I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 51



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Bayangan tentang sesuatu yang terjadi di masa lalu membayang-bayangi imajinya.


"Bayangan itu lagi!" Sean mengeluarkan sebuah kalimat menggunakan nada yang sarat dengan tingkat kefrustrasian yang begitu tinggi. Refleks saja mata yang tadinya sudah terpejam kembali terbuka lebar memperhatikan langit-langit kamarnya.


Sean tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan untuk tetap pada pendirian menyembunyikan sesuatu. Sean bahkan sudah bertahan sampai sejauh ini untuk tidak melibatkan siapa pun dalam urusan masa lalunya. Bukannya tidak percaya, hanya saja Sean berpikir bahwa sebaiknya hanya dia saja yang tahu soal itu. Bahkan Nino sahabat dekatnya, serta anggota keluarganya tidak perlu tahu.


Kali ini Sean mengubah posisinya lagi. Dia duduk sambil mendesah panjang. Ingatan yang terjadi di masa lalu lagi-lagi membuat kepalanya nyut-nyutan. Sean pun memutuskan untuk ke meja mengambil sebuah kotak berisikan obat-obatan. Sean tanpa pikir panjang mengambil aspirin. Sebutir aspirin diamankan oleh pria itu dengan bantuan air di nakas.


"Ya Allah, sebenarnya kenapa hidup gue jadi kayak gini sih? Kalo aja bunuh diri nggak bawa gue langsung ke neraka mungkin udah lama gue ngelakuinnya." Sean berbicara apa adanya.


Memang benar, dulu dia sempat kepikiran untuk mengakhiri hidupnya saking peliknya masalah yang dia hadapi. Sayangnya Sean tahu bahwa agama yang dianutnya melarang keras perbuatan tersebut, karena itu Sean bertahan sampai sekarang. Dia berusaha untuk bersikap normal-seakan tidak ada yang terjadi.


Akhir-akhir ini Sean juga merasa bahwa kehidupan lagi-lagi tidak memihaknya. Perjodohan dengan Rubina sudah setengah jalan. Sebentar lagi Rubina juga akan resmi menjadi bagian penting di dalam hidupnya. Walau tidak ada kata cinta yang Sean sematkan pada perempuan itu namun tetap saja hal itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa status Rubina nanti akan menjadi istrinya.


"Sepertinya hanya keajaibanlah yang bisa membantuku keluar dari perjodohan ini. Percuma juga melawan keinginan Kakek sama Ibu Dan Ayah, mereka juga udah suka sama Bina. mereka udah yakin banget kalo kehidupan gue sama Bina yang akan berakhir indah. Padahal gue sendiri nggak yakin soal itu."


Sean kembali ke kasurnya. Sean menarik selimut membungkus sebagian tubuhnya dengan benda empuk tersebut. Karena Sean tidak suka mematikan lampu saat tidur sehingga dia memilih untuk membiarkan lampu yang tertanam di langit-langit kamarnya menyala.


***


SAAT pertama kali membuka matanya Sean merasakan luapan emosinya yang begitu menjadi-jadi. Bagaimana tidak, yang dia temukan saat itu adalah figur seorang Rubina sedang membagikan senyum yang sudah pasti selalu menyebalkan di mata Sean.


"Ada apa calon suami?" tanya Rubina pakek nanya segala. "Kenapa kamu liatin aku dengan tatapan buas. Asal kamu tahu, cara kamu liatin aku tuh kayak seekor serigala yang lagi menatap mangsanya."


"Kenapa kamu ada di kamar saya?" Sean menatap dengan penuh selidik. "Siapa yang ngasih kamu izin buat masuk ke ruangan yang ranahnya privasi? Kamu diajari sopan santun kan?"


"Aku kan istri kamu sehingga--"


"Kamu belum resmi jadi istri saya! Status di antara kamu sama saya masih calon," potong Sean kesal.


"Mendingan kamu keluar sekarang deh sebelum saya mengumpatin kamu!" telunjuk Sean mengarah ke pintu kamarnya yang dalam keadaan terbuka lebar.


"Enggak, aku enggak mau keluar," kata Rubina, mengikut sertakan gelengan kepala bertempo cepat. Belum Sean memberinya jawaban, sekarang Rubina melanjutkan penolakannya dengan berujar, "Aku tetep bakalan ada di sini sama suami aku!"


"BINA! Keluar dari kamar ini sekarang juga!" titah Sean suaranya meninggi dan tangannya masih menunjuk ke tempat yang sama yaitu pintu kamarnya.


"Nggak, aku bakalan tetep di sini sama suami aku!" Rubina bersikeras tidak peduli dengan perkataan Sean yang memintanya untuk meninggalkan tempat itu sekarang juga. "Aku suka ada di sini sama kamu."


"Tapi saya nggak suka. Cepet keluar sebelum kesabaran saya habis!"


Saat itu Rubina memang sedang berjalan. Akan tetapi langkahnya bukan menuju ke pintu sesuai arahan Sean. Rubina justru berjalan lurus menuju ke tempat Sean


"Kenapa kamu senyum-senyum? Dan kenapa kamu malah ngedeketin?" cecar Sean meneguk salivanya takut. Sean merasa gugup sendiri melihat Rubina bersedikap sambil tersenyum smirk. Sumpah demi apapun Sean langsung kehilangan keberanian untuk mengadu mata dengan Rubina.


"Kamu mau apa?" tanya Sean jadi panik sendiri saat melihat Rubina sedang membungkukkan badan. Terlihat saat itu jakun milik Sean bergerak naik turun sewaktu dia meneguk salivanya.


"Kenapa? Kelihatan banget kamu sangat takut." Rubina menarik bibirnya ke samping, tersenyum remeh. Dia bisa menilai tentang adanya ketakutan yang dipancarkan muka Sean saat ini.


Muachh!


Sean membulatkan matanya dengan sangat sempurna. Rubina baru saja memberinya kecupan bibir. Singkat saja namun tentu saja berdampak, terlebih lagi kepada Sean yang tidak menyangka akan mendapatkan hal semacam itu dari Rubina.


"****!!!!!?" Sean terbangun dari tidur dengan muka panik. Segera meninggalkan posisi berbaringnya pria itu duduk di ranjang. Sean menyadari bahwa keadaan AC di kamarnya dalam kondisi yang menyala. pria itu malah terbangun dengan keringat yang mengucur deras.


"Hah... Thank' God!" ucap pria itu melalui nada rendah. Telunjuknya mengarah ke bagian bibir. " Untung aja kejadian saat Bina nyium saya cuma mimpi. Kalo itu kejadian di dunia nyata bisa habis dia saya maki-maki!"


Betapa leganya Sean saat tersadar bahwa adegan ketika dia melihat keagresifan Rubina menyambar bibirnya ternyata cuma mimpi semata. Meski begitu, mimpi buruknya pagi ini masih menyisakan debaran di jantungnya. Ya, walaupun debaran jantungnya saat ini sudah tidak separah yang sebelumnya.


Alam bawah sadar membuat Sean mengedikkan kedua bahunya. Ngeri sendiri membayangkan momen yang ada di mimpinya itu terjadi di dunia nyata.


"Kok bisa ya, saya mimpiin dia kayak gitu lagi? Iihhhkkk" bingung Sean bergidik ngeri. "hah... ini gara-gara stress kepikiran pernikahan yang sebentar lagi bakalan terlaksana kali ya?! Makanya gue sampe mimpiin dia. Semoga hari ini nggak jadi sial setelah mimpi kayak begitu!"


Belum juga Sean beranjak meninggalkan ranjang ketika suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Suara ketukan itu disusul suara ibunya.


"Sean, kamu udah bangun belum?"


"Udah Bu."


"Ibu masuk, ya!"


"Masuk aja Bu. Pintunya nggak dikunci kok."


Marisa membuka pintu kamar. Dia masuk sambil membawa kertas entah apa. Namun sebelum duduk di tepian ranjang milik putranya lebih dulu dia menuju ke jendela kamar milik Sean, Marisa menyingkap gorden membiarkan cahaya matahari masuk ke ruangan. Setelah selesai dengan urusan gorden kali ini Marisa menekan saklar sehingga lampu yang tertanam di langit-langit mati seketika.


"Kamu kenapa Sean? Sakit?" Marisa tidak langsung menyampaikan tujuannya karena setelah dia duduk dan mengarahkan fokusnya ke arah Sean, dia malah menemukan wajah putranya sedikit pucat. Selain itu, keringat juga menyisakan barisan abstrak di sana.


"Saya enggak sakit kok, Bu."


"Tapi kok keringatan kayak gini?" sekilas Marisa melirik ke AC di sudut ruangan kemudian mengembalikan titik fokus penglihatannya kepada Sean. "AC juga nyala, kenapa keringetan sih, kamu enggak lagi demam kan Sean?" tanya Marisa. Menggunakan punggung tangan dia memeriksa suhu tubuh putranya. Benar kata Sean, dia memang tidak demam.


"Saya keringatan kayak gini mungkin karena pengaruh mimpi kali, Bu."


"Mimpi?" ulang Marisa dihadiahi anggukan oleh putranya. "Maksudnya kamu bermimpi buruk?" tatapan Marisa kali ini penuh selidik.


"Iya, Bu. Saya mimpi buruk."


"Mimpi apa?"


"Saya mimpi dicium sama Bi.. .." Sean mungkin akan keceplosan menyebutkan nama Rubina jika seandainya otaknya terlambat untuk merespon.


'Ugh shittt, hampir aja gue keceplosan, bisa dijewer telinga gue sama Ibu kalo gue menyebut mimpi dicium Bina sebagai sebuah mimpi buruk' batin Sean.


"Mimpi dicium sama apa?"


"Anu, Bu, itu, saya dicium sama," Sean memaksa otaknya berotasi dengan cepat. "saya mimpi dicium sama Bi, Bi, ah iya, sama Binatang melata," Sean mengucapkan syukur di dalam hati karena menemukan jawaban. Walaupun jawabannya kedengaran aneh namun Sean berharap ibunya akan menerima jawaban itu.


"Oh iya, itu kertas apa yang ada di tangan Ibu?" Sean buru-buru mengalihkan pembicaraan.