
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Kenapa? Kok diem? Kamu enggak berani ya buktiin tuduhan kamu bener atau salah?"
"Ck... Saya mau tidur, sebaiknya berhenti membual," Sean memperbaiki posisi berbaringnya di sofa. Tentu saja dia beralasan sudah mengantuk karena dia canggung dengan suasana tadi. Dari pada akhirnya dia dijadikan bahan cibiran oleh Rubina, dia pun beralasan sudah mengantuk untuk menghindari gadis itu.
Rubina memang tidak mengharapkan apa-apa di malam pernikahannya dengan Sean. Apalagi dengan kenyataan dia memang sejak awal sudah tahu bahwa Sean belum memiliki perasaan lebih untuknya. Kalau pun beberapa saat yang lalu Rubina menggoda Sean, itu karena dia gabut saja. Lagi pula Rubina merasa senang saat berhasil membuat Sean salah tingkah seperti tadi. Sangat-sangat moodboaster bagi gadis itu.
Sekarang Rubina telah menjadi istrinya Sean. Akan tetapi perjuangannya belum berakhir sampai di sini. Masih banyak rintangan yang harus dia hadapi. Kedepannya Rubina akan berusaha untuk membuat Sean benar-benar memiliki perasaan lebih terhadapnya. Rubina yakin kebersamaannya dengan Sean bisa menumbuhkan benih cinta. Sekarang tinggal waktu saja yang dibutuhkan. Mungkin seminggu, sebulan, atau mungkin setahun waktu yang Rubina perlukan untuk membuat Sean mencintainya.
Pemikiran-pemikiran yang dibangun oleh imaji Rubina runtuh ketika dia mendengar suara-yang tidak bisa dikategorikan pelan- sedang mengudara di ruangan yang hening itu. Rubina cukup mengubah posisinya jadi terduduk untuk tahu kalau suara itu berasal dari Sean.
"Suara Sean gede juga ya pas lagi ngorok," Rubina tersenyum simpul. Tidak mengira bahwa pria tampan itu ngorok saat sedang tidur.
***
Rubina memukul-mukul jidatnya pelan ketika dia menyadari bahwa dia bangun dari tidur disaat jam di ponselnya telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Awalnya Rubina biasa saja, tapi saat tersadar bahwa saat itu dia sedang di kamar Sean alias rumah mertuanya dia pun kalang kabut.
Rubina melihat Sean yang masih dalam keadaan terlelap di sofa. Sekarang Rubina mengerti, efek kecapean setelah resepsi kemarin pasti jadi alasan paling kuat kenapa dia dan Sean sampai telat bangun hari itu.
Rubina menuju ke kamar mandi tentu saja untuk membasuh mukanya.
"Ck... Bisa-bisanya aku malah telat bangun di hari pertama aku resmi jadi bagian keluarga ini. Ya Allah," Rubina misuh-misuh sewaktu dia mengoleskan sabun cuci muka ke wajahnya. Padahal kemarin maminya sudah menasihatinya agar Rubina bangun cepat. Rubina buru-buru membasuh mukanya dengan air. "Aku harus cepet-cepet ke bawah. Nanti yang ada keluarga Sean malah nilai aku sebagai perempuan pemalas. Ya walaupun kenyataannya aku emang rada males sih, tapi sekarang aku harus memberikan image yang baik ke mereka." Rubina mengelap mukanya dengan handuk kecil dilanjutkan dia mengikat rambutnya secara asal. "Eh suami aku masih tidur," gemas Rubina melihat Sean yang tampak menggemaskan saat sedang tertidur. "Gemes banget sih ya Allah. Rasanya pengen banget nyubit hidungnya." Rubina tidak berlama-lama dalam mengagumi ketampanan suaminya lantaran dia masih harus bertemu dengan anggota keluarga di lantai dasar.
"Eh ayam," latah Rubina yang hampir jatuh di tangga. Gadis itu terlalu terburu-buru sampai dia hampir terpeleset karena kehilangan keseimbangan. "Huft... Hampir aja," ucapnya sambil mengelus dadanya pelan-pelan. Setelah itu dia lebih berhati-hati lagi membawa langkah kakinya menuruni tangga.
Di lantai dasar, dapur menjadi tempat yang pertama kali dikunjungi oleh Rubina. Di sana dia melihat ibu mertuanya sedang menyiapkan sesuatu bersama dengan Rina istrinya kak Dimas.
"Selamat pagi semuanya," ucapan Rubina membuatnya jadi bahan perhatian kedua perempuan yang lebih dulu ada di sana. Secara serempak Marisa dan Rina balik badan. Mereka sama-sama memberikan senyum ramah seperti yang Rubina persembahkan.
"Maaf Tan," ucap Rubina namun dia segera mengoreksinya, "Eh, maksud Bina maaf Bu, soalnya Bina bangunnya telat," Rubina merasa tidak enak, terlebih karena Marisa dan Rina sudah ada di dapur menyiapkan makanan.
"Santai saja, Bi!" ucap Rina.
"Wajarlah kamu telat bangun. Namanya juga pengantin baru. Pastilah kamu sama Sean butuh istirahat lebih."
"Bener tuh kata kakak kamu," timpal Marisa berusaha untuk menghilangkan rasa bersalah yang bersarang di wajah Rubina saat itu. Kemarin kan kamu dan Sean meladeni banyak tamu undangan. Wajar aja kalau karena itu kamu sampai kecapean."
"Oh iya, aku bantu apa nih?"
"Nggak perlu Bi. Masakannya udah siap kok, tinggal dihidangin aja di meja. Sebaiknya sekarang kamu bangunin suami kamu aja, setelah itu kita sarapan sama-sama." ujar Marisa.
***
"Sean!" panggil Rubina. "Ayo, bangun sekarang udah pagi. Ibu nyuruh kita buat sarapan," sambung Rubina masih dengan nada suara paling lembutnya. Karena dengan suara saja tidak membuat pria itu bangun, kali ini Rubina menggunakan tangannya untuk menyentuh lengan milik pria itu. "Hubby, ayo bangun!" panggilan dengan embel-embel 'Hubby' baru pertama kali diucapkan oleh Rubina. Bibirnya secara refleks saja mengatakan itu.
"Ck... Apaan sih, ganggu orang lagi tidur aja," kesal Sean yang saat itu masih ingin terlelap lebih lama lagi.
"Ayo bangun. Disuruh ibu! Makanan udah siap. Atau mau aku laporin kalau kamu marah-marah pas disuruh bangun?"
"Iya, iya, ini juga udah mau bangun kok." Sean bangun dengan terpaksa. Ancaman Rubina buat nyalinya menciut.
"Kamu cuci muka dulu By, itu bekas ilernya masih ada."
Sean dengan panik memeriksa sudut bibirnya.
"Bercanda doang kok, By. Nggak usah heboh begitu ah!"
"Apa kata kamu barusan? By?" Sean mengerutkan keningnya. "Kamu manggil saya By?" Sean sampai menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, aku panggil kamu Hubby. Ada yang salah ya sama panggilan itu?"
"Aneh tahu gak!"
Kini giliran Rubina yang mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban Sean.
"Hah? Kok aneh sih? Perasaan kata 'Hubby' nggak ada anehnya sama sekali. Justru yang aneh itu kalau aku manggil kamu dengan sebutan 'Wifey' atau jangan-jangan kamu pengin dipanggil Wifey sama aku?"
"Ya nggaklah, gila kali."
"Ya kalo gitu kenapa kamu protes pas aku manggil kamu dengan sebutan Hubby?"
"Ya aneh aja. Biasanya juga kamu manggil saya langsung pakai nama."
"Kan kita baru resmi jadi suami istri kemarin makanya aku baru manggil kamu Hubby hari ini. Gimana? Bagus kan panggilan sayang dari aku?"
"Ini masih pagi loh. Jangan bikin saya kesel!" Sean mengacak-acak rambutnya sambil dia beranjak menuju ke kamar mandi. "Kamu turun duluan aja!" Sean menghentikan langkahnya dan berbalik untuk mengatakan kalimat berisi perintah itu untuk Rubina.
"Kamu nggak butuh bantuan aku pas di kamar mandi?"
"Nggak." Satu kata itu dijawab oleh Sean menggunakan wajah dan nada datar.
"Yakin?"
"Yakin, seratus persen!" jawab Sean sebelum suara pintu dibanting terdengar.
***
Sean terlihat tidak acuh pada Rubina yang mengangkat sendiri barang bawaannya. Bukannya jahat, masalahnya saat masih di rumah tadi Sean sudah berulangkali mengingatkan Rubina bahwa mereka akan menginap di vila selama tiga hari saja. Tapi Rubina malah menyediakan banyak perlengkapan seolah dia dan Sean akan menginap selama dua minggu di vila. Tak heran kenapa sekarang Sean tidak berniat mengulurkan bantuan kepada gadis menyebalkan itu.