
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
RARA dan juga Syifa belum mengatakan apa-apa, dan Rubina yang memang baru tiba dan duduk dikursi kafe segera menjelaskan alasan keterlambatannya secara jelas dan runtut.
“Sorry yah guys. Dosen yang ngajar gue hari ini tukang nambah-nambahin waktu seenaknya. Jadwalnya udah selese tapi diambil lagi buat bangga-banggain anaknya. Ck Kesel banget nggak sih lo?! Pengen bolos, tapi takut kena karma kayak kemaren. Belum lagi sama kemacetan kota Jakarta yang kalian tahu sendiri kayak apa kan?" seperti itulah kalimat berisi penjelasan yang disampaikan oleh Rubina kepada dua rekannya.
"Santai lah. Gue juga baru pulang dari kantor kok. Belum lima menit nih gue nyampe di kafe ini." Rara menjelaskan juga tentang dirinya yang baru saja sampai di kafe ini.
"Oh iya, Bi, gimana kuliah Lo?" tanya Syifa. "Lo udah mulai nulis skripsi?" lanjutnya menggenapkan jumlah pertanyaannya jadi dua buah.
"Ck... Enggak usah ngingetin masalah skripsi lah! tambah mumet nih kepala kalo terus mikirin itu," Rubina menolak untuk membahas masalah skripsi.
"Yeee... Ini juga demi kebaikan lo Bi. Biar cepetan wisuda juga kan," kata Syifa.
Bagaimana pun juga Syifa ingin melihat sahabatnya itu cepat wisuda supaya Rubina juga cepet dapat kerjaan.
"Coba aja kalo lo juga ngambil Desain grafis sama kayak gue, mungkin saat ini gue bisa bantu-bantu lo buat bikin skripsi." Syifa berandai-andai.
"Idem. Kalo aja jurusannya Hukum gue yang bakal bantuin," tidak mau kalah Rara juga mengatakan hal yang sama. Bukan sekadar omongan, membantu sahabat sudah ada di dalam kamusnya sejak lama. Terlebih lagi karena dia, Syifa, dan juga Rubina sudah sahabatan sejak masih jaman SD. Dan alhamdulillah-nya persahabatan itu masih awet sampai sekarang.
"Pasti ada jalan keluar kok buat skripsi gue. Kalian berdua enggak perlu khawatir," seperti pada kebiasaannya selama ini Rubina selalu saja menanggapi segala sesuatu dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya.
"Tapi lo suka kan dengan jurusan biologi? Dan ya, sebenarnya kenapa juga sih lo tiba-tiba ngambil kuliah jurusan biologi?" Syifa menyipitkan matanya mencurigai.
Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya dia menanyakan kepada Rubina tentang alasannya berkuliah di jurusan tersebut. Terlihat bahu Rubina mengedik.
"Entahlah," Satu kata itu menyusul gerakan bahunya. "Hah... Sebenernya agak nyesel juga sih. Tapi udah tanggung dan udah sejauh ini juga gue jadi menyayangkan buat nyerah. Kasihan juga sama orang tua gue yang udah ngeluarin duit buat biayayain kuliah gue."
“Ck... nggak ngaruh juga lo mau ngambur-ngamburin duit bokap nyokap lo, Bi. Secara kekayaan keluarga lo ga akan pernah abis tujuh turunan!” Rara menambahkan sambil terkekeh.
"Eh Lo belum jawab pertanyaan gue soal alasan lo milih jurusan biologi."
"Ya... Gue ngambil biologi karena gue suka banget sama materi sistem reproduksi. Eh, tapi pas kuliah materinya malah makin sulit." Jawabnya acuh tak acuh.
"Lo serius, Bi? Alasan lo ngambil jurusan biologi cuma karena lo suka sama materi sistem reproduksi doang? Lo beneran enggak ada alasan lain?" ucap Syifa agak kaget dengan jawaban Rubina.
Setelah menemukan anggukan tanda mengiyakan dari Rubina, segera Syifa kembali membuka sudut bibir melanjutkan, "Gue tahu sih, waktu SMA kita sekelas dapat nilai seratus di materi sistem reproduksi karena nyontek ke lo, tapi kan cabang biologi bukan itu aja, Bi..." terang Syifa.
"Sumpah yah kalo gue tahu dari awal, gue bakalan mendoktrin lo aja supaya nggak memilih jurusan biologi."
"Lo pikir otak gue ini sejenius apa sih, sampe bisa lolos kedokteran? Lagian gue nggak sangguplah buat ngejar otak jeniusnya Sean." sambung Rubina cepat. "Udah ah, kenapa juga sih bahasannya jadi ngarah ke masalah kuliah gue. Nanti gue bakal mikirin sendiri jalan keluarnya. Kalian tenang aja, oke?"
"Hah... Oke, Fine sekarang gue alihin topik pembicaraan. Jadi gini Bi. Tadi pas di kantor gue ketemu sama Agam. Dia adalah staff baru di kantor tempat gue kerja. Bahkan setelah beberapa tahun nggak ketemu, dan ternyata dia masih ngenalin gue dengan sangat baik."
"Ya... terus apa hubungannya sama gue, Fa?" Rubina mengernyit bingung memandang ke arah Syifa.
"Soalnya si Agam ngemis-ngemis minta nomor lo ke gue. Tapi lo tenang aja, gue enggak kasih secara langsung kok nomor lo ke dia. Emang sih dia sempat maksa-maksa gitu, tapi gue bilang sama dia kalau gue cuma akan ngasih nomor lo ke dia kalo udah diijinin sama lo! Well, alhasil dia setuju deh sama ucapan gue, dia juga nitip pesen salam sama lo."
"Lah kenapa dia malah minta nomor gue?" Rubina semakin bingung saja. Bisa dilihat dari lipatan di area dahinya yang kian dalam, "Emangnya gue kenal sama dia?" lanjutnya.
"Iyalah. Dia kan teman SMA kita dulu. Otomatis lo sama Rara juga tahu Agam yang sedang gue maksud."
"Ooh... Aaah, ya... gue udah inget dia," ujar Rara setelah beberapa sekon waktu yang dia habiskan untuk melakukan kilas balik mengingat-ngingat nama Agam yang merupakan temannya sewaktu masih berstatus seorang pelajar.
"Agam?" gumam Rubina. Dia juga mencoba mengingat-ngingat kenangan sewaktu dia masih di bangku SMA. Beberapa detik pun berlalu sampai samar-samar bayangan tentang seorang pria berkacamata memenuhi ruang di dalam imajinya,
"Maksudnya si Agam yang pakai kacamata itu? Si cupu yang ngejar-ngejar cinta gue?" cecar Rubina.
"Yupz, bener banget! Tapi sekarang dia udah enggak pake kacamata lagi. Dan dia jadi tambah keren loh. Sama satu lagi, dia juga masih tetap punya perasaan lebih sama lo Bi, cie...." Syifa mencolek lengan milik Rubina. Mencoba untuk membuatnya blushing. Tapi lihat saja wajah Rubina saat ini! Jangankan blushing, bahkan dia tetap menampilkan muka datar. Dia bahkan baru merubah raut mukanya itu menjadi jijik di menit selanjutnya.
"Apaan sih. Lagian nih yah perasaan gue sama dia juga B aja. Masih biasa-biasa aja."
"Yakin? Dia makin ganteng loh."
"Mau dia tambah tampan kek, tambah tinggi kek, perasaan gue ke dia masih sama. Gue nggak suka ataupun cinta sama dia," Rubina menekankan.
"Soalnya hati lo udah ke isi sama Si Snowman kan?" tanya Rara.
"Nah. Kan lo udah tahu sendiri jawabannya." ucap Rubina lalu Rara menepok jidatnya.
"Santet apa sih yang dikasih Si Snowman sama lo, Bi? Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya lo terus aja memikirkan dia. Sadar Bi, banyak banget cowok di dunia ini, apa iya lo mau tetep ngejar cowok yang udah jelas nolak lo!" walaupun terkesan tegas namun Rara menggunakan nada rendah. Gimana pun juga dia menyadari bahwa sekarang dia sedang di tempat umum.
"Ya... emang pasti kedengaran aneh sih buat kalian berdua, tapi gue yakin banget loh kalo di masa depan nanti gue pasti bakalan jadi istri dari seorang Sean Altemose Ahmet. Haaahh semoga aja beneran kesampaian. Itung-itung memperbaiki keturunan gue."
"Lo ngomong kayak lo kayak tau segalanya tentang Si Snowman. Emangnya lo tahu status dia sekarang?" tanya Rara. Bukannya dengan sengaja ingin menyakiti hati Rubina lewat pertanyaannya. Justru karena dia sangat menyayangi sahabatnya jadi dia mencoba untuk mengingatkan.
"Ya... gue bukannya ngeremehin lo, Lo emang cantik, cocoklah kalo emang takdir mengikat lo sama dia. Tapi... kira-kira apa cowok tampan kayak dia yang berprofesi sebagai seorang dokter belum punya pasangan? Pasti di luaran sana udah banyak yang ngantri. Dan mungkin aja saat ini dia udah punya tunangan dan bersiap buat kawin." Rubina bisa mengerti dengan baik maksud baik Rara mengatakan itu. Karena itu dia membuat kepalanya mengangguk mengerti.
"Sebagai seorang sahabat gue ngerti. Lo bilang kayak gitu demi kebaikan gue juga kan? Tapi sorry, gue nggak akan nyerah. Kalo pun nanti gue nyerah, itu setelah gue tahu kalo dia udah punya pacar. Gue janji akan mundur kalo emang dia udah punya pacar, tapi kalo suatu hari nanti dia putus sama pacarnya, so... kayak biasa gue bakalan ngenggunain 'kartu kesempatan' itu buat deketin dia lagi!"
"Coba aja lo ambisius gitu dalam dunia pendidikan. Pasti orangtua lo bakalan bangga. Tapi masalahnya ambisius lo ini dalam urusan mengejar cintanya Si Snowman doang. Enggak berfaedah banget! tahu enggak."