
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Rubina merupakan orang terakhir yang bergabung di meja makan.
“Dari tadi dipanggilin juga, kok enggak nyaut-nyaut sih Bi? Emang lagi ngapain di kamar?” tanya Althea begitu indra penglihatannya menemukan anak perempuannya telah duduk disebelah Emerald.
“Biasalah Bu, palingan nonton korea-korean mulu dia,” komentar bernada judes itu disampaikan oleh Emerald. Sepertinya dia ingin memulai peperangan dengan adik perempuannya.
“Eme...” tandas Danniel yang ikut memincing kearah putra pertamanya itu memberi peringatan. Heran dengan kelakuan kedua anaknya ini, tiap hari ada saja bahan untuk pertengkaran mereka. Kayak tom and jerry. Tapi saat mereka berpisah mereka saling menanyakan kabar dan saling rindu.
“Heh, yang ditanya itu Rubina. Ru-bi-na. Bukan Emerald!” sahut Rubina sambil menatap tajam kepada kakaknya. Begitu urusannya dengan Emerald beres, Rubina langsung mengembalikan perhatiannya kepada Ibu dan Ayahnya yang masih menunggu jawabannya. “Maaf, Pah, Bu, tadi Bina nonton pas selesai kerja tugas, makanya aku enggak denger waktu Ibu manggil aku. Maaf yah Bu, Pah,” ucapnya dibarengi oleh kedua telapak yang saling bertaut tanda merasa bersalah.
“Nggak apa-apa, sayang!” ujar Danniel, lalu tersenyum semata-mata untuk menghilangkan perasaan bersalah yang diperlihatkan Rubina lewat air mukanya. Sementara Althea hanya tersenyum melihat suaminya yang sangat memanjakan putrinya itu.
"Hari ini Ibu udah masakin masakan kesukaan kalian loh," Althea membantu memindahkan beberapa potong rendang kepiring milik Emerald, Rubina, dan juga kepiring milik suaminya secara bergantian. Tentu saja Althea tidak perlu repot-repot menyiapkan berbagai jenis makanan karena pada dasarnya seluruh anggota keluarganya itu sangat menyukai rendang buatannya.
"Sumpah, rendang buatan Ibu emang gak pernah gagal di tenggorokan aku," puji Emerald di gigitan pertama pada daging empuk buatan sang Ibu. “Rasanya tuh pas banget. Enggak kurang, enggak berlebihan juga, pas banget," lanjutnya di tengah-tengah gerakan rahangnya sewaktu mengunyah.
"Setuju sih kalo buat urusan ini," walaupun jarang sependapat dengan kakak laki-lakinya namun untuk urusan rendang Ibunya, Rubina sangatlah setuju. Bukannya hiperbola, tapi kenyataannya memang seperti itu. Rubina selalu saja takjub dengan rasa rendang buatan maminya. "Padahal aku belum makan loh. Tapi aku udah bisa jamin kalo rasa rendang buatan Ibu sangat... sangat... sangat enak!"
“Istri siapa dulu dong?” ucap Danniel bangga dan mengerling pada Althea disertai senyum menggodanya. Althea hanya menggeleng melihat kelakuan suaminya itu sambil tersenyum.
“ye... ye... ye...” ucap Rubina dan Emerald bersamaan.
“Ck... lebay! Udah cepet makan."
Selama lima belas menit waktu yang mereka habiskan menikmati makanan lezat yang dibuat langsung oleh Althea. Urutannya seperti biasa, Danniel dan Emerald yang lebih dulu menghabiskan makanannya. Sementara Rubina dan Althea selesainya baru di beberapa menit selanjutnya.
"Tunggu, Eme!" dengan kalimatnya Danniel mencegat putranya yang sudah akan meninggalkan meja makan.
"Kenapa Pah?" bingung Emerald. Terlihat lipatan samar di dahinya yang telah berubah jadi lipatan yang begitu dalam. Emerald merasa bingung karena biasanya setelah makan dia memang langsung kembali ke kamar. Tumben Ayahnya menahannya seperti ini. "Ada sesuatu yang mau diobrin, Pah?" Emerald menebak-nebak.
"Iya," jawab Danniel tak lupa menyertakan anggukan yang menjadi penegas ucapannya. “Papah mau bilang sesuatu yang penting. Makanya kamu jangan ke kamar dulu sampai Bina dan Ibu beres makannya."
Jiwa-jiwa keingintahuan Rubina serasa meronta saat Ayahnya mengatakan akan menyampaikan sesuatu yang sifatnya penting. Saking sudah kepo nya dengan itu Rubina menelan secara paksa suapan terakhirnya. Dilanjutkan meneguk air putih.
"Emang Papah mau bahas apa? Bina udah beres kok makannya," Rubina sudah tidak sabaran.
Danniel terdiam sejenak lalu menghela napas berat. Althea yang mengerti akan situasi Danniel pun hanya menggenggam tangan suaminya memberi dukungan dan menguatkan suamninya itu untuk berbicara.
"Hah... Jadi Papah tuh mau bahas tentang perjodohan,” ungkap Danniel mengernyit ragu dan ucapan itu pula yang membuat kedua anaknya kompak saling mengadu manik mata satu sama lain sebelum akhirnya mereka sama-sama mengembalikan fokus ke wajah sang Ayah.
"Dulu Grandpa kalian tuh udah ada janji sama sahabat baiknya. Mereka berencana buat menjodohkan anak-anak mereka suatu hari nanti. Tapi karena anak-anak kedua belah pihak semua cowok jadi mereka menunggu sampai cucu-cucunya. Ya... Sebenernya Papah juga nggak setuju sih, papa malah sempet berantem sama Grandpa kalian buat belain kalian supaya nggak dijodoh-jodohin. Tapi mau gimana lagi... karena alasan mereka udah buat janji, Ibu kalian juga berpikir kalo nggak ada salahnya dicoba... Maaf ya kids..." Ucap Danniel sendu.
Sementara Rubina mengerling ke arah kakaknya. Alam bawah sadar membuatnya refleks melengkungkan senyuman di bibirnya.
"Aku setuju sih Pah. Lagian makin hari kan Eme juga makin tambah tua tuh umurnya. Dan di umurnya yang sekarang menurut aku udah pas banget sih kalo misalkan dia nikah. Biar anu-nya enggak Cuma dipakek pipis doang!” tidak lupa pada kebiasaannya yang mencibir kakaknya diakhir kalimatnya.
“Bi... your words!” tegur Danniel yang merasa bahwa ucapan anak perempuannya itu telah melewati ambang batas kewajaran.
“Enggak boleh ngomong begitu sama orang yang lebih tua! Emang kita ngajarin itu ke kamu ya? Ayo minta maaf sama kakak kamu!” Althea
“Mampus Lo, kena semprot kan? Durhaka sama kakak Lo sih,” walaupun dalam artian sedang berbisik, namun sekiranya Rubina bisa mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya saat itu.
"Iya... Maafin ya kak Eme!"
"Yang ikhlas kalau minta maaf," tegur Emerald sengaja ingin memainkan emosi adiknya.
'Sabar Bi,' batin Rubina menyemangati dirinya sendiri supaya tidak terpancing emosi yang sengajaingin dilakukan oleh kakaknya. "Aku minta maaf Kakakku yang ganteng baik hati jujur dan nggak sombong... Pokonya Ter the bestlah" berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini Rubina menyertakan senyum yang dinilai oleh Emerald sebagai senyum yang dipaksakan.
"Nah, gitu dong! Kalo minta maaf harus ikhlas. Ya, walaupun ikhlasnya setengah doang sih!" selesai dengan urusan adiknya. Emerald terlihat sedang mengarahkan wajahnya pada sang ayah. "Soal perjodohan itu, apa bisa jelasin lebih lanjut, Pah? Soalnya jujur aja aku belum siap buat nikah. Papah tau sendiri kerjaan aku juga masih banyak. Enggak mungkin dong Pah kalau aku nerima perjodohan ini?!"
“Phhhttt... siapa bilang kalo Grandpa mau jodohin kamu, Eme? Lagian emang ada yang mau sama cowok angkuh kayak kamu?” sela Althea menahan tawanya, gemas sama Anak pertamanya itu yang terlalu percaya diri.
“Dih... Ibu bukanya dukung anaknya, malah dikatain!” ucapnya cemberut.
“Diihh... emang kenyataannya gitu kok! Makanya mukanya jangan dijutek-jutekin, banyak senyum! Lagian nurun dari siapa sih? Papah kamu aja murah senyum!”
Danniel yang dibicarakan oleh istrinya langsung tersenyum kearah Althea.
“Tunggu, kalo bukan ngomongin perjodohan kak Eme, trus perjodohan siapa?” tandas Rubina juga sama bingung dari tadi.
“Ya kamulah Bi...” balas Emerald kearah Rubina dengan menerbitkan senyum smirknya. Dan menaik turunkan halisnya.
“Pah, serius?” ucapnya menganga sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kita serius, Bi. Apa untungnya juga kita bercanda soal hal penting kayak gini?" Althea.
“Hah... Maafin Papah, Bi!”
"Jadi gimana Bi? Kamu mau dijodohin sama cucunya teman Grandpa?” Althea menyela, karena tau kalau Suaminya tidak bisa untuk membahas hal itu, lalu memberi tatapan yang begitu intens. Dia melihat Rubina yang masih memperlihatkan rahang bawah yang terjatuh.
Keheningan berlangsung selama beberapa saat. Baik itu Danniel, Althea, dan juga Emerald sedang merapatkan kedua sisi bibirnya. Sementara itu arah pandangan mereka tertuju kepada Rubina.
“Duh... Tapi, aku tuh enggak mau dijodohin.”
“Alasannya?” Althea memincing.
“Bu, sekarang bukan jaman jodoh-jodohan lagi. Emangnya Papah sama Ibu mau kalo anak Papah yang cantik ini nikah dengan orang yang enggak aku cintai sama sekali?” Tanya Rubina.
“Cinta itu bisa tumbuh seiring waktu berjalan, Bi,” sambung Althea, sementara Rubina mencebik.