
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
SETIDAKNYA Emerald menyadari satu hal. Sejak tadi adiknya tidak menjawab setiap pertanyaan yang dia ajukan. Sepulangnya mereka dari rumah Sean menikmati makan malam, Rubina masih bersikap seolah dia tidak mengenal abangnya.
Ya... Untuk pertemuan dan pembahasan perjodohan adiknya itu Emerald memang tidak ikut karena ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan itupun atas ijin dari kedua orang tuanya dan Grandpa.
Sungguh Emerald sangat bingung, kira-kira kenapa adik perempuannya itu malah berubah jadi pendiam, padahal biasanya dia selalu saja mencoba untuk mencari masalah dengannya.
"Bi, kamu lihat casan aku gak?" Emerald mencoba peruntungan kedua. Tapi hasilnya sama saja. Rubina masih saja membungkam dan hanya fokus pada layar ponselnya saja.
Emerald berdecak, lebih ke arah sebal, "De... Kalo diajak ngomong tuh ya dijawab. Ngomong! Allah nyiptain mulut itu buat digunain loh, bukan buat pajangan doang," rutuk Emerald. Dia menatap dengan intens, plus dengan tangan yang bersedikap. Emerald tidak mengerti kesalahan apa yang dia perbuat sampai adiknya itu memilih untuk mengabaikannya sejak tadi.
"BINA!" panggil Emerald agak tegas. Nadanya naik setengah oktav dibandingkan dengan yang sebelumnya.
Rubina masih belum menjawab. Gadis itu masih terlihat santai memainkan ponselnya. Seolah ada harta karun di layar ponselnya yang sayang untuk dia lewatkan.
"Bi, kamu kenapa sih?"
Rubina akhirnya angkat suara. Namun sebelumnya lebih dulu ponselnya diletakkan ke sisi kanannya.
"Kak Eme pasti tau alasan kenapa aku marah. Nggak usah belagak tidak tau deh!"
"Ya gimana bisa aku tau alasan kenapa kamu marah kalo kamu nggak cerita?"
"Ck... gimana bisa Kak Eme enggak tahu alasan kenapa aku marah? Padahal Kak Eme sendiri yang ninggalin aku tadi pagi. Untung ada tante Marisa yang ngajakin aku nebeng sama Sean. Coba kalau enggak. Pasti aku bakalan telat ke kampus dan kena hukuman dari dosen lagi kayak minggu lalu."
"Ooh, ternyata karena itu," begitu menyadari kesalahan yang diperbuatnya, seketika itu juga Emerald berhenti bersedikap. Tangannya itu kini mengudara, lalu dipergunakannya sebagai alat untuk menggaruk bagian tengkuknya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali. Pria itu juga menyengir merasa bodoh memperlihatkan deretan giginya. Bisa-bisanya dia lupa bahwa penyebab adiknya marah adalah karena ulahnya sendiri. "Tapi Kakak bisa jelasin kenapa Kakak ninggalin kamu!"
"Penjelasan apa lagi?" tanya Rubi a meski dia agak malas untuk mendengarkan.
"Kakak tuh udah lama nunggu kamu tadi pagi. Tapi tiba-tiba aja kakak dapat telepon dari Asistent kakak. Katanya rapat yang dilaksanakan hari ini dipercepat dan kakak harus segera datang ke ruang rapat saat itu juga. Ya, Salah kakak juga sih yang langsung pergi. Harusnya kakak bilang dulu sama kamu."
"Ck... Apapun alasannya kenyataannya hal itu udah bikin aku kesal."
"Eh, kata kamu barusan, kamu berangkat sama Sean kan ke kampus?"
"Hmm, untung banget ada dia, jadi aku enggak perlu ngeluarin ongkos buat naik taksi online ke kampus."
"Berarti kamu harus berterima kasih dong sama Kakak. Soalnya kejadian saat kakak ninggalin kamu tadi pagi buat kamu jadi bisa dekat sama Sean. Kapan lagi kan dianterin sama calon suami ke kampus."
Yang dikatakan oleh kakaknya barusan ada benarnya juga sih. Coba seandainya tidak ada kejadian Rubina ditinggal oleh Emerald, mungkin Rubina tidak akan pernah merasakan duduk di belakang Sean yang tugasnya mengemudikan motor. Sama satu lagi, Rubina tidak mungkin bisa merasakan kehangatan bisa memeluk Sean dari belakang. Kalau kata orang mah, ada hikmah dibalik setiap peristiwa.
Walaupun demikian Rubina tetap saja belum ikhlas untuk memaafkan kakaknya. Rubina masih menyimpan kekesalan dalam dirinya. "Memaafkan tidak semudah membalikkan telapak tangan."
"Iya, aku tahu. Hal itu pasti membuatmu menyimpan kekesalan terhadapku. Aku mengerti. Tapi aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Jadi, aku mohon maaf sebesar-besarnya.
"Emerald melantunkan permohonan maaf dengan sangat tulus. Bahkan telapak tangannya dibuat saling bertaut tepat di depan dada sebagai tanda bahwa dia merasa bersalah dan berharap adik perempuannya itu memaafkannya.
"Ok, Fine, aku akan maafin, tapi dengan satu syarat," tawar Rubina. Mendadak saja tercetus suatu ide di dalam kepalanya. Dan sepertinya ide di dalam kepalanya itu akan berjalan dengan sangat lancar jika kakaknya turut andil.
"Cih... Kenapa harus ada syarat, sih? Padahal mah kalau mau maafin kan nggak perlu pake syarat-syarat segala."
"Ya udah kalau Kakak enggak mau. Aku nggak akan maksa kok."
"Sini biar aku bisikin!" pinta Rubina dibarengi dengan gestur tangan menyuruh kakaknya untuk mendekat. "Ck... bisa cepet nggak? cepetin ih supaya aku bisa jelasin syaratnya!" lanjut Rubina.
Emerald menurut. Walau gerakannya agak lambat, dia pun duduk di tepi ranjang adiknya. Emerald segera mendekatkan wajahnya sehingga Rubina dengan mudah membisikkan sesuatu di telinganya,
"Kamu yakin menyuruh kakak buat melakukan itu?" respon Emerald di detik awal setelah dia mendengar syarat adiknya.
"Iya, aku sangat yakin. Tapi kalau Kak Eme emang enggak mau, nggak usah dipaksain."
"Kakak setuju kok. Besok Kakak akan melakukannya buat kamu."
"Serius?" takjub Rubina. Awalnya dia tidak mengira kakaknya akan menyetujui tawarannya. Namun di luar ekspektasinya dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Iya, besok Kakak akan nyoba bantu kamu. Kamu tenang aja."
"Uuuhh.. Lak Eme emang yang paling keren!" sembari mengulurkan jempolnya.
****
TELINGA Sean rasanya sudah sangat memanas. Sedari tadi dia sarapan sambil telinganya dicekoki oleh candaan yang disampaikan oleh kakaknya yang duduk di sebelahnya. Seperti biasanya, tiap kali kakaknya mencoba untuk menggodanya, Sean selalu memilih untuk bertahan pada jurus andalannya, yaitu diam. Bukannya kehabisan kata-kata. Sean memilih diam saja karena dia pikir cara itu akan membuat kakaknya berhenti untuk mencibirnya.
"Jadi gimana nih Sean, hari ini kamu udah punya perasaan sama Bina kan?" meski upayanya sebelum-sebelumnya tidak membuahkan hasil sesuai yang dia harapkan. Namun bukan berarti Dimas akan menyerah begitu saja. Sekarang dia kembali mencoba untuk mencari celah dalam mencibir adiknya di depan anggota keluarga.
"Udahlah Mas. Kasihan loh Sean lagi nikmatin sarapannya. Kamu hobi banget sih gangguin adek kamu. Udah tahu si Sean pendiam masih saja kamu gangguin." Rina, sang istri hanya bisa menggelengkan kepalanya habis kesabaran dengan tingkah suaminya yang seakan senang untuk mengusik kehidupan Sean.
"Bener banget tuh, Kak, yang dibilang sama kak Rina. Kasian tahu kak Sean digituin," Dinda- si bungsu-menceletuk membenarkan ucapan kakak iparnya tentang keusilan seorang Dimas yang senantiasa mencoba untuk merecoki Sean. Sampai kadang-kadang Dinda tuh dibuat tidak habis pikir dengan tingkah kedua kakaknya yang punya sifat yang berlawanan. Kakak pertamanya, punya sikap tukang rusuh dan suka bercanda. Sementara kakak keduanya punya sikap yang berbanding seratus delapan puluh derajat, Sean memiliki sikap dingin dan hemat bicara. Kadang dia hanya berbicara seperlunya saja.
"Bu, aku berangkat dulu ya," Sean memilih untuk segera bangkit begitu dia telah berhasil menghabiskan sarapan di piringnya. Tidak lupa juga sebelum akhirnya dia bangkit dia juga menghabiskan susu hangat kesukaannya.
"Badan doang yang gede, tapi masih suka minum susu," cibir Dimas tidak melewatkan kesempatan untuk menggoda adiknya.
Namun seperti tekadnya dari awal Sean tidak terpancing sama sekali. "Kalau gitu aku pamit ke Rumah Sakit dulu." Sean pun membawa langkah menuju ke depan. Dia memasang sepatu dan juga helmnya. Baru saja dia melangkah mendekati V4R hitamnya ketika seorang pria menghampirinya.
"Sean!"
Sean membawa fokusnya ke sumber suara, dilihatnya kakak Rubina yang sedang mendekatinya.
"Eh, Kak Eme," sapa Sean bersikap ramah dengan senyumannya, walaupun senyum itu terlihat kaku. "Ada apa Kak?"
"Sean. Saya mau minta tolong boleh enggak?"
"Hm boleh. Emangnya ada apa Kak?" tanya Sean penasaran dengan tujuan Kaisar datang menemuinya pagi-pagi begini.
"Jadi gini. Hari ini kan Rubina ada kuliah pagi, dan dia minta tolong aku buat nganterin dia ke kampus," untuk melancarkan aksi bohongnya Emerald terpaksa menyetel raut muka yang seolah sedang frustrasi.
"Ban mobil aku pecah nih liat tuh, dan kayaknya bakalan membutuhkan waktu lama buat memperbaikinya. Kamu keberatan gak kalau hari ini Bina ikut sama kamu? Bukanya kamu ke Rumah Sakit? tempat kamu bekerja kan searah sama kampusnya Bina."
Kalau saja Rubi a yang meminta itu secara langsung, mungkin tanpa perlu pikir panjang Sean akan memberikan sebuah penolakan. Tapi masalahnya Emerald adalah orang yang baru saja memintanya. Sejujurnya Sean juga merasa tidak enak jika harus menolak permintaan Emerald. Mungkin karena terlalu memikirkannya Sean jadi diam membuat raut mukanya jadi tampak berpikir.
"Gimana Sean?" tanya Emerd. Membuyarkan lamunan yang dibangun oleh imaji Sean. "Kalau kamu keberatan nanti..."
"Biar saya aja Kak yang nganterin Bina ke kampus, soalnya kan rutenya juga searah sama klinik tempatku bekerja," potong Sean.