I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 25



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


PADA akhirnya Sean bisa bernapas lega setelah jam istirahat berlangsung. Sejak tadi pikirannya bercabang. Tapi karena dia ingin professional dengan cara tidak mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan, alhasil dia pun mencoba untuk fokus pada pekerjaannya saja dengan mengenyampingkan masalah pribadi yang sukses bikin kepalanya mumet.


Dengan kaki jenjangnya Sean berjalan menuju ke ruangannya. Seperti biasa, dia langsung menggantung jas medisnya di gantungan sudut ruangan. Sambil memainkan ponselnya dia menunggu pesanan makanannya datang dengan cara mengubah posisinya jadi duduk.


Belum semenit mengubah posisinya jadi terduduk Sean lantas bangkit sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku. Pria tampan itu bergerak menghampiri pintu ruangan setelah mendengar seseorang sedang mengetuknya.


"Pesanan atas nama pak Sean Altemose Ahmet?" dia disambut oleh pertanyaan. Seorang pria paruh bayah sedang berdiri tepat di hadapan Sean.


"Benar, Pak. Itu makanan pesanan saya." Pria itu memberikan makanan pesanan Sean.


"Ini Pak tip-nya,” Sean yang memang sudah menyiapkannya dari tadi segera memberikan lembaran rupiah setelah dia menerima pesanannya.


“Makasih Pak.”


Sean mengembangkan senyum berkesan ramah, ”Sama-sama, Pak.”


Setelah kurir yang mengantarkan makanan pesanannya sudah membelakangi dan pergi, saat itu juga senyum ramah di bibir Sean menghilang seketika. Tidak tahu kenapa pikirannya terus saja menjurus kepada persoalan perjodohannya dengan Rubina dikarenakan kakeknya juga Profesor Doktor Tyo Henney yang tak lain adalah Grandpanya Rubina. Dan juga, dia memikirkan sesuatu yang terjadi di masa lalunya. Sungguh, saat ini Sean merasa kepalanya serasa akan meledak saja karena terus kepikiran dengan kehidupannya.


Terdapat hela napas tanda lelah diembuskan oleh Sean sewaktu duduk di kursi. Untuk kali pertama Sean merasa tidak begitu tertarik dengan aroma burger yang menyeruak menusuk indra penciuman saat dia berhasil membuka kemasan kotaknya.


"Tumben banget gue nggak nafsu makan, padahal sebelum berangkat tadi pagi gue sarapannya sedikit?!" Sean menyadari dirinya yang hilang nafsu makan.


"Ck.. ini pasti gara-gara cewek rese itu, pertemuan gue sama dia setelah tujuh tahun nggak ketemu malah nyeret gue ke lembah permasalahan? gara-gara dia juga masalah gue seakan datang secara beruntun." Lagi, deru napas memburu terdengar menguasai ruangan. Karena telanjur tidak nafsu makan, burger yang telanjur dibelinya itu dipindahkan oleh Sean ke sudut mejanya. Tangan yang sama digunakannya untuk menjambak rambutnya sendiri. "Masalah gue yang satu aja belum ada titik terang, sekarang malah masalah baru datang gara-gara Rubina."


Sean terlalu fokus dengan bayangan yang imajinya suguhkan. Sampai-sampai suara ponselnya membuatnya berakhir terkesiap kaget.


"Oh Shiiittt!" Sean mengumpat. Tangannya pun digunakan untuk merogoh saku bagian kanannya. Dia mengambil benda bentuk pipihnya dari dalam sana. Terlihat di layar nama Marisa―ibunya— sedang melakukan upaya sambungan telepon terhadapnya.


“Iya, Bu. kenapa lagi?” Sean langsung pada intinya.


“Kamu di mana? Masih di Rumah Sakit kah?”


“Masih, kok, Bu.”


“Kamu sudah makan siang atau belum?” tanya Marisa.


“Baru mau makan, Kenapa sih Bu menelpon di jam segini?"


"Ibu nelpon kamu untuk menanyakan apakah malam ini kamu nginep di sini atau di apartemen?"


"Aku nginep di rumah kok."


"Baiklah, soalnya malam ini ibu berencana untuk menyiapkan makan malam keluarga. Soalnya kakak kamu telepon dari luar kota, katanya dia akan tiba di rumah nanti sore. Sekalian kan kita bisa merayakannya dengan makan-makan."


"Kak Dimas datang berdua sama kak Rina? Atau Dinda juga ikut?"


"Dinda juga pasti ikut. Dia mana berani sendirian di sana. Pastilah ikut sama abang kamu juga."


"Kemarin sih Dinda bilangnya belum kuliah, jadi untuk sementara dia masih bisa ikut abang kamu ke sini."


“Oh.”


“Oh iya, kalau gitu udah dulu ya, Ibu mau ke mini market dulu. Mau beli bahan makanan buat persiapan acara nanti malam.”


“Ya udah Bu, aku juga mau makan.”


Setelah sambungan telepon terputus Sean seketika menyenderkan punggung lelahnya pada sandaran kursi. Ponselnya dibiarkan tergeletak di meja. Sementara tangannya yang bebas telah mengudara dan digunakannya untuk memijit bagian pelipisnya sendiri.


“Seenggaknya gue juga harus nyiapin mental karena saat di rumah nanti harus nahan kesabaran dengan hobi kak Dimas yang suka buat gue kesel.”


SEPULANGNYA dari Rumah Sakit. Sean tidak langsung membawa V4R hitamnya menuju ke kediaman baru orangtuanya. Sean memilih untuk mampir dulu ke apartemennya yang memang jaraknya tidak begitu jauh dari Rumah Sakit tempatnya bekerja.


Sean punya tujuan kenapa mampir dulu bukannya langsung ke rumah orangtuanya. Sean ingin mengambil laptopnya, sama satu hal lagi, dia ingin mengecek kondisi apartemennya. Sengaja dia tidak memberitahu Nino bahwa dia ingin mampir karena dia ingin memberikan kejutan.


Sean memasukkan password apartemennya.


Ting!


Sean mendorong pintu.


Cukup kaget juga karena pada saat pintu dibukanya dia menemukan aroma yang cukup sedap menusuk indra penciumannya. Belum terbayarkan rasa penasarannya dengan aroma yang baru saja dia temukan. Sekarang matanya melebar secara perlahan. Dia memandang penjuru ruangan sambil menyertakan decakan takjub.


"Tumben apartemen gue serapih ini?" Sean yakin sekali. Hari di mana dia meninggalkan apartemennya, tempat itu tidaklah serapi saat ini. "Nggak mungkin kan si Nino yang beresin?" pikir Sean meskipun hati kecilnya tidak yakin Nino melakukan itu.


"Ngapain lo?" tanya Sean setibanya dia di dapur mengikuti aroma sedap itu berasal.


“Lagu gali kuburan,” jawab Nino datar, “Mata lo bermasalah ya Sean? Lo emangnya nggak bisa liat kalo gue lagi goreng sosis?” Nino mengatakannya tanpa mengalihkan fokus kepada wajan di depannya. Nino tidak ingin sosis miliknya jadi gosong jika kehilangan konsentrasi.


“Tumben banget apartemen gue Bersih. Lo nggak nyewa jasa kebersihan kan?”


“buat apa juga gue buang duit pake jasa kebersihaan? gue yang bersiin sendiri kok.”


"Hah? gimana Maksudnya? Lo yang bresin apartement ini?”


“Iya.”


Sean segera tertawa. Tawanya yang pecah membuat Nino mengerutkan keningnya bingung. Setelah mengangkat sosisnya dan mematikan kompor, dia pun balik badan menatap Sean yang masih pada aktivitas tertawanya.


“terus aja lo ketawa, terus aja lo curigaan, lo ga percaya kalo gue yang bersiin?"


“Iyalah. Lagian sejak kapan lo suka bersih-bersih?”


“Heh, kenyataannya gue yang beres-beres semua ini. Agak aneh sih emang kedengarannya. Tapi gue emang punya kebiasaan aneh. pas lagi sendiri gue biasanya tetiba aja jadi rajin."


"Lo nggak perlu nangis! gue percaya kok kalo lo yang beresin ini semua. Kali gitu gue mandi dulu ya."


"Sean sialan!" umpat Nino kepada Sean yang telah beranjak menuju ke kamarnya.