I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 10 Kisah Hans



Di sebuah cafe...


Hanya ada Bastian dan juga Nadin yang ada di satu meja, yang dekat dengan kaca sehingga bisa melihat pemandangan lalu lintas dan juga orang-orang yang berjalan di luar cafe, sementara Sekretaris Bastian duduk di meja lain tidak jauh dari meja mereka.


"So, jelasin sama saya Nad, kapan kamu nikah? dan sama siapa?"


"Astaga, Tian... kamu masih aja ngebahas itu?" Nadin tertawa lebar mendengar pertanyaan Bastian uang langsung to the point.


"Jujur aja ya, Nad. Saya tadinya pulang lagi kesini cuma buat ngejar kamu dan buat kamu jadi istri saya..." Nadin yang sedang minum pun hampir saja memuntahkan minumannya ke wajah Bastian.


"Duh, Tian... kok tiba-tiba adi ngebahas ini sih? hubungan kita tuh udah kadaluarsa kalo kata makanan ya... secara kamu ninggalin aku gitu aja tanpa kabar dan berita, and it's a long time Tian, perasaan aku ke kamu juga udah berubah, udah ga kayak dulu..." Bastian hanya menunduk sambil menghela napas.


"Ok, saya ga akan bahas masalah ini lagi, tapi kasih tau siapa suami kamu? dan... apa kamu bahagia sama dia?" Nadin terdiam sambil pertama kali pertemuannya dengan Hans, dan saat mereka menikah lalu malam dimana dia menyerahkan segala yang ada di dalam dirinya pada Hans.


"Hm... of course i'm happy, because i love him..." ucap Nadin tersenyum. Bastian pun menatap Nadin dengan lekat-lekat mengorek apakah yang dikatakan Nadin ada kebohongan... but, she's happy with her husband.


Bastian pun menunduk. lalu tak lama tersenyum kecut ke arah Nadin sambil memegang tangan Nadin.


"Ok, saya percaya sama kamu kaau kamu bahagia dengan suamimu... tapi kalau kamu butuh apa-apa, atau punya msalah, kamu bisa datang pada saya..." ucap Bastian tersenyum kearah Nadin tanpa melepas genggaman tangannya pada tangan Nadin. Nadin pun tersenyum lega karena Bastian tidak menanyakan lagi hubungannya dengan Hans, dan sudah bisa melepaskannya.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang duduk di dalam mobil sambil memperhatikan Nadin dan Bastian yang ada di dalam Cafe sambil tersenyum tertawa saling pegangan tangan.


Ya.. saat mobil mereka berhenti di samping cafe karena lampu lalu lintas yang merah, Danniel yang berada di belakang Hans melihat ke arah cafe dan tidak sebgaja melihat Nadin sedang berbincang dengan seorang laki-laki. Danniel melihat Hans yang masih fokus kearah jalan pun langyng menggelengkan kepala.



"Hey Hans... lihat ke arah jam tiga..." Hans yang sedang menyetir dan fokus ke arah jalan pun terpaksa melihat ke arah yang ditunjukan oleh Danniel. Dan betapa terkejutnya Hans melihat istrinya sedang digenggam tangannya oleh laki-laki yang pernah dia temui di kantornya Althea pada waktu makan siang kemarin.


"So, Hans! apa sekarang kamu rasakan?!" ucap Danniel yang berada di belakangnya.


"Dia hanya teman Nadin Boss..."


"Kau tau, dia bukan cuma teman Nadin tapi mantannya Nadin." Hans pun meihat serius keaah cafe itu lalu kemali lagi pandangannya ke arah jalan. Danniel yang melihat sikap hans yang dingin pun hanya menghela napas.


"Hey, Hans.... apa kamu nggak cemburu liat istri kamu dipegang sama laki-laki lain apalagi itu adalah mantan pacarnya.


"Boss, awal saya menikah dengan Nadin kan Boss sendiri tau..."


"Iya, tau.. tapi apa kamu nggak ada gitu rasa yang timbul setelah nikah?"


"Hati saya hanya untuk satu orang Boss, dan Boss tau siapa orangnya."


"tapi wanita itu sudah meninggal Hans! kamu harusnya menjalani hidupmu ke depan jangan cuma mengingat orang yang sudah lama tidak ada..." Hans hanya menghela napas berat tanda tidak ingin membahas masalah ini.


"Apa jangan-jangan kamu belum pernah tidur sama Nadin lagi?!" tanya Danniel penuh selidik. Hans hanya tersenyum kecut.


"Apa itu juga harus saya jawab Boss?!"


"Of course i'm your Boss!"


"So... apakah itu nggak membuat kamu merasakan perasaan lain pada Nadin?!"


"Sayangnya tidak Boss! I'm sorry..."


"Ingat Hans, sekali kamu menyakiti Nadin dan sampai Althea tau... kamu tau akibatnya kan?!" Hans hanya terdiam. merasa kalau kehidupannya terjebak karena perintah Boss nya Danniel. Danniel hanya menghatapkan Hans melupakan wanita yang dicintainya yang telah lama meninggal dan mencintai Nadin sekarang dan nanti.


Hah... apa saya salah memaksakan kehendak Althea agar Hans menikahi Nadin? Sementara Hans sampai sekarang tidak mencintai Nadin... Hah... biarlah Hans dan Nadin yang menjalani, sekarang saya yang harus mengingatkan Althea supaya tidak ikut campur lagi masalah Nadin dan Hans.


***


"Kenapa harus ditelpon dulu sih? baru pulang ke rumah?!" ucap Ibu Nadin saat Nadin berada di rumah orang tuanya karena tadi siang Ibunya menyuruhnya untuk mampir ke rumah.


"Hm.. apa setelah menikah kamu melupakan kami?" ucap Ayah Nadin dengan tegas.


"Nggak Pah, Nadin cuma sibuk aja sama pekerjaan Nadin di kantor..."


"Kamu masih bekerja di perusahaan Wiriawan's? memangnya suamimu tidak bisa menafkahimu?"


"Pah, ini memang keputusan Nadin yang ingin bekerja setelah menikah.. dan Mas Hans juga ngijinin kok!"


Ibu dan Ayah Nadin terdiam saling pandang.


"Nak, seharusnya setelah menikah kamu fokus ngurus suamimu... dan fokus untuk mempunyai anak..." lanjut Ibunya dengan lembut tapi membuat hati Nadin teriris.


"Nak... kamu nggak pending untuk masalah anak kan?! soalnya usia kamu itu sudah tidak muda lagi, kamu harus cepat-cepat dapatkan keturunan dari Hans..."


"Hah.. bagaimana mau punya anak kalau anakmu sendiri sibuk di kantor..."


"Nad, coba kamu bilang sama Hans biar cepat-cepat memberikan keturunnnya, dan kalau bisa kamu cepat resign dari kantor supaya kamu fokus ke program kehamilanmu...


Aaaaarrggghhh ingin sekali Nadin berteriak 'gimana mau punya anak kalo Mas Hans aja main cuma sekali doang dan itupun pake pengaman!'


***


pukul dua belas malam...


Saat Hans baru saja Hans masuk ke Apartment karena pulang...


Dilihatnya lampu sudah dimatikan semua hanya lampu tumblr yang ada di sisi ruang tengah dan dapur. Hans pun beranjak kearah dapur untuk sekedar minum karena haus, lalu ditatapnya meja makan yang kosong, biasanya sudah tersedia makanan saat Hans pulang dari kantor yang disediakan oleh Nadin. Tapi malam ini Nadin tidak menyediakan makan malam untuk sang suami. Hans pun menghela napas terdiam mengingat kejadian tadi siang saat dia melihat Nadin sedang tertawa bersama teman lamanya alias mantannya.


beberapa menit kemudian Hans pun ke ruang kerja untuk sekedar menyimpan tasnya dan malam ini dia tidak langsung bekerja dan lebih memilih untuk masukke kamar utama.


Saat masuk matanya langsung tertuju kearah kasur. Di sana Nadin sudah terlelap sambil memeluk gulingnya membelakangi pintu dan di selimuti bed covernya. Hans melangkah pelan kearah sisi menghadap Nadin dia melihat Nadin terlelap dengan pipi yang masih basah.


Apa mungkin tadi dia habis menangis? pikir Hans. Tapi menangis karena apa? bukanya tadi dia sangat bahagia tertawa bersama mantannya? Tak lama Hans pun beranjak ke kamar mandi lalu setelah badannya bersih Hans pun bersiap untuk tidur.