
Pukul tiga subuh...
Hans terbangun dari tidurnya ketika mendengar isak tangis seseorang yang
terdengar begitu dekat dari jaraknya saat ini. Kedua matanya perlahan terbuka, keadaan ruang temaram yang peetama kali mengisi retina. Hans memijat pelipis pelan, lalu mengernyit kian dalam.
Saat menoleh ke samping kirinya, ternyata Nadin yang sedang terisak pilu. Mata Hans melebar seketika, bingung harus bagaimana.
Kenapa dengan wanita itu? Apa dia sedang bermimpi buruk?
Dengan sedikit menurunkan ego, Hans menarik napas. Dia mengubah posisinya menghadap punggung Nadin. Tangannya yang besar itu terulur mengusap lengan Nadin.
"Kenapa kamu? mimpi buruk, Hm?!" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Wajah Hans masih datar, tidak menunjukkan ekspresi apapun. kerutan pada dahi dan kernyitan alisnya pun sudah tak terlihat.
Nadin terkesiap menerima sentuhan dari Hans, segera mengusap sisa air matanya. Menggeleng tegas, lalu berusaha meredam isak tangis. Hatinya teluka, dadanya terasa amat sesak.
"Aku nggak pa-pa." balasnya terputus-putus sambil terisak. jangan lupakan satu hal dalam sejarah kamus perwanitaan, jika mereka bilang tidak apa-apa, maka keadaan yang sebenarnya adalah dia tidak baik-baik saja. emang ruwet sih tapi itu benar.
Dan kata kebanyakan pria di luar sana, setiap yang berhubungan dengan wanita, terutama kalimatnya, sangat sulit untuk di mengerti. Padahal tidak juga, wanita begitu tandanya hanya memerlukan sedikit pengertian dari pria yang di cintainya.
Namun sekali lagi ditegaskan, bahwa Hans bukan pria seperti kebanyakan itu. kamus wanita cukup Hans pahami, dan semuanya mutlak. Dulu Almarhum dari kekasihnya itu sering merajuk, kesal, bahkan mogok bicara jika Hans melakukan sesuatu yang wanita itu tidak sukai.
Nadin tak kunjung mengubah posisi ke arah Hans, padahal pria itu masih mengusap pelan lengan Nadin dan sesekali mengusap ke punggungnya. Jujur ini pertama kalinya momen dimana Hans bersikap rendah hati dan menenangkan Nadin yang selalu dia anggap orang asing dalam kehidupannya.
"Menghadap ke sini, mau cerita sama saya?"
Nadin menghentikan suara tangis selama beberapa saat, namun cairan bening itu masih saja mengalir tanpa mau berhenti. Ketika mulut sudah tidak sanggup berucap, maka air mata yang berbicara. Wanita memang sulit dimengerti jika pria terlalu keras hati dan memiliki pemikiran sendiri tanpa mau melibatkan hati.
Dengan perlahan, Nadin akhirnya mau mengubah posisi menghadap Hans. Dan bukannya menghentikan tangis menjadi lebih tenang, tangis Nadin malah kian pecah. Di ruangan minim pencahayaan ini, Nadin masih bisa melihat bagaimana pahatan wajah suaminya. Tetap seperti yang sering Nadin lihat, Hans sama sekali tidak memiliki ekspresi.
"Kenapa?" Hans kembali membuka suara. Menjauhkan kedua tangan Nadin yang berusaha menutup wajahnya.
Pandangan mereka bertemu, Nadin terdiam membisu. Dia memang habis bermimpi buruk beberapa saat lalu, dan itu sangat mengguncang hati Nadin. Di dalam mimpi Nadin, kedua orang tuanya terus-terusan memaksa Nadin supaya hamil sampai ayah dan ibunya berteriak keras kepadanya, lalu berlalu di lain tempat Nadin bermimpi Hans berteriak di hadapan Nadin jika pria itu memang tidak berniat memiliki keturunan dan mengaku sama sekali tidak mencintai Nadin sama sekali. Tentu saja Nadin sangat terluka sekali mimpi itu seperti nyata baginya. Nadin tidak bisa bersikap baik-baik saja. Teramat pilu, hanya tangis yang mewakili suasana hatinya.
Apalagi ketika mengingat Hans memang tidak pernah menyentuhnya lagi sejak hari itu. Mereka masih tidur dalam selimut yang sama, berbagi tempat tidur dengan baik, tapi... mereka tidak saling bersinggungan. Ada banyak pertanyaan bermunculan, semua dominan kepada hal yang jelek-jelek. Apa Nadin begitu mengecewakan hingga takndapat memuaskan Hans?
"Mas... kamu nggak akan ninggalin aku kan?!" disela-sela isak tangis dan perasaan campur aduk, Nadin memberanikan diri bertanya hal demikian. Nadin takut kalau mimpinya akan menjadi kenyataan.
"Kamu mimpi buruk?!" bukanya menjawab, Hans malah balik melayangkan pertanyaan. Bukan itu yang Nadin harapkan, cukup bilang 'Iya' itu saja untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut.
"Mas, apa Mas nggak ingin punya keturunan di antara kita?"
Senyap. Seketika terdengar jelas detik jarum jam yang berputar. Langit yang tadinya tenang pun seketika hujan.
"kamu ngomong apa sih Nad?!"
"jawab aja dengan jujur, Mas. Aku benar kan? Kalau Mas nggak menginginkan anak dari aku?!"
Hans masih terdiam berfikir kalau Nadin sedang mengigau, dan sebagian nyawanya masih berkumpul di dunia mimpi.
Nadin kembali menangis, Hans makin bingung dibuatnya. Dia memang terlalu cemen kalau soal urusan memahami sifat wanita. Mereka tidak bisa ditebak maunya apa, kadang melenceng jauh dari perkiraan yang ada.
"Hei, Nadin.. kamu kenapa?? kenapa nangis lagi sih?!" Hans mengubah posisinya menjadi duduk, meraih remote di atas nakas. Memencet satu tombol yang ada di sana, ruangan sekejap berubah menjadi ada pencahayaan. Bukan lampu utama yang di nyalakan, hanya lampu yang menyorot ke arah tempat tidur.
"Kamu tidak lagi menyentuhku setelah hari itu. kamu juga menggunakan pengaman. Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku begitu mengecewakan?" Panjang lebar, Nadin memberitahu pada Hans kegundahan hatinya. membuat pria itu terdiam seribu bahasa, karena apa yang dikatakan oleh Nadin memang benar adanya.
Hans mengerjap beberapa kali untuk menetralkan rasa yang tiba-tiba menyelimutinya.
"Kamu diam, itu artinya apa yang aku katakan benar kan? terus kenapa kamu mau nikahin aku kalau kamu nggak cinta dan nggak menginginkan aku? aku tau kalau aku sangat suka dan cinta sama kamu, aku menutup mata dan hati ketika kamu mau nikahin aku, aku pikir setelah kita nikah kamu bakalan berubah dengan seiringnya waktu, dengan perhatian-perhatian kecil yang aku kasih buat kamu... tapi... semua itu hanya sia-sia..." ucap Nadin sedikit berteriak sambil terisak.
"Nggak, itu nggak benar, Nad!"
"Oh, kalau nggak benar kenapa saat kita melakukannya kamu seperti membangun benteng yang besar? Seolah kamu berkata kalau aku nggak boleh meraih apapun yang ada pada diri kamu. Dan sampai sekarang... mungkin selamanya, aku tetap menjadi orang asing." Nadin butuh penjelasan, dia begitu kepikiran dengan sikap Hans, apalagi ditambah dengan desakan kedua orang tuanya.
Ya... Mungkin saja menurutnya sikap Nadin beberapa hari ini sudah baik, trtapi belum tentu disisi Hans kan? Jika Nadib melakukan kesalahan yang menyinggung atau membuat Hans tidak nyaman, Nadin akan dengan senang hati meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Nadin msih jauh dari kata wanita baik, sebab itu dia juga memerlukan sosok Hans sebagai pengingat.
Hans terlihat diam dalam beberapa saat, nampak berpikir bahkan tak membuat kedua mata elangnya mengerjap. Jujur saja, Hans juga bingung bagaimana menjelaskannya. Kalau semua dia ungkapkan tanpa memikirkan siapa pun, tentu saja Nadin akan merasa tersakiti.
"Bukan begitu Nad, itu haya perasaan kamu saja!" dari manik matanya, Hans terlihat ragu.
"Aku tidak salah, aku melihat dan merasakannya cukup baik. Maaf kalau aku terlalu perasaan sama hal yang mungkin saja tidak penting buat kamu." Nadin menutup wajahnya, kembali terisak lagi. "Maaf kalau sudah mengacaukan malam baik kamu untuk beristirahat. Tidurlah. aku nggak apa-apa."
Apa Hans bisa kembali tidur kalau sudah begini keadaannya? Tentu saja tidak, sedikit banyaknya Hans juga kepikiran apa yang diucapkan Nadin.