I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 33



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Sorry nih Bro. Tapi apa sih alesan lo nolak perjodohan ini? Bukannya memihak siapa-siapa nih. Cuma menurut gue sih, nggak ada salahnya ya lo nyoba buat buka hati lo sama Bina. Gue rasa selama ini hati lo terlalu beku. Gue bisa liat si Bina cinta banget sama lo. come on, coba buka hati buat dia! Jangan biarin sikap dingin lo itu nyulitin hidup lo."


Sean bungkam. Dia tidak tahu harus bilang apa ke Nino sebagai balasannya. Karena Sean membungkam, Nino akhirnya menggunakan kesempatan itu untuk kembali mengatakan apa yang seharusnya dia sampaikan.


"Bukannya mau sok ngajarin yah. Tapi si Bina udah berusaha ngejar-ngejar cinta lo sejak lama lo. Koreksi kalau gue salah, tapi gue lihat kalo si Bina itu punya tingkat kesetiaan yang bagus loh. Apa sih yang buat lo susah buka hati sama dia?"


"Dari awal gue nggak pernah menampik kenyataan. Apalagi tentang visual dia. Tanpa diceritain pun semua orang tau kalo Bina punya visual yang bagus. Cuma gue nggak suka aja sama sikap dia yang nyebelin dan hanya buat gue risih tiap kali gue ada di deket dia." jelas Sean


"Menikah itu kan menyatukan antara dua orang dengan latar belakang yang beda. Menurut gue, lo sama Bina cocok kok. Di satu sisi lo yang kadang-kadang kaku dan punya sikap dingin kalo ketemu sama cewek ceria kayak si Bina. Menurut gue kalian berdua bakalan saling melengkapi. Sebaiknya lo nyoba buka hati lo buat dia. Kalo emang sulit, coba lakukan secara perlahan!" Nino menyarankan dengan pemilihan kata yang teramat bijak-seolah-olah dia sudah sangat pro dalam hal asmara.


*****


USAI memarkirkan motornya di pelataran rumah orangtuanya. Sean pun membawa kotak besi berisikan kucing kesayangannya itu ke dalam. Tadi juga sebelum berangkat menjemput Lion di jasa penitipan hewan Sean sudah menyiapkan makanan dan juga pasir untuk kotoran kucingnya itu. Sehingga Sean tidak perlu repot-repot lagi mengingat perlengkapan kucingnya memang ada di apartemennya.


Sean masuk lewat pintu utama. Dia tidak lupa menguncinya begitu dia sudah ada di dalam. Setelah itu Sean segera menuju ke kamarnya. Sean menghabiskan beberapa menitnya di kamar untuk membersihkan badannya yang terasa lengket karena keringat. Secepat mungkin setelah Sean mandi lalu dia mengganti pakaiannya dengan sebuah boxer. Sementara untuk atasannya Sean memilih untuk mengeksposnya saja. Lagipula saat ini dia sedang berada di rumah. Tidak ada orang yang bisa melihatnya dalam keadaan shirtless seperti ini.


Selesai dengan urusan mandinya. Kali ini Sean membuka kandang kucingnya. Dia mengeluarkan Lion dari dalam sana. Sambil menggendong makhluk berbulu itu ke dalam pelukannya. Sean bergegas ke lantai bawah.


"Bu?" panggilnya. Sean menyusuri beberapa ruangan di rumah megah itu.


Bahkan dia memeriksa kamar ibunya. Tapi yang dijumpainya ruangan itu terlihat sedang tidak berpenghuni.


Suasana di rumah memang sudah sepi. Kemarin lebih tepatnya Kakek, kakak, kakak ipar, dan adik perempuannya sudah kembali ke Bali. Katanya mereka akan kembali lagi kalau pernikahan Sean sudah semakin dekat.


Masih dengan menggendong kucingnya Sean membawa langkah kakinya ke dapur. Siapa tahu ibunya memang sedang ada di sana menyiapkan makanan untuknya. Karena ide yang baru terbesit itu Sean memutuskan untuk membawa langkah kaki jenjangnya menuju ke dapur. Sekali lagi Sean hanya bisa mengumpat dalam hati saat kenyataan tidak berjalan sesuai dengan yang dia harapkan.


Rubina yang sedang merapikan isi freezer memutuskan untuk balik badan. Dan ketika dia telah memutar tumit menghadap sumber suara. Saat itu juga Rubina meneguk salivanya secara kasar. Tanpa unsur kesengajaan Rubina menemukan Sean yang kala itu sedang mempertontonkan otot perutnya. Rubina yang menganggap hal itu sangatlah sayang untuk diabaikan tentu tidak melewatkan momen tersebut. Maka dari itu dia beberapa kali menatap ke bagian perut Sean yang memang sangat menggoda.




"Kamu pikir saya nggak liat? Sebaiknya berhenti liatin bagian perut saya!" rutuk Sean kesal, "Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan."


"Aku nggak lagi ngambil kesempatan dalam kesempitan kok. Aku cuma memanfaatkan momen yang sayang buat dilewatin. Lagian kan kamu juga yang nggak pake atasan sampe mempertontonkan otot perut kamu, kenapa sekarang kamu malah nyalahin aku?"


"Salahnya karena kamu memanfaatkan situasi. Emang Saya yang sengaja mengekspos tubuh saya, tapi di sini kamu juga salah karena nggak bisa mengkondisikan mata kamu. Kamu terus aja ngeliatin otot perut saya. Dan bukan sekali dua kali kamu ngelirik ke arah sana. Saya beberapa kali liat kamu liatin itu dengan mata kepala saya sendiri.


Rubina hanya bisa terdiam merapatkan kedua sisi bibirnya. Memang benar yang Sean katakan. Sejak tadi dia memang beberapa kali mencuri-curi pandang kepada perut kotak-kotak Sean yang kala itu sedikit terhalang karena posisi Sean yang sedang menggendong makhluk menggemaskan berwarna abu-abu.


Disertai dengan bunyi decakan kekesalan, Sean menurunkan Lion dari gendongannya. Gerakan memutar tumit segera dia lakukan kemudian menyusulkan langkah dipercepat. Wajah Sean disepanjang jalan dari dapur menuju ke kamarnya terlihat sangat tidak bersahabat. Seakan-akan dia sudah tidak memiliki kebebasan. Disetiap kesempatan dia selalu saja bertemu dengan Rubina.


Setelah Sean menyelesaikan tujuannya mengenakan pakaian sewaktu di kamar. Akhirnya dia kembali ke dapur. Tujuannya bukan untuk bertemu Rubina. Sean semata-mata ingin mengambil Lion karena sebelumnya dia menurunkan hewan berbulu itu di dapur pada saat dia memutuskan untuk kembali ke kamar.


Setibanya Sean di dapur hal yang pertama kali dia lihat adalah interaksi kucingnya dengan Rubina. Rubina begitu cekatan dalam menggendong Lion. Tidak terlihat sedikit pun ketakutan pada dirinya mengingat beberapa perempuan yang Sean kenal takut dengan kucing.


Tapi Sean merasa ada yang aneh. Yang dia tahu Lion itu adalah tipikal kucing yang pemalu -ya... sebelas dua belas lah sama Sean selaku pemiliknya. Terlebih lagi menyangkut orang baru. Tapi kok saat ini Sean sedang melihat Lion begitu nyaman di dalam pelukan Rubina?


"Kamu ngapain Lion?" pria itu melangkah dengan pandangan yang meredup mencurigai usai ucapannya tandas. Setelah jaraknya dengan Rubina sudah kurang dari dua meter mendadak saja pria itu mengangkat kedua tangannya secara bersamaan. Kedua tangannya itu berakhir terlipat di depan dada bidangnya. Bahkan sekarang pandangan khas mencurigai itu masih saja terlihat.


"Emangnya aku ngelakuin apa?" heran Rubina. Rubi a merasa dirinya tidak melakukan kesalahan tetapi lihat saja Sean yang seakan-akan mencari-cari kesalahannya.


"Kamu maksa Lion buat digendong kan?" tanya Sean namun rasanya dia sedang memberikan sebuah tuduhan terhadap lawan bicaranya.