I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 20



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Sebelum akhirnya pria itu beralri-lari kecil, Rubina melihatnya menyumpal telinga dengan sepasang earpod yang terhubung pada ponsel yang ada di dalam sakunya.


Rubina sudah pasti tidak melewatkan kesempatan. Begitu Sean balik badan dan berlari-lari kecil. Dia juga melakukan hal yang serupa. Rubi a juga berlari-lari kecil dibelakang pria itu. Dia benar-benar tidak peduli dengan keindahan yang diciptakan oleh alam. Bagi Rubina, tidak ada pemandangan yang indah kecuali saat matanya mampu menjamah tubuh dari seorang pria yang sudah mencuri hatinya sejak lama.


'Mungkin sebentar lagi apa yang aku harapkan akan segera terwujud, aku mungkin hanya butuh sedikit lagi kesabaran sebelum akhirnya aku benar-benar bisa memiliki Sean.' senyum Rubina mengembang dengan sempurna sewaktu bayangan tentang indahnya pernikahan membayang-bayangi dunia imajinya. Harapan yang tertuang lewat dewi batinnya secara tidak langsung jadi doa yang selalu dia harapkan kepada Tuhan.


Sekitar setengah jam kemudian Sean mulai merasa bahwa energinya sudah banyak terkuras. Dia lantas mendekat ke sebuah kursi taman dan mendudukkan tubuh lelahnya di sana. Kedua earpods yang menyumpal telinga dikembalikan ke tempat semestinya.


Hal yang sama juga berlaku pada Rubina. Dia mengikuti Sean untuk duduk bersebelahan dengannya di kursi taman.


“Kenapa kamu ada di dekat saya lagi sih? Kenapa nggak duduk di tempat lain aja?” Sean terlalu kesal pada Rubina sampai dia memutuskan untuk bertanya tanpa melakukan kontak mata dengannya.


Jangankan kontak mata dengan Rubi a. Bahkan sesederhana menolehkan mukanya saja tidak dia lakukan.


Rubina menatap sekelilingnya kemudian dia memaku perhatiannya itu menatap wajah Alvin dari samping. Alvin terlihat memandang ke depan. “Aku duduk di sini ya.. karena ini satu-satunya kursi yang ada di tempat ini.”


“Ck... Alesan,” respon Sean


Dengan senyum remeh. Sama sekali Sean tidak percaya dengan ucapan gadis di sebelahnya.


‘Meskipun di tempat ini ada kursi yang lain, tetep aja gue bakalan milih buat duduk di samping lo. Jujur gue ngerasain kebahagiaan yang nggak dapat dijabarkan tiap kali gue berada di samping lo. Rasanya seolah hidup gue tuh jadi lebih berwarna.’ Rubina melantunkan pujian kepada pria di sampingnya melalui batinnya.


Saat sedang menikmati wajah Sean dari samping. Rubina menemukan wajah pria itu sedang dipenuhi butiran peluh tanda lelah. Rubi a memeriksa sakunya mengambil sapu tangan dari dalam sana. Tangannya yang menggenggam benda dengan permukaan lembut itu telah mengudara. Tangan itu sudah terarah namun tertahan ketika suara dehaman diterima telinganya.


Sean menoleh dan memperhatikan sekilas tangan Rubina yang masih mengudara, enggan untuk apa yang seharusnya dia lakukan.


"Kamu nggak perlu lap keringat saya dengan sapu tangan itu. saya bisa menyeka keringat saya sendiri," Sean menggunakan punggung tangannya untuk menyeka keringatnya. "Kamu bisa lihat kalo saya bisa ngelakuin itu sendiri. saya nggak perlu bantuan orang lain. Termasuk bantuan dari kamu sekalipun."


Rubi a menarik kembali tangannya yang telanjur terulur ke depan. Sapu tangan itu akhirnya berakhir untuk mengelap keringatnya sendiri. Ada sedikit kekecewaan atas penolakan yang diterimanya. Tapi Rubina tidak larut dalam memikirkannya. Rubina kan sejak awal tahu tentang sikap dingin Sean padanya.


“Aku pengen ngomong sesuatu. Apa kamu punya waktu buat dengar apa yang mau aku sampein ini?”


“Hm.. bilang aja!”


Sebenarnya Rubina ingin membahas tentang perjodohan di antara dia dan Sean, Rubi a ingin bertanya apakah nanti Sean akan menolak upaya perjodohan yang diciptakan oleh para orangtua.


"Apa kamu---” Rubi a belum sampai ke tahap menyelesaikan kalimatnya saat bola matanya menemukan sesuatu sedang mendekat ke arahnya.


“Apa yang mau kamu tanyain?" Sean membalas dengan nada sedikit kesal. "Mendingan bilang dari sekarang, soalnya saya bakalan pergi setelah ini."


"Apa kamu.... ANJING!"


Sean menoleh cepat dan memelototkan matanya. Sebelum terjadi pergerakan pada sudut bibirnya lebih dulu pria itu meneguk salivanya. "Bisa kau jelaskan kenapa kamj ngumpat sama saya?" sejurus kemudian mata pria itu berubah jadi tajam.


“Kamu ini nggak tuli kan? Kalo emang faktanya kayal gitu cepat jawab pertanyaanku! Kenapa kamu ngumpat saya?”


“Aku tidak mengumpati kamu kok!” Kayla berkilah membela dirinya sendiri. Bagaimana pun juga Kayla merasa dirinya tidak pernah sekalipun mengumpati Sean. Lagian apa untungnya juga buat Rubina mengumpati seorang Sean yang merupakan belahan iiwanya. Bukannya Sean tambah suka sama dia, yang ada Sean akan semakin membencinya jika dia melakukan itu.


"Kamu pikir telinga saya ini lagi bermasalah? saya dengar dengan sendiri kalo bibir kamu meloloskan kata 'Anjing,' buat saya. Dan yang jadi pertanyaannya kenapa kamu sampai ngumpat sama saya. Apa ada kalimat saya yang menyinggung dan mengharuskanmu membalasku dengan sebuah umpatan?"


"Aku nggak lagi ngumpat sama kamu kok..."


"Nggak usah menutupinya dengan kebohongan lain," potong Sean.


Nada suaranya naik seoktav dibanding dengan ucapan yang sebelumnya. "Bilang aja alasan kenapa kamu ngumpatin saya!"


"Tapi aku emang nggak lagi mengumpatin kamu, Sean." Rubi a masih berkilah, dan dia tidak ingin mengakui kesalahan yang tidak dia perbuat sama sekali.


"Lalu kata 'Anjing' yang kamu sematkan untuk saya apa maksudnya?" Tanya Sean.


"Dengarin dulu penjelasan aku. Kalo ini kamu terus memotong ucapan aku. Otomatis pembahasan ini nggak akan dapat titik terangnya."


Sean mengembuskan napas panjang. Dengan mata yang sedikit meredup dia menunggu sebuah jawaban logis dari lawan bicaranya.


"Aku bukannya ngatain kamu anjing atau semacamnya. Lagian gimana bisa aku ngatain orang yang aku sukain. Aku tuh bilang anjing ya refleks aja soalnya liat anjing yang lagi lari ke sini!" telunjuk Rubina diarahkan ke tempat yang dia maksud.


Sean awalnya mengira bahwa hal itu Cuma akal-akalan Rubina saja supaya bisa menghindar dari masalah. Namun Sean segera menemukan sebuah fakta saat mengikuti arah tertanamnya telunjuk Rubina. Sean menemukan seekor anjing jenis Rotteweilar sedang berlari kencang menuju ke arahnya. Sean sedikit banyak tahu tentang anjing jenis itu karena dulu rekannya sempat pelihara. Anjing itu memang sangat setia dengan pemiliknya, namun berbanding terbalik dengan orang asing. Anjing jenis Rottweiler memiliki sikap yang begitu agresif.


“Heh, kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalo ada anjing lagi ngarah kesini?” tuntut Sean.


“Ya gimana aku bisa langsung jelasinnya. Kamu kan dari tadi nuduh aku yang nggak-nggak.”


“Sekarang apa lagi yang kamu tunggu?” Tanya Sean dia menjadi orang pertama yang bangkit meninggalkan tempat duduknya.


“Lari Bi!” teriaknya sambil menarik tangan Rubina dan berlari sekencang mungkin.


Dalam sekejap Rubina pun meninggalkan posisi duduknya dan terpaksa ikut berlari mengikuti Sean yang terus menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat.


Rubina seakan lupa bahwa saat itu dia dan Sean sedang dikejar-kejar oleh seekor anjing. Itu karena rasa senang yang dia dapatkan sangat berlebih saat itu. Coba bayangkan setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya dia bisa mendapatkan momen-momen mendebarkan seperti ini-sebuah momen yang bisa dikategorikan amat sangat langka. Dan perlu ditegaskan bahwa saat ini pergelangan tangannya digenggam erat oleh Sean, bukan Rubina yang menggenggam tangan Sean.


Rubina diam-diam merasakan waktu bergerak lambat disaat-saat seperti ini. Kalau boleh meminta Rubina ingin menikmati momen ini lebih lama dari yang seharusnya.


Walaupun pada akhirnya dia tetap menyadari bahwa momen indah ini akan segera berakhir.


waaaaahhh... daebbakkk... 3 episode dong up..


demi kalean kalean semua...


mana komennya???? mana likenya????