I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 17



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Orang yang ada disana pun beranjak satu-satu meninggalkan ruangan tak lupa memberi hormat pada Tyo selaku Direktur Utama Rumah Sakit Henney. Dan saat Sean berjalan hendak meninggalkan ruangan...


“Sean... jangan lupa...” ucap Tyo pelan namun terdengar tegas. Sean pun terdiam menghentikan langkahnya.


“Baik Prof... kalau begitu saya permisi dulu!” jawabnya sambil memberi hormat untuk pergi dari ruangan sambil sedikit melirik ke arah Rubina yang masih tersenyum lebar saat Sean melewatinya.


“Hah... Lain kali jangan diulangi lagi ya sayang...” peringatnya perlahan.


“Iya, maaf!”


“Trus ada apa ke sini?”


“Itu.. Papah udah bilang sama Grandpa soal Bina yang nolak perjodohan Granpa belum?” kening Tyo mengerut.


“Belum, memangnya kamu mau menolaknya?”


“No... nggak... jangan Grandpa!,” ucap Rubina dengan intonasi suara meninggi. Tyo pun menautkan kedua halisnya heran. “Iya... maksudnya, Bina berubah pikiran."


"Itu artinya kamu setuju?" Tanya Tyo.


"Iya. Aku mau kok nerima perjodohan dari Grandpa!" jawab Rubina. Tyo sendiri memicingkan matanya mencurigai.


“Kamu udah tau siapa yang mau Grandpa jodohin sama kamu?!” Rubina mengangguk.


“Grandpa kok tau kalo aku suka sama dokter Sean?”


“Grandpa sadar pas waktu kamu kecelakaan, dan pas kamu ditangani oleh Dokter Sean... dari situ Grandpa tau kalau kamu suka sama dia... dan saat Grandpa selidiki dan tau kalau dia adalah cucu dari teman baik Grandpa, kami langsung sepakat untuk menjodohkan kalian.” Rubina pun hanya tersenyum kearah Tyo.


“Makasih ya Grandpa... aku sayang Grandpa!”


*****


Saat ini di rumah Danniel... Pukul delapan malam...


Tyo Henney, Althea, Danniel, Emerald dan Rubina sedang duduk di ruang tengah. Mereka sengaja berkumpul karena Tyo Henney yang meminta untuk membicarakan masalah perjodohan yang disetujui oleh Rubina.


“Loh... kok, kemaren kamu bukanya bilang nggak mau ya sayang? Papah baru aja mau bilang sama Grandpa loh.” Ucap Danniel heran, begitu juga dengan Althea dan Emerald dengan memasang mata memincing kearah Rubina.


"Kok aneh, ya?" celetuk Emerald masih dengan matanya yang memicing mencurigai.


"Hah? Aneh kenapa sih?" Tanya Rubina.


"Ya aneh aja. Soalnya kemaren lo keukeuh nolak tawaran itu. Tapi kok sekarang tetiba aja mau gitu dijodohin? Ayo ngaku! Ni pasti ada apa-apa!" duga Emerald namun kesannya sedang memaksa adiknya untuk mengakui apa yang menjadi dugaaannya.


"ck... Bukan urusan lo!" balas Rubina ketus.


“Tapi. Bi—” ucap Danniel ragu.


“Hah? Jadi tetangga baru kita itu...” Danniel melihat kearah Althea. Althea pun menganguk.


“Jujur, saya memang tau kalau tetangga kita itu calon besan yang mau dijodohin oleh Daddy, tapi saya baru tau kalau cowok yang dijodohin sama Bina adalah Cowok yang Bina suka itu, Niel!”


"Jadi semua clear ya?! Bina juga udah setuju untuk dijodohkan! Segera dalam waktu dekat Grandpa dan keluarga Sean akan segera membahas lebih lanjut tentang perjodohannya," ujar Tyo.


"But, Dad..."


"No, Niel... ini sudah keputusan Daddy sama Bina! No debat lagi!"


Tidak bisa dijelaskan lagi perasaan senang yang mendiami diri Rubina saat ini. Rubina senang bukan main karena semuanya berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tidak hanya dipertemukan setelah tujuh tahun, rupanya Rubina menerima surprise lain yaitu sebuah perjodohan, 'Apakah ini jawaban atas kesabaranku selama ini?' batin Rubina. Dalam rentan waktu selama tujuh tahun itu Rubina memang tidak pernah sekali pun melirik pria lain.


"Tapi Bi... sebelum itu, Papah mau nanya sekali lagi tentang keputusan kamu ini. Apa kamu benar-benar ingin melanjutkan perjodohan ini?"


"Iya, Pah," jawab Rubina dengan pemilihan kalimat yang cukup singkat.


“Pikirkan baik-baik keputusanmu ini!” seru Danniel.


Sejujurnya Danniel merasa tidak rela jika putri kesayangannya itu menikah. Awalnya dengan Rubina menolak perjodohan itu merupakan peluangnya untuk bicara pada sang Ayah untuk tidak ikut campur dengan menjodohkan anak-anaknya lagi. Tapi... saat Rubina tau kalau pria yang dijodohkannya itu adalah pria yang dikejar-kejar putrinya selama tujuh tau, apalagi Danniel tidak mengetahui siapa sosok pria tersebut merasa tidak rela.


“Pah, Papah kan tau kalo Bina ngejar Kak sean udah lama banget, meskipun Kak Sean belum cinta dan sayang sama Bina, Bina yakin lambat laun juga hatinya pasti luluh. Bina bakalan buat Kak Sean cinta mati sama Bina. Jadi Papah nggak usah khawatir ya, Bina bisa jaga diri Bina, Bina juga udah siap segala resiko berumah tangga sama Kak Sean...” balas Rubina sambil memperlihatkan wajah memelas pada Danniel. Danniel pun menghela napas.


“Kalau memang seperti itu, maka sekarang perasaan Grandpa jadi lega. Paling tidak kamu setuju dengan perjodohan ini tanpa unsur paksaan dari siapa pun. Kesungguhan dari hati kamu ya, Bi... dan kamu Niel, Daddy sudah mencari tau Sean sebelumnya dan tidak ada cacat sedikitpun, jadi kamu tidak usah mencari tau Sean lagi! Lagipula keluarganya juga Daddy sudah tau.. juga untukmu Eme! Meskipun kamu terlihat cuek dengan adikmu, tapi Grandpa tau dibelakang kamu menjaganya dan memperhatikan iya kan?!"


Emerald pun hanya terdiam menunduk sambil cemberut. Sementara Rubina tersenyum kearah Emerald.


“Cie... diem-diem sayang juga kan sama gue... makanya tunjukin, jangan Cuma dikatain adeknya!” cibir Rubina sambil tersenyum meledek.


********


Sean terlihat sangat menikmati ayam rica-rica buatan ibunya. Saking khidmatnya dengan makanan di depannya sampai tidak menyadari bahwa di depannya sang ibu sedang memperlihatkan senyum tipis-tipis.


"Sean soal perjodohan yang diatur sama Kakek kamu—" ucap Aditya terjeda. Sean pun menghentikan makannya dan menghela napas sambil memundurkan tubuhnya. Makannya sudah tidak bernafsu lagi ketika sang Ayah sudah memulai obrolan tentang perjodohan.


"Hah... Jujur aku pikir waktu kalian ngobrolin itu Cuma bercanda, tapi saat Profesor Tyo-- i mean kakeknya Rubina bicara sama aku, aku baru sadar ternyata apa yang kalian obrolin dulu itu serius, dan aku baru tau siapa yang akan dijodohin sama aku...”


“Cantik kan? Kan tadi pagi udah ketemu sama kamu!” sindir sang ibu sambil senyum-senyum.


“Kamu jangan cari-cari alasan lagi buat nolak ya, Sean!” Aditya menimpali ucapan putranya. “Ayah sama Ibu kamu juga dijodohkan. Awalnya kami juga tidak memiliki perasaan lebih satu sama lain. Bahkan saat Ayah melakukan ijab kabul di depan khalayak sebenarnya Ayah belum menaruh perasaan lebih ke ibumu. Tapi seiring berjalannya waktu kami berdua akhirnya saling memiliki perasaan itu. Dan kelahiran kalian adalah bukti cinta kami berdua.”


“Iya, tau! Aku juga udah ga bisa nolak, orang Kakeknya udah ngomong dan wanti-wanti aku supaya jagain cucunya! Bisa apa aku kalau Direktur Utama temlat aku kerja udah nurunin Titahnya” ucap Sean sambil menghela napas.


“Dalam waktu dekat Kakek kamu juga kami akan membicarakan kelanjutan perjodohan kamu ini dengan orangtuanya Rubina." Sean pun hanya terdiam membayangkan pertemuannya dengan Rubina.


“Aku emang nggak pernah menampik kenyataan bahwa dia emang cantik. Tapi dia tuh punya sifat menyebalkan Yah. Untuk ukuran manusia dia itu punya kadar menyebalkan di atas rata-rata. Tiap kali aku ada di dekatnya bawaannya emosi mulu.”


“Baguslah kalau dia punya sifat yang berlawanan sama kamu. Supaya bisa mengimbangi sifat kamu yang dingin kayak kulkas dua pintu itu.”