ke mana Kak?"


"Pindah ke ruang rawat."


"Ah, syukur deh kalo gitu," ucap Rubina menyertakan hela napas lega. Meskipun belum sepenuhnya merasa lega, paling tidak kadarnya sudah tidak separah sebelumnya. "Oh ya Kak, Papah dirawat di kamar mana? Aku lagi di rumah sakit ini..."


"Di VVIP nomor 5."


Tak lama setelah Rubina dapat informasi soal Papahnya yang dirawat di kamar VVIP nomor 5 sambungan telepon pun terputus. Rubina bersama dengan Sean menuju ke sana.


Klik!


Pintu terbuka setelah Rubina mengetuknya. "Bu, kenapa Papah? Kok bisa sampe masuk rumah sakit? Padahal olah raga rutin, makanan selalu Ibu jaga..." Rubina langsung menyuguhkan sebuah pertanyaan kepada Ibunya yang membuka pintu.


"Emang udah waktunya aja sayang, namanya juga sakit ga ngeliat yg rajin olah raga ataupun makanan yang dijaga... kalo Allah udah berkehendak ya mau gimana lagi, kita jalanin aja... Tadi tuh pas makan malam tiba-tiba aja Papah ngerasain sakit di bagian dadanya. Karena kebetulan Kakak kamu ada di rumah jadi kita cepet-cepet bawa ke rumah sakit. Tapi... kamu tenang aja Nak. Papah kamu sudah agak mendingan kok. Sekarang Papah lagi istirahat tadi Grandpa juga udah ngehubungin dokter disini kok biar nanganin Papah."


"Emangnya Papah kenapa sih? Apa kata dokter?" cecar Rubina menggambarkan muka khawatir.


"Katanya Papah mengidap jantung koroner," ungkap Althea.


"Jantung koroner? Maksudnya gimana Mih?" cecar Rubina sementara wanita di hadapannya tidak bisa menjelaskan secara mendetail lantaran dia masih terlalu awam dengan penyakit itu. Intinya saat bertemu dengan dokter tadi, dokter hanya menjelaskan soal suaminya yang mengidap penyakit itu.


"Ibu juga nggak tau, tapi dokter bilang katanya udah ngelakuin keteterisasi angio...." Althea sedang menebak-nebak lanjutan kalimat yang tadinya dijelaskan oleh dokter kepadanya. “Angio apa ya tadi?" gumamnya sambil berpikir.


"Angiografi koroner," sambung Sean cepat karena kebetulan dia tahu banyak soal pemeriksaan tersebut.


"Nah itu, keteterisasi angiografi koroner," Althea melengkapi, "Katanya setelah melakukan itu dokter menyimpulkan kalau Papah kamu mengidap penyakit jantung koroner. Dan katanya juga, penyakit itulah yang bikin Papah rada sesak pas di perjalanan tadi."


"By, apakah penyakit jantung koroner bisa disembuhin?" Rubina yang terlalu awam dengan penyakit itu memilih untuk menanyakannya kepada Sean selaku seorang dokter.


"Setau saya penyakit jantung koroner nggak dapat disembuhin. Tapi... terlepas dari itu kita tetap bisa menghindari risiko bahayanya. Kayak misalnya menjaga tekanan darah atau kadar kolestrolnya."


"Hmmm gitu ya," kecewa Rubina mendengarnya. Detik selanjutnya gadis itu berhenti memperhatikan Sean, dia membawa pandangannya kepada Althea. "Terus Papah di dalam lagi tidur kah?”


"Iya, Papah kamu lagi tidur. Kayaknya pengaruh obat.”


Kesedihan yang sejatinya sudah Rubina dapatkan karena masalah rumah tangganya, kini semakin bertambah. Matanya yang terlihat sudah membengkak kembali menjatuhkan air mata melihat figur Ayahnya yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Perasaan Rubina hancur melihat figur yang selama ini selalu kuat di hadapannya kini terlihat lemah.


Sean sama hancurnya dengan Rubina. Dia bisa mengerti betapa hancurnya Rubina saat ini. Setelah kisah dari masa lalunya telah terkuak, ditambah lagi sama kabar tentang Papahnya yang sakit. Karena itu Sean jadi makin tambah bersalah saja.


****


Di kantin rumah sakit sambil menangisi permasalahan yang menyerangnya secara beruntun. Padahal sebelumnya Rubina sudah ada niatan untuk membawa barang-barangnya pulang ke rumah Papahnya sambil dia akan mengatakan kebiadaban suaminya yang diam-diam telah memiliki istri dan anak sebelum dia menikah dengan Rubina. Tapi sangat disayangkan karena kejadian ini membuat Rubina berpikir ulang untuk melakukan itu. Althea pasti sudah sangat khawatir banget sama keadaan Danniel yang masuk rumah sakit, bagaimana kalau Rubina berbicara jujur soal masalahnya dengan Sean?


"Kenapa belum pesen makan?"


"Bi... kenapa kamu belum pesen makanan?" Sean mengulang pertanyaannya tentu saja demikian lantaran Rubina belum juga menjawabnya. Gadis itu hanya menoleh ke sembarang arah dan bergeming layaknya sebuah manekin. "Mau saya pesenin?” tanya Sean menggunakan nada lembut. "Kamu mau makan apa?"


"Stop By, berenti bertingkah seolah kamu itu cowok baik-baik!" Rubina membalas. Dia mungkin mengatakan kalimat itu dengan volume sedang, namun tetap saja dia mengatakannya dengan penuh penekanan untuk mempertegas betapa kesal dia pada suaminya itu.


"Bi... Saya tau kamu lagi banyak pikiran, dan salah satunya karena saya."


"Kalau kamu tau soal itu kenapa kamu malah ke sini? Tahu gak sih By, liat wajah kamu cuma bakalan nambah luka di hati aku. Rasanya kayak air garam yang baru aja dituangin ke hati aku yang lagi terluka menganga."


"Maaf Bina!" Sean menautkan tangannya di depan dada. Nada suaranya terdengar berharap belas kasihan dari gadis di hadapannya.


"Oh ya, kamu ingat kan soal permintaan yang bakalan dikasih ke aku waktu di lapangan basket dulu?" Rubina menyinggung soal itu.


"Ya... Saya ingat," Sean tidak butuh banyak waktu dalam memberikan jawabannya. Sampai detik ini dia masih mengingat dengan baik janjinya itu. "Emangnya kamu mau minta apa sama saya?” kening Sean mengerut dalam.


"Aku mau cerai."


"APA???" kaget Sean. "Cerai?"


"Kenapa? Kok kaget gitu?"


"Ya tentu aja saya kaget sama permintaan kamu yang mengejutkan ini."


"Loh, bukannya harusnya kamu seneng ya, denger permintaan aku ini? Dari awal kan kamu nggak pernah suka sama aku. Dari dulu emang cuma aku yang berjuang sendiri, dari dulu cuma aku yang cinta dan sayang sama kamu. Kenapa sekarang kamu tiba-tiba kaget gitu?"


"Ya karena saya udah punya perasaan lebih sama kamu, Bi! Saya beneran takut kehilangan kamu. Soal permintaan kamu itu, saya kan pernah bilang kalo saya cuma bakalan menuruti keinginanmu hanya jika permintaan kamu itu nggak yang aneh-aneh."


"Permintaan cerai anehnya di mana ya? Ibarat kata nggak bakal ada asap kalau enggak ada api,” jelas Rubina. “ Kalo aja aku nggak tahu soal pernikahan kamu sama perempuan itu, mungkin aku nggak bakal sampe ada niatan buat minta cerai. Lagian kamu tau kan kalo aku sesabar itu dalam hal nunggu kamu. Tapi maaf By, mendingan aku nyerah aja dari sekarang daripada nantinya aku terluka makin dalam."


"Tolong kasih saya kesempatan buat ngebuktii kalo cinta dan sayang saya ke kamu tulus, Bi!" Sean memohon-mohon.


"By. Ini bukan soal aku cinta kamu atau nggak. Lagian kamu tau dari awal aku emang punya perasaan lebih sama kamu. Tapi By, aku seakan hilang rasa pas tau kalo kamu udah punya istri dan anak sebelum nikah sama aku.”


"Saya mohon By. Kasih saya kesempatan sekali lagi!"


"Kesempatan buat apa lagi? Udahlah, dari pada kamu buang-buang waktu kamu mendingan kamu fokus aja sama anak istri kamu. Dia jauh lebih membutuhkan kamu."


"Paling nggak kasih saya kesempatan selama dua minggu buat perjuangin cinta dan sayang saya ke kamu, Bi. Setelah itu terserah, saya bakalan siap nerima keputusan akhir kamu, please bi... jamgan cuma kamu yang berjuang buat dapetin saya, saya juga berhak berjuang buat dapetin kamu."


Rubina hanya terdiam mencerna kata-kata dari suaminya dan menghela napas berat. "Hah... Baiklah, selama dua minggu aku bakalan tetep tinggal di apartemen kamu. Lagian kondisi Papah juga masih sakit dan nggak memungkinkan buat aku ngebahas kelakuan bejatmu sekarang. Aku juga nggak mau nambah beban Ibu yang saat ini lebih fokus memikirkan soal kesembuhan Papih."


Rubina tentu saja tidak asal mengambil kesimpulan seperti itu.


Dia sudah memikirkannya matang-matang. Dan Rubina berharap semoga dalam waktu dua minggu itu kondisi Eang Ayah sudah jauh lebih baik agar Rubina bisa segera memutuskan hubungannya dengan Sean.


"Aku pesanin makan ya buat kamu?"


“Nggak usah, By. Nanti aku bisa pesen sendiri. Kamu nggak perlu memperlihatkan kalo kamu peduli sama aku," dingin Rubina.


"Mulai sekarang sampai dua minggu ke depan sebaiknya kita fokus sama diri masing-masing aja. Ah iya, aku juga lagi pengen sendirian By. Meendingan kamu tinggalin aku sendiri di sini."


"Tapi saya...."


"Kalau kamu nggak mau pergi, biar aku aja yang pergi."


"Tunggu," cegat Dean.


"Ok, Fine, kamu tetep di sini aja, biar saya yang pergi. Saya nemuin dokter yang megang Papah dulu, setelah itu saya balik ke apartemen. Udah malem juga. Besok aku bakalan balik ke sini.” pada akhirnya Sean yang memutuskan untuk mengalah. Setelah dia bangkit meninggalkan duduknya, Rubina yang tadinya berdiri memutuskan untuk kembali duduk. Setelah Rubina melihat Sean meninggalkan kantin rumah sakit, saat itu juga Rubina kembali menangis. Tangisnya pecah memikirkan permainan takdir yang begitu kejam kepadanya.


"Bina? Kenapa sayang?"


Suara itu membuat Rubina mendongak. "Ibu?" kagetnya melihat ibu mertuanya sedang memandanginya dengan raut wajah perpaduan antara sedih dan khawatir. Rubina pikir ibu mertuanya itu sedang di ruang rawat Papah bersama dengan Ibunya.


"Kamu kenapa? Ada apa?" masih memasang raut muka yang sama Marisa duduk dan menyentuh bahu milik menantunya. "Ayo cerita sama Ibu!" sebetulnya Marisa sudah curiga ada sesuatu yang sedang terjadi di antara Rubina dan Sean. Meski tidak menceritakan permasalahan yang mereka alami namun feeling Marisa sangat kuat tentang adanya masalah di antara keduanya. Marisa bisa ya merasakan kedinginan yang terjadi antara sejoli itu sewaktu di ruang rawat tadi.


"Aku cuma sedih aja karena Papah yang lagi sakit,” Rubina memaksakan senyumnya.


"Selain itu?"


"Selain itu?" ulang Rubina.


“Maksud Ibu?"


"Ibu tau, kamu sama Sean pasti lagi ada masalah."


"Sean yang cerita?" tebak Rubina.


"Bukan," Marisa menggeleng pelan. "Feeling seorang Ibu tuh sangat kuat Nak. Ya, walaupun Ibu tau kamu kepikiran sama kondisi papah kamu tapi Ibu juga yakin bahwa kamu sebenarnya juga lagi ada masalah sama Sean. Iya, Kan?"


Rubina benar-benar penasaran apakah hanya Sean yang tahu soal Sarah? Atau sebenarnya Marisa juga tahu soal itu tapi dia ikut menyembunyikannya?