
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Nino tampak syok mendengar cerita yang menurutnya terlalu dramatis ini.
"Tiga bulan kemudian Sarah ngehubungin gue. Dia ngaku hamil anak gue. Gue yang saat itu bingung harus gimana nyoba nyari jalan keluar. Tapi untungnya saat itu Sarah cuma minta syarat supaya gue segera nikahin dia. Dia bahkan nggak permasalahin kalo gue nikahin dia secara siri sekalipun asalkan gue nafkahin dia."
"Karena itu akhirnya lo setuju buat nikahin dia secara siri? Kenapa nggak lo ceritain aja sih dari awal sama orangtua lo tentang itu? Apa alasannya sampe lo nggak berani?"
"Bukan. Alasannya bukan karena gue nggak berani.”
"Terus apa yang bikin lo sampe berani nutupin kenyataan ini sama semua orang? Padahal bisa aja kan lo ngomong jujur sama orangtua lo tepat setelah mereka merencanakan perjodohan lo sama Bina."
"Soalnya dari awal gue emang nggak pernah kepikiran kalo akhirnya gue akan kena karma dengan memiliki perasaan lebih buat Bina. Selain alasan itu, kenapa gue nyembunyiin hubungan gue sama Sarah karena sebenarnya gu."
"Ragu? Ragu kenapa?"
"Gue ragu, kalo Sheran bukan anak gue. Feeling gue kuat banget. Apa lagi gue nggak inget soal kejadian malam itu. Pokoknya yang gue tau, gue udah ada aja di ranjang berdua sama Sarah."
Nino menganggukkan kepalanya. "Rada aneh sih emang sama keputusan Sarah yang rela dinikahi secara siri. Padahal kan dia bisa aja minta lo buat nikahin dia secara resmi. Soal anak itu, siapa tadi namanya?”
"Sheran," Sean memberitahu Nino.
"Ya, soal si Sheran itu... Kalo memang lo ragu kalo dia anak lo, kenapa nggak coba tes DNA aja biar semuanya jelas. Lebih simple kan?"
Sean lagi-lagi mendesah pelan, "Soal itu gue juga udah minta dan Sarah setuju meskipun dia marah-marah, tapi lo tau hasilnya apa? Sheran adalah anak biologis gue."
Nino terdiam berfikir. “Bentar deh, lo ngelakuin tes DNA sendiri?"
"Kenapa emangnya?" ucap Sean menautkan halis.
"Ya... dari situ aja menurut gue udah mencurigakan sih? kayak ada udang dibalik batu gitu. Dan lo dengan gampangnya percaya gitu aja sama hasilnya?"
"Ya, makanya dari itu gue ragu soal Sheran yang katanya darah daging gue."
"Kenapa nggak sekarang aja lo tes DNA. Dan kalo bisa sembunyi-sembunyi tanoa sepengetahuan Sarah. Takutnya sih itu udah di otak atik sama dia!"
"Bukan perkara mudah No. Melakukan tes DNA harus ada prosedurnya, kayak lo ga tau aja. Harus ada persetujuan dari kedua belah pihak. Dan kalo gue minta lagi yang ada Sarah ngamuk lagi dan dia ngancem kalo terbukti Sheran adalah anak gue maka dia nggak akan ngasih Sheran hak asuh sama gue. Soalnya gue udah raguin darah daging gue sendiri."
Dilihat dari fisik, Sean memang tidak melihat adanya kemiripan diantara dirinya dengan Sheran. Ya, mungkin karena wajah sang putra yang lebih condong mirip sama Sarah. Tapi untuk segi biologis Sean tidak tahu. Bisa jadi ada kecocokan dan bisa jadi pula tidak ada kecocokan sama sekali.
"Untuk masalah tes DNA ini gue punya kenalan. Dia pasti bisa bantu lo. Lo hanya perlu bekerja sama denganku.
"How? Kamu setuju kan Sean?"
"Maksudnya tesnya bisa dilakukan diam-diam tanpa persetujuan dari Sarah?"
"Hah... Iya."
"Okey Fine, katakan sama gue apa aja yang harus dilakuin buat ngelakuin tes itu tanpa sepengetahuan dari Sarah!"
****
Emerald sangatlah dibuat bingung dengan tingkah adik perempuannya yang terus berjalan di depannya entah ke mana dia akan membawanya pergi.
"Bi? Kamu mau bawa Kakam ke mana sih? Emangnya nggak bisa apa ngomong di ruangan Papah aja?"
Rubina menghentikan langkah kakinya lalu balik badan, “Nggak Kak, justru aku sengaja ngajak Kakak keluar, soalnya aku emang nggak mau masalah ini sampe Papah sama Ibu tau."
"Masalah?" ucap Emerald mengerutkan keningnya.
"Iya, Kak. Jadi sebenarnya aku tuh lagi ada masalah."
"Masalah sama siapa? sama Sean kah?" Emerald menebak-nebak.
Rubina mengangguk membenarkan.
"Tumben, emang ada masalah apa sama kalian?"
"Aku bakalan ngomongin masalahnya sama Kak Eme. Tapi sebelum itu Kak Eme harus janji dulu buat nggak ngelakuin apapun sama Sean."
"Hah... Okay-okay, aku janji nggak akan ngrlakuin apapun sama suami kamu. Sekarang katakan sama Kakak sebenarnya ada masalah antara kamu sama suami kamu?!"
"Hah... Jadi sebelum dia nikah sama aku, ternyata dia udah punya istri siri Kak."
"Hah? Serius kamu?" kaget Emerald yang sudah diprediksi oleh Rubina akan melihat tampang terkejut itu di wajah kakaknya. tapi setelah itu dia berfikir.
"Serius Bang. Ya kali aku bercanda masalah ini."
"Tapi, kok bisa sampe anak buah Kakak sama Papah ngelewatin informasi ini? Om Hans juga nggak ngomongin masalah ini?!"
"Dan.... dia juga udah punya anak, Kak."
"Hah?!" Emerald kaget untuk kedua kalinya. "Waaaahh.. nggak waras tuh anak... benar-benar ya! Nggak bisa, harus ngasih dia pelajaran."
"Kak," tahan Rubina, "Kan sudah aku bilangin sebelumnya supaya Kakak jangan ngelakuin apa-apa sama dia!"
"Tapi kelakuannya bangsat banget, Bi. Gimana bisa aku biarin dia memperlakukan kamu kayak ini."
"Udahlah Kak. Semuanya juga udah kejadian. Percuma juga kalau Kakak ngehajar Sean. Semua itu nggak akan ngubah kenyataan kalo dia udah nikah dan udah punya anak."
“Trus gimana sama keluarganya? Apakah mereka turut berandil dalam menyembunyikan soal Sean yang udah nikah?"
"Nggak Kak. Mereka semua nggak ada yang tau."
"Pokoknya Kakak nggak mau tau! Sekarang kamu harus tinggalin Sean."
"Aku juga udah mikirin itu sih Kak. Tapi dua minggu ke depan aku mungkin masih menetap di apartemennya Sean sambil nunggu kondisi Papah pulih. Setelah itu barulah aku bisa ngomongin ini semuanya ke Papah supaya proses perceraian bisa dilaksanakan."
****
"SEAN MANA, BI? KOK DARI KEMARIN GRANDPA NGGAK LIAT DIA DI RUMAH SAKIT MAUPUN DI SINI?” Tyo memperhatikan Rubina saat dia menjenguk anak bungsunya itu di rumahnya.
Ya, hari ini dokter yang merawat Danniel telah memperbolehkannya untuk kembali ke rumah— meskipun mendapatkan izin pulang, tetap saja sang dokter memberikan beberapa himbauan kepada Danniel yang tujuannya berkaitan dengan masalah kesehatan.
"Udahlah, ga ada dia juga saya nggak terlalu mempermasalahkannya, Dad..." ucap Danniel yang dibantu oleh Emerald untuk duduk di ranjang rumah sakit.
"Mungkin lagi di jalan," ujar Emerald asal setelah melihat kebingungan sedang terlihat di wajah Rubina yang ditujukan sebuah pertanyaan. “Iya, kan, Bi?" ujar Emerald kepada Rubina, segera diangguki oleh Rubina.
"Hmmm... Ya, mungkin sekarang Sean lagi di jalan, Grandpa" Rubina mengatakannya sambil menatap kepada Grandpanya. Sementara itu bibirnya secara kontan memberikan senyum.
Di menit selanjutnya Althea memasuki ruangan sembari dia membawa piring berisikan bubur. Tidak sendirian, dia datang di ekori oleh Sean.
"Gimana kondisinya Pah?" Sean bersikap ramah. Senyum dia berikan sewaktu dia menghampiri ranjang lalu menyalami punggung tangan milik Danniel.
Perasaan mendidih dirasakan oleh Emerald. Ini adalah pertemuan perdananya dengan Sean setelah Rubina menjelaskan soal rahasia suaminya.
'Setelah apa yang dia lakukan sama adek gue rupanya dia masih tebal muka buat dateng ke rumah ini,' Emerald meluapkan emosinya lewat batin. Alam bawah sadar membuat pria dengan kaos putih polos itu menggigit bibir bawah bagian dalamnya menahan emosi. Sementara kedua tangannya yang tersampir di pinggang telah mengepal kuat.
Akhir-akhir ini masalah tentang adiknya itu memenuhi ruang di kepala Emerald. Tentu saja demikian. Selain karena Rubina merupakan adik kandung satu-satunya, Emerald juga tahu betapa sayangnya Rubina kepada Sean. Dengan kabar ini tentu saja sangat menyakiti Rubina. Emerald bahkan tidak bisa membayangkan betapa hancurnya adiknya saat itu. Apalagi ditambah dengan kabar Sang Ayah yang mendadak masuk rumah sakit.
"Seperti yang kamu liat." Danniel menjawab pertanyaan dari menantunya masih dengan dingin.
"Oh iya, Sean, kenapa kamu baru muncul sekarang? aku nyariin kamu pas kirain kamu lagi jaga.”
"Soal itu setelah selesai jam pulang saya langsung ke klinik soalnyabada pasien SITO yang harus saya tangin cepat. Saya minta maaf, Pah, Grandpa karena nggak bisa jemput Papah pulang tadi." Bohong Sean menjadikan kesibukan di klinik sebagai alibinya. Padahal keadaan klinik tempatnya bekerja hari ini bisa dibilang sangat sepi. Kalau pun tadi dia tidak datang ke rumah sakit meski tahu soal Danniel yang keluar hari ini, itu semua karena Rubina yang memintanya untuk tidak datang.
"Syukurlah kalau kamu nggak datang karena masalah sibuk saja. Tadi, Grandpa kiran kamu lagi marahan sama Bina."
"Nggak kok, Grandpa, Saya sama Bina nggak ada masalah apapun," berhenti menatap Tyo, kali ini fokus perhatian Sean berpusat di wajah cantik istrinya, “Iya, kan, Bi? Kita lagi nggak ada masalah 'kan?" Rubina menganggukkan kepalanya.
"Bener Grandpa. Aku sama Sean lagi adem-adem aja kok. Mungkin perasaan Grandpa aja kali yang nganggep kita berdua lagi ada masalah." Rubina memaksakan senyuman. Dan sejurus kemudian gadis itu sedang mengambil langkah, berdiri persis di sebelah kiri suaminya.
"Sean?" panggil Emerald yang sebenarnya sudah tidak bisa menahan emosinya. “Kita ngomong sebentar?"
"Iya, Kak," jawab Sean berusaha santai meski tatapan yang dia dapatkan dari Kakak iparnya sudah membuat bulu kuduknya meremang.
"Kalian mau bicara tentang apa?" penasaran Danniel sudah mencium masalah melihat dari ekspresi yang Emerald layangkan pada Sean.
"Bukan apa-apa kok, Pah," jawab Kaisar.
"Ya kalau bukan apa-apa kenapa harus bicara di luar? Emangnya nggak bisa diomongin di sini aja?" tanya Haris.
"Soalnya aku mau ngenalin Sean sama sahabat aku Pah. Jadi sahabat aku tuh keponakannya lagi nyari referensi buat kuliah kedokteran. Nah, karena kebetulan Sean lulusan fakultas kedokteran jadi aku pikir buat ngenalin dia sama sahabat aku."
"Oh...." Dannil manggut-manggut.
"Ya udah kalo gitu kita bicara di luar Sean," ajak Emerald.
Sean mengangguk dan berjalan duluan. Emerald yang hendak menyusul tiba-tiba dihalangi oleh Rubina. "Mau apa Kak sama Dean?" bisiknya karena dia tidak ingin pertanyaannya di dengar oleh papah dan ibunya yang berada di ruangan yang sama dengannya saat ini.
"Aku mau ngobrol aja."
"Soal janji kita inget kan?"
"Iya bawel! Udah kamu tenang aja. Kakak nggak bakalan melukainya. Lagian aku liat pipinya udah agak bengkak. Kayaknya dia udah dapet pelajaran lebih dulu dari ayahnya. Tapi menarik sih kalau pipi yang satunya aku bengkakin juga dengan kepalan tangann ini. Ya, itung-itung biar simetris kan?"
"Kak," tegur Rubina masih memelankan suaranya.
"Iya, iya, udah kamu nggak usah khawatir. Janji tetaplah janji. Aku nggak bakalan mgelukain dia meski sebenarnya aku pengen banget ngelakuin itu."
"Awas aja ya kalau sampe Kakak nyakitin dia.” Rubina memperingati.
"Iya, Nggak akan."
"Kalian berdua lagi ngapain sih?" Althe yang rencananya akan menyuapi Dannil makanan mendadak perhatiannya beralih kepada anak-anaknya yang sedang bisik-bisik. "Lagi ghibahin apa sih kalian?"
Rubina menyentakkan badan. Dia menggeser badannya untuk memberikan akses kepada sang Kakak untuk pergi sementara dia beranjak menuju ke ranjang.
"Nggak ada apa-apa kok, Bu," Rubina tidak lupa memperlihatkan senyum di bibirnya supaya kesan tegang tidak terlihat di sana.
Perasaan gugup yang sudah dirasakan oleh Sean sejak masih di kamar Daniel mertuanya kini semakin bertambah kadarnya saat Emerald mendekat ke arahnya yang kala itu sedang duduk di kursi taman-tempat yang sama yang Kaisar titahkan kepadanya.
Saat jaraknya dengan Sean hanya semeter lebih, terlihat pria berkaos putih itu mengangkat tangannya di depan dada dan melipatnya di sana. Tidak lama setelah itu sebuah pertanyaan meluncur dari bibirnya,
"Kamu mau aku basa-basi atau langsung to the point?"
"Maksud Kak Eme?"
Emerald berdecak sebal, "Udahlah, Sean, kamu enggak perlu belagak enggak tahu apa-apa. Saya yakin kamu udah tahu apa yang mau saya omongin."
"Apa Kakak udah tahu kalo aku pernah..."
"Nikah siri kan?" potong Emerald sebelum akhirnya Sean menyempurnakan kalimatnya.
"Oh... Kak Eme ternyata sudah tahu soal itu.”
"Ya, Bina yang cerita semuanya sama saya. Dia bahkan cerita kalo ternyata kamu juga udah punya anak dari pernikahan siri kamu itu. Benar-benar ya Sean. Kamu adalah manusia paling bego yang pernah saya temui di muka bumi ini. Kamu adalah definisi manusia yang hatinya kayak iblis tau gak." Kekesalan yang memuncak membuat Emerald berujar dengan pemilihan kata yang teramat kasar. Selama ini dia padahal sangat menghargai Sean tidak ubah dia sedang menghargai adiknya sendiri. Tapi setelah kebusukan Sean mencuat, Emerald jadi kehilang respect dengan pria itu.
Kalau saja Emeral tidak ada janji dengan Rubina mungkin serangan bertubi-tubi lewat bogeman mentah telah Sean dapatkan.
"Kamu tahu Sean. Adik saya yang hatinya kamu sakiti dengan kabar ini sangat mencintai kamu setulus hatinya. Tapi apa balasan kamu? Kamu menyakitinya semakin jauh sampai dia mengaku menyerah. Syukurlah karena kejadian ini adik saya jadi sadar kalo kamu bukan pria yang tepat buatnya."
"Maaf."
"Andai maaf bisa mengubah segalanya mungkin saya bakalan nerima permintaan maafmu Vin. Sayang, kata maaf yang kamu ucapkan barusan nggak bakalan mengubah apapun. Tetap aja kesannya di sini adik saya kayak seorang pelaku yang merebut kamu dari istri siri kamu itu. Tapi kamu tenang saja Sean, sampai kondisi Papah udah berangsur membaik maka hubungan kalian juga akan segera berakhir."
"Mana bisa begitu Kak? Sampai kapan pun Bina akan jadi istri aku. Aku nggak akan bercerai dengannya.” Sean bersimpuh di hadapan Emerald. Matanya saat itu telah dilapisi oleh cairan bening yang siap tumpah.
"Bangun Sean!"
"Nggak Kak!" keras Sean. "Aku minta tolong ke Kak Eme supaya aku dan Bina nggak dipisahin. Demi Tuhan aku sangat sayang sama Bina."
"Sean, jangan bawa-bawa Tuhan buat nutupin kebohongan kamu. Akui saja kalau sebenarnya tidak punya perasaan lebih sama Bina. Kamu menikah karena terpaksa saja kan?”
"Bener Kam. Sedari awal aku emang nggak mencintai Bina sama sekali. Tapi setelah terus bersamanya aku jadi memiliki perasaan lebih itu. Aku sadar kalau Rubina memang perempuan yang tepat untukku."
"Tapi menurut aku Bina nggak pantes buat dapetin kamu."
Hai hai.. gong shi pacoy ya guys...