
"Tante, kok mau nikah sama Om Hans?! Om Hans kan nggak kayak Daddy, nggak romantis, nggak perhatian, lebih ke dingin..."
"Mm--Hmm. Sebelas dua belaslah kayak kamu."
"Cihhh..." Emerald pun mendengus. Nadin pun seketika tertawa melihat sikap Emerald.
"Kamu tau nggak sih, dulu sebelum nikah Daddy kamu juga begitu sama Ibu kamu... tapi kan sekarang nggak! malah Daddy keliatan bucin banget sama Ibu, iya kan? Ya... kali aja Om Hans juga gitu sama tante Nad..." Ucap Nadin sambil memperhatikan Hans begitu pun juga Emerald.
"Kak Eme?!" ucap Syifa dan Bina yang berlari kearah Eme dan juga Nadin diikuti oleh Hans dibelakang mereka.
"ciang Tate Nad..." sapa Syifa sambil tersenyum.
"Siang juga Syifa..." balas Nadin sambil tersenyum.
Tak lama ada pengumuman dari panitia kalau kedua orang tua dari siswa harus bersiap-siap ikut lomba, sementara Hans dan Nadin saling pandang, mereka tidak tau kalau orang tua juga harus ikut lomba sebagai apresiasi dari orang tuanya untuk anak-anaknya.
"Om Hans sama Tante Nadin nggak bawa baju olah raga?" tanya Emerald yang melihat reaksi Hans dan juga Nadin. Sementara Hans dan Nadin hanya menggelengkan kepala tanda tidak tau menau, mereka hanya dibilang menghadiri acara anak-anak saja tidak bilang harus ikutan lomba.
"Loh bukanya Ibu udah siapin ya? kan bajunya ada di Kak Eme..."
"Hah?!" seru Hans dan Nadin kaget.
5 Menit kemudian...
Setelah Hans dan Nadin ditarik oleh Emerald, Bina juga Syifa untuk beganti baju di dalam toilet yang tersedia, akhirnya Hans dan Nadin memakai baju olah raga.
Beberapa orang tua yang ikut hadir dan ikut memeriahkan lomba pun berjalan ke lapang untuk mengikuti perlombaan yang akan dimulai itu, begitupun dengan Nadin dan juga Hans.
"Yeaa... Yeaaa... Yeaaaa... Om Hans, Tate Nadin... kalian pasti bisaaaa!!!" teriak Bina dan Syifa yang berdiri di dekat Emerald memberi dukungan pada Hans dan Nadin.
Sementara mereka berdua canggung bukan main.
Lomba pertama adalah lomba menari pasangan dengan balon, saat itu Emerald Bina dan Syifa langsung tertawa melihat joget Nadin dan Hans yang sangat kaku dan malu-malu, tak lupa Emerald pun mengabadikan mereka lewat video di handphonenya. Lalu diteruskan lomba estafet kelereng dan disitu kerjasama setiap pasangan juga sangat penting. beberapa lomba telah mereka lalui, akhirnya lomba terakhir yang harus mereka lalui, yaitu lomba menahan berat badan pasangan.
Setiap pasangan laki-laki harus mengangkat pasangan wanita bak putri siapa yang bertahan paling lama mereka lah yang menang.
"kalau lomba lain mereka kalah, kakak yakin kalau lomba ini Om Hans dan Tante Nadin menang." gumam Emerald.
"Hmm benal Kak... Om Hans kan kuat pasti bisa beltahan ngangkat badan Tante Nadin...." balas Bina. Diikuti Syifa yang mengangguk-ngangguk.
***
Pukul satu Dini hari, Hans baru saja tiba di Apartment nya. Nampak sepi sekali, sepertinya Nadin sudah terlelap di kamarnya.
Yupz... benar sekali, setelah pulang dari acara Emerald dan Bina, seharian Nadin dan Hans menemani anak-anak di rumah, Hans yang berada di rumah Danniel menjaga anak-anak sambil bekerja, tak lupa dia berganti baju ikut mandi di kamar yang biasa dia pakai kalau dia menginap disana. Sementara Nadin langsung diajak bermain oleh Bina juga Emerald. Sampai waktu sudah menunjukan pukul enam sore, baru Nadin disuruh pulang oleh Hans itu juga diantar oleh supir Danniel yang stay disana dan di percayai oleh Hans. Sementara Hans masih diam di rumah Danniel menjaga anak-anak sampai Danniel dan Althea pulang ke rumah mereka.
Wajah datar dan terlihat dingin itu nampak fokus pada layar benda canggih miliknya. Jemari yang penuh urat dan kekar itu lincah bergerak bebas diatas keyboard ketika membalas sebuah pesan dari Ryuji, Sekretaris Danniel.
Badan atletisnya begitu panas, otot-ototnya terbentuk sempurna tanpa menyisakan celah untuk mencari kekurangannya. Alis tebal bulu mata lentik, serta hidung bengirnya menambah aksen rupawannya. sangat tampan dilihat dari sisi mana pun.
Selesai membalas beberapa email penting, Hans terdiam bersender di kursi kerjanya sambil mengingat kebersamaannya dengan Nadin tadi siang di sekolah Emerald. lalu senyum kecil tersungging di bibirnya, lalu Hans juga mengingat kebersamaan Nadin saat di rumah Danniel menghabiskan waktunya mengurus kedua putra putri Danniel dan Althea.
Lalu Hans pun segera meninggalkan ruang kerjanya. Jam sudah menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh lima menit. Tidak terasa sudah lima belas menit saja Hans berada di ruangan itu, cepat sekali waktu berlalu.
Dengan langkahan lebar sambil sesekali mengusap bagian leher bagian belakangnya, lelah. Hans begitu mengantuk, badannya terasa penat di beberapa bagian. Setelah ini dia akan mandi, makan kemudian tidur. Hans tidak sempat makan tadi.
Saat memasuki kamar, Hans melihat Nadin sedang tertidur pulas di posisinya. Hanya lampu tidur yang menyala, beberapa bagian kamar nampak dibiarkan gelap.
Padahal Hans tidak melakukan pergerakan yang membuat kebisingan, tetapi Nadin terbangun setelah menggeliat pelan. Kelopak matanya perlahan terbuka, menggaruk pipi sambil mengicap pelan. Setiap pergerakan Nadin tidak lepas dari pengamatan Hans. Pria itu duduk di sofa, melepas sepatu dan kemejanya.
"Hm... ? Mas Hans baru pulang?!" gumamnya serak suara khas bangun tidur. Setelah mendapat jawaban singkat dari Hans, Nadin cepat mengubah posisinya menjdi bangun. Nadin tidak mimpi, Hans beneran pulang. "Eh... beneran ya Mas pulang?" Kelabakan, Nadin segera menuju ke arah Hans. Membereskan sepatu pria itu dan mengambil kemejanya.
Hans menautkan alis, keningnya terlihat bergelombang. "Ya, saya beneran pulang! Kamu kenapa?" Bingung, Hans geleng-geleng kepala merasa aneh.
Nadin menguap sekali lagi, menggaruk lehernya, " Ah, aku nggak apa-apa, Mas. aku cuma kaget. Mas udah lama datangnya? Maaf aku ketiduran. Nggak denger Mas pulang."
Cuma itu, serius? Hans pikir Nadin kenapa. nggak masalah sih sebenarnya kalau Nadin tetap tidur sekalipun, Hans tak akan mempemasalahkannya.
"Tidur lagi aja kalau masih ngantuk!" Nadin dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku siapin air dulu. Mas Hans mau mandi kan?" Hans mengangguk pada akhirnya, menolak bukan pilihan yang benar kan?
Karena sudah malam Nadin menyiapkan air hangat untuk Hans. Mengambilkan sabun dan sampo yang baru, menyiapkan sikat dan pasta giginya. Handuk bersih baru saja dikeluarkan Nadin keluarkan dari lemari, sementara handuk sebelumnya di cuci.
"Mas, lapar? aku masakin ya?" Nadin membuka suara setelah selesai kewajibannya di kamar mandi. Hans masih duduk di sofa, bersandar sambil memijat pangkal hidungnya. Tadinya Nadin mengira kalau Hans akan menginap lagi di rumah keluarga Danniel Henney.
Hans melihat ke arah Nadin, "aku bisa sendiri. Kamu bisa lanjut tidur--"
"Enggak, Mas. aku udah nggak ngantuk lagi kok. Aku masakin sebentar. Mas, mau makan apa?"
"Terserah kamu aja, saya pasti makan!"
Nadin terdiam sebentar, "Mas, mau makan ayam mentega?"
"Ya, boleh. Yang menurut kamu gampang saja bikinnya, nggak usah terlalu yang repot." Hans membuka gesper, melepaakan celananya menyisakan boxer.
"Aku tinggal sebentar ya, Mas. Nanti pakaian Mas aku taruh di atas tempat tidur. Kalau aku belum balik lagi ke kamar, Mas langsung aja ke dapur ya, Mas?" Hans mengangguk, Nadin segera berlalu cepat menuju dapur. Gerak cepat agar ketika Hans selesai mandi nanti makanan juga sudah siap disajikan.
Nadin tidak mau ada yang membantu pekerjaan rumahnya, meskipun Hans kemarin sudah mengusulkan untuk mempekerjakan bibi untuk beres-beres rumah dan memasak karena Hans tau pekerjaan yang dikerjaan Nadin di kantornya Althea juga tidaklah gampang. Tapi sekali lagi Nadin sangat senang ketika semua yang Hans perlukan Nadin siapkan. lagipula beres-beres Apartment Hans yang tidak terlalu besar tidaklah susah, dan intinya Nadin ingin membiasakan Hans dengan kehadiran dan setiap perlakuannya, agar membuat pria itu nyaman.