I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 14 Kisah Hans



Harus Nadin yang selalu memahami Hans? Kapan pria itu akan melakukan hal yang sama padanya? Nadin memiliki perasaan, dan hal ini begitu sangat melukainya.


Tanpa berbicara lebih banyak, Hans bersiap membawanya ke dalam surga penuh jurang. Nadin berusaha menerima dan mengulas senyum meski hatinya sedang tidak baik-baik saja. mood seketika menyurut. Meski kecewa, Nadin tetap tidak tega jika membiarkan Hans melakukan kemesraan ini sendiri. Kembali Mengalah adalah kewajiban yang harus dilakukan bagi Nadin sekarang.


Selesai bertukar rasa, Hans langsung melanjutkan tidur tanpa melakukan sesuatu yang membuat Nadin senang. Ini kali kedua mereka meleburkan diri menjadi satu, tapi Hans tidak pernah mengukir moment manis setelahnya. Tidak pernah menanyakan apakah Nadin merasa nyaman, bercerita singkat, atau saling berpelukan hangat. Nadin terdiam melihat ke langit-langit kamar sambil mengusap dadanya, kembali mengingatkan diri untuk tidak terlalu berlebihan dalam mengharapkan sesuatu. Apalagibhal tersebut tentang Hans, Nadin sudah yakin tidak mungkin mendapatkannya.


Tak lama Nadin menoleh pada Hans, ternyata pria itu memunggungi Nadin. Napasnya nampak beraturan, ternyata pria itu sudah tertidur sangat nyenyak.


"Kita memang sejauh itu, Mas!" gumam Nadin terdengar menyakitkan.


Setelah puas melihat punggung Hans dan mengingat kisah percintaannya dari awal sampai sekarang dengan Hans, Nadin pun meneteskan air mata, hatinya benar-benar sakit. Nadin lalu bangkit dari tidurnya dan menghapus air matanya, lalu beranjak dari kasurnya melangkah ke ruang pakaian mengganti pakaiannya dengan celana jeans levis, kaos dan jacket tak lupa dia pun mengenakan sneakers.


Setelah Nadin pun mulai mengambil beberapa pakaian dan barang-barang keperluan pribadinya ke dalam tas yang lumayan cukup besar. Nadin pun keluar dari Apartmentnya Hans.


Dengan keadaannya yang tidak terlalu baik, setidaknya menjauh dari Hans mungkin akan membuatnya jadi sedikit lebih tenang. Nadin tentu saja sedih, jujur rasa itulah yang paling mendominasi sekarang.


Saat dia sampai di luar lobi Apartment, Nadin terdiam bingung harus kemana? Lalu dengan mata yang sudah berkaca-kaca Nadin pun berjongkok dan mulai menangis.


Nadin benci jadi cengeng, tapi hal itu begitu menyesakkan dadanya. Ada banyak sekali yang Nadin pikirkan, semua jadi beban yang semakin berat untuk di jalani. Entahlah, nasibnya begitu kurang beruntung.


Cuaca pun tiba-tiba hujan, mendukung sekali hatinya Nadin sekarang.


"Nona Nadin, ya? maaf Nona sedang apa disini jam segini? Apa terjadi masalah?" ucap security yang bekerja di Apartment Hans yang sudah mengenal Nadin sebagai istri dari Hans.


Nadin yang terkejut pun langsung mendongak ke arahnya dan meredakan tangisnya menghapus air matanya. "Saya nggak apa-apa, Pak. terima kasih sudah mengkhawatirkan saya." balas Nadin langsung buru-buru berdiri dan pergi dari hadapan Security itu menghentikan taxi yang sedang lewat.


***


Hingga jam sembilan lewat, Dany orang kepercayaan Hans dan juga Hans sendiri di dalam Apartmentnya masih berpencar dan bingung harus menemukan Nadin di mana. Hans sudah menghubungi sejumlah orang untuk menanyakan keberadaan Nadin, wanita itu tiba-tiba menghilang dan tidak ditemukan di mana-mana. Dan bodohnya cctv baru akan dipasang hari ini, karena beberapa hari yang akan datang Hans akan terbang ke Australia untuk kerjaan penting bersama Danniel, niatnya Hans memasang cctv di Apartmentnya agar Nadin aman di rumah dan Hans juga bisa melihat aktivitas Nadin selama di rumah.


Hans terdiam berfikir, dia terlihat ragu bahkan memilih tidak menghubungi keluarga Nadin. Hans yakin, tidak mungkin wanita itu pergi ke sana, kan? sedangkan kalau menghubungi Althea... Yang ada bukan hanya jawaban yang di dengarnya tapi caci makian padanya karena tidak bisa melindungi dan tidak becus menjaga Nadin. Karena dia tahu kalau Althea sangat menyayangi Nadin seperti menyayangi adiknya sendiri.


Nggak mungkin kan Hans menyerahkan diri pada Angel of Death?


***


"Apa urusanmu sepenting itu sampai kamu harus datang sangat siang, Hans?!"


"Maaf, Boss! Ya, ada sesuatu hal yang harus saya urus!"


"Apa bisa pergi lusa sementara kamu ada masalah disini?!"


"Bisa, Boss. Ini hanya masalah sepele, saya bisa mengatasinya dengan cepat!"


"Hm.. kamu ga ada masalah sama istrimu kan, Hans?" Hans, seketika terdiam ditembak Danniel dengan sangat tepat.


"Tidak, Boss!"


"Baik, Pak!"


***


"Ecxuse me, Mr. Bastian... sepertinya anda semakin sering sekali mengunjungi perusahaan kami tanpa ada janji dan hubungan dari kerjasama kita..."


"Im sorry Miss. Althea... Tapi saya kesini karena ada urusan dengan Nadin."


"Mr. Bastian, apa anda tau kalau Nadin sudah menikah?"


"Saya tau, Miss Althea... saya sebagai teman hanya ingin memperbaiki komunikasi kami yang sempat bertahun-tahun hilang..."


"Tapi, tidak dengan cara menemuinya setiap hari Mr. Bastian! Anda tau, orang lain melihat anda dengan Nadin seperti ada hubungan spesial dengan menemuinya dan mengajak makan siang bersama... Apa anda tidak kasihan sama Nadin?"


"Ada apa ini sayang?!" ucap Danniel yang baru saja masuk ke ruangan Althea dan berjalan ke dekat Althea di ikuti oleh Hans, dan melihat ekspresi Althea yang kesal dengan pria yang sedang berdiri di dapannya.


"Aahh.. finaly, sayang kenalin ini klien saya dan teman lamanya Nadin. And Mr. Bastian... kenalkan ini suami saya Danniel Henney, dan dia adalah HANS... SUAMINYA NADIN." Ucap Althea menegaskan kata terakhir. Bastian pun terdiam melihat kearah Hans yang juga meihatnya dengan dingin.


"Hallo Mr. Heney, and Mr. Hans... saya tidak tau kalau anda adalah suaminya Nadin, karena Nadin tidak memberitahu tentang suaminya." tandas Bastian menelisik raut Hans yang tidak bisa dia baca.


"Mr. Bastian, jika anda mau tau tentang Nadin anda bisa tanyakan langsung pada suaminya... Hans?!" sambung Danniel melihat kearah Hans tajam. Pada intinya Danniel tidak mau memperpanjang urannya Bastian dengan Althea, emosi Althea bisa hancur kalau berhubungan dengan Nadin dan yang pasti Danniel juga pasti akan terkena imbasnya kalau Althea terlalu lama beradu argumen dengan Bastian.


Maka dengan gesit Hans pun mempersilahkan Bastian untuk ke ruang meeting yang berada di sebelah ruang Althea.


"Apa yang anda ingin tanyakan tentang istri saya Mr. Bastian?!"


"Saya hanya ingin menjelaskan, kalau hubungan saya dengan Nadin... maksud saya istri anda hanya sebatas teman,saya tau kalau Nadin sudah bahagia dengan pernikahannya dan dia juga sangat mencintai anda, hanya saja... saya hanya ingin berteman baik dengannya..." Jelas Bastian.


Ngotot banget sih pengen temenan sama Nadin?


Hans terdiam memperhatikan gestur Bastian saat berbicara dengan dingin.


"Apa anda tau di antara pria dan wanita tidak ada kata berteman baik atau pun sahabatan?"


"Apa anda keberatan? Nadin saja tidak keberatan berteman lagi dengan saya..."


"Istri saya orangnya tidak enakan, jadi dia terpaksa menerima pertemanan anda lagi. Jadi sebaiknya anda tidak terlalu sering menemuinya Mr. Bastian." ucap Hans dingin melihat tajam kearah Bastian. Sementara Bastian melihat Hans curiga.


"Saya tidak akan memutuskan pertemanan dengan Nadin sebelum Nadin sendiri yang berbicara keberatan dengan pertemanan ini. Jadi jangan menyuruh saya untuk menjauhi Nadin. Permisi!" Ucap Bastian tegas dan secara tidak langsung menantang Hans, lalu berlalu dari ruangan meeting itu tanpa berpamitan dengan Althea.


Sementara sepeninggal Bastian, Hans masih terdiam bingung masih mencari Nadin yang belum di temukan. Tak lama ada nada masuk ke handphone Hans saat dilihat tertera nama Dany.


"Ya.."


***