
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Dipikirnya ada sesuatu yang ingin dibahas oleh Marisa, namun di luar harapannya ternyata Rubina diminta untuk membuat kue.
"Kenapa Bi?"
Rubina mulai menggaruk-garuk bagian tengkuknya. Sebenarnya bagian itu tidak gatal, Rubina melakukannya karena refleks saja.
"Emmhh.... Sebenernya..."
"Ada apa, Bi?"
"Aku sebenernya nggak bisa masak Tan."
Kepolosan Rubina membuat Marisa tidak mampu menahan supaya senyumnya tidak terpatri.
"Oalah. Tante pikir ada apa, ternyata kamu enggak bisa masak..."
"Ya... Jangankan buat kue Tan. Masak mie aja biasanya dibantuin sama Ibu."
"Santai saja lah. Waktu seusia kamu juga Tante belum tahu gimana caranya masak. Tante bahkan baru belajar sedikit-sedikit setelah menikah. Nanti juga kamu bakal jago kok. Percaya deh sama Tante! Sekarang kamu perhatiin baik-baik yah, supaya nanti kamu juga belajar buat kue brownis kayak gini."
"Siap Tante. Jadi apa nih yang harus aku siapin?"
Rubina sangat senang karena malam itu dia bisa belajar membuat kue langsung dari calon mertuanya. Dalam proses pembuatan kue itu diselingi oleh pembahasan-pembahasan mengenai berbagai hal. Mulai dari cerita saat Marisa dijodohkan dengan seorang pria tak dikenal yang kini menjadi ayah dari anak-anaknya, sampai pada sebuah topik yang menurut Rubina sayang untuk dilewatkan. Pastinya topik yang berhubungan dengan Sean.
Topik pembicaraan yang berhubungan tentang Sean merupakan topik yang mustahil untuk Rubina lewatkan. "Serius Tan?"
"Iya," sahut Marisa.
"Kok bisa Sean didandanin kayak cewek pas masih kecil?" penasaran Rubina setelah sebelumnya Marisa bercerita sedikit tentang hobinya mendandani Sean layaknya seorang anak perempuan semasa kecil dulu.
"Soalnya anak pertama Tante, si Dimas kan laki-laki, terus anak kedua juga Sean jenis kelaminnya laki-laki, sementara dulu Tante kepingin banget punya anak cewek soalnya Tante udah ngebayangin seneng banget bisa ke mall bareng sama anak cewek. Karena saat itu pas Dinda belum lahir makanya Tante dandanin deh Sean jadi cewek."
"Astaga Tan, sampai segitunya."
"Tante bahkan masih punya loh foto-foto Sean pas didandanin kayak cewek. Nanti Tante kasih lihat ke kamu."
"Boleh Tan," Rubina menyahuti dengan antusias. "Aku penasaran banget ngeliat fotonya Sean waktu didandanin kayak cewek."
"Nanti Tante cari albumnya yah... tar kita lihat sama-sama."
"Aku udah bisa bayangin sih, Tan, pas Dinda lahir. Pasti saat itu Tante seneng banget deh bisa punya anak cewek."
"Jangan ditanya lagi Bi. Tante bener-bener seneng banget pas selesai USG trus dokter ngasih tau kalau anak ketiga Tante jenis kelaminnya cewek. Duh, kebahagiaan Tante serasa lengkap karena udah punya putra dan putri."
Setelah membuat kue dan menyantapnya secara bersama-sama di ruang keluarga, Rubina pun memutuskan untuk pamit.
"Om, Tan, Sean, kalo gitu aku pamit dulu, soalnya udah malem. Besok aku ada kuliah pagi juga soalnya."
"Makasih ya, Bina, kamu udah nemenin Tante buat brownis"
"Sama-sama Tan. Lagian Bina juga senang kok udah belajar bikin kue ama tante."
"Sean, tolong kamu antar Bina ke rumahnya. Kasian kalo jalan sendirian."
"Enggak perlu Tan. Soalnya kan deket juga," Rubina berpura-pura menolak padahal dia tentu saja ingin diantar sama Sean walaupun jarak rumah mereka cuma beberapa meter.
"Sean, antar Bina pulang!" Aditya angkat suara. Tentu, Sean tidak memiliki keberanian lebih untuk memberi penolakan terhadap apa yang ayahnya perintahkan.
"Baik, Yah."
"Pamit dulu, Om, Tan," ujar Rubina sekali lagi.
Saat jalan bersisian dengan Rubina sebenarnya jauh dari lubuk hati terdalam Sean sedang bimbang dalam memutuskan sesuatu. Di satu sisi ada dorongan dalam dirinya yang memaksanya untuk mengucapkan terima kasih karena Rubina sudah menyelamatkan Lion yang kecebur got tempo hari, namun di satu sisi lagi gengsi yang mendiami diri pria itu terlalu banyak kadarnya— membuatnya sulit untuk mengatakannya. Karena dua keinginan yang bertolak belakang itulah sehingga Sean kurang begitu fokus.
"Ah!" ringisan pria itu terdengar membuat Rubina panik. Karena kurang berkonsentrasi Sean yang jalan di sebelah kiri Rubina menabrak tiang listrik. Sakitnya mungkin tidak seberapa bagi Sean, tapi malunya itu yang tidak dapat terbendung. Okelah, kalau hanya dirinya, tapi di sebelahnya ada Rubina yang melihat kejadian itu.
'Ck... duh, pakek ada kejadian kepentok tiang listrik segala lagi!' keluh Sean dalam batin.
Dia ingin mengudarakan tangan menyentuh sumber rasa sakit itu namun Rubina lebih dulu mendaratkan tangannya di dahi milik Sean.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Rubina khawatir.
"Nggak usah lebay. Saya baik-baik aja," ujar Sean kemudian membantu Rubina menurunkan tangannya dari bagian dahinya. "Cepetan kamu jalannya. Saya mau cepet pulang juga setelah nganter kamu."
Rubina semakin mempercepat langkahnya seperti perintah Sean.
"Makasih ya udah nganterin," kata Rubina sesampainya dia di depan gerbang miliknya. "Kamu beneran definisi calon suami idaman!" puji Rubina bersama jempolnya yang diperlihatkan. "Aku masuk dulu. Bye!"
"Tunggu bentar!" Sean bersuara membuat Rubina berhenti melangkah lantas dengan cepat dia memberikan perhatian kepada Sean.
"Kenapa?"
"Saya cuma mau bilang...." Sean tidak mengerti dengan dirinya. Tiba-tiba saja mengucapkan terima kasih menjadi sangat berat.
"Bilang apa Sean?" Rubina semakin penasaran. "Kamu mau bilang selamat malam sama aku?"
"Bukan."
"Atau jangan-jangan kamu mau bilang cinta sama aku?" lagi, Rubina semakin tinggi tingkat khayalannya menduga-duga sesuka hatinya saja.
"Bukan juga."
"Trus apa dong?"
"Saya cuma minta supaya kamu ngerahasiain kejadian tadi sama siapapun," bohong Sean menjadikan kejadian tadi sebagai alibinya. Sean merasa sulit untuk mengucapkan terima kasih sehingga dia terpaksa memutar otak dan memberikan jawaban lain.
"Tenang aja, aku nggak akan membagikan aib calon suami aku sama orang lain. Kejadian tadi cuma kamu, aku, dan Allah yang tahu."
'Cih... Kenapa ngasih ucapan makasih aja kok sulit banget, sih?' pikir Sean setelah berbalik dan membawa kaki jenjangnya kembali ke rumah.
***
TERDENGAR sebuah helaan napas panjang saat Sean baru saja mengubah posisinya jadi terduduk di tepian ranjang. Pria itu baru tiba di kamarnya setelah mengantar Rubina kembali ke rumahnya. Sean masih kepikiran perkara ucapan terima kasih yang terasa sangat sulit untuk dia ucapakan kepada Rubina.
Meong!
Sean hampir terpelonjak kaget karena rangsangan yang diberikan oleh Lion. Bulu-bulu halus kucing menggemaskan itu cukup membuatnya kaget.
"Astaga Lion." Sean menggeleng tidak habis pikir.
"Bikin kaget aja, hampir saja kamu keinjek kan," sedetik setelah kalimat itu disampaikannya, Sean menggunakan kedua tangannya untuk mengambil Lion dari lantai, kemudian membawanya ke dalam pangkuannya. "Kenapa kamu belum tidur, Lion. Lagi mikirin apa sih?"
Menemukan Lion membuat perasaan bersalah kembali menyelimuti pikiran Sean. Pria itu jadi teringat kembali soal Rubina yang sudah menyelamatkan Lion yang meregang nyawa saat kecebur got. Tapi karena gengsi Sean memutuskan untuk tidak mengucapkan terima kasih. Padahal Rubina sangat pantas mendapatkannya.
"Ck... kenapa ucapan makasih sulit banget buat gue ucapin sama Bina yah. Padahal sama orang lain kok biasa-biasa aja. Kenapa ke dia jadi berat banget?" pikir Sean bergumam.
Sean sebetulnya sedang mencoba untuk mengikuti apa kata Nino. Hanya saja memang tidak mudah untuk tidak kesal saat berada di dekat Rubina. Rubina adalah tipikal manusia yang suka menggoda, sementara Sean sendiri tidak suka diperlakukan demikan.
"Udah waktunya kamu istirahat!" Sean meninggalkan duduknya bersama Lion yang masih dalam gendongannya. Sean memutuskan untuk memasukkan Lion ke dalam kandangannya saja.
"Good night and sweet dream!" Sean tersenyum. Andai Rubina yang mendapatkan senyum demikian, mungkin gadis itu akan bermimpi indah.
Sean tidak lupa mengunci serapat mungkin kandang milik Lion. Mendengar Lion yang hampir tenggelam tempo hari membuat
Sean lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Takutnya juga Lion malah kabur kalau Sean tidak menguncinya. Nasib baik kalau kaburnya cuma bermain di sekitar rumah. Kalau bermainnya di jalanan? Ah, bahkan Sean tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya dia saat terjadi sesuatu sama Lion.
Sean kembali ke kasurnya. Merebahkan badan segede gabannya di sana. Sean melipat tangannya dijadikan pengganti bantal. Dia berencana tidur saat itu juga, makanya dia langsung memejamkan mata, namun ternyata keinginannya tidak semudah itu tersalurkan.