
AUTHOR POV
Danniel, Hans dan Rafael pun masuk ke ruangan Danniel.
“Duduklah, Hans telpon Divisi keamanan minta video CCTV lorong ini dan depan ruangan Althea.,.” ucap Rafael pada Hans. Hans pun lalu mengangguk dan menelpon Divisi keamanan.
“Sebenernya ada apa El??” tanya Danniel penasaran.
Tak lama 2 orang security dengan cepat membawa salinan relaman CCTV yang diminta Rafael, lalu kedua security itu pun kembai lagi ke tempat mereka dan Danniel, Rafael, Hans pun melihat rekaman itu di laptop Danniel.
“sebenernya Althea tidak menjabarkan cerita sebenernya tapi kita bisa liat apa yang dilakukan Reqi tadi.”
“Reqi?” ucap Danniel kaget melihat Rafael begitu pula dengan Hans.
Dan mereka melihat dia datang ke depan meja Althea yang sedang membereskan kerjaannya. Tapi tiba-tiba Reqi berjalan kedalam ruangan Althea dan duduk di meja tepat di depan Althea. Danniel yang melihat adegan itu langsung mengepalkan tangannya dan mulai marah.
"brengsek!" ucap Danniel berang dia mukul meja didepannya. mereka melihat apa yang dilakukan Reqi tadi terhadap Althea.
Tak lama Althea menendang jimat Reqi dan berlari keluar dari ruangannya. Disana Reqi dengan kesal mengobrak-ngabrik meja Althea dan membuat ruangan Althea seperti kapal pecah.
“kurang ajar! Hans... Simpan rekaman ini! biar jadi bukti kuat untuk menjebloskannya ke penjara.”
“ok boss!”
“hey Niel... Kau harus berhati-hati, sekarang Reqi bukan hanya mengincarmu tapi Althea...”
“Tapi kenapa harus Althea?”
“Karena dia tau kalau kalian dekat dan mungkin Reqi berfikir kalau Althea adalah kelemahanmu!” Hans yang dari tadi cuma diam kini ikut berbicara, karena dia sudah memperhatikan gerak-gerik Reqi dan dia juga sadar bahwa bos nya sudah mulai menyukai Althea, dan otomatis Althea jadi kelemahan Danniel.
“hah... anj.... bang..!” makian dilontarkan oleh Danniel, tak lama Althea pun mengetuk pintu dan masuk ke dalam sambil membawa map.
“ini laporan mingguan seluruh Divisi, dan ini yang harus di tanda tangan pak!” ucap Althea dengan lugas. Danniel, Rafael dan Hans hanya terdiam melihat kearah Althea cemas.
“are you okay Al?” ucap Danniel melihat kearah Althea.
“i'am alright sir! It's okay”
“Maaf! Tadi saya marah-marah...”
“memang seharusnya anda marah karena saya lalai dalam bekerja pak!”
“Al...”
“kalau tidak ada keperluan lagi saya ada diluar pak! Permisi...” ucap Althea sedikit menunduk lalu keluar dari ruangannya. Danniel yang hendak menyusul Althea di cegah Rafael.
“Niel... Biarkan dia sendiri! Dia pasti butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri... Nanti kalau udah tenang lo bisa nemuin dia lagi!”
“El benar boss! Althea cewek yang kuat dia pasti baik-baik aja... sebentar lagi anda ada meeting pak!” Rafael melihat Hans lalu tersenyum.
“Baiklah.. kalian kerjalah, aku ke ruanganku dulu...” Rafael berdiri dan menepuk bahu Hans dan berlalu dari ruangan Danniel.
“Hans... kamu tau apa yang harus kamu lakukan kan? Biar saya meeting sendiri kau bereskan dia...”
“baik boss!”
Hari itu Althea pun bersikap profesional, dia menemani Danniel di setiap kegiatan, memang hari itu Danniel mempunyai kegiatan meeting beberapa kali dengan perusahaan yang berbeda ditambah meeting internal, meskipun ada kejadian tidak mengenakan untuk Althea tapi dia bisa menekan emosinya dan fokus pada kerjaannya. Danniel pun sesekali memperhatikan Althea.
“Ck.... Dia benar-benar menekan emosinya...” ucap Danniel dalam hati.
Pukul 19.00 sore...
Di ruangan Danniel yang masih fokus dengan kerjaannya terdiam saat telpon di hanphonenya.
"ya Hans... gimana?"
"maaf boz, Reqi kabur, saya sudah membuat laporan pada polisi beserta buktinya, sekarang polisi sudah menetapkan Reqi sebagai tersangka. saya juga sudah mengerahkan anak buah untuk mencari keberadaan Reqi..."
"Shhiitt!! Hans kau tau saya tidak bisa pergi meninggalkan Althea kalau Reqi masih berkeliaran"
"saya akan mengutus 2 pengawal pribadi untuk Althea.. kau tenang saja boz...."
"haaah... baiklah... saya percaya padamu Hans.. terima kasih..."
Tok..Tok....
saat Daniel menutup Handphonenya dia melihat pintu yang terbuka dan ternyata Althea masuk ke ruangannya.
"apa ada lagi yang bisa saya kerjakan pak? kalau nggak saya..." belum sempat Althea menyelesaikan bicaranya Danniel sudah memeluk Althea.
"Maaf..." Althea hanya terdiam bingung, dan akhirnya dia menghela napas berat lalu membalas pelukan Danniel erat. Tak lama Danniel pun melepaskan pelukan nya dan bersiap-siap untuk pulang.
"Kita pulang, biar saya antar kamu..."
"Pak, saya bawa mobil"
"Biar Hans yang bawa mobil kamu.. kamu lebih aman sama saya.." Althea pun hanya mengangguk.
***
23.00 malam...
di kamar Althea... Althea cuma bisa guling-guling nggak jelas, dia sedang membayangkan adegan dia dipeluk oleh Danniel.
"Why? 2 kali dia meluk gue... nenangin gue... aaakkhhh this is not normal, mau mikir positip juga... hellooo gue cuma bawahan loh, kok bisa-bisanya dia merhatiin gue sampai segitunya... Oohh God.. mana Shield gue.. gue butuh Shield biar gue nggak suka ama Big Bos... jangan sampe gue jatuh cinta ama diaaa..." gerutu Althea udah kayak orang gila.
**
ALTHEA POV
pukul 09.00 pagi...
Ddrrtyy drrrrrttt...
Handphone gue bunyi, gue yang masih bergumul dengan selimut akhirnya ngeluarin tangan dan nyari Handphone yang gue taro diatas nakas samping tempat tidur..
"mmmhhh.."
"kamu di Apartement?"
"mmhh..." gue heran dan buka selimut buat lihat siapa yang nelpon sepagi ini di hari libur gue. And... oh my god ngapain Boss nelpon gue nanyain gue ada di Apartement... nggak lama suara kunci password Apartement gue bunyi, gue buru-buru langsung keluar dari kamar dengan pakaian seadanya dan rambut masih acak-acakan. saat gue buka pintu... wolaahh...
"pak..." jawab gue kaget liat Danniel udah ada didepan mata gue dengan wajah dia yang udah fresh ganteng abis.
Danniel liat gue diem kaget mungkin ya liat gue dengan keadaan acak-acakan baru bangun tidur. nggak lama dia senyum sambil geleng-geleng trus jalan ke dapur. dan gue pun dengan tanpa dosa ikut ngintilin doi dari belakangnya, sampai saat dia berenti mendadak gue nambrak punggungnya.
"kamu ngapain ngikutin saya?"
"lah.. bapak ngapain pagi-pagi udah nongkrong disini.." gue balik nanya sambil ngeliatin muka BT karena nggak terima hari libur gue masih aja ketemu ama dia. dan dia nyentil kening gue.
"Aaakkhhh!!" gue ngeluh kesakitan sambil ngusap kening kesakitan gara-gara sentilan Big Boss.
"Nggak usah gerutu dalam hati... tenang, saya kesini cuma mau ngabisin waktu aja, saya nggak akan bahas soal kerjaan kok..."
"Jangan bilang bapak melarikan diri lagi..." gue asal nebak aja dan ternyata kayaknya bener tebakan gue buktinya dia malah nyengir kearah gue.
"Mandi sana, kita sarapan bareng..."
"Iiih rugi amat sih hari libur mandi pagi..." ucap gue nggak terima.
Emang biasanya gue kalo libur mandi cuma sekali dan itu pun pasti sore. Rugi aja gitu nggak kemana-mana mandi hihihi..
And finally akhirnya gue jabanin juga suruhan Big Boss.
Setelah mandi gue keluar kamar dan ngeliat meja makan gue udah penuh ama makanan yang dia beli saat diperjalanan ke Apartement gue...
"Udah jadi supir, dengerin curhatan, sekarang nyiapin sarapan..."
"Idiihh saya nggak minta loh ya... bapak sendiri yang tiba-tiba dateng kesini..." Ucap gue nyolot.
"Hah.. dasar, lu sekretaris tapi berani nyolot sama atasan ya..."
"Well dikantor memang atasan tapi diluar kantor kan temen.. bapak sendiri yang ngomong!"
"Kalo gitu jangan panggil saya bapak... emang saya tua banget ya?"
"hmmm.. Sadar pak.. umur bapak itu udah mau kepala 4 loh.."
"Heyyy... itu masih lama nona, 3 tahun lagi.."
"Ya..ya..ya.. dan saya juga masih 20'an pak.. beda kita jauh banget..." dia cemberut nggak terima dikatain tua.. hahaha
"Berenti bahas umur! makan sana.." Gue cuma senyum liat karakter Big Boss yang jauh dari waktu di kantor, menurut gue diluar kantor dia bisa lebih mengekspresikan emosinya, dia keliatan kayak anak kecil di umur yang udah tuanya.. hahaha
Setelah makan dia nonton film Thriller di ruang tv gue.. Udah kayak di rumah sendirinya aja nih Big Boss, tanpa rasa canggung dia kesana kemari dengan kegiatannya. Dan gue cuma duduk manis nikmatin film Thriller pilihanya.
"Al... kamu udah nggak apa-apa kan?" ya.. ternyata dia kayaknya masih khawatirin gue yang kemaren sempet hampir dilecehin oleh mantan partner nya Danniel.
"aku udah baikan berkat pelukan kamu Niel..." gue liat Danniel ternyata dia juga lagi ngeliatin gue. Dan gue juga jadi lebih santai manggil dia karena dia nggak mau dipanggil bapak jika diluar kantor. "Thanks ya.. kamu selalu ada disaat aku butuh dan selalu bisa nenangin aku..." Danniel diem lalu senyum dan ngacak-ngacak rambut gue.
"Anytime... Oia, Awas aja kalo ada tamu lo pake pakean kayak tadi..." Idiih dia mulai posesif emang siapa lo? Pake ngatur-ngatur gue? Pacar juga bukan.
"Lah.. kan kamu sendiri yang maen nyelonong masuk ke Apartement aku... Aku juga itu baru bangun tidur.. Lagian tamu yang dateng kesini cuma kamu doang..."
"Emang kamu nggak pernah disatronin keluarga ama temen-temen kamu?"
"Hahaha ya nggaklah... yang ke Apartement aku cuma pacar doang tapi itu duluuu.." Dan dia cuma ngangguk-ngangguk.
"Trus, emang niatnya kamu nggak bakalan bangun-bangun?"
"Ya nggaklah, aku pasti bangun tapi siangan. Rugi banget sih liburan bangun pagi, mana di suruh mandi lagi, biasanya aku mandi waktu libur itu cuma sekali doang dan itu pun sore..."
"Hah.. Gimana mau punya pacar baru, mana ada yang mau sama cewek macem kamu..."
"Ya... kalo dia cinta dan sayang sama aku dia pasti nerima'in aku apa adanya lah, mau aku jelek kek, bau kek... kalo dia nggak mau ya.. dia nggak cinta dan sayang sama apa adanya aku." lagi-lagi dia nyentil kening gue..
"aahh.. sakit tau.. hobby banget sih nyentil kening..." Sarkas gue udah kesel ama kelakuannya. Dia cuma senyum doang lalu kembali ke film.
"Al, Minggu besok saya udah pergi ke Singapore..." ucapnya mulai serius.
"Tau, kan aku yang ngurusin tiket ama Hotelnya..." Ucap gue masih lanjut nonton.
"Saya minta saat saya nggak ada kamu harus ekstra hati-hati kalo bisa ajak Rafael kemana-mana.. minta dia antar jemput kamu..." dia mulai khawatir lagi sama gue.
"Iiihh nggak ah, emang aku anak kecil apa?" Ucap gue sambil ketawa. Dia diem mulai serius liat kearah gue lagi.
"Al saya serius... Reqi kabur entah kemana.. Dan saya takut dia ngelakuin hal buruk lagi sama kamu..."
"Kenapa aku?"
"karena dia tau kamu deket sama saya, dan mengincar kelemahan saya..."
Deg...
Apa magsud dari omongannya nih???
"Tap..." shiitt siapa sih yang telpon disaat gue lagi dalam pembicaraan penting gini...
Gue liat layar Handphone gue yang ternyata Rizky. Dan akhirnya gue ngangkat telponnya.
"Iya ky kenapa?" gue liat Danniel yang lagi natap gue saat dia denger gue manggil panggilan Ky dan dia tau siapa yang nelpon gue.
"Oh iya, Ga tau.. tar liat dulu deh ya, gue akan usahain tapi nggak janji ya.. Emang siapa aja yang dateng? Ooohhh okay... sip2 bye.." gue nutup panggilannya.
Dan Danniel langsung rebahan dengan kepala nyender di paha gue.. dia pikir gue bantal apa..
"Iiihhh itu bantal ada kenapa nemplok dipaha aku sih..."
"Sebentar doang ah pelit amat sih..."
"Eh ini paha-paha aku ya, kalo kamu nemplok gini aku nggak bisa kemana-mana, aku juga nggak bisa ngapa-ngapain..."
"Ya udah diem aja nggak usah ngapa-ngapain minum di depan aja cemilan juga ada handphone kamu juga di atas meja... Biarin gue tidur nyaman ya..."
"Hah... Dasar! What ever you want boss..." Pasrah aja deh gue...
1 jam....2 jam...
Sampe film abis itu Big Boss blum bangun-bangun...
Karena gue pegel gue pun ngangkat kepala Big Boss pelan supaya dia nggak terganggu dan saat gue beranjak Bel Apartement gue bunyi dengan bising, berkali-kali kayak yang mau ke toilet aja.
Dan saat gue liat di monitor ternyata itu adalah Gracia.
Whaattt??? Ngapain dia kesini?