I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 50 Kisah Hans



"Loh... ini kan berkas penting kliennya, Mas Hans. Pasti Mas Hans kelupaan deh..." Nadin yang baru saja membereskan ruang kerja Hans pun buru-buru menelepon handphonenya Hans, tapi Hans tidak mengangkatnya.


"Apa aku nyusul ke kantornya aja gitu?" Gumam Nadin. Lalu Nadin pun bersiap untuk mengunjungi Hans di kantornya.


***


Ost. Yiruma - Wait There


"Hans... kami tau keadaan Nadin sekarang dari Pak. Danniel dan Bu. Althea..." Ucap Ayahnya Nadin saat dia sedang ada urusan di kantornya Danniel dan berinisiatip ubtuk mampir ke ruang kerjanya Hans.


"Hanya saja... Saya sebagai seorang tua sedikit merasa kecewa, ada kejadian besar seperti ini , tapi kalian tidak memberitahu pada kami..."


"Anda sendiri tau itu tidak akan membantu Nadin, atau mungkin anda malah akan menyalahkan Nadin! Dan saya, Danniel juga Althea tidak akan membiarkan itu terjadi..."


***


Sementara itu...


Saat Nadin berjalan dan tiba di pintu depan ruangan Hans, saat pintu hendak dibuka Nadin pun terdiam karena mendengar ada suara Ayahnya.


"Apa kau mencintai putri saya?!" Hans pun terdiam.


"Dengar Hans... aku juga ibunya Nadin sudah memikirkannya---" ucapnya tertahan. Sementara Hans melihat curiga kearah Ayahnya Nadin.


"Karena keguguran itu, putriku Nadin tidak bisa melahirkan maupun mempunyai anak lagi... Kamu masih muda, Hans. Aku mengerti kalau kamu ingin memulai hidup baru lagi dengan orang lain... dan tentunya ingin keturunan untukmu nanti... Nadin sudah cacat Hans... dia tidak bisa memberikan keturunan untukmu lagi..." Hans mendengar penuturan Ayahnya Nadin yang terlalu frontal itu hanya tersenyum kecut sambil mendengus.


"Ok, sesuai keinginan anda Pak... saya akan lakukan..." Hans berdiri dari kursinya dan menghampiri Ayah Nadin yang sedang berdiri di depannya.


Nadin yang mendengarnya pun hanya bisa terdiam sambil meneteskan air matanya tidak percaya apa yang dikatakan oleh ayahnya.


Apa maksudnya ini? Aku nggak bisa lagi ngasih keturunan buat Mas Hans? ini semua pasti bohong kan? itu semua nggak bener kan?!


Gumam Nadin sambil membekap mulutnya dengan tangannya berjalan mundur meninggalkan pintu ruangan Hans dengan keadaan masih syok.


***


"Apa itu yang ingin anda dengar Pak?! seharusnya disaat sekarang anda harus mendungkung putri anda bukan malah mendorong saya untuk menikah dengan wanita lain lagi dan meninggalkan putri anda..."


"Hans--"


"Hanya karena tidak bisa melahirkan dan mempunyai anak lagi, lalu dia nggak pantas jadi seorang istri? Hah... sungguh lucu sekali!"


"Jujur pertama kali saya menikah dengan putri anda saya memang tidak memiliki perasaan padanya, tapi selama kami mengarungi rumah tangga kami, putri anda mengubahnya... saya menyayangi putri anda, saya ingin melindunginya dari orang-orang yang ingin menyakitinya termasuk anda, Pak. Dan sekarang kami saling membutuhkan, dan dari awal saya menikah dengan putri anda, saya tidak pernah terbesit sedikit pun untuk meninggalkan atau menceraikan putri anda, Pak. Jadi.... jika anda kesini ingin memisahkan saya dengan Nadin maka anda hanya membuang sia-sia waktu berharga anda, Pak. Karena saya tidak akan meninggalkan Nadin." jelasnya dengan tegas.


Braaaakkk...


"Hans, kalian berantem apa lagi sampai Nadin lari sambil nangis kayak gitu?!" ucap Danniel yang diikuti oleh Rafael yang berjalan di belakangnya. Dan terkejut melihat ada Ayahnya Nadin dan Hans sedang berdiri berhadapan dengan tatapan sengit.


"Loh... Kalian--- jadi---" Hans mengerutkan kedua halisnya.


"Apa maksudmu Boss?!"


"Kita pikir lo sama Nadin berantem lagi soalnya kita liat tadi Nadin lari dari arah ruangan ini sambil nangis, kita panggil pun dia nggak denger!"


"Hans, jangan-jangan dia dengar pembicaraan kita tadi..." Hans yang mulai khawatir pun mengambil jas juga kunci mobilnya.


"Boss! saya---"


"Hmm... pergilah, jangan pikirkan disini! Lo harus temukan Nadin dengan selamat!"


"Kalau dalam tiga puluh menit saya tidak menemukannya, saya akan menelepon kalian."


Di dalam mobil Hans...


Nadin... please! jangan berpikiran yang aneh-aneh... Saya mohon... mana kondisi kamu belum pulih sepenuhnya lagi...


***


Braaakkk...


Nadin membuka ruangan Althea tanpa Ba Bi Bu juga tanpa permisi... Althea yang untungnya sedang meneliti berkas pun terkejut melihat pintu terbuka sedikit kasar dan menampilkan Nadin yang datang kearahnya sambil menangis.


"Loh, Nad. Kamu kenapa?" ucap Althea seketika menghentikan kerjaannya dan menghampiri Nadin.


"Kakak tau kebenaran tentang aku kan? dan Kenapa Kakak nggak bilang? Kenapa Kakak tega ngerahasiain semua dari aku?!" ucap Nadin mengusap air matanya yang terus saja menetes tanpa henti.


"Bentar-bentar maksud kamu apa sih, Nad?! Hey, could you calm down?!" ucap Althea menenangkan Nadin.


"Aku nggak bisa hamil lagi kan?Aku nggak bisa melahirkan lagi kan? Aku nggak bisa ngasih keturunan buat Mas Hans lagi kan?!" ucap Nadin histeris karena tangisannya. Althea pun terdiam kaget.


Sebenernya bukan salah Althea juga sih, kenapa Althea nggak memberitahu Nadin tentang masalah itu karena itu bukan ranahnya untuk memberitahu Nadin tentang kebenaran itu, dan Althea juga bingung bagaimana menjelaskan ini pada Nadin...


"Nad, bisakah kamu tenang sebentar, Hm?" ucap Althea sambil memegang pundak Nadin yang masih histeris.


"Apa Hans yang memberitahumu?" Nadin pun hanya menggeleng.


"Aku cuma denger saat Mas Hans dan Ayah sedang membahas masalah kehidupan Mas Hans kedepannya yang tidak bisa mendapatkan keturunan dari aku, bahkan Ayah kandungku sendiri menyuruh Mas Hans buat nyari istri baru yang bisa menghasilkan keturunan untuknya, Kak..."


"Apa? kenapa bisa?"


"Dan Kakak tau? Mas Hans sendiri menyetujui Ayah buat ninggalin aku... jadi untuk apa aku hidup lagi, Kak? Semua udah nggak ada harapan lagi buat aku... harapanku satu-satunya untuk mendapat keturunan Mas Hans udah nggak ada... aku bener-bener cacat Kak..." ucapnya


"Hey, Nad... kamu jangan ambil keaimpulan itu.. nggak mungkin Hans mau ninggalin kamu, sementara Hans sekarang lagi sayang-sayangnya sama kamu..." Nadin pun menggelengkan kepalanya masih meneteskan air mata.


"Itu semua pasti bohong Kak... buktinya aku denger sendiri kalo Mas Hans setuju mau ninggalin aku dan nyari wanita yang bisa memberikan keturunan untuk Mas Hans." Ucap Nadin sambil menangis. Lalu seketika Nadin pun terdiam berfikir dan berlalu dari hadapan Althea.


"Nad, kmu mau kemana? Jangan berpikiran-macam, Nad... Please!"


"Aku cuma mau mampir ke suatu tempat Kak..."


"Kemana? Paling nggak kasih tau saya, Nad..." Nadin pun hanya tersenyum ke arah Althea lalu pergi meninggalkan Althea.


"Shiittt!!" Althea bingung harus bagaimana? berkas yang dia teliti tadi harus segera di tanda tangan saat ini juga, tapi pikirannya tidak tenang karena Nadin, inginnya saat ini juga Althea mengejar Nadin. Lalu Althea pun mengambil Handphonenya menelpon Danniel.