I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 57



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"GIMANA KONDISI KAKI LO? APA MASIH KERASA PERIH?" dua buah pertanyaan itu diajukan oleh Emerald saat menghampiri adiknya yang sedang rebahan di ranjang kamar.


"Udah baikan kok. Udah nggak perih lagi kayak tadi." Rubina memberikan jawaban tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya. "Btw Kak Eme masuk ke kamar cuma buat nanya soal kondisi aku? Aaah so sweet banget!" kali ini Rubina mem pause drama Korea yang berjalan di ponselnya, dan mengarahkan perhatian ke kakaknya.


"Apaan sih?" jijik Emerald. "Gue ke sini juga sekalian mau ngambil kaos gue yang warna abu-abu. Soalnya barang itu nggak ada di kamar gue, makanya gue yakin banget kalo kaos punya gue pasti nyempil di lemari lo." ucap Emerald.


"Coba cari di lemari!"


Emerald mulai berjalan menghampiri lemari lalu membukanya!


Bruk!


Suara itu terdengar begitu pintu lemari milik Rubi a dibuka oleh Emerald. Rubina menoleh cepat untuk mengecek.


"Apaan nih?" Emerald memungut sebuah kotak dari lantai dan memperlihatkannya ke Rubina. "Benda ini punya lo, Bi?"


Rubina langsung ingat soal kotak itu. Kotak yang hampir seminggu yang lalu diberikan oleh pengagum rahasianya. "Aahh.. Iya, Kak, itu punya aku."


"Nih, tangkep!" Emerald langsung melempar benda di tangannya itu.


Untung Rubina bisa menangkapnya.


"Good Girl," puji Emerald. "Oh iya, calon suami lo udah ada ngehubungin lo, Bi?" tanya Emerald sembari dia memeriksa isi lemari adiknya.


"Maksud Kak Eme, Sean?" Rubina mengembalikan sebuah pertanyaan.


"Ya menurut lo siapa lagi, memangnya ada berapa banyak sih calon suami lo." Emerald geleng-geleng kepala.


"Sean belum ngehubungin aku. Emangnya kenapa Kak?"


"Tadi dia nge-chat gue. Dia nanya soal kondisi lo. Ya gue bilang aja kalo kaki lo udah nggak sakit lagi. Tapi kok aneh ya, kenapa dia nggak langsung ngehubungin lo aja, kenapa harus gue yang jadi perantara?"


"Hhmmm... mungkin dia sungkan kali?" Rubina menduga-duga.


"Menurut gue sih dia gengsi buat nge-chat dan nanyain kondisi lo, makanya dia ngehubungin gue." Emerald membagikan pendapatnya, "Astaga... bener kan dugaan gue, kaos gue beneran ada di sini," Emerald mengeluarkan kaos miliknya dari lemari.


Mendapatkan apa yang dicari, pintu lemari ditutup kembali, dia bergegas meninggalkan kamar adiknya.


"Jangan lupa pintunya ditutup lagi!" perintah Rubina melihat kakaknya hendak keluar meninggalkan kamarnya.


"Iya, iya, bakalan gue tutup kok. eh jangan lupa ya Bi, lo harus ngomong serius loh sama Papah.."


"Iya, bawel ah!" teriaknya saat Emerald sudah masuk ke menatap kembali kotak di pangkuannya. Tanpa pikir panjang dia membuka kotak itu mengecek apa isinya. Ternyata sebuah hoodie berwarna hitam putih. Selain hoodie, Rubina juga menemukan sepucuk surat di dalamnya.


Karena aku tahu kamu suka


^^^Tertanda,^^^


^^^your secret admirer^^^


"Siapa sih orang dibalik ini?" udah lama juga Rubina ingin tau sosok orang itu, tapi sampai sekarang dia masih belum menemukan titik terang. "Entah kenapa gue ngerasa kalo pria yang terus ngirim gue hadiah ini udah kenal gue cukup lama. Buktinya aja dia tahu kalo gue suka warna hitam putih dan juga bunga mawar."


SALAH satu hal yang paling disukai oleh Rubina saat jam kuliah adalah ketika dosen mengatakan bahwa pertemuan hari itu telah berakhir. Wah, rasanya seperti mendapatkan oase di tengah gurun pasir.


Setelah dosen meninggalkan ruangan, semuanya pun bergegas memasukkan barang-barang ke ransel.


"Bi, gue pamit duluan ya, gue lagi buru-buru. Ayah gue udah nungguin gue di depan gerbang kampus. Dah." Caca terlihat begitu terburu-buru. Dia pergi menyisakan tanda tanya besar di kepala Rubina. Rubina menilai tingkah Caca terlihat sangat aneh.


Rubina kembali pada aktivitasnya memasukkan alat tulisnya ke shoulder bag yang dia bawa. Rubina baru saja akan meninggalkan duduknya saat sesuatu mengambil perhatiannya. "Saking terburu-burunya dia sampai lupa bawa flashdisk-nya." Mengambil benda berwarna putih itu Rubina memperlihatkan gelengan kepala bertempo lambat. "Padahal di flashdisk ini ada tugas yang harus dia kerjakan."


Rubina yang berpikir Caca belum terlalu jauh segera beranjak dari kursinya. Rubina membela koridor kampus dengan langkah yang terburu-buru. Tapi sayang, bahkan sesampainya di depan gerbang kampus dia tidak melihat sahabatnya ada di sana. "Caca kok cepet banget ya larinya. Apa dia udah berangkat sama ayahnya?"


Rubina mengedarkan pandangan ke segala penjuru, barangkali Caca masih ada di sekitar gerbang kampus dan dia tidak melihatnya. Tetapi kenyataannya Caca memang sudah tidak ada di sana. Kemungkinan terbesar dia sudah pulang sama ayahnya.


"Bi!" panggilan itu didahului oleh sebuah sentuhan ringan pada bahu Rubina. Si empunya nama segera menoleh ke belakang memeriksa sumber suara. Dia menemukan seorang perempuan sedang menatapnya dengan tampang bingung.


"Eh elo, Lin," ucap Rubina secara spontan di detik awal saat mereka mengadu pandangan.


"Lo nyari siapa sih, Bi?" tanya Lina. Lina ini adalah sahabat dekat Caca yang juga berkuliah di kampus ini-hanya saja beda jurusan dengan Caca dan Rubina. Rubi a kenal sama Lina tentu saja karena beberapa kali mereka bertemu dan hangout bareng. "Gue perhatiin lo kayak lagi nyari seseorang. Lo nyari siapa Bi?" gadis itu memberikan pertanyaan yang sama karena Rubina belum menjawab keraguannya.


"Aku nyariin Caca," jawab Rubina sekalian dia memperlihatkan flashdisk yang ada di tangannya dan lanjut memberikan penjelasan kenapa dia mencari Rubina, "Setelah kelas selesai dia langsung pergi. Katanya sih dia lagi buru-buru. Dan saking dia buru-buru, sampe flashdisknya dia lupa dimasukkin ke tasnya. Mana di flashdisk ini ada tugas yang harus dibuat besok."


"Pantesan, gue ngeliat lo kayak lagi nyari seseorang. Ternyata Caca. Barusan gue lihat dia dijemput pake mobil tuh."


"Iya, tadi dia sempat bilang kalau ayahnya bakalan jemput dia."


"Ayah?" ulang Lina. Terlihat wajah gadis itu sedang berpikir. "Perasaan bukan ayahnya deh yang jemput dia. Soalnya pas dia naik ke mobil gue sempat ngeliat kalo yang jemput dia tuh bukan ayahnya, tapi kakak laki-lakinya," jelas Lina.


"Kakak laki-laki? Emangnya dia punya kakak laki-laki?" bingung Rubina. Kebingungan adalah alasan kenapa dia memberikan pertanyaan beruntun untuk gadis bernama Lina itu.


"Hah, lo enggak tahu soal itu?" Lina mengembalikan pertanyaan.


Rubina geleng-geleng kepala, sudut bibirnya kembali terbuka, "Enggak. Yang gue tahu Caca itu adalah anak tunggal."


"Anak tunggal dari mananya, dia kan punya kakak laki-laki. Aduh sorry ya, Bi, gue kudu pulang sekarang nih. Taksi online pesanan gue udah dateng," pamit Lina hanya diangguki oleh Rubina.


Setelah balas melambaikan tangan kepada Lina, Rubina masih memijakkan kaki di tempat yang sama. Rubina masih mencoba menerka-nerka lewat akalnya soal apa yang dikatakan oleh Lina tentang Caca. Sungguh, Rubina merasa gagal untuk disebut sebagai sahabatnya Caca.


"Bisa-bisanya gue baru tau soal Caca yang punya kakak laki-laki. Selama ini gue pikir Caca itu anak tunggal."


Kalau melakukan kilas balik, Rubina dan Caca sudah cukup lama saling mengenal satu sama lain. Bahkan mereka sudah kenal sejak mereka bertemu untuk pertama kali saat mengurus berkas sebelum mengikuti ujian masuk di kampus ini, tapi memang, selama bersahabat dengan Caca, Rubina memang belum pernah sekalipun berkunjung ke rumah Caca.


"apa mungkin, Caca nyembunyiin sesuatu dari Gue?" Rubina bermonolog.