
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sean pun buru-buru membuka paper bag tersebut. Mengeluarkan dua buah box yang berisikan burger andalannya. Sean tidak langsung menyantapnya. Perhatiannya kala itu diambil alih oleh secarik kertas yang ada di sana.
Jangan lupa makan siang calon suami. Aku sengaja loh mesenin burger ini buat kamu. Soalnya aku tau kalo makanan ini tuh Favorit kamu banget kan? Dan Oh ya, makasih ya, hari ini kamu udah ngantrin aku ke kampus!
Di secarik kertas itu memang tidak terdapat sebuah nama. Tapi dari isinya saja Sean sudah bisa menebak siapa pengirimnya.
Siapa lagi kalau bukan Rubina?
****
Sean baru akan memasang helm setelah menunggangi V4R hitamnya ketika benda pipih miliknya yang ditaruh di saku kanan bergetar pertanda seseorang sedang melakukan upaya panggilan telepon dengannya. Tentu saja Sean segera mengeceknya karena takut telepon itu berisikan informasi penting.
Awalnya Sean ragu untuk menjawab telepon yang berasal dari nomor yang tidak dikenalnya.
Tapi sekali lagi, karena takut telepon itu berasal dari orang penting. Makanya dia memilih untuk menjawabnya. Setelah menekan tombol hijau, ponselnya itu segera diletakkan di depan telinga bagian kanannya.
"Halo, ini dengan siapa ya?" Sean langsung to the point tanpa basa-basi.
"Ini gue, Sean, Emerald," jawab orang di seberang sana.
"Oh Kak Eme, Ada apa Kak?" tanya Sean.
"lo di mana sekarang, Sean?"
"Saya lagi di parkiran mau ke Klinik soalnya ada pasien sito Kak. Kenapa Kak?"
"Duh gimana ya? Ck..."
Sean mengerutkan keningnya heran.
"Ada yang bisa saya bantu kak?"
"Gini Sean, Sekarang gue masih ada urusan di luar, jadi gue beneran nggak bisa jemput Bina di kampusnya. Boleh enggak kalo gue minta tolong lo, sekalian jemput Bina di kampusnya? Kalo ga keberatan sih, soalnya dia nggak dibolehin pulang sendiri, pake mobil juga udah ga boleh, lo tau kan mobil dia lagi di bengkel untuk ke berapa kalinya...."
"Oh... I- Iya boleh Kak," meski agak berat hati. "Nanti biar saya aja yang jemput Bina di kampusnya, Kak Eme lanjutin aja kerjanya."
"Wah, sorry yah Vin. gue jadi ngerepotin lo lagi."
"Nggak ngerepotin kok, Kak. Santai aja!"
"ya udaj thank's banget ya, Sean."
"Iya, sama-sama Kak," setelah itu sambungan telepon pun terputus diikuti oleh suara hela napas panjang dari Sean.
Sean tidak punya pilihan selain mengiyakan itu. Lagi, orang yang memintanya adalah Emerald dan dia tidak bisa menolaknya.
****
Rubina secara kontan melambaikan tangannya kepada kedua rekannya. Kuliah sore Rubina baru saja selesai ketika dia dapat pesan dari Rara dan Syifa. Kedua sahabatnya mendadak ingin bertemu.
Setelah berdiskusi lewat obrolan di grup, ketiganya pun sepakat untuk bertemu di kantin kampus tempat Rubina menuntut ilmu saja. Apalagi jarak kampus dari tempat kerja kedua rekannya tidak seberapa sehingga mereka bisa segera bertemu tanpa membuang banyak waktu.
"Eh, kalian mau pesan apa nih? Hari ini biar gue yang traktir kalian berdua."
Rara mendelikkan matanya curiga. Dia bisa melihat raut muka Rubina yang begitu berseri seolah bunga yang baru mekar di pagi hari. Sementara itu aksinya yang tiba-tiba saja ingin mentraktir juga turut andil dalam membuat Rara semakin yakin dengan asumsinya. Sahabatnya itu pasti punya kabar bahagia yang akan dibagikan sebentar lagi.
"Lagi banyak duit nih kayaknya," goda Syifa. Andai Rubu a duduk tepat di sampingnya mungkin Syifa akan langsung menyikutnya sambil menggodanya lebih lanjut.
"Kayaknya Biba punya kabar bahagia nih. Dari tadi gue ngerasa aura itu lewat dari pancaran mukanya. Ya, gue yakin sama asumsi gue."
"Lo itu dukun atau apa sih, Ra?" tanya Rubina diselingi cengiran, "Kok bisa tau? Padahal gue kan belum ngasih clue apapun, tapi lo udah tau aja kalo gue bakalan nyampein sesuatu buat kalian."
"Tuh kan bener dugaan gue," sambung RARA. "Ngomong-ngomong gue penasaran deh. Kabar bahagia apa sih yang akan lo sampein?" Rara kembali meredupkan matanya. Yang bisa dia pastikan kabar bahagia yang hendak disampaikan oleh Rubina sepertinya sangat menarik.
"Skripsi lo udah beres kah?" Rara mulai menebak-nebak.
"Ya kali, mulai aja belum," Rubina tidak kalah cepat memberikan jawaban.
"Terus apa dong?" kali ini pertanyaan diajukan oleh Syifa.
"Hari ini gue dianterin sama Sean ke kampus." Rubi a mengatakannya dengan exited.
Sesuai dengan harapan Rubina, baik Rara maupun Syifa sama-sama memperlihatkan tampilan muka kaget. Rubina melihat kedua sahabatnya itu secara kompak membulatkan bibir. Mata mereka juga kian melebar.
"L- L- Lo serius kan Bi? Kok bisa?" efek kaget membuat Rara bertanya dengan suara yang gelagapan.
"Iya serius," jawab Rubina. Kepalanya bergerak naik turun, mengangguk. "Sean itu ternyata tetangga baru gue."
"Tetangga?" ulang Rara. Diangguki cepat oleh Rubina.
"Tadi gue minta tolong sama Kak Eme buat membujuk Sean supaya dia bareng sama gue ke kampus. Hari ini sebenarnya bukan pertama kali sih gue nebeng sama dia ke kampus. Kemaren juga gue dianterin dia."
"Are you kidding me?" tanya Rara namun terkesan tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Rubina.
"lo nggak percaya sama ucapan gue, Ra?" tanya Rubina pada sahabatnya itu.
"Bukannya gitu maksud gue, Bi. Gue cuma nggak nyangka aja kalo pertemuan perdana kalian setelah tujuh tahun lamanya nggak bertemu akan se-plot twist ini. Pertama lo bilang dia adalah tetangga lo, dan yang kedua lo bilangnya dia udah dua kali nganterin lo ke kampus."
"Hm, itu belum apa-apanya sih. Masih pemanasannya aja. Gue belum ngasih kabar intinya ke kalian."
"Kabar apa lagi Bi? Yang lo sampein tadi aja udah bikin gue sama Rara sport jantung. Sekarang kabar apa lagi?" antusias Syifa yang jatuhnya malah kelihatan kepo.
"Nanti aja deh gue sampein," ujar Rubina dengan senyum jahilnya. Rubina tentu saja suka membuat sahabatnya larut dalam rasa penasaran. "Gimana kalo gue pesan minuman dulu buat kalian? Kalian berdua pasti haus kan?" cecar Rubina menatap mereka bertahap.
"Ck," Rara berdecak. "Ayolah Bi. Dari pada mengurus masalah minuman, mendingan lo kasih tau kabar intinya."
"Benar tuh kata RARA," Syifa menimpali, "Lagian kita tuh lebih butuh cerita lo dibanding minuman. Sebaiknya lo ngomong sekarang. Kabar inti apa sih yang lo maksud?"
"Tapi..." ucap Rubina namun tertahan.
"Pokoknya enggak ada tapi-tapian. Gue sama Rara pengen denger cerita lo sekarang!"
"Kalian berdua enggak sabaran banget sih. Ok Ok Fine, kalian pasang kuping kalian baik-baik. listen yah, Grandpa gue dan kakeknya Sean sepakat buat jodohin kita berdua. Dan kayaknya keluarga nya dia udah ngerencanain pernikahan kami dalam waktu dekat. Hmm, mungkin sekitar sebulan atau mungkin dua bulan dari sekarang."
Saat selesai mengatakannya Rubina melihat kedua sahabatnya tampak diam. Entah mereka kaget, atau justru mereka tidak percaya dengan ungkapan Rubina barusan. Rubina tidak bisa menerjemahkan perasaan yang mendiami para sahabatnya saat ini karena keduanya menampilkan raut datar.
"Kenapa? Kalian masih nggak percaya sama ucapan gue?" tanya Rubina namun tidak mendapatkan respon dari kedua sahabatnya. Sampai akhirnya Rara mengulurkan tangannya ke depan. Telapak tangan milik Rara ditautkan di bagian dahi milik Rubina. Rubin meresponnya dengan mengerutkan keningnya. Dia bingung.
"Enggak demam kok," komentar dari Rara semakin membuat Rubina semakin bingung saja. "Tapi kalo emang lo enggak demam, kok bisa sih lo ngomongnya ngelantur gitu. Saking terobsesinya dengan Sean lo sampe halu begini ya, Bi?" Rara menatap dengan ngeri.
"Gue serius, Gue enggak lagi ngehalu." Rubina membela dirinya sendiri. "Gie sama Sean emang udah terikat dalam perjodohan yang telah dibuat oleh Kakek-kakek kita."
"Lo pikir mudah ngibulin kita Bi?" tanya Rara.
"Atau jangan-jangan lo lagi prank kita yah? lo taro kamera di mana sih?" sambung Syifa. Sama dengan Rara, dia juga tidak percaya dengan kabar yang Rubina sampaikan tentang perjodohannya dengan Sean.
"Astaga kalian ini nggak percayaan amat sih," rutuk Rubina.
"Atau gini aja, apa lo punya bukti? Misalkan gambar saat kalian berdua yang diambil baru-baru ini?" Rara bertanya.
"Kalau gambar sih gue enggak punya. lo kan tau sendiri kalau Sean dingin banget. Benua Antartika aja kalah sama dinginnya Sean. Otomatis dia bakalan nolak kalo gue ajakin dia foto bareng."
Kali ini Rara mendelikkan matanya mencurigai, "Berarti masih ada kemungkinan kalo lo bohong sama kita dong. Soalnya kan lo nggak ada bukti kalo lo dan si Snowman dijodohkan apalagi untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius."
"Astaga Fa... Ra... kalian ini enggak percayaan banget sih."
"BINA!"