
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Tidak ada jawaban. Padahal saat itu Rubina sedang di dekatnya.
Q'iujnyhhg
"Bina?" ucap Sean pelan namun dia tidak juga mendapatkan jawaban. Karena itu Sean berhenti memandangi layar laptop membawa fokusnya menuju ke Rubina.
Pantas saja Sean tidak mendapatkan balasan dari Rubina. Rupanya gadis itu sedang memejamkan mata. Dia tertidur dengan posisi pipi menempel ke meja.
"Ah, ternyata dia sudah tidur,” baru beberapa detik matanya memperhatikan Rubina yang sedang tertidur saat seulas dipersembahkan oleh Sean. "Dia manis juga kalau tidur gini. Vibesnya beda banget kalo dia lagi bangun. Wajahnya yang emang udah cantik dari sananya malah makin tambah cantik aja."
Sean meninggalkan tugasnya yang setengah jalan. Dia beranjak meninggalkan duduknya, berdiri di sebelah Rubina. "Kalo gue biarin dia tidur dalam posisi kayak gini, ntar yang ada besok pagi dia malah ngeluh sakit badan. Mendingan gue pindahin aja deh ke kamar."
Sean melakukannya secara perlahan saat mengangkat tubuh istrinya menuju ke kamar. Meski beban tubuh Rubina lumayan berat namun bagi Sean yang memiliki otot yang lumayan hal itu bukanlah apa-apa.
Setibanya di kamar Sean menurunkan istrinya di kasur. Saat melakukan itu jarak antara wajahnya dengan wajah sang istri saling berdekatan. Saking dekatnya Sean bisa merasakan aroma tubuh istrinya yang berpadu dengan aroma lotion yang dia kenakan. Sean tidak sadar memejamkan mata dan menahan napasnya.
Perasaan Sean benar-benar menggila. Dia hampir saja mendaratkan kembali bibirnya pada bibir milik istrinya. Untungnya dia segera tersadar dan memutuskan untuk menjauh. Sejurus kemudian dia telah berdiri di sebelah ranjang dengan kepalanya yang bergerak menggeleng pelan.
'Shittt!! Apa yang gue pikirin sih? Sampe gue bisa bertingkah kayak tadi? Untung aja gue belum sempet ngelakuin aksi gila itu.' Sean membatin, terlalu takut dengan risiko Rubina bisa mendengar apa yang dia katakan kalau dia mengungkapkan perasaannya lewat gumaman.
'Dari pada ntar gue ngelakuin hal gila lagi gara-gara terus merhatiin dia, mendingan gue keluar dari kamar ini sekarang juga. Toh, masih banyak juga yang mesti gue beresin.'
***
RUBINA terbangun dari tidurnya. Meraba sekitarnya dia tidak menemukan ponselnya.
“Oo... Ponsel gue mana ya? Biasanya kan ada di sekitar sini," keluhnya setelah dia dalam posisi duduk di ranjang. Bahkan setelah dia menyingkirkan bantal dan selimut dia tetap tidak menemukan benda yang sedang dicarinya. "Loh, hape gue dimana ya?” Rubina makin bingung saat bangkit memeriksa nakas dan masih tak kunjung menemukan benda yang sedari tadi dicarinya.
Rubina diam di tempat memikirkannya. Sampai akhirnya dia tersadar akan sesuatu. “Ah iya, semalem kan gue ketiduran di ruang keluarga. Mungkin hape gue juga masih ada di sana, eh tapi kok pas bangun gue sudah di kamar," kebingungan telah membuat kening Rubina mengkerut. “Perasaan semalem gue lagi ngeliatin Sean lagi ngerjain tugas gue deh. Ya, trus gue ketiduran di sana. Apa... Sean kali ya yang gendong gue ke kamar."
Tentu saja hanya nama suaminya yang tercetus di kepalanya saat ini. Toh, hanya ada mereka berdua di sini. Tidak mungkin Lion si kucing kesayangan Sean kan yang membawa Rubina dari ruang keluarga menuju kamar.
"Sean?" panggil Rubina namun tidak mendapatkan jawaban. Meninggalkan kamar menuju ke ruang keluarga Rubina menemukan sang suami sedang dalam posisi duduk. Pipi kanannya bertaut dengan meja, persis di sebelah laptop milik Rubina yang masih dalam keadaan terbuka.
"Ck... Pantesan nggak ada di kamar, ternyata dia ketiduran di sini. Demi tugas gue dia sampe rela begadang dan akhirnya sampai ketiduran di sini so sweet...."
Rubina mengambil ponselnya dari meja memeriksa jam. Menemukan jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh membuatnya segera bergerak menepuk punggung milik suaminya. Rubina menepuknya perlahan sambil dia menyebut namanya lewat nada rendah, "By... Hubby...," panggilan pertama belum membuahkan sebuah jawaban.
"Sean."
"Hmmm."
"Sudah pagi By. Kamu kan mau berangkat ke rumah sakit."
Sean terbangun dan menguap segera. "Hari ini saya nggak ke rumah sakit."
"Hah, Kenapa By? Emang hari ini hari libur ya? bukannya kamu masih kerja?!."
"Semalam saya udah minta izin nggak masuk kerja."
"Emangnya ada acara apa sampai kamu mutusin buat nggak masuk kerja dulu?”
"Enggak ada acara apa-apa sih, seharian ini saya bakalan staybye di rumah. Saya udah tau dari awal kalo tugas kamu ini pasti butuh waktu yang banyak pas nyeleseinnya. Makanya saya minta izin nggak masuk rumah sakit, paling ntar saya ke klinik bentaran aja itu juga nanti sore.."
"By. Jantung aku langsung berdebar loh denger pengakuan kamu barusan. Demi buat mengerjakan tugas aku, kamu sampe bela-belain buat begadang, dan sekarang kamu mutusin buat nggak datang ke rumah sakit buat tugas ini."
"Jangan kegeeran. Saya...” Sean tidak melanjutkan apa yang hendak dia katakan. Kedua sisi bibirnya kembali terkatup saat Rubina mengarahkan telunjuknya ke depan bibirnya diikuti oleh bunyi desisan.
"Kamu nggak perlu lanjutin. Aku udah tahu apa yang akan kamu bilang. Pastinya kamu nggak mau ngakuin itu kan? Okay aku ngerti kok kalo kamu berat buat ngakuinnya. Aku nggak bakalan maksa juga. Oh iya, gimana sama tugas aku. Udah selesai kan?"
"Yang makalahnya tinggal saya edit. Takutnya ada typo yang kelewatan. Dan buat yang powerpointnya sementara akan saya kerjain. Sejam ke depan mungkin bakalan beres. Kamu tenang aja!"
"Aku nggak khawatirin tugas itu By. Malah aku lagi khawatirin kamu. Soalnya gara-gara tugas itu kamu sampe ketiduran di sini. Oh ya By. Ngelanjutin tugas itu nanti aja. Kita ke meja makan dulu yuk. Biar aku siapin susu buat jadi sarapan kamu."
"Kamu duluan aja. Nanti saya nyusul. Sekarang saya mau periksa lagi makalahnya dulu. Saya mau periksa kata yang typo atau kalimat yang kurang efektif."
“Oh, Okay, kalau gitu aku ke dapur dulu ya. Trus, kalo misalkan aku teriak manggil kamu By, itu artinya di dapur lagi ada masalah genting ya."
Sean membawa kepalanya ke arah Rubina menatap gadis itu dengan pandangan bingung.
“Emangnya apa yang mau kamu lakuin di dapur?"
"Aku mau masak By. Makanya aku peringatin kamu buat jaga-jaga kalo misalnya aku tiba-tiba manggil. Tapi semoga aja nggak terjadi apa-apa sih soalnya kemarin aku udah belajar masak dari Ibu."
***
"HUBBY!" panggil Rubina.
Meski panggilan itu dilepaskan dengan volume suara tinggi namun intonasinya masih lembut.
"Kenapa? Apa ada kebakaran lagi?" panik Sean dengan deru napas memburu. Seperti imbauan Rubina yang disampaikan sekitar sejam yang lalu, Sean langsung ke dapur begitu namanya dipanggil.
"Enggak ada kebakaran By."
"Terus kenapa tadi kamu manggil saya?”
"Oh itu... aku manggil kamu soalnya masakan yang aku buat udah siap. Udah waktunya kita sarapan.”
Rahang bawah milik Sean terjatuh. Di detik selanjutnya Rubina melihat pria itu sedang mengelus bagian dadanya sambil menormalkan hembusan napasnya.
"Syukur deh kalo emang nggak terjadi apa-apa. Saya kira kejadian yang sama seperti yang dulu."
"Nggak kok, By. Kalo gitu kita sarapan yuk!"
Sean menganggukkan kepalanya pelan dan mengikuti Rubina. Mereka duduk saling berhadapan di meja makan.
“Kamu yang buat makanan ini?" Sean lebih dulu memperhatikan makanan yang ada di meja makan lalu mengangkat dagu mengadu mata dengan gadis di hadapannya. Wajahnya menyiratkan tentang keraguan yang begitu jelas.
"Kamu nggak percaya kalo yang masak makanan ini?" Rubina balik bertanya.
"Bukan gitu, tapi..."
"Aku yang masak ini By. Aku mempelajarinya dari Ibu."
Sean mengembalikan pandangannya kepada makanan yang telah dihidangkan oleh istrinya. Di sana ada ayam goreng lengkap dengan sambal, selain itu juga ada sayur sop. Ya, menu yang tersedia di meja makan cukup sederhana namun menggugah selera makan Sean yang pada dasarnya memang suka makanan tersebut. "Kelihatannya sih enak."
"Ayo By, dicoba dulu. Aku penasaran gimana kamu nilai masakan buatan aku. Aku sengaja nggak nyoba dulu karena aku pengen kamu lebih dulu melakukannya," Rubina mengambilkan piring kosong. “Mau aku ambilkan nasi?”
"Boleh."
Rubina memindahkan nasi ke piring Sean.
"Cukup!"
Setelah nasi, kali ini ayam sepotong ayam goreng yang Rubina pindahkan ke piring suaminya. “Sekalian aku ambilin sup, mau Mas?" tentu saja Rubina bertanya dulu sebelum melakukannya.
"Boleh."
Setelah semuanya beres kini tiba giliran Sean untuk mencoba makanan hasil kreasi istrinya.
Kayla agak deg-degan ketika suaminya mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Sungguh, saat ini Rubina merasa dirinya seperti sedang mengikuti ajang memasak di mana dia sebagai peserta dan Sean adalah juri yang siap melayangkan kalimat pedas untuknya jika seandainya masakan Rubina tidak enak.
"Gi, Gi, Gimana Bi masakan aku? Enak kan? Atau malah sebaliknya ?" Rubina terdengar berhati-hati menyempurnakan pertanyaannya.
"Yakin enak?" ragu Rubina. Mungkin bibir Sean bisa membohonginya tapi raut wajah yang ditampilkan oleh Sean yang tidak dapat membohongi Kayla.
"Enak kok."
Rubina mengambil sendok dan dia gunakan untuk mencoba kuah sup yang dia buat. Hanya hitungan detik setelah kuah itu masuk ke mulutnya dan Rubina langsung bangkit memuntahkannya di westafel.
"Wlo... Gila kuahnya asin banget By,” Rubina menoleh kepada Sean yang hanya tersenyum kaku. "Kenapa kamu bilang kalo makanannya enak? Padahal kan ini asin banget loh," Rubina kembali ke meja makan.
"Enggak apa-apa, namanya juga baru pertama kali masak. Wajarlah kalo kamu ada kesalahan."
"Mendingan kita pesen makan online aja By. Ini nggak usah dimakan," Rubina hendak mengambil piring di depan Sean. Namun Sean dengan sigap menjauhkannya sehingga menyisakan raut bingung di wajah Rubina.
"Saya tetep bakalan memakan ini. meskipun agak asin, tapi saya bakalan ngahabisinnya. Gimana pun juga ini adalah masakan kamu. Butuh effort lebih dalam membuatnya. Kalo kamu nggak pengen memakannya enggak apa-apa, tapi saya bakalan menghargai usaha kamu ini."
Seharusnya Rubina senang saat suaminya mengatakan itu padanya. Anehnya gadis itu malah memperlihatkan muka bingung, “ Bi, kamu nggak lagi demam kan?" sambil memeriksa dahi suaminya dengan telapak tangannya.
"Nggak."
"Tumben kamu ngucapin kalimat manis kayak itu sama aku.” Sean tersenyum sejenak.
"Karena keseringan dengerin ucapan kasar saya jadi ngerasa aneh ya pas saya ngomong kayak gini ke kamu? Maaf ya Bi. Tapi kedepannya saya bakalan berusaha untuk jadi pasangan yang baik untuk kamu."
Rubina dan Caca sedang jalan bersisian menuju ke gerbang kampus untuk menemui orang yang datang menjemputnya.
"Untung aja ya By suami lo ada. Coba kalo nggak. Mungkin pas di kelas tadi kita langsung kena omelan dari dosen karena nggak ngumpulin tugas."
"Nasib baik kalo cuma kena omelan doang Ca. Gimana kalau kita langsung diusir dari kelas? Gak kebayang sih malu yang kita dapet kalo itu sampe kejadian."
"Aduh," keluh Caca tepat setelah dia dan Rubina sudah tiba di depan gerbang kampus.
"Kenapa lo Ca?" panik Rubina. "Perut lo sakit?" belum sempat Caca menjawabnya dan sekarang Rubina menambah jumlah pertanyaannya jadi dua buah. Sementara kepanikan masih melekat di wajahnya sampai detik ini.
"Fue kebelet Bi. Pengin pipis. Oh ya tolong pegangin buku gue dulu ya. Sama satu lagi kalo misalkan kak Agam udah nyampe sini jangan lupa kasih tahu ke dia kalau gue lagi ke toilet." Caca memberikan bukunya kepada Rubina dan setelah itu dia segera balik badan. Dia lari terbirit-birit untuk mencari toilet yang paling dekat dari jaraknya saat itu.
Sekarang sudah tidak ada lagi raut panik di wajah Rubina setelah tahu kalau sahabatnya cuma kebelet pipis doang.