
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Rubina mengikut saja. Apalagi memang dari awal dia bilang akan mengikuti apa yang suaminya inginkan. Sambil menenteng barang belanjaan mereka berdua bergegas ke tempat makan. Awalnya Rubina tampak bersemangat. Sampai akhirnya dia melihat seseorang dari kejauhan yang terlihat begitu familier. Ya, tidak salah lagi yang barusan Rubina lihat adalah Caca teman kuliahnya. Saat itu Caca sedang bersama dengan Agam.
"BY," panggil Rubina.
"Hmmm."
"Sepertinya Caca sama kakaknya lagi jalan ke sini deh!"
"Caca? Siapa dia? Dan apa hubungannya sama saya?" pria itu berhenti menatap ponselnya. Dia membawa tatapannya menuju ke Rubina.
"Caca itu sahabat aku di kampus. Dia datang sama kakaknya. Dan kakaknya ini dulunya temen sekelas aku pas SMA. Namanya Agam. Dia udah dari dulu ngejar-ngejar cinta aku. Aku minta tolong sama kamu ya buat ngeliatin kesan kalo kita adalah pasangan bahagia!"
"Karena waktu itu kamu pernah menolongin saya jadi saya putusin buat ngeiyain permintaan kamu"
"Makasih ya, By."
"Hmmm..."
Caca bersama dengan kakaknya semakin mendekat."
Kebetulan banget kita ketemu di sini. By the way boleh nggak kalo kita duduk di sini?" Caca menatap Sean dan Rubina secara bertahap.
"Boleh banget," sahut Rubina cepat.
"Ayo silakan duduk!" ucap Sean mencoba bersikap ramah. Di detik awal setelah matanya bertemu dengan mata pria bernama Agam, otak Sean langsung berputar saat itu juga. Pria itu pernah datang sebagai tamu undangan pada acara pernikahannya. Setidaknya Sean masih ingat wajahnya dengan baik. Setelah terduduk Sean menyadari pria bernama Agam itu terus memperhatikan Rubina yang sedang sibuk berinteraksi verbal dengan adiknya. Sean bisa menilai sorot mata yang memancar dari Agam terlihat begitu senang.
'Apa dia keliatan senang banget ya pas lagi merhatiin istri orang?'
Sean tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat tatapan Agam yang intens kepada istrinya.
'Nggak, saya nggak cemburu' batin Sean menanamkan kalimat itu di dalam hatinya.
'Mana mungkin gue kesel karena cemburu. kayaknya perasaan ini muncul karena rasa nggak habis pikir aja ngeliat ada cowok yang seneng merhatiin seseorang yang udah jadi milik orang lain.' Lanjut Sean masih membatin.
Sean tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat tatapan Agam yang intens kepada istrinya.
'ORANG INI ADA MASALAH APA SIH?' seiring berjalannya waktu Sean merasakan kekesalan yang kian bertambah karena pria bernama Agam yang terus memperhatikan Rubina. 'Dia beneran sangat menyebalkan. Kayaknya saya harus ngasih dia pelajaran supaya ke depannya dia tahu batasan. Meskipun saya dan Bina nikah secara formalitas aja tapi kan orang-orang taunya hubungan kami ini dijalani dengan serius.' Sean membatin sementara itu dia tersenyum, senyumnya lebih ke arah senyum jahil.
Beberapa saat kemudian Rubina terlihat masih asik berbincang dengan Caca membahas soal apa saja yang terjadi di kampus selama Ribina tidak masuk. Di saat yang bersamaan seorang pramusaji datang dan memberikan pesanan Sean dan Rubina.
"Sayang."
Rubina menoleh kaget mendengar panggilan sayang dilantunkan oleh Sean. Saking kagetnya Rubi a dipanggil demikian oleh sang suami membuatnya hampir tersedak oleh air liurnya sendiri. Sungguh, Rubina tidak mengira akan menerima panggilan seperti itu sekarang. 'Kok Sean sampe manggil gue pake embel-embel sayang ya? Tapi syukur deh, paling nggak dia nhgak keliatan kaku di hadapan Agam. Dan semoga dengan ini Agam semakin yakin nuat ngelupain gue.' Rubina mengungkapkannya lewat batin.
"Silakan," jawab Caca atas ucapan Sean sementara Agam hanya mengangguk lemah sambil memaksakan senyuman di bibirnya.
Rubi a mulai menggigit ujung burgernya.
"Astaga sayang," ucap Sean. Sean yang hendak menggigit ujung burger yang ada di tangannya sendiri memilih untuk mengurungkan aksi itu. Tatapannya saat itu sudah menjurus kepada sang istri.
"Kamu ini kebiasaan banget sih sayang kalo makan pasti belepotan," Sea menarik tisu dari kotak yang ada di meja. Dia membawa benda lembut itu ke depan bibir Rubina. Tanpa banyak ba, bi, bu, Sean mengelap bekas burger di bibir Rubina.
'Sean kesambet jin tomang kah' Rubina mengucap lewat batin setelah dibuat membeku oleh aksi Sean yang mengelap sudut bibirnya dengan begitu lembut. Sungguh, Rubina tadi cukup kaget dengan aksi itu. Tapi kalau ditanya apakah Rubina senang? Jawabanya lumayan karena Rubina menyadari kalau aksi itu dilakukan oleh suaminya atas dasar keterpaksaan karena sebelumnya dia sudah ada janji untuk saling menampilkan sikap romantis di depan Caca dan Agam.
"Kamu itu udah kayak anak kecil tahu nggak." Kata Sean kepada istrinya. "Tapi anehnya saya sayang banget sama kamu," lanjut pria itu menggombal.
'Andaikan aja ucapan lo barusan bukan karena terpaksa, nggak kebayang sih betapa senangnya gue sekarang ini.' Pikir Rubina sambil dia berandai-andai.
Ada yang panas tapi bukan api.
'Kenapa gue harus jadi saksi keromantisan mereka sih?' rutuk Agam sebal. Padahal tujuan utama dia datang ke mall adalah untuk menghibur diri namun yang dia dapatkan adalah situasi seperti ini. Yang Agam dapatkan justru perasaan sakit melihat Rubina sedang menjalin kemesraan dengan Sean. Sungguh sebuah pemandangan yang kembali mengulang luka lama.
"Sayang, setelah ini kita nonton ya?" Sean mengatakannya. Diam-diam Alvin melirik dengan ekor mata Agam yang tampak menegang di tempatnya. Sean pikir usahanya untuk memberi pelajaran kepada Agam yang tengah menatap Rubina yang sudah sah jadi istri orang-terbilang berhasil. Sean cukup senang dengan kenyataan Bagas kesal saat Sean memperlihatkan sikap romantisnya kepada Rubina. Memang itulah yang dia harapkan.
"Nonton?" ulang Rubina. "Mau nonton film apa By?" bingung Rubina harus merespon seperti apa.
"Terserah kamu saja."
"Kebetulan banget," Caca menceletuk. Gadis itu merogoh tasnya mengeluarkan tiket bioskop dari dalam sana. "Gue punya empat tiket. Tadinya sih dua ini buat sepupu kita. Tapi katanya mereka punya urusan ngedadak jadi nggak bisa dateng. Dari pada tiket ini mubazir kan mending buat kalian aja." Caca memberikan tiket bioskop itu ke Dean dan juga ke Rubi a.
"Ini kan film horror yang lagi ngetrend banget," kata Rubi a. "Gue juga sempet nonton tuh trailernya dan seru banget. By, kita nonton ini aja ya!" Rubina menoleh dan menatap penuh harap suaminya.
'Ah sial, padahal ajakan gue tadi cuma sebatas formalitas aja tapi kenapa sekarang hal itu jadi boomerang? Mana dia penginnya nonton film horror lagi' batin Sean. Terlepas dari Sean yang tidak suka nonton film horror bukan berarti dia harus menolak keinginan Rubina di hadapan Agam.
Meski sebenarnya terpaksa namun pada akhirnya Sean memberikan anggukan pertanda setuju. Dan di detik selanjutnya dia berkata, "Baiklah. Kita akan nonton film ini aja."
'Mudah-mudahan setelah beres nonton film horror gue enggak overthinking pas di rumah nanti' batin Sean.
"Burgernya kok enggak kamu makan sih, Sayang? Mau saya suapin?" tawar Sean.
"Enggak usah By," jawab Rubina sambil tersenyum kaku. Sungguh, Rubina merasa kalau akting suaminya terlalu berlebihan melewati apa yang Rubina harapkan.
"Ya sudah kalo gitu abisin burger kamu!"
"POPCORN-NYA BIAR SAYA AJA YANG PEGANG! TAKUTNYA KAMU MALAH KECAPEAN KARENA INI." ujar Sean. Dia melirik Agam cukup terhibur karena Agam sedang dongkol mendengar upaya keromantisan yang dibangun oleh Sean bersama dengan istrinya. Sean bisa melihat perasaan dongkol pada diri Agam dari tatapan serta bahasa tubuhnya. 'Apa sih yang bikin Agam sangat suka sama Rubina? Sampe dia keliatan sangat kesel pas gue mngebangun suasana romantis kayak gini?' heran Sean dengan jalan pikiran Agam yang begitu terobsesi dengan Rubina. Oke lah, kalau soal kecantikannya Dran juga tidak menutup mata. Dia menilai Rubina memang sangat cantik. Tapi bagaimana dengan sikap menyebalkannya? Apakah Agam tidak merasa risih seperti yang Sean rasakan tiap kali bersama dengan gadis itu?