
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Aduh," tiba-tiba Rubina mengeluh sambil memegangi bagian perutnya. Tentu saja hal itu membuat para sahabatnya menampilkan raut muka yang selaras. Baik Syifa maupun Rara telah menampilkan muka kaget.
"Ada apa? Apaan sih? Jangan bikin gue panik ya Bi..." tanya Rara.
"Perut lo sakit, Bi?" Syifa ikut bertanya.
"Yuk biar gue sama Rara anterin lo ke UKS." Syifa mengimbuhkan sebuah tawaran.
"Eh, gue nitip tas aja yah, gue ke toilet dulu bentar, kebelet pipis," usai menitipkan tasnya kepada Rara. Rubina kemudian menghamburkan dirinya.
"Astaga tu anak kesambet apa sih? bikin khawatir aja deh!" sambil menggeleng-gelengkan kepala lambat, Rara membalikkan badannya memperhatikan punggung Rubina yang semakin menjauh.
"Gue pikir perutnya lagi sakit, ternyata karena pengin pipis doang astaga, Bina... Bina..."
Sementara Rubina yang sedang berlari menuju ke toilet malah mendapatkan masalah sewaktu berbelok. Dia baru saja menabrak seseorang. Rubina memekik tertahan. Dia pikir saat kehilangan keseimbangan tubuhnya dia akan berakhir jatuh. Namun sewaktu membuka matanya dia melihat wajah Sean.
'Ah, untung dokter Sean nahan badan gue.' Rubina membatin mengucap syukur.
"Kayaknya dokter emang ditakdirkan untuk saya. Buktinya sekarang kita ketemu lagi. Dan bukan cuma ketemu, dokter juga berhasil nyelametin saya yang hampir jatoh."
"Saya juga nggak tau apa maunya takdir yang malah mempertemukan saya sama kamu. Padahal ketemu sama kamu adalah kesialan buat saya."
“Hmm... Kesialan yah?” Rubina tersenyum tipis-tipis. Namun dianggap sebagai senyum menyebalkan oleh Rubina.
“Lalu kenapa sampai sekarang dokter masih menahan tubuh saya? Apa dokter takut saya jatuh? Atau jangan-jangan dokter mau bilang perasaan dokter yang sebenarnya kan sama saya?” ucap Rubina dengan percaya diri.
“Hah... Baiklah.” Sean tersenyum smirk.
“Awww, Aaaahhh ssshhttt, kok dilepasin sih!” rengek Rubina ketika tubuhnya mengenai lantai tepat setelah Sean melepaskan tangannya. “Saya nggak mau tahu ya... dokter harus tanggung jawab!" Rubina mendongak sambil mengatakannya.
"Tanggung jawab?" ulang Sean. "Memangnya apa yang udah saya perbuat? Kamu yang nabrak saya duluan!" Sean berkilah. Dia merasa tidak punya kesalahan sedikit pun. Lalu apa yang harus dipertanggung jawabkan? "Bukannya konteks bertanggung jawab adalah setelah adanya sebuah kesalahan?"
"Saya enggak mau tahu ya, dok. Pokoknya Dokter harus gendongin saya ke UKS! Gara-gara Dokter saya jadi enggak bisa jalan."
"Hmm baiklah." Helaan napas kesal dari bibir sean terdengar oleh Rubina. Sementara Rubina rasanya ingin memekik menyampaikan perasaan bahagianya karena sebentar lagi Dokter Sean akan menggendongnya menuju ke UKS.
'Ck... nggak sia-sia deh gue bohong, buktinya sekarang gue bakalan dapetin momen berharga bisa digendong sama Dokter Sean.' Rubina membatin.
"Jamal!" panggil Sean kepada seorang teman seangkatannya. Pria bernama Jamal mendekat.
“Tolong bantu adek ini ke UKS, katanya kakinya lagi sakit,” Sean menunjuk ke arah Rubina menggunakan dagunya.
“Enggak. Saya enggak mau,” Rubina menggelengkan kepalanya dengan tempo cepat.
Sean tersenyum jahil selama beberapa saat sebelum akhirnya dia berkata, “Loh, bukannya tadi kamu bilang kaki kamu itu sedang bermasalah. Nih, kamu bias dibantu sama Jamal ke UKS.”
Rubina bangkit. Dia mempercepat langkahnya menjauhi Sean yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya
‘dia pikir gue bodoh apa? Gue juga tau kalo itu Cuma akal-akalan dia buat dapet perhatian,’ batin Sean.
******
Suara orang-orang berteriak dan lalu lalang di jalan dengan keadaan yang kacau balau membuat seorang Rubina yang baru saja sadar dari lamunannya.
Rubina sedang terduduk di jalan aspal karena terlibat kecelakaan beruntun yang sedang terjadi. Hari itu dia sedang dibonceng oleh temannya Alpin untuk pulang dari sekolahnya. Dan tiba-tiba saja ada sebuah truk yang entah datang dari mana langsung menghantam beberapa mobil yang ada di depannya, dan untungnya saat akan menghantam kearah motor yang ditumpangi oleh Alpin dan Rubina, Alpin dengan segera memutar gas motornya dan membelokan stang motornya lalu melajukkan motornya dengan cepat ke trotoar sampai mereka terjatuh ke pinggir trotoar itu.
“Hey... kamu nggak apa-apa?” ucap seorang pria yang sedang menepuk-nepuk pipi Rubina.
“Hah... Dokter Sean?!” ucap Rubina saat sadar dan melihat mata cokelat Sean yang sedang khawatir melihat keadaannya.
Rubina hanya bisa menggeleng dan menatap korban-korban kecelakaan yang ada dihadapannya dengan shock.
“Tolooongg.... Tolooongg...” ucap para korban yang masih sadar danb meminta pertolongan.
Sean yang sudah panik pun melihat kearah Rubina untuk tetap fokus.
“Hey... Bina! Bina! Rubina Henney Wiriawan! Liat saya! Kamu harus tetap fokus dan sadar,” ucap Sean sambil terus melihat sekujur tubuh Rubina yang memang hanya luka baret karena terjatuh tadi.
“Kamu tunggu disini saya akan melihat korban yang lain dulu...” ucap Sean lalu pergi meninggalkan Rubina yang masih terduduk dan melihat kepergian Sean yang langsung menolong orang-orang yang menjadi korban kecelakaan tersebut dengan mata berbinar.
Rubina makin terpesona saat melihat Sean menolong dengan gesit semua korban kecelakaan itu.
Flashback OFF
Sean berhenti untuk membayangkan tentang kejadian yang terjadi di tujuh tahun yang lalu. Dia buru-buru menyelesaikan aktivitas mandinya.
“Semoga aja dia nggak ngerepotin gue kayak tujuh tahun yang lalu. Bisa gila gue kalo sampe itu terjadi lagi.” Sean bergumam sambil memasang handuk putihnya melilit tubuhnya.