I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 21 Kisah Hans



"Kak Hans??? Ya ampun... aku tuh nyariin Kak Hans, eh malah ketemunya disini..."


"Kamu..."


"Aku Aquila, Kak. Masa kakak lupa?"


"Aquila? Tapi... kenapa... " Hans terbata-bata tidak percaya apa yang dia lihat dengan matanya sekarang.


Aquila yang menyadari reaksi Hans pun hanya tersenyum.


"Kak! selama ini tuh aku nyari-nyari kak Hans, tapi aku bener-bener nggak bisa nemuin Kakak... kakak pasti kget liat aku kan? ceeitanya panjang kak."


"Dimana kamu tinggal?!" Aquila pun mengambil kartu namanya di tas kecilnya.


***


Di sebuah gedung pertokoan...



Nadin yang baru saja masuk ke gedung itu sambil membawa beberapa desain baju di tasnya...


"Quil, nih desain yang kamu minta semoga kamu suka ya..." ucap Nadin saat dia sudah masuk ke rungan Aquila.



cekikikan melihat kearah Nadin.


"Lagian seneng banget sih abis ikut pesta tadi malem.." sindir Nadin sambil tertawa.


"Iya, aku tuh ketemu sama cowok yang selama ini aku cari loh Nad... cinta pertama aku... Hah... sebenernya aku nyari dia dari dulu, tapi baru ketemu lagi tadi malem... nggak nyangka juga aku bisa ketemu sama dia disini lagi. dan rencannya aku mau ngajak dia jadi pasangan aku pas peresmian butik ini..."


"Hm... bagus deh... semoga lancar ya! oh iya, kamu jadi opening minggu depan? apa nggak kecepetan? ini aja ngatur ruangan belum beres loh?!"


"Tenang, lusa juga pasti udah beres kok--" ucapnya sambil melihat desain yang dibuat Nadin.


"Dan kayaknya desain kamu aku suka semua, aku serahin ke orang yang buatnya ya... nanti kamu aku kenalin jadi nanti biar kamu bisa meeting saat tahap pembuatannya.."


"Ok, siap!"


Ya... Nadin dan Aquila memang seumuran dan Aquila juga bilang jangan canggung pada saat bekerja dengannya, jadi mereka saling memanggil nama tanpa embel-embel.



"Seru banget ngobrolnya... makan yuk?! laper nih?!" ucap Bastian yang baru saja masuk ke ruanfan Aquila yang memang tidak di tutup.


"Eh... ga kerja lo? Kok jam segini malah berkeliaran disini?!"


"Abis rapat, lapar nguras otak.. ayo.. makan!" Nadin yang mendengarcpercakapan mereka berdua hanya tersenyum sambil geleng-geleng.


***


"So... hampir enam puluh persen ya tadi gue liat gedung lo... so jadi pengen cepet-cepet peresmian Butik lo deh Quil..."


"sabar ya... orang desain bajunya aja baru dateng tadi sore..." melirik kearah Nadin yang sibuk dengan makanannya.


"Oh iya, kata Tian kamu udah nikah ya?! nggak nyangka loh aku pikir kamu masih single, yah... kalah cepet lo Tian... sia-sia aja deh lo pulang kesini ternyata orangnya udah jadi milik orang lain..."


Ukhhukk ukhuukk..


Mendengar pernyataan Aquila, Bastian yang sedang makan pun tersedak. Nadin hanya tersenyum ke arah Bastian sambil menepuk-nepuk punggungnya sambil memberikan air minum.


"Aahh apaan sih lo Quil... kan udah gue bilang jangan dibahas lagi!" Aquila hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya yang harus memupuskan cintanya karena wanita yang di cintainya telah menikah.


"Oh iya, Nad... ajak suamimu aja nanti pas peresmian butik kita.."


"mmhhhmm aku nggak yakin dia bakalan mau Quil, soalnya suami aku itu orangnya sibuk... takutnya malah ganggu kerjaannya.."


"ah elaaaahh cuma acara bentaran doang kok, masa iya nggak mau nemenin istrinya, padahal saat itu kan kamu bakalan aku kenalin sebagai desainernya... harusnya bangga dong ya..."


"Nanti aku coba ngomong deh ya... tapi nggak janji ya..."


"Cieehhh.. inget, Nadin udah punya laki ya Tiian.."


"Iya-iya... bawel!"


Dan setelah itu Nadin sibuk di butik milik Aquila membantu Aquila untuk membuka tokonya dan juga menyiapkan baju-baju yang akan dipajang di manekin depan tokonya.


***


Di sebuah cafe...


Hans dan Aquila sedang duduk berhadapan menceritakan bagaimana bisa wajah Aquila bisa persis sekali dengan Azura.


"Jadi... ini ulah kedua orang tuamu?!" ucap Hans dengan datar.


"Hm... mereka nggak rela kalau putri pertama kebanggaan mereka telah meninggal jadi mereka maksa aku biar mirip sama Kak Azura dari mulai wajah, prilaku, pokoknya aku harus persis kayak kak Azura..." jelas Aquila sambil melihat kearah Hans.


"Apa kamu baik-baik saja?!"


"Ya... Selama ini meskipun mengubur jati diri Aquila... tapi aku bisa melaluinya, kaka tau bahkan teman-teman sekolah Kak Azura dulu menganggap aku beneran Kak Azura padahal mereka tau kalau kak Azura sudah meninggal... aku dari dulu tuh nyari kakak cuma buat ngadu hal ini... karena ini pasti akan mengingatkan kakak sama Kak Azura lagi, dan aku bener-bener minta maaf..."


"Kamu nggak salah Quil, tapi memang benar pertama kali melihat kamu saya benar-benar kaget, saya pikir kamu memang beneran Azura... tapi mendengar penjelasanmu, saya sangat lega. Kamu baik-baik saja selama ini, setelah kejadian itu..."


"Ya.. aku baik-baik aja Kak, ini juga berkat Kakak!" ucapnya sambil menggenggam tangan Hans. Hans hanya tetdiam masih memperhatikan wajah Aquila.


"Oh iya Kak, lusa aku ada pembukaan butik apa Kakak bisa datang?"


"butik?" ucap Hans sambil memicingkan matanya.


"Hm... aku pengen kakak jadi pendamping aku disana, bisa kan?"


"Quil... kamu tau kan, Azura meninggal gara-gara saya? saya nggak mau kamu---"


"Kak, aku tau Kak Azura sangat mencintai Kak Hans, dan dia tau resiko berada di sampingmu Kak, dan dia sudah siap dengan semuanya.. itu semua keputusannya, dan aku ngerti itu. begitu juga aku Kak, aku tau musuh-musuh kakak ada dimana-mana, aku tau resikonya ketika berada dekat sama kakak, jadi jangan larang aku buat menjauh darimu Kak..." Hans terdiam melihat raut wajah Aquila yang benar-benar mirip dengan Azura bahkan saat raut wajah yang memelas seperti ini, sampai Hans pun mengangguk karena tudak bisa menolak wajah itu. Aquila pun seketika merubah wajahnya jadi ceria, dia tersenyum ke arah Hans.


"Makasih, Kak Hans!"


***


"Mas... minggu besok bisa temenin aku nggak? aku ada acara, dan kata ownernya... aku bisa bawa pasangan..." ucap Nadin saat dia sedang membantu Hans menyiapkan baju untuk bekerja. Hans terdiam sejenak, dan mengingat janjinya pada Aquila.


"nggak bisa, Nad... hari itu saya ada acara!" ucap Hans lalu melangkah menuju kamar mandi. Nadin pun hanya terdiam.


Menikah tapi serasa tidak menikah.


Itulah yang dirasakan Nadin sekarang, dengan sikap dinginnya kemarin pada suaminya sekarang Hans malah semakin menjauh dari jangkauan Nadin, dan semakin tidak bisa Nadin gapai.


Dengan langkah penuh keyakinan Nadin pun mengikuti Hans ke kamar mandi, dengan niat ingin memperbaiki hubungannya dengan Hans yang sudah menjauh itu.


dengan menanggalkan semua bajunya Nadin masuk dan memeluk Hans yang sedang berdiri di tengah kucuran showernya. Hans yang merasakn ada yang memeluknya membuka matanya dan dan terdiam sejenak.


"Mas... apa pernikahan ini sebuah permainan buat Mas?!"


"Apa maksudmu?" ucapnya sambil membalikan badannya pada Nadin sambil melepaskan pelukan Nadin.


"Aku ngerasa Mas semakin hari semakin jauh dari jangkauan saya..."


"Bukannya kamu yang duluan menghindari saya, dengan tidur di gudang, tidak bicara memberi kabar apalagi tidak memberitahu keputusan resign nya kamu dari Wiriawan's Company?!"


"tapi Mas nggak pernah komplen, aku pengen Mas bilang kesalahan itu sama aku aku pengen Mas bicara sama aku dan--"


"Nad, dari awal kamu sudah tau saya serti apa, saya buka termasuk pria yang bisa membujuk ataupun memanjakan kamu..."


"Kalau Mas peduli dan berusaha mencintai aku pasti Mas akan berusaha buat ngelakuin semua itu, aku yakin sikap Mas sama Azura nggak sedingin ini.. iya kan?!"


Hans terdiam, memang benar saat dengan Azura meskipun sikapnya masih dingin tapi Hans akan berusaha untuk membuat Azura bahagia disampingnya.


"Aku capek Mas ngalah terus dan selalu ngertiin Mas..." Air mata Nadin pun tidak kuasa ditahan olehnya. Nadin menangis dibawah guyuran shower.


"I'm sorry..." ucap Hans sambil memeluk tubuh Nadin dalam dekapannya.