I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 6 Kisah Hans



Pukul Delapan lebih empat puluh lima menit. Di meja Nadin sibuk mengerjakan pekerjaannya yang kemarin sempat tertunda, karena dirawat di rumah sakit dan karena dia menikah, Nadin sebenarnya sudah mengambil cuti untuk satu minggu kedepan, tapi karena suaminya juga sudah bekerja lagi dan tidak mengambil cuti, terus buat apa dia cuti sendirian di apartmentnya.


"Loh, Nad... kok udah masuk? bukanya kamu udah ngambil cuti, ya?" tanya Althea yang baru saja datang dengan tergesa-gesa.


"Nggak jadi cuti Kak, percuma cuti juga cuma sendirian di apartment..."


"Aaahhh... iya, Hans emang dari kemaren malem juga udah dateng ke rumah, padahal saya sama Danniel udah nyuruh dia cuti loh, malah Danniel ngasih hadiah buat kalian bulan madu..." Nadin pun hanya tersenyum kecut, hatinya merasa teriris, berarti itu memang keinginan Hans untuk kembali bekerja bukan karena disuruh Boss Danniel ataupun kak Althea.


"Kamu yang sabar ya Nad, Hans memang begitu... nanti saya tegur dia supaya lebih perhatian sama kamu ya..."


"Eu.. nggak usah Kak, nanti nyangkanya saya lagi yang nyuruh Kakak buat negur Hans.. nggak apa-apa nanti juga Hans akan perhatian dengan sendirinya sama aku... makasih sebelumnya ya, Kak..."


"Ya udah kalo kamu masuk lagi, saya jadi agak santai dan ga keteteran lagi masalah kerjaan..."


"Siap, kak.. ini juga saya lagi nyusun ulang jadwal kegiatan Kakak sama bikin laporan yang tertunda kemaren..."


Selepas Althea meninggalkan meja Nadin, Nadin langsung kembali lagi ke aktifitasnya.


***


Di sebuah restoran...


Althea dan Nadin sedang duduk sambil menunggu klien.


"tumben amat sih Kak, nemuin Klien sama Kak Al, biasanya juga sama Bu Gracia."


"Gracia lagi sibuk sama Klien lain..."


"Oh.." jawab Nadin sambil mengangguk lalu menyiapkan proposal kejasama kalau-kalau pihak kak Althea juga pihak klien setuju untuk kerjasama.


"Eh bentar anak-anak telpon, sekalian saya ke toilet dulu ya, Nad... nanti kalau klien nya udah dateng kamu jamu dulu ya... pesenin yang mereka inginkan..." ucapnya sambil mengangkat telpon berjalan kearah toilet. Nadin pun cuma mengangguk lalu kembali melanjutkan kerjaannya di tabletnya.


Lima menit kemudian...


"Nadin?!" ucap salah seorang pria yang berdiri didepan mejanya dan pria lain disisinya. Nadin yang merasa dipanggil namanya pun mengangkat kepalanya memincingkan matanya pada pria itu untuk mengingat siapalah sosok pria yang ada di hadapannya itu.


"Tian?!"


"Yes, it's me Nad... Tian"


"Aahh... oh my God, apa kabar lo?! tiba-tiba ngilang entah kemana, ehhh tau-tau sekarang nongol disini!" ucap Nadin sambil melirik pria di sampingnya.


"dia sekretaris gue..."


"Wuiiihhh udah jadi CEO nih..."


"Masih kecil-kecilan lah... by the way lo ngapain disini?!"


"Gue lagi nunggu klien gue nih, lama banget ga nongol-nongol, ga profesional banget, mereka yang butuh, tapi ini malah kita yang nungguin.." gerutu Nadin sambil bersidekap memperlihatkan kalau dirinya sedang keaal karena menunggu.


Pria yang bernama lengkap Bastian Putra Pratama pun terdiam berfikir, lalu tersenyum penuh arti, dia tau kalau Nadin paling tidak suka menunggu.


"Jangan-jangan lo wakil dari Wiriawan's Corp?" Nadin pun seketika terdiam melihat Bastian.


"R&N group?" tanya Nadin ragu. Bastian pun hanya tersenyum kearah Nadin tidak percaya.


"Yes, it's my company! Yang kamu bilang nggak profesional dan karena udah buat lo nunggu..." ucap Sebastian bercanda sambil terkekeh. Sementara Nadin hanya tersenyum sambil nyengir.


"Sorry, bukan maksud--"


"It's okay Nad, kita emang salah, udah tau jam segini jalanan pasti macet, tapi kita tetep telat buat berangkat.. maaf ya..."


"I..Iya nggak apa-apa, silahkan duduk Tian... Nona mau pesan apa ya? kalau Tian kan udah pasti jus alpukat with less sugar seperti biasa...."


"Saya jus jeruk saja Nona..." ucap Sekretaris Bastian, Nadin pun memanggil Pelayan lalu memesankan pesanan Bastian juga sekretarisnya. Sementara Bastian terus memperhatikan Nadin yang terlihat berbeda dari yang terakhir dia lihat beberapa puluh tahun yang lalu.


"No, Tian, aku bareng boss aku, dia lagi ke toilet dulu..." Bastian tersenyum mendengar Nadin merubah panggilannya bukan 'gue' lagi tapi 'aku'.


***


Setelah pertemuan lagi dengan Bastian mereka pun bertukar nomor handphone untuk sekalian reuni juga membahas masalah bisnis. Kerjasama pun dilakukan dengan secara baik oleh kedua belah pihak perusahaan antara Wiriawan's Corp dan juga R&N Group, Althea pun diberitahu oleh Nadin kalau Bastian sang CEO adalah teman dekatnya saat SMA dulu.


"Kamu nggak apa-apa, Nad?!" Setelah sunyi beberapa saat di dalam mobil, Althea yang sesekali memperhatikan sikap Nadin yang pun langsung bertanya karena gatal, soalnya semenjak pertemuan sama R&N sikap Nadin jadi lebih pendiam dari biasanya.


"Hm... nggak kenapa-kenapa, Kak.!"


"Cuma temen dekat kamu apa mantan kamu?!"


"Ya?!" ucap Nadin melihat kearah Althea kaget. Melihat reaksi Nadin Althea pun tahu kalau Bastian adalah mantannya.


"Kalo kamu nggak nyaman, saya akan alihkan R&N sama Gracia..."


"Nggak, Kak... tenang aja itu cuma masa lalu sekarang kan udah ada Mas Hans, Kak Al kan tau perjuangan aku buat dapetin Mas Hans kayak gimana?" Althea hanya tersenyum lalu menghembuskan napas.


"mungkin awalnya memang akan sulit ketika keberadaan orang yang kita sayangi dulu, terus berkeliaran di dekat kita apalagi kalau orang itu sudah mempunyai orang yang dia sayangi, tapi beruntunglah kamu Nad, yang sudah mempunyai penggantinya... so fokuslah ke kerjaan and be a profesional, ok?!" Nadin pun tersenyum kearah Althea.


"Ini ngasih nasehat apa, curhat pengalaman pribadi ya Kak?!" sindirnya. Althea dan Nadin pun tertawa.


"Tapi sekarang Kak Al bahagia kan hidup sama Pak Danniel, apalagi sekarang udah punya dua krucil yang lagi gemes-gemesnya bikin onar..." ucap Nadin sambil tertawa.


"Iyalah, dicintain dan disayangi Danniel ga akan ada habisnya rasa bahagia.. nanti juga kamu ngerasain gimana sibuknya ngurus anak, makanya kamu nggak usah nunda momongan, langsung program hamil aja, saya yakin, kalau adanya anak sifat Hans juga pasti akan berubah." Nadin pun terdiam seketika.


Gimana mau punya anak? orang pas berhubungan aja pake pengaman, dan kayaknya Mas Hans emang nggak ada niat pengen punya anak sama aku.


***


Satu Minggu kemudian...


Hubungan Nadin dengan Hans masih seperti biasa tidak ada perubahan sedikit pun, dan kerjaan Hans yang membuatnya selalu sibuk bahkan sempat tidak pulang selama sua hari karena ada tugas dari Danniel untuk mengurus proyek di Kota Surabaya, memang Hans bilang kalau dia nggak akan pulang, dan Nadin pun hanya bisa besabar menghadapi sikap dan sifat Hans yang kayaknya makin hari makin dingin bukanya makin lembut dan perhatian.


Nadin pun jadi makin sering di sibukkan juga dengan pekerjannya jadi pikirannya pada sikap Hans jadi sedikit terlupakan.


"Siang, Nad!" ucap seorang pria yang sudah berdiri di depan meja kerjanya dan Sekretarisnya pun dengan setia berada di sampinya.


"Oh my God Tian?! ngagetin aja deh.. kok tiba-tiba kesini? nggak bikin janji dulu kalo mau ketemu Bu, Althea?!"


"Hmm, aku kesini bukan mau ketemu sama Boss kamu kok, aku kesini mau ketemu kamu ngajak lunch... udah lama ga makan bareng!"


"Duh.. kerjaan aku banyak banget, Tian. jadi kayaknya aku nggak bisa makan bareng kamu deh..."


"Nggak apa-apa aku tungguin..."


"Tapi..." melirik kearah Sekretarisnya yang masih setia berdiri di belakang Tian.


"Nad, siang ini---" ucap althea yang baru sama membuka pintu ruangannya kaget meliha ada Bastian dan Gani sekretarisnya di kantornya.


"Loh, Pak Bastian... apa ada masalah?!" tanya Althea mulai curiga.


"Tidak, Bu. Althea saya hanya ingin mengajak makan siang Nadin, udah lama kita nggak makan bareng..."


"Oh iya, Nad... tadi Danniel telepon katanya suami kamu akan kesini juga sekalian jemput kamu."


"Oh, iya.. Baik, Bu!" Ucap Nadin lalu membereskan kerjaannya. sementara Althea langsung masuk ke ruangnya lagi buru-buru menelpon sang suami supya buru-buru datang ke tempatnya.


Sementara Bastian masih terdiam terkejut dengan perkataan Althea tentang 'Suami'.


"Nad, kamu udah nikah?!"