
Di ruang perawatan VVVIP di Rumah Sakit milik Tyo Henney...
Althea yang masih terbaring di ranjang rumah sakit masih tertidur karena mengeluarkan tenaga saat melahirkan dan juga pengaruh obat tidur agar dia bisa istirahat total, tangannya tak lupa diberi nutrisi berupa infusan untuk tubuh agar tidak dehidrasi dan kelaparan. Sementara Danniel, Daddy, Mommy, Papah Angga dan Mamah Nesya duduk di sofa yang disediakan di ruangan itu untuk menunggui Althea.
"Bagaimana di kantor Niel apa pegawai tau kalau kamu mempunyai seorang putra?" Tanya Daddy antusias melihat putra keduanya yang baru saja berubah gelar dari suami menjadi ayah.
"Tentu aja Dad... Hans sudah mengumumkan nya lewat sekretaris saya... Dan untuk masalah hak yang akan di dapatkan saya juga sudah bilang pada Hans dan pengacara bahwa perusahaan yang berada di LA berubah kepemilikan jadi nama putra saya Dad... Saya memang sudah memikirkannya sudah lama, kalau putra saya lahir dia akan mempunyai hak atas salah satu perusahaan saya rintis dari nol untuknya."
"Hm... Baguslah... Kau sudah berfikir kesana..." Tandas Daddy sambil mengangukan kepalanya setuju.
"Tapi apa itu tidak berlebihan Nak..." Ucap Papah Angga.
"tentu saja tidak Pah... Dia memang ditakdirkan untuk menjadi penerus dari keluarga Henney."
"Apa kamu sudah memikirkan nama untuknya Nak?" Ucap Mamah Nesya penasaran.
"Sudah mah, namanya adalah Emerald Henney Wiriawan... Emerald dari kata batu permata karena kita berdua memang ingin nama anak dari permata, dan nama belakangnya kita mengambil dari nama Daddy dan juga Papah.. Nggak apa-apa kan Dad? Pah?"
"Bicara apa kamu tentu saja Daddy senang... Iya kan Pak..." Ucapnya pada papah Angga.
"Betul sekali saya merasa bangga karena nama saya ada pada cucuku..." Ucapnya sambil tertawa.
Tak lama Althea pun tersadar dari tidurnya.
"Hmmm...." Gumamnya sambil membuka mata dan terdiam menatap langit-langit Rumah Sakit.
"Althea kau sudah sadar nak..." Ucap Papah Angga menghampiri Althea mencium kening Althea sambil mendoakan Althea. Althea hanya tersenyum kearah Papahnya.
"Thanks pah..."
"Selamat ya sayang... Akhirnya sudah resmi menjadi seorang Ibu..." Ucap Mamah Nesya mengikuti Angga berdiri disampingnya sambil menggenggam tangan Althea.
"Makasih mah... Apa bayinya sehat?"
"Kamu ini ngomong apa? Tentu aja jagoan kita sehat, Ibunya aja stronger..." Ucap Danniel berada di sisi sebrang Oapah Angga sambil mengelus kepala Althea sayang.
"Tadi suster kesini melihat keadaanmu, tadinya kalau kamu sudah bangun dia mu bawa bayinya kesini biar disusuin kamu..." Jelas Mommy.
"Kalau begitu saya bilang susternya dulu ya buar bayinya bisa dibawa kesini..." Ucap Danniel beranjak dan meninggalkan Althea.
"Cucuku ganteng sekali loh Nak.. Perpaduan antara kamu dan Danniel..." Ucap Daddy Tyo. Sementara Althea beranjak untuk duduk dan dibantu oleh Mommy dan juga mamah Nesya.
Tak lama Danniel datang dengan membawa bayi Eme ditangannya diikuti suster yang akan menjelaskan tata cara menyusui pada Althea.
...Emerald Henney Wiriawan...
Danniel pun membeeikannya pada Althea dan suster pun menjelaskan bagaimana cara mengurus bayi baru lahir dan juga cara menyusui dengan baik agar bayi tidak tersedak air susu dan makanan apa saja yang boleh dimakan setelah 6 bulan lebih dan bla..bla..bla..
Dan waktu pun berjalan dengan begitu cepat.
***
9 tahun kemudian...
Di ruang rapat... Semua ketua divisi beserta jajaranya sudah datang dan menunggu sang CEO untuk hadir di ruangan itu.
Dan tak lama kemudian Danniel diapit dengan Rafael dan juga Hans berjalan dengan gagahnya ke dalam ruang rapat sementara orang yang hadir disana seketika berdiri dan memberi hormat kepada Danniel.
"Hmm duduklah..." Ucap Danniel tegas sambil duduk di kursi yang telah disediakan. Begitu pun dengan Hans dan juga Rafael.
Saat para karyawan mempresentasikan laporan bulanan mereka... Tidak lama kemudian handphone Danniel bergetar dan saat Danniel melihat di layar ternyata nomor dari sekolahnya Eme yang menelpon. Danniel pun mendiamkannya sejenak dan fokus lagi kepada rapatnya. Tak lama telpon itu kembali bergetar Danniel menatap layar handphonenya mengerutkan keningnya. Hans yang susah tau gelagat Danniel yang sedang bingung oun mendekati Danniel.
"Kenapa boss?"
"Hmm... Dari sekolahan nya Eme..." Hans melirik kearah layar Handphone Danniel.
"Pergilah.. disini da Rafael dan saya.. Atau saya ikut juga?"
"Mmhh... Tidak biar saya saja.. Kalian tolong handle rapat ini..."
"Jangan lupa nanti sore kamu berangkat ke Singapore Niel...!" Ucap Rafael saat ikut mendekati Danniel dan mendengar masalahnya.
Danniel pun menghela napas sambil mengerutkan tangannya di keningnya.
"Baiklah, setelah selesai urusan Eme saya balik lagi kesini!" Ucapnya pelan pada kedua sahabatnya.
"Maaf, rapat kali ini teruskan tanpa kehadiran saya! Rafael dan Hans yang akan menggantikan saya!" Ucapnya sambil berdiri dan melihat peserta rapat lain. Dan peserta lain pun menghela napas lega setelah dari tadi tegang karena aura dingin yang dimiliki Danniel saat tengah mendengarkan presentasi dari Divisi promotion.
***
Di rumah Danniel...
Emerald bergegas masuk kedalam rumah sambil menahan emosi karena sedang marah. Tak lama Danniel dan Althea berjalan di belakang Emerald. Saat Emerald hendak naik keatas...
"Eme... tunggu! Duduklah, Papah mau bicara!"
"Pah, aku mau ke kamar aku capek..."
"Duduk dan bicara dengan Papah sekarang!?" Ucap Danniel dengan nada sedikit tinggi dan tegas, sampai Emerald dan Althea terdiam.
Althea melihat kearah Emerald memberi gelengan sebagai kode agar Emerald patuh pada Papahnya.
Emerald pun menuruti apa yang dikatakan Papah nya dengan terpaksa. Danniel dan Althea berdiri di hadapan Emerald menunggu penjelasan dari Emerald.
"Jadi apa yang membuat emosimu naik sampai kamu memukuli teman sebangkumu?"
"Percuma aku bilang sama Papah juga toh Papah nggak akan percaya sama aku kan? Papah lebih percaya sama omongan orang!" Teriak Emerald yang masih emosi lalu beranjak meninggalkan Danniel dan Althea yang masih berdiri. Danniel pun ikut emosi melihat kelakuan Emerald. Danniel yang hendak menyusul Emerald keatas ditahn Althea.
"Hei.. Yang... Jangan sekarang!" Melihat kearah Danniel sambil menggelengkan kepalanya. "Bicara padanya sekarang malah akan bertengkar... Sifat Eme sama kayak kamu nggak ada yang mau ngalah..."
"Tapi Al..."
"Biar nanti aku aja yang bicara sama Eme setelah emosinya reda ok?!" Ucap Althea mendekati Danniel merangkul pundak Danniel sambil mengecup bibir Danniel.
"Yang... bukanya kamu harus ke kantor lagi? Nanti jadi kan langsung ke Singapore?"
"Hmmm... Jadi... Tapi saya nggak bisa ninggalin bocah satu itu.."
"Hey.. Hey.. Ada saya... Kamu nanti tinggal telpon saya buat mastiin!"
"Kamu yakin?"
"Hmm.. Sangat yakin! Hanya saja kasih waktu buat Eme untuk berfikir.. Okay?!"
"Hmm baiklah..."
Althea pun menurunkan kedua tangannya sampai memegang kedua tangan Danniel dan meletakannya di kedua dadanya sambil tersenyum penuh arti lalu dia turunkan lagi ke pinggulnya sampai memeluk tubuh Althea.
"Hati-hati di Singapore, jangan maen mata sama cewek-cewek disana... Kalau nggak kamu nggak bakal dapet ini semua. Got it?! Sekarang kamu pergi....!!" Ucap Althea sambil mendorong Danniel keluar dari rumah.