I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 101



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Melihat Rubina yang melamun membuat Marisa angkat suara.


"Sayang, kalau kamu mau cerita maka Ibu siap untuk mendengarnya."


"Bu," lirih Rubina memanggil mertuanya.


"Hmmm, ada apa sayang?" ucapnya lembut.


"Apa Ibu tahu soal masa lalunya Sean?" tanya Rubina. Sungguh, menyimpan ini sendirian hanya akan membuat kepalanya meledak. Mungkin naik setingkat lagi dia bisa gila karena masalah yang terus terbayang di kepalanya.


"Masa lalu soal Sean? Memangnya ada apa dengan masa lalunya?"


"Apa Ibu tahu siapa aja mantannya Sean?"


"Maksud kamu mantan pacarnya?"


"Iya, Bu."


"Ya kalau kamu tanyain soal itu hampir nihil sih. Mungkin ada tapi nggak dikasih tahu aja ke anggota keluarga. Soalnya Sean memang sangat tertutup banget. Terlebih soal hubungan asmaranya."


"Berarti Ibu nggak tau sama sekali soal Sarah?"


"Apa? Sarah? Siapa dia?" Marisa mengerutkan keningnya bingung.


“Bina mau bilang sesuatu sama Ibu. Mungkin apa yang akan aku sampaikan ini akan buat Ibu kaget."


Pandangan menyipit yang terlihat di wajah Marisa sudah cukup untuk menggambarkan rasa penasarannya. “Mungkinkah masa lalu Sean yang kamu bicarakan barusan ada kaitannya sama kenapa kalian marahan?”


"Iya, Bu. Jujur saja, aku beneran kecewa sama Sean. Ternyata sebelum dia nikah sama aku dia udah nikah siri sama wanita yang namanya Sarah."


"APA?" kaget Marisa. Dari ekspresinya saat ini bisa dipastikan bahwa dia juga baru tahu soal itu.


"Dan bukan cuma nikah siri aja Bu. Sean juga ternyata udah punya anak dari pernikahannya dengan Sarah, seorang anak laki-laki yang wanita itu bilang kalo anak itu adalah darah daging Sean."


Keterkejutan ganda dirasakan oleh Marisa. Setelah sebelumnya dia dibuat kaget oleh kabar tentang Sean yang katanya nikah siri dengan perempuan bernama Sarah, sekarang dia dikejutkan oleh kabar tentang anak dalam hubungan Sean.


"Kamu yakin soal itu Bi? Memangnya kamu dapat informasi itu dari siapa?" cecar Marisa. "Barangkali kabar itu nggak benar."


"Aku bukan dapat kabar lagi Bu. Aku bahkan bertemu sama anak dan istri sirinva Sean!" jelas Rubina.


Laporan yang disampaikan oleh Rubina barusan serasa menusuk ke hati yang paling dalam Marisa. Marisa tidak bisa berkata apa-apa merespon Rubina. Lidahnya jadi keluh.


"Tapi Bina mohon sama Ibu untuk tidak memberitahukan masalah ini sama Ibu aku. Soalnya Ibu kan tahu sendiri kalau Papah aku lagi sakit. Saat ini Ibu aku lagi pusing mikirin kesehatan Papah. Aku cuma nggak mau nambah beban pikiran Ibu." Rubina mengambil tangan mertuanya sambil dia menjatuhkan air matanya.


"Ibu harus bertemu sama Sean!"


"Bu," sahut Rubina mencoba menenangkan ibu mertuanya yang mulai menangis. "Ibu harus tenangin diri dulu ya!"


"Bagaimana Ibu bisa tenang setelah mendengar kabar ini? Pokoknya Ibu harus bertemu dia sekarang. Ibu harus mendengar pengakuannya secara langsung. Ibu nggak bisa tenang kalau seperti ini. Selain dia sudah membohongi keluarganya, dia juga sudah membohongi kamu Bi. Apa Ibu masih bisa diam karena itu?"


***


SEAN sedari tadi meneteskan air mata tanda menyesali perbuatannya di masa lalu. Karena masa lalu itu, hubungannya dengan Rubina sedang berada di ujung tanduk. Sambil menaruh fokusnya ke langit-langit kamar, dia meraba sisi kasur di sebelahnya.


Sean menghela napas panjang. Kamar di mana biasanya dia banyak menghabiskan waktu dengan Rubina kini hanya menyisakan dirinya sendiri bersama perasaan kalut.


"Harusnya saya berbicara jujur tentang masa lalu saya ke Bina, ya meskipun pasti tetep aja bakalan menyisakan rasa sakit, tapi mungkin kadar rasa sakitnya akan sedikit berkurang dibanding dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri kebenarannya seperti apa." SEAN bergumam mengungkapkan sesalnya.


Sean yang awalnya dalam posisi berbaring langsung bangkit begitu dirinya mendengar ada bunyi tanda seseorang menekan bel.


Sean pun beranjak meninggalkan ranjang untuk segera membuka pintu apartmentnya.


Klik!


Sean baru saja membuka pintu dan melihat kehadiran ayah dan ibunya. Sean tersenyum kaku di tengah perasaannya yang mulai tidak enak.


"Ayah? Ibu? Tumben jam segini kesini... Masuk Yah! Bu!" ajak Sean.


"Langsung aja Sean, Ayah mau tanya, apa benar yang diomongin Rubina soal kamu yang sudah menikah siri dengan perempuan bernama Sarah?" tanya Aditya sambil memperhatikan bahasa tubuh putranya yang tampak gugup. “Oh ya, sama satu lagi, apa benar kalau kamu sudah punya anak dari pernikahan siri kamu itu?"


Sean diam.



"Jawab Sean!" bentak Aditya yang secara kontan membuat Sean tersentak kaget. Lalu Sean pun menunduk pasrah sambil mengangguk.


"Bener Yah."


Bogem mentah mendarat dengan sempurna di bagian pelipis milik Sean.


Sean tidak mengira bahwa saat itu dia menerima bogeman mentah dari ayahnya tepat di bagian pelipis sebelah kirinya. Sean meringis dan memegangi sumber rasa sakitnya itu.


“Selama ini ayah nggak pernah melakukan ini sama kamu kan Sean?” tanya Aditya.


Sean yang masih merapatkan kedua sisi bibirnya terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang benar yang dikatakan oleh ayahnya barusan. Ini adalah kali pertama bagi ayahnya main fisik dengannya. Selama ini tidak pernah. Jangankan menyakiti secara fisik, bahkan membentak pun hampir jarang Sean dapatkan. Sejak kecil sampai di umurnya yang sekarang tiap kali melakukan kesalahan ayahnya hanya menegur dan memberikan nasihat. Tidak sampai Sean mendapatkan bogeman mentah seperti yang didapatkannya saat ini.


Meski begitu Sean tetap saja bisa memaklumi kenapa sampai ayahnya memberinya kepalan tangan seperti ini. Sean sadar akan kesalahannya yang sudah melukai istri dan juga anggota keluarganya yang lain. Bahkan bogem mentah yang baru saja didapatkannya langsung dari sang ayah belum sebanding dengan kelakuannya.


"Sejak kecil sampai kemarin ayah tidak pernah menggunakan tangan ayah saat kamu melakukan kesalahan. Tapi hari ini tidak lagi. Kamu sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, Sean.” Terdengar suara Aditya terdengar parau. Tanda bahwa saat itu dia benar-benar hancur.


Di sepanjang jalan dari rumah sakit menjenguk Ayah Rubina menuju ke aparteman yang ditinggali oleh putranya Aditya kurang begitu berkonsentrasi. Rasanya antara percaya dan tidak percaya sewaktu mendengar cerita dari istrinya soal putra keduanya yang sudah punya anak dari pernikahan sirinya. Sepanjang jalan Aditya terus berharap bahwa itu hanyalah kesalahpahaman saja.


Namun pada akhirnya Aditya jadi emosi sendiri saat putranya membenarkan tentang itu.


"Maafin Saya, Yah!"


Buuukkk!


Sean mendapatkan kepalan tangan kedua dari ayahnya. Berbeda dengan yang sebelumnya mendarat di bagian pelipis, kali ini kepalan tangan ayahnya sukses menghadirkan rasa sakit di bagian pipi kirinya.


"Kamu pikir maaf bisa mengubah segalanya, Sean?" terlihat dada Aditya kembang kempis ketika mengatakannya. "Kenapa nggak bilang dari awal kalau kamu sudah punya anak dengan wanita lain? Kalau saja kamu bilang itu dari awal, mungkin masalahnya tidak akan seribet ini. Ayah mungkin akan membatalkan perjodohan kamu dengan Rubina," Aditya memijit pelipisnya. Rasa pusing telah menjalar di sana.


“Ayah, sebaiknya pembahasan ini dilanjutkan nanti saja. Ibu enggak mau Ayah jadi sakit karena masalah ini. Ayo Yah, kita pulang!" ajak Marisa.


"Iya, kita pulang saja." Aditya balik badan dan berjalan duluan sementara Marisa masih di tempat yang sama. Dia memberikan tatapan buas kepada putranya. "Ibu kecewa sama kamu Sean.."


"Saya bisa jelasin Bu..." belum selesai kalimat itu saat...


PLAK!


Terdengar bunyi itu. Satu buah tamparan diberikan Marisa. Meski kekuatannya tidak seperti yang suaminya lakukan, tetap saja hal itu memberikan rasa sakit pada pipinya Sean.


“Kenapa kamu pegang pipi kamu? Sakit?” tuntut Marisa emosi. Sean diam. Dia hanya menunduk lantaran malu untuk membawa fokusnya kepada sang Ibu.


"Kenapa diam? Ayo jawab pertanyaan Ibu? Kenapa kamu pegang pipi kamu?"


"Sakit, Bu."


Marisa tertawa. Lalu kemudian dia membuka kembali sudut bibirnya, “Gitu aja kamu bilang sakit? Lalu bagaimana dengan perasaan Bina setelah dapat kabar seperti ini? Dia lebih sakit, Sean,” suara Marisa bergetar menahan tangisnya. "Ibu pikir kamu anak baik-baik Sean. Tapi ternyata kamu punya kebusukan. Ibu benar-benar kecewa sama kamu."


Marisa balik badan, berjalan meninggalkan Sean yang sendirian dengan perasaan sakit.


***


Sean mengucek matanya saat pertama kali dia membuka matanya. Sean melihat Rubina sedang berdiri di cermin yang bertaut dengan lemari di kamar.


"Kapan kamu balik, Bi?" tanya Sean. Dia bangun meninggalkan posisi berbaringnya.


Sangat disayangkan karena Sean tidak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya. Rubina masih merapatkan kedua sisi bibirnya sengaja tidak ingin memberikan jawaban.


"Biba, kamu nggak denger pertanyaan saya?” tanya Sean lembut.


"Aku lagi sibuk rapihin rambut, By."


"Sesibuk itukah sampe kamu nggak bisa jawab pertanyaan saya?"


Rubina mendesah pelan. “Aku balik sekitar lima belas menit yang lalu."


"Terus kamu mau balik lagi ke rumah sakit."


"Hmmm," jawab Rubina terdengar sangat malas untuk memberikan jawaban.


"Saya anterin ya?" Sean menawarkan dirinya.


"Nggak usah, aku bisa balik ke rumah sakit sendiri tanpa bantuan kamu.”


"Oh ya, semalam Ayah sama Ibu dateng ke sini, ke apartemen."


"Oh, Trus?"


"Kamu nggak penasaran kenapa mereka dateng ke apartemen?"


"Palingan Ayah sama Ibu datang ke sini buat marahin kamu soal Sarah kan?" Rubina sudah tahu soal itu bahkan sebelum Sean menceritakan kepadanya.


"Bener. Saya sampe dipukul dua kali sama Ayah. Terus Ibu nambahin lewat sebuah tamparan."