
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
“Oh iya, Rubina, perkenalkan, anak yang sedang aku gendong namanya Sheran, dia adalah putraku dengan Mas Sean."
Rubina hampir saja terbatuk dengan liurnya sendiri mendengar itu.
"Apa? Cih... Jangan bohong!" ujarnya kepada Sarah.
"Kamu bisa tanyakan itu sama Mas Sean secara langsung kalau memang kamu nggak percaya sama aku.”
"By? Apa bener yang dia katakan?" tanya Rubina namun Sean membungkam. "Kenapa diam aja By? Ayo jawab!"
"Saya bisa jelasin, Bina" Sean ingin mengatakan kalimat lebih panjang namun terpaksa dia berhenti tepat setelah Rubina mengangkat tangan memintanya untuk tidak melanjutkan. Sean menurut, kedua sisi bibirnya dirapatkan kembali.
"Kalo kayak gini respon kamu, itu artinya yang Sarah bilang barusan emang bener."
RUBINA sudah tidak tahu lagi harus berekspresi bagaimana. Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Padahal belum genap dua puluh empat jam saat perasaannya terbang dengan kata-kata manis dari Sean, dan sekarang Rubina harus meneguk perasaan getir dengan kenyataan Sean yang ternyata diam-diam sudah lebih dulu menikahi seorang perempuan. Bukan hanya menikahi sebelum Rubina. Namun ternyata Sean juga sudah memiliki anak dari hubungannya dengan perempuan bernama Sarah itu.
"Aku pikir kamu definisi suami idaman, tapi ternyata kamu nggak lebih dari seorang PK, By. Tapi dengan adanya kejadian ini, aku mau bilang makasih karena hari ini Tuhan nunjukin aku buat liatin siapa sebenarnya orang yang jadi suami aku itu. Hari ini Kamu udah buka topeng Sean. Ternyata aku nikah dengan orang yang salah." Berhenti memandangi suaminya yang bergeming, Rubina balik badan menghampiri Rara. Rara yang sama terkejutnya dengan kejadian ini masih membekap mulutnya tidak percaya.
"kita pulang, Ra" ajak Rubina.
"Tapi, Bi..." balas Rara melihat Rubina yang menggelemg ke arahnya, lalu Rara pun memberikan anggukan pelan-pelan.
"Tunggu bentar Bi. Biarin saya jelasin semuanya." Sean mencoba menahan Rubina namun gadis itu tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Sean. Sean berusaha untuk mengejar namun langkahnya dicegat oleh Rara.
"Minggir, Ra, Saya mau ngomong sama Bina."
Rara mendecakkan bibirnya, "Lo ini emang nggak tau malu ato bagaimana sih Sean?" mata Rara yang telah dilapisi oleh cairan bening menyorot wajah Sean. "Gue sebenarnya nggak mau ikut campur karena posisi gue di sini cuma seorang teman dan lo adalah suami Bina. Tapi menurut gue ini udah sangat kelewatan Sean. Bina udah berjuang lama buat dapetin perhatian lo, cintai lo, tapi pada akhirnya dia malah dapetin ini.” Rara geleng-geleng kepala lebih kepada gelengan tidak habis pikir. Tanpa menunggu sebuah kalimat pembelaan dari lawan bicaranya Rara ikut balik badan menyusul Rubina.
Sementara Rubina yang sedari tadi menahan tangisnya sudah tidak memiliki lagi kesanggupan untuk melakukan itu lebih lama. Tadi pun saat berinteraksi verbal dengan Sean sebenarnya Rubina sedang mati-matian menahan agar tangisnya tidak pecah. Rubina tidak sudi memperlihatkan air matanya di depan perempuan bernama Sarah itu.
"Mas?" panggil Sarah begitu Rara sudah berlari-lari kecil menghampiri Rubina.
"Puas kamu setelah mengacaukan semuanya?" maki Sean kepada perempuan yang merupakan istri sirinya. Binar di mata Sean tidak bisa berbohong.
Dia benar-benar pusing tujuh keliling. Sean kesal pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu semarah itu sih Mas? Dan ya, kamu baru saja memakiku di depan Sheran yang merupakan darah dagingmu sendiri."
Sean tidak bisa berkata-kata kalau Sarah sudah bawa-bawa Sheran.
"Entah kenapa aku merasa kalau mas Sean takut sekali kehilangan Rubina. Padahal kan katanya Mas Sean menikahnya tanpa dasar cinta sama sekali. Hmmm, kecuali kalau di tengah jalan perasaan Mas Sean ke dia berubah. Mas melibatkan perasaan yah dalam menjalani hubungan ini dengan Rubina?"
"Ya, saya melibatkan perasaan saya. Dan sekarang saya sedang ada di fase di mana saya sangat-sangat takut kehilangan dia!" tutur Sean. Sungguh, jawaban itu di luar prediksi Sarah. Tidak heran kenapa Sarah sampai memasang tampilan muka terkejut saat itu. "Ini kan jawaban yang kamu pengenin? Bener kata kamu, Sar, SAYA UDAH JATUH CINTA SAMA RUBINA," di akhir kalimatnya Sean memberikan penekanan tentang perasaannya ke Rubina.
"Kenapa bisa kayak gitu, Mas? Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama Rubina sementara ke aku nggak? Padahal aku lebih dulu ada di hidup kamu, daripada dia, Mas."
"Kata siapa? Saya bahkan sudah kenal Bina jauh-jauh hari sebelum saya ketemu sama kamu."
"Tetep aja, meski kenyataannya kayak gitu, tapi kan aku yang lebih dulu nikah sama kamu. Kenapa malah dia yang lebih dulu dapat hati kamu? Ingat Mas, aku adalah ibu dari anak kamu."
"Udahlah. Mendingan kita nggak usah lanjutin perdebatan ini. Siap-siaplah saya bakalan nganter kamu pulang ke kampung. Saya mau menyelesaikan masalah saya sama Bina."
"Kenapa aku harus balik ke kampung Mas? Padahal aku juga ingin loh sama kayak Bina, di mana dia bisa dikenal oleh seluruh anggota keluarga kamu. Ingat Mas, semakin hari usia anak kita kian bertambah. Kamu nggak kasihan sama darah daging kamu sendiri? Ayolah, Mas, akhiri saja hubungan kamu sama Bina dan kenalkan aku dan Sheran sama anggota keluarga kamu, aku yakin keluarga kami pasti bakalan nerima Sheran, apalagi cucu mereka itu laki-laki, biasanya kan cucu pertama harus laki-laki."
"Jangan ngaco Sar. Ingat perjanjian kita di awal kayak apa!" Sean mengingatkan kalau seandainya Sarah lupa soal perjanjian yang telah mereka sepakati di awal dia menikah secara siri. "Dari awal kita kan sepakat buat nyembunyiin hubungan ini sampai saya siap. Kenapa tiba-tiba sekarang kamu minta hak itu?"
****
Di sepanjang jalan menuju ke apartemen Rubina tidak mengatakan apa-apa namun air matanya mengalir dengan begitu deras. Rara yang mengerti dengan perasaan sahabatnya saat ini hanya terdiam membiarkannya menyender di bahunya. Sungguh, Rara seperti ingin meledak-ledak saat ini karena tingkah Sean yang menurutnya sangat tidak berperikemanusiaan. Yang membuat Rara heran kenapa Sean baru bilang sekarang kalau dia sudah menikah siri dengan seorang perempuan bernama Sarah?
Mungkin kalau dia bilang lebih dulu, Rubina pasti akan berpikir ulang untuk melanjutkan perjodohan itu. Tapi dengan mengatakannya di belakang seperti ini, Sean sama saja menyakiti Rubina lebih jauh. Rara benar-benar ikut hancur melihat sahabatnya diperlakukan seperti ini. Apalagi dia dan Syifa menjadi saksi bagaimana perjuangan Rubina selama ini dalam mengejar cintanya Sean, dan pada akhirnya Sean semakin menyakiti sahabatnya itu.
****
JAM telah menunjukkan pukul delapan malam saat Sean tiba di apartemen. Pria itu baru saja pulang mengantar Sarah dan buah hatinya kembali ke kampung.
Lelah?
Tentu saja Sean mengakuinya. Lelah fisik dan lelah batin yang dia rasakan saat ini.
Helaan napas Sean terdengar berat saat dia melangkahkan kakinya memasuki lift penghubung ke lantai apartemennya. Kebetulan, hanya dia sendiri di lift saat itu sehingga tidak ada yang akan menyaksikannya sedang mengacak rambutnya frustrasi sambil mendesah sebal. Untuk saat ini Sean berharap Rubina masih ada di apartemennya sehingga dia bisa meminta maaf secara tulus kepada gadis itu. Sean bahkan rela untuk bersujud di kaki Rubina agar gadis itu mau memaafkannya, ya... Walaupun kemungkinannya sangatlah kecil bagi Rubina untuk memaafkannya karena pada dasarnya Sean juga tahu kalau kesalahnnya sangatlah fatal.
Sean mengucap syukur saat membuka pintu apartemen dan masih menemukan sepatu yang sebelumnya dikenakan oleh Rubina masih tergeletak di lantai. Itu artinya Rubina masih ada di tempat. Sean tidak membuang waktu.
Dia langsung mengunjungi kamar. Dan ternyata dugaannya benar, Rubina sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
“Mau kamu apakan baju-bajumu? Kenapa dimasukkan ke dalam koper?"
"Aku mau pergi By. Aku mau balik ke rumah Papah," Rubina berusaha untuk tetap tegar di tengah kondisi kalut yang menyerangnya.
"Kenapa kamu mau ninggalin Saya?" tanya Sean. "Masalah ini bisa kita bicarakan dengan kepala dingin, Bi?"
Mendengus, Rubina berhenti memasukkan pakaiannya ke koper. Perempuan itu balik badan sehingga Sean menemukan kesan menyedihkan sedang tergambar di wajah Rubina.
Sean mundur beberapa langkah karena dia sangat terkejut.
Untuk pertama kalinya dia melihat gadis yang terkenal ceria dan penuh energi itu menampakkan raut muka seperti ini, dan sialnya lagi Sean adalah pelakunya.
"Apa kata kamu, By?bicara dengan kepala dingin?" Rubina mengelap dengan punggung tangan air matanya yang luruh lagi setelah dia melihat wajah suaminya. “Kamu sadar nggak sih sama tingkah kamu? Kamu beneran udah bohongin aku, By. Bohongin keluarga aku. Tapi makasih, kamu udah ngebuktiin kalo aku udah salah menaruh perasaan sama kamu. Dan juga dengan kejadian ini aku baru percaya kalo nggak ada manusia yang sempurna. Mungkin emang kamu good looking, tapi sangat disayangin karena kamu nggak punya yang namanya good attitude."
"Saya minta maaf, saya tahu kesalahan saya sangatlah fatal karena nggak cerita soal masa lalu saya ke kamu." Sean mencoba membujuk Rubina dengan mengambil tangannya, namun Rubina yang sudah telanjur kecewa segera menarik tangannya dari kurungan pria itu.
“Aku juga salah sih By, karena terlalu berharap sama kamu. Harusnya aku mengantisipasi dari awal kalo pria yang good looking kayak kamu nggak mungkin masih menjomblo."
"Saya mohon sama kamu Bi. Lupakan masalah ini! Maaf kalo saya terlambat buat mengakuinya, tapi jujur aja saya sayang banget sama kamu. Saya nggak mau kehilangan kamu Bi."
"Bullshit," Rubina menggunakan kekuatan tangannya untuk memberikan satu buah tamparan cukup keras di pipi milik Sean, "Kalo kamu cinta sama aku, kamu nggak bakalan ngelakuin ini ke aku, By. Tau gak sih By, nikah sama kamu sama aja kalo aku ini resmi jadi seorang pelakor. Secara nggak langsung aku udah ngerebut kamu dari perempuan bernama Sarah itu."
Sambil memegangi pipinya Sean berkata, "Kalo nampar saya bisa bikin kamu maafin saya maka silakan lakukan!" titah Sean. "Tampar saya sebanyak yang kamu mau Bi! Saya siap!"
"Percuma By. Hati aku udah hancur berkeping-keping. Ibarat gelas yang udah pecah meskipun disusun balik lagi juga tetep aja pasti bakalan ada bekasnya. Padahal aku udah setia loh By nungguin kamu. Bahkan nggak peduli berapa taun lamanya aku terus nunggu sampe kamu benar-benar punya perasaan lebih buat aku. Tapi kalo kayak gini, kesannya aku yang terlalu jahat karena merebut kamu dari Sarah. Sepertinya lebih baik aku mundur aja By. Aku nyerah."
"No... Nggak Bi...." Sean tidak melanjutkan ucapannya karena dia mendengar suara dering ponsel. Rubina menoleh ke nakas tempat dia meletakkan ponselnya. Sejurus kemudian dia mendekat ke nakas mengambil ponselnya.
"Ya, halo?" Rubina lebih dulu meletakkan ponselnya ke depan telinga saat mengucapkan kata itu.
Seseorang di seberang sana baru saja membagikan informasi yang secara kontan membuat Rubina melebarkan matanya tanda terkejut,
"APA? KOK BISA?" cecar Rubina dengan nada tinggi