I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 47



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"GUE PENASARAN, BI. APA SETELAH PERJODOHAN ITU DIKONFIRMASI, HUBUNGAN LO SAMA DOKTER SEAN UDAH MEMBAIK?" Rara adalah orang yang mengajukan pertanyaan itu. Saat ini mereka bertiga sedang duduk santai di ruang keluarga Rara setelah sebelumnya menyantap masakan yang dibuatkan langsung oleh ibunya Rara.


"Eh gue juga penasaran sama hal itu Bi. Soalnya kan selama ini yang kita tahu si Mr. Snowman suka menghindarin lo. Apa sekarang sifatnya udah berubah, mengingat kemarin kalian berdua ke kondangan bareng?" sambung Syifa.


Baik Rara maupun Syifa keduanya sama-sama memokuskan perhatiannya kepada Rubina.


"Nggak ada yang berubah. Sikap dia masih dingin kayak tujuh tahun yang lalu," jawab Rubina.


"Gimana bisa. Bukannya keluarga kalian udah bicarain soal perjodohan, ya. Trus Kenapa sikap Mr. Snowman masih dingin ke lo?" ada rasa emosi pada diri Syifa yang tentu saja diciptakan oleh pengakuan Rubina barusan. "Maksudnya kalo emang belum punya perasaan lebih sama lo, kenapa dia nerima perjodohan kalian. Kenapa dia nggak nolak aja?"


"Yang gue tahu, Sean juga nggak punya pilihan selain nerima itu. Lagipula dia udah nyoba buat ngasih penolakan tapi orangtua dia tetep kekeh ingin perjodohan itu terlaksana," jelas Rubina.


"Ya, kalo emang si Snowman itu nggak bisa ngelawan keinginan orangtuanya buat dijodohin sama lo, kenapa bukan lo aja yang ngelakuinnya, Bi? Lo kan bisa minta orangtua lo buat batalinnya aja. Gue yakin bokap lo juga bakalan dukung itu."


"Gue yang nggak mau Fa, gue cinta sama Sean"


"Hah, Cinta? Cinta Lo itu buat otak lo jadi bego tau ga?!" umpat Syifa. "Sorry ya gue ngomong gitu, tapi masalahnya si Snowman itu nggak pernah sudi membalas cinta lo, Bi. Selain itu, apa sih yang mau lo harepin dari seorang pria yang nggak cintai sama Lo?" sama sekali tidak niat hati Syifa untuk menyakiti hati sahabatnya dengan kata-katanya. Justru sebaliknya, karena Syifa sayang dan menganggap Rubina sebagai saudari kandungnya sendiri sehingga dia mencoba untuk mengatakan ini.


"Gue janji, gue bakalan berusaha semampu gue buat meruntuhkan sikap dinginnya Sean! Suatu hari nanti dia yang bakalan tergila-gila sama gue! Percaya deh sama gue, ya... ya.. ya..," ucap Rubina seolah-olah mudah untuk melunakkan hati sekeras batu Sean. Padahal sudah tujuh tahun dia mencobanya dan sekarang sikap Sean masih sama saja.


Rara dan Syifa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena Syifa sudah menyerah memberi nasihat, maka sekarang giliran Rara.


"Sebenarnya apa sih yang lo sukai dari Sean, Bi?" tanya Rara. "Apa karena pekerjaan dia sebagai seorang dokter?"


Rubina geleng-geleng. "Bukan itu alesannya. Gue udah jatuh cinta sama dia sejak kita masih SMA, Ra. Saat dia masih jadi mahasiswa. gue ga perduli dia jadi dokter kek pengacara kek polisi kek, yang jelas orangnya Sean."


"Apa karena dia ganteng?" sebelah alis Rara terangkat.


"Intinya gue tuh falling in love sama dia at first sight. Gue yakin banget kalo pertemuan gue sama Sean bukan cuma kebetulan semata. Dari rentetan kejadian yang gue dapet hari ini juga malah makin nambah keyakinan gue. Dimulai dengan pertemuan pertama kali di Rumah Sakit, terus fakta kakek-kakek kita sahabatan, danyang terakhir perjodohan. Karena itu gue sangat yakin, pasti Allah punya alasan mempertemukan kita."


Rara mendesah, "Emang yah, cinta itu buta," gelengan kepala mengikuti kalimatnya. "Padahal di luaran sana ada banyak loh cowok yang suka sama lo. Tapi kenapa lo terus aja mikirin di Snowman kayak dia tuh satu-satunya cowok yang ada di muka bumi. Come on Bi, buka mata lo!"


"Emangnya dari tadi gue nutup mata ya?" respon Rubinq sambil melebarkan matanya.


"Tau ah, Bi!" sebal Rara karena Rubina meresponnya dengan candaan.


"HAAAAH!" hari ini pasien yang mengunjungi klinik lumayan banyak. Hal itu cukup membuat energi Sean banyak terkuras. Syukurlah karena sekarang sudah waktunya beristirahat. Paling tidak itulah yang Sean tunggu-tunggu sejak tadi.


"Permisi!" suara itu didahului oleh bunyi ketukan di pintu.


Sean diam sejenak.


'Sekarang gangguan apa lagi?' batin Sean. Padahal dia sementara menikmati waktu istirahatnya tetapi ada saja hal-hal yang mengganggunya. Kesal, tapi Sean tetap meninggalkan tempat duduknya. Sean membukakan pintu untuk si pengetuk pintu.


"Pak, ada pesanan makanan untuk dokter Sean Altemosa Ahmet."


Sean menyambut apa yang disodorkan kepadanya. Tentu saja Sean sudah tahu siapa pengirimnya tanpa bertanya. Siapa lagi. Tidak ada orang lain selain Rubina yang akan mengiriminya burger. "Makasih ya Pak."


"Sama-sama."


"Guys." Ucapan Sean sontak membuat para perawat di ruangan itu menoleh kaget kepadanya.


"Iya, ada apa Dok?" salah satu dari beberapa perawat di ruangan itu bertanya.


"Ini ada burger." Sea meletakkan paper bag berisikan burger itu di meja. Setelah itu Sean beranjak dari sana, dia kembali ke ruangannya. Sean sebenarnya lapar apalagi tadi pagi dia tidak sempat sarapan karena dia bangun agak kesiangan.


Tapi rasa laparnya itu tidak sebanding dengan kekesalannya saat mengetahui bahwa Rubina mengiriminya burger.


Sumpah demi apapun Sean seakan sangat membenci gadis itu, sampai burger pemberiannya saja membuatnya kesal. Padahal burger itu dibeli di tempat favoritenya tapi tidak tahu kenapa bawaannya Sean jadi kehilangan nafsu makannya.


Kruk....


Satu tangannya memegang bagian perutnya yang baru saja berbunyi tanda lapar. Sementara tangannya yang satu lagi terulur mengambil ponselnya dari sudut meja. Sean memesan makanan via online. Rencananya sih dia ingin memesan nasi padang dan juga jus jeruk. Namun sebelum dia menekan tombol 'pesan sekarang' terlihat wajahnya berubah jadi berpikir.


****


Di lain namun di waktu yang bersamaan terlihat Rubina yang sedang memainkan ponselnya. Saat itu dia sedang duduk manis di kursi depan rumah Sean. Marisa yang menelpon calon menantunya itu untuk datang. Katanya sih ada sesuatu yang mau dia bahas.


"Maaf yah Bi. Tante bikin kamu nunggu lama di sini," Marisa duduk di hadapan Rubina terhalang oleh sebuah meja. Bukan dengan tangan kosong, Marisa keluar sambil membawa kue brownis cokelat dengan keju di atasnya.


"Enggak apa-apa kok, Tan. Oh iya, Tante mau bahas apa yah sama Bina? Ada hal penting kah?"


"Sebenarnya bukan sesuatu yang penting-penting amat. Alasan kenapa Tante pengin ngajakin kamu ke sini tuh sebenarnya karena Tante ingin mendapatkan komentar kamu tentang brownis buatan Tante ini," sambil mendekatkan piring di meja ke arah Rubina.


"Ayo Bi, dimakan brownisnya!"


Mencoba brownis buatannya memang merupakan salah satu alasan kenapa Marisa meminta Rubina datang. Namun dibalik itu Marisa juga memiliki tujuan lain. Sebenarnya dia sangat penasaran mendengar cerita tentang kebersamaan Sean dan Rubina sewaktu mereka berangkat ke kondangan berdua.


Jujur, Rubina menyukai brownis buatan calon mertuanya pada gigitan pertama.


"Bagaimana brownis buatan Tante?" Rubina mengangguk. "Enak banget kok, Tan." Rubina memberikan penilaian secara objektif. Terlepas dari Marisa adalah calon mertuanya, Rubina memang merasa bahwa brownis itu sangatlah enak. Tidak terlalu manis dan pas di lidahnya.


"Kamu serius?"


"Aku serius, Tan. Brownisnya enak banget kok."


"Syukurlah kalau memang kamu suka, soalnya ini kali pertama bagi Tante bikin brownis seperti itu. Resepnya juga baru Tante lihat kemarin di internet," Marisa ikut tersenyum melihat tingkah manis Rubina menikmati brownis buatannya. "Oh iya, Bi. Tante mau tanya, kamu ke kondangan sama Sean pake motor yah?"


"Iya, Tan. Waktu itu kita berdua pakai motor."


Marisa menganggukkan kepalanya lambat-lambat.


"Padahal Tante udah nyuruh Sean buat pakai mobil loh. Tapi ya itulah dia, kadang dia tuh suka keras kepala kalau dibilangin. Tapi kan waktu itu hujan deras. Terus pulangnya gimana?"


"Aku sama Sean mampir di sebuah halte Tan. Kami menunggu di sana sampai hujannya reda."


"Apakah Sean baik sama kamu?" tanya Marisa. Dia menggali lebih dalam. "Maksud Tante gini, dia kan sangat menentang perjodohan ini, makanya tante cukup kaget saat tahu kalau Sean ngajakin kamu ke acara pernikahan temannya. Tapi kalau dia bersikap baik sama kamu, Tante seneng banget."


'Apa sebaiknya gue cerita ke tante Marisa yang sebenarnya?' pikir Rubina.