
Hans dan Dany dengan susah payah bergerah maju berusaha untyk masuk ke dalam gedung, dari mana-mana tembakan mengarah ke arahnya dan Dany. anak buah Hans pun berusaha mencari dimana titik serangan itu berasal dan dengan satu tembakan anak buah Hans pun menenbak tepat di kepala musuh. baku tembak pun masih terdengar nyaring.
Dany yang pertama masuk langsung menembak orang yang sedang berada di dekat tubuh Nadin dan menembakinya walaupun tidak mengenai Dany. Dany pun menembaki satu persatu sampai musuh yang ada di sana tumbang karena tertembak oleh pistolnya Dany. Beberapa kali Dany tertembak di bagian perut dan dada, tapi karena Dany dan juga Hans memakai rompi anti peluru mereka tidak terluka parah, hanya lecet-lecet dan memar.
Dany terdiam kaku seketika saat melihat kondisi Nadin yang sangat mengenaskan. Dany mulai mendekati Nadin dan mengecek keadaan Nadin yang masih bernafas tapi lemah.
"****... Boss!!" teriak Dany, lalu segera menelepon 118 memanggil ambulance untuk segera datang ke sini.
Hans yang baru saja masuk ke dekat Dany tidak percaya apa yang dilihatnya. Sosok Nadin yang sekarang sangat tragis mengenaskan darah ada dimana-mana, kedua kakinya, perutnya yang disayat dengan sangat dalam, pipi Nadin juga di sayat.
"No.. Nad... Nadin...bangun Nad... Nadin!" teriaknya terbata-bata, panik, sambil menepuk-nepuk pipi Nadin dan mengecek nadi di tangan Nadin juga mendengarkan suara napas Nadin yang makin kesini makin lemah. lalu melepaskan tali yang mengikatnya ke kursi lalu membaringkan tubuh Nadin di lantai. terlihat baju Hans terkena darah milik Nadin.
"Nadin Please....!" mulai menangis memeluk kepala Nadin ke pelukannya mulai meneteskan air mata.
"i'am sorry... I know I'm wrong, I never said right? If--- I love you, Nad. I love you so much, I don't know when I started feeling this but... I really don't want to lose you.. please Nad.. hold on for me... ok!"
(Saya minta maaf... saya tau saya salah, saya tidak pernah bilang kan? kalau--- Saya mencintaimu, Nad. Saya sangat menyayangimu, entah dari kapan saya mulai merasakan ini tapi... saya benar-benar tidak mau kehilanganmu.. please Nad.. betahanlah buat saya... ok!)
lirihnya terselip karena tangisannya, tangannya menutup perut Nadin nerusaha menghentikan pendarahan yang keluar dari perutnya agar tidak lebih banyak lagi masih dengan tangisnya yang bergetar.
"Aaaaaaaaaaaaaakkkkkhhhhh!!!!" teriak Hans mengeluarkan emosinya. Sedih, marah, dan yang pasti sekarang, dia ingin menghabisi orang-orang yang membuat istrinya seperti ini tentunya!
Dany yang melihat Hans pun merasa sedih. Tak lama Dany menerima informasi dari anak buahnya perihal tentang siapa orang dibalik penyerangan pada Nadin. Dany pun melihat informasi tersebut sangat marah.
Saat para musuh sudah di lumpuhkan Saat itu juga ambulance datang. Para petugas medis pun langsung menangani Nadin.
"Pak.. bisa tolong minggir!" ucao salah satu petugas menyuruh Hans untuk melepaskan tubuh Nadin.
"Tolong selamatkan istri saya... saya mohon Pak!" ucapnya masih menangis, bodo amat dengan karisma dingin bengis angkuh yang selama ini dia perlihatkan dihadapan semua orang, dan disaat seperti ini Nadin adalah prioritas utama, dan dia benar-benar tidak bisa menahan emosinya ketika melihat istri yang dia cintai dan sayanginya menjadi seperti ini, sangat mengenaskan.
"Insya Allah, kami akan berusaha semampu kami, bantu kami dengan doa Pak!" ucap petugas yang satunya lagi, karena oetugas tadi langsung menindak Nadin untyk di observasi.
K dialau Althea tau saat ini juga Hans bisa dibunuhnya karena tidak bisa menjaga Nadin dengan baik seperti janjinya saat akad.
Saat Nadin dibawa masuk ke dalam ambulance, Hans pun ikut berdiri dengan lunglai, dia menghela napas panjang berfikir sejenak lalu menghampiri Dany.
"Apa bapak ikut kami di dalam ambulance?" ucap salah satu petugas bertanya pada Hans.
"Boss!"
"Dan, ikutlah sama ambulance, dan tolong jaga Nadin... kabari saya kondisi Nadin."
"Tapi---"
"Berikan alamatnya? Saya yang akan mencari mereka..." Dany pun segera mengangguk, lalu memberikan kunci mobilnya pada Hans.
"Hati-hati Boss!" ucap Dany lalu segera masuk ke dalam mobil ambulance.
Hans pun segera berjalan ke arah mobilnya. dan melajukan mobilnya ke jalan raya, lalu di beakangnya beberapa mobil yang di dalamnya adalah anak buah Hans mengikuti mobil Hans. Hans pun melirik kaca spion luar dan kaca depan melihat semua anak buahnya yang tersisa dengan setia mengikutinya, itu juga yang diperintahkan oleh Dany pada semua anak buahnya. Lalu handphone Hans pun berbunyi tanda message masuk. Hans segera membuka message itu karena dia tau kalau itu dari Dany yang memberikan alamat Aquila dan anak buahnya. Dengan wajah dinginnya Hans menancapkan gasnya dan mobil pun menjadi lebih cepat.
Hans sampai di markas tempat anak buahnya Althea berada. Saat berhenti di salah satu rumah yang tidak terurus Hans keluar dari mobil langsung menuju rumah itu. Hans menendang pintu rumah sampai pintu rumah itu roboh, beberapa orang yang ada disana kaget melihat Hans sudah berada disana dan belum sempat mereka mengambil senjata mereka Hans langsung menembaki mereka di kepala mereka dan dada mereka agar mereka tudak bisa bergerak lagi. Setelah melumpuhkan para musuh, Hans pun lalu berjalan ke arah tangga dan berjalan menyusuri tangga dengan pistol yang masih di tembakinya pada musuh yang masih ada dan hendak menyerangnya saat perjalanannya ke lantai atas.
Brakkkk!!!
Hans terdiam saat membuka pintu salah satu kamar dan melihat ada pria yang sedang duduk sambil menggenggam botol juga mengarahkan pistol ke arah Hans.
"Hallo Hans... jumpa lagi ya kita..."
"Kau..." menurunkan senjatanya.
"Ya... ini aku... yang dulu kau anggap Kakak dan selalu ada disaat kamu membutuhkan obat dan minuman!"
hayooo... bentar lagi tamat niihh...
ga bosen-bosen ya gw mengingatkan setelah baca jgn lupa klik like kalo bisa share ya... hihi klik fav juga biar kalian tau upnya...
disini update tiap hari selasa, kamis,sabtu dan minggu ya guys..
so suport me dengan komen-komen positip kalian dan komen-komen ceeitanya juga biar gw semangat nulis dan ngasiin ide2 yang luar biasa... hihi
thank you...