I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 81



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Kenapa senyum-senyum?"


"Lucu aja By."


“Apanya yang lucu?”


"Kamu By. Lucu banget ngeliat kamu yang takut banget kehilangan aku.”


“Saya bukannya takut kehilangan kamu."


"Terus kenapa kamu kedengaran panik banget pas ngira aku bakal kawin lari sama Agam?"


"Kamu pikir aja sendiri. Saya ini dokter, banyak orang yang kenal sama saya. Kalo misalnya kamu beneran kawin lari sama cowok lain otomatis saya juga yang bakal kena getahnya. Reputasi saya bisa ancur gara-gara skandal itu.”


"Ck... Pinter banget nyari alasannya. Padahal mah tinggal ngaku aja kalo sebenarnya kamu itu takut kehilangan aku. Pakek alasan reputasi-reputasi segala." Rubina menarik bibir ke samping memperlihatkan senyum meremehkan.


"Oh iya pas bangun tidur tadi aku liat ada panggilan nggak terjawab dari Ibu. Pas aku nelpon balik nomornya udah enggak aktif. Kira-kira Ibu mau ngomong apa ya ke aku?"


"Paling ponselnya lagi dicas makanya nggak aktif."


"Ibu juga nelpon kamu?”


Rubina mengangguk, "Tadi Ibu nelpon aku juga."


"Apa katanya?"


"Ibu nyuruh aku sama kamu dateng ke sana buat makan malam bareng. Ibu juga minta supaya kita nginep di sana aja, tapi aku bilang lain kali aja, soalnya kan besok kamu udah mulai masuk kerja."


"Nggak apa-apa, kita nginep di sana aja malam ini. Motor saya kan juga ada di rumah orangtua saya, jadi saya bisa sekalian ngambil buat kita pakai besok pagi untuk balik lagi ke apartemen."


"Ya udah kalo kamu pengennya gitu. Malam ini kita nginep di rumah aku aja. Btw makanan buatan kamu enak banget! Aku jadi insecure. Harusnya kan tugas masak kayak gini jadi tugasnya aku."


"Nggak apa-apa, anggap aja kita lagi bagi-bagi tugas. Saya yang bikin makanan sementara kamu setelah ini cuci piring!"


"Cuci piring?" ulang Rubina.


"Kenapa? Kamu nggak mau berbagi tugas?"


"Mau kok. Nanti biar aku yang beresin semuanya setelah makan nanti. Sekarang kita fokus saja dulu sama hidangannya," ujar Rubina.


"MAKASIH YA BY, SOALNYA HARI INI KAMU UDAH MUASIN AKU!"


Sean menatap tidak percaya sambil dia juga geleng-geleng kepala merespon Rubina yang baru saja mengungkapkan kalimat ambigu disaat Dean masih menikmati sarapannya hasil kreasinya sendiri. Untungnya Sean tidak sampai tersedak karena mendengar kalimatnya itu.


"Muasin kamu? Emangnya kita abis ngapain? Heran saya sama pemilihan kata-kata kamu yang selalu bikin orang salah paham tau gak.” Sean melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Muasin sama masakan maksudnya hehehe. Jujur masakan kamu tuh enak banget. Aku seneng tapi disaat yang sama aku jadi insecure. Heran deh sama kamu, semuanya diembat rata. Kalau kata aku mah kamu tuh multi talenan."


"Multi talenan?" ulang Sean rada-rada bingung.


"Ituloh By, bahasa Inggrisnya serba bisa."


Sean memukul jidatnya pelan, "Multi talent, Bina, bukan multi talenan. Kalo talenan mah alat buat motong-motong. Nggak usah sok-sok an pake bahasa ingris deh kalo kamu ga tau, bikin malu tau nggak?!"


"Nah itu maksud aku, multi talent. Udah wajahnya ganteng kayak aktor turki, pinter, jago masak. Ah, beruntung banget aku punya laki kayak kamu. Sebenarnya apa sih yang kamu nggak bisa?"


Sean lebih dulu menghabiskan air minum di gelasnya lalu memberikan jawaban. "Kamu serius mau tau apa yang nggak bisa saya lakukan?"


Tanpa mengatakan satu kata pun Rubina menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"ngasih cinta sama kamu," jawab Sean.


"Maksud kamu?"


"Mencintai kamu adalah sesuatu yang nggak bisa saya lakukan. Udahlah, sekarang kamu urus piring kotor ini. Tugas kamu sekarang nyuci piring dan nyimpen peralatan makan ini ke tempat semestinya. Saya mau ke kamar, lanjutin kerjaan yang tadinya tertunda karena kamu teriak heboh."


"Kerjaan apa yang mau kamu lanjutin?"


"Tadi saya lagi mindahin pakaian kamu dari kamar sebelah."


"Demi buat tidur sama aku kamu sampe bela-belain buat mindahin barang-barang aku," ucap Rubina sambil dia berjalan membawa tumpukan piring kotor menuju ke westafel.


Sean ikut bangkit dari tempat duduknya. Dia membantu Rubina membawa gelas bekas ke westafel. "Bukan demi tidur berdua sama kamu. Yang benar, supaya tidur saya nyenyak saya sampe bela-belain buat nerima tawaran kamu yang minta saya mindahin pakaian kamu.” Sean memperbaiki kalimat Rubina.


Sean kemudian beranjak menuju ke kamar. Bahkan masih ada sekitar dua langkah sebelum tangannya berhasil menyentuh gagang pintu ketika suara menggelegar terdengar menusuk indra pendengaran Sean. Suaranya dari dapur dan tentu saja pelaku yang menghadirkan bunyi menggelegar itu pasti Rubina.


"Ck... Sekarang apa lagi yang diperbuat olehnya?" gumam Sean sambil dia memelas. "Kenapa sih Bina selalu saja buat kekacauan?" Sean dengan setengah hati memutar badan. Karena suara itu dia sampai urung ke kamar dan akhirnya mempercepat langkah kakinya untuk mencaritahu kekacauan yang dibuat oleh istrinya.


Sesampai di dapur Sean menemukan istrinya tengah membekap mulut. Kepalanya menunduk memperhatikan pecahan berkeping yang tersebar di lantai. Ya, sekarang Sean sudah tahu tentang bunyi menggelegar tadi disebabkan oleh piring keramik yang hancur berkeping-keping sewaktu mendarat pada permukaan keras.


"Kekacauan apa lagi yang kamu lakukan astaga, Bina" komentar Sean.


"Maaf By."


"Enggak ada kata lain selain kata maaf?"


"Sorry, hehehe."


"Jangan bilang kalau ini kali pertama bagi kamu cuci piring?"


"Jadi bener kalo ini pertama kali kamu cuci piring?"


"Iya By, soalnya kalo di rumah ada Ibu yang nyuci piring. Bukannya nggak mau bantu, cuma Ibu selalu nolak tiap kali aku mau bantuin." Rubina segera berjongkok, gadis itu hendak menyentuh salah satu bagian piring yang telah pecah. Namun gerakannya lebih dulu dibaca oleh Sean.


“Jangan!” tegur Sean.


Rubina membiarkan tangannya yang telanjur terulur itu tetap mengudara. “Kenapa By?" kedua alisnya terangkat.


"Sebaiknya saya aja yang beresin.”


"Tapi By..."


"Jangan keras kepala! Mending kamu ke kamar aja. Buat urusan ini serahin aja sama saya!"


Dengan perasaan bersalah Rubina meninggalkan ruangan itu. Bangkit dari posisi jongkoknya gadis itu beranjak ke kamar.


"BAGAIMANA HUBUNGAN KALIAN BEBERAPA MINGGU SETELAH RESMI MENIKAH?" Danniel mengajukan pertanyaan itu ketika melihat menantunya yang baru saja selesai makan. Ya, malam itu Sean datang untuk memenuhi panggilan makan malam mertuanya. Tidak hanya untuk sekadar mampir makan malam, Sean dan Rubina juga sepakat untuk nginap di sana.


"Baik kok, Pah," jawab Sean takut-takut.


"Terus gimana sama malam pertamanya?" Danniel mengintrogasi sambil menyipitkan matanya.


"Enak kok, Pah, eh maksud Saya lancar kok, Pah,” Sean mengoreksi dengan cepat. Sungguh saat itu Sean merasa sangat gugup. Mungkin juga kegugupan yang ada pada dirinya yang membuatnya sampai salah ucap. Niat hati ingin bilang 'lancar' namun yang kesebut malah kata 'enak.'


Sean rasanya ingin menghilang saja dari planet ini. Salah menyebut membuatnya sangat-sangat malu. Apalagi karena dia melakukan kesalahan itu di depan Danniel Henney orang yang tidak setuju dia menikah dengan Rubina.


"Papah Ih..." tegor Althea. "Syukur deh kalo udah nggak ada lagi batasan di antara kalian. Kita sih sebagai orang tua berharapnya segera ada orang ketiga di antara kalian," Althea penuh harap.


"Orang ketiga? Maksudnya pelakor Bu?" heboh Rubina.


"Bukan. Orang ketiga yang Ibu maksud di sini adalah anak. Kan kamu tau sendiri By kalau Ibu udah nggak sabar ingin segera menimang cucu."


"Papah sih nggak terlalu ngebet Bi, kamu nikmatin aja jangan terlalu buru-buru, kuliah kamu juga blum beres, takutnya juga nanti kamu disakitin sama suami kamu, kalo kamu blum hamil dan punya anak kan bisa bebas kalo pisah..." ucapnya menyindir Sean.


"Papah iihh.. ucapan adalah doa loh... emang Papah mau aku jadi janda?"


"Tau... iih kamu tuh ya, udah ngerestuin juga masih aja jahat sama mantu!"


Danniel pun mencebik, sementara Sean hanya terdiam menunduk.


Rubina hanya tersenyum miris merasa hatinya seperti sedang tercabik-cabik.


'Rasanya nyesek banget denger omongan Ibu yang minta cucu. Tapi Bina minta maaf Bu. Kayaknya dalam waktu dekat Bina belum bisa ngasih cucu buat Ibu. Jangankan ngasih cucu, dapetin Sean seutuhnya aja belum kesampaian. Tapi... Bina janji Bu, Bina akan semakin berusaha untuk membuat Sean menaruh perasaan lebih ke Bina,' batin Rubina.


Untuk saat ini Rubina hanya bisa berdoa sambil berusaha untuk membuat Sean jatuh cinta kepadanya.


Setelah makan malam bersama mereka melanjutkan bersantai sejenak di ruang keluarga. Mereka membicarakan banyak hal. Dan setelah itu Sean dan Rubina akhirnya kembali ke kamar.


Ini adalah kali pertama Sean memijakkan kakinya di kamar milik Rubin.


"Selamat datang di kamar aku, By," ucap Rubina menyambut suaminya.


Sean menemukan ruangan berwarna hitam putih dan abu. "Orang-orang juga bakalan tau warna favorit kamu cuma karena liat kamar kamu ini. Kamu sebegitu sukanya yah sama warna hitam sampai-sampai warna kamar kamu ini didominasi oleh warna hitam?"


"Aku suka banget sama warna hitam. Tapi... ada loh sesuatu yang aku sukai melebihi rasa suka aku sama warna hitam."


"Apa?"


"Kamu."


"Saya?” tanya Sean.


“Iya, aku suka sama kamu, melebihi rasa suka aku sama warna Hitam."


"Apaan sih?"


"Emang bener kok By, kalo aku itu sangat sayang sama kamu. Kamunya aja yang sampe sekarang nggak peka-peka. Eh ngomongin soal warna hitam kamu juga suka warna pink kan?" ada senyum jahil yang terpatri di bibir Rubina saat kalimatnya sudah tandas.


“Enak aja, kata siapa saya suka warna pink?" Sean mengelak.


"Ngaku aja By. Nggak ada orang lain kok selain kita berdua di ruangan ini. Kamu nggak usah malu buat ngakuin kalau kamu suka sama warna pink!" ujar Rubina terdengar memaksakan kehendaknya.


"SAYA NGGAK SUKA WARNA PINK RUBINA!" Sean memberikan penekanan pada kalimatnya. "Dari tadi kamu terus ngelantur.”


"Tapi aku kok yakin banget kalo kamu suka warna pink. Selain suka warna pink, kamu juga suka kan pakai rok selutut?"


"Kamu pikir saya cowok jadi-jadian suka warna pink sama suka pakai rok selutut?" Sean geleng-geleng kepala. "Kamu ini ada-ada aja!"


Rubina bangkit dan mendekat ke laci. Dia mengambil sesuatu dari dalam sana. "Aku punya bukti kok kalo kamu suka warna pink sama suka pakai rok selutut," ujarnya dibarengi oleh senyum yang dapat diartikan sebagai senyum menggoda.


"Bukti apa?" bingung Sean.


Pria itu bahkan telah mengerutkan keningnya bingung.


"Ini kamu kan By?" tanya Rubina memperlihatkan benda yang ada di tangannya.


"Kamu dapet dari mana foto itu?" kaget Sean.