
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
RUBINA terlihat menampilkan keraguan saat sepasang bola matanya menjamah gaun seksi yang ada di tangannya kepada Rara. Saat ini mereka berdua sedang di mall untuk mempersiapkan sesuatu sebelum akhirnya Rubina melancarkan ide yang dicetuskan oleh Rara sewaktu masih di kafe tadi.
Sekarang hanya ada Rubina dan Rara yang lanjut ke mall seteleh pertemuan mereka di kafe tadi. Syifa sendiri tidak bisa ikut dan berpartisipasi dengan alibi masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Kenapa Bi?" Rara menanyakan itu bukan tanpa alasan. Sedetik yang lalu dia melihat Rubina seperti menyimpan keraguan. Meski tidak terlalu jelas namun Rara bisa membaca keraguan itu. "Lo nggak suka sama gaun yang ada di tangan lo saat ini? Kalo begitu cari yang lain. Aku juga bakalan bantu lo nyari."
Rubina mengembuskan napasnya. "Ini bukan tentang masalah gaunnya, Ra."
"Lah... kalo bukan masalah gaunnya, trus apa yang bikin lo kayak kurang semangat?" tanya Rara menyertakan tatapan meredup.
"Gue masih kepikiran. Apa ini langkah yang tepat buat gue lakuin?"
"Kenapa lo tiba-tiba jadi ragu gini sih, Bi? Kan waktu kita masih di kafe tadi kita udah sepakat."
"Gue takut dosa Ra," jawab Rubina kelewat polos.
"Maksud lo, Takut dosa gimana dih Bi?" Rara semakin bingung saja mendengar respon Rubina.
"Iya, Ra. Gue takut dosa kalo misalnya gue pake baju yang seksi-seksi kayak gini di depan Sean," di detik yang sama setelah Rubina mengucapkan kalimat itu, dia langsung mengerut bingung karena sahabatnya sedang tertawa terbahak-bahak. Karena itu Rubina jadi bingung mencaritahu alasan kenapa Rara tertawa. "Ra, lo nggak kesambet hantu penunggu mall kan? Perasaan nggak ada yang lucu tapi lo malah ketawa kayak gitu."
"Lo tuh lucu banget sih, Bi," gemas Rara. Ada gelengan kepala yang dipersembahkan gadis itu mengikuti kalimatnya, “Dosanya dari mana coba? Jangankan pake baju seksi di depan Sean, bahkan dengan lo berdiri di hadapannya tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh lo pun bakalan sah-sah aja. Dia kan suami lo. Mengenyampingkan tentang hubungan kalian yang dibatasi oleh sekat, nggak akan merubah fakta kalo status kalian sah di mata agama dan Negara."
Rubina menepuk dahinya pelan-pelan usai mendengar penjelasan secara runtut dari Rara. "Eh... Iya juga ya, kok gue sebego itu ya mikirnya."
"Udah... Udah, sekarang kita fokus aja nyari baju haramnya." Rara menyusuri berbagai jenis pakaian seksi dengan warna berbeda. Cukup lama dia mencari sampai akhirnya mata Rara tertuju kepada salah satu pakaian yang cukup mencolok. Dia mengambil dan mendekatkan pakaian tersebut ke depan wajahnya. "Bi!" panggilnya.
Rubina yang sibuk mencari pakaian pun akhirnya menoleh dan segera mendekati Rara.
"Kenapa Ra?"
"Menurut gue ini cocok banget buat lo pake," Rara menyerahkan benda di tangannya ke arah Rubina.
"Bukan cuma model bajunya yang sangat-sangat seksi, tapi warna merahnya juga mencolok. Gue yakin sih siapa aja cowik yang liat lo pake baju itu, niscaya cowok itu bakalan jatuh cinta sama lo. Bahkan Sean nantinya bakalan klepek-klepek sama lo.”
***
TING!
Sean keluar dari lift dengan muka yang begitu sarat akan rasa lelah. Sambil melangkahkan kakinya menapaki lorong tempat apartemennya berada, dia juga memperhatikan jam yang melingkar di tangannya, dia menemukan jarum pendek telah menunjuk angka sembilan. Karena ada rapat dengan para SMF di Rumah Sakit juga praktek di kliniknya sehingga Sean sampai telat kembali ke apartemen.
'Bina lagi ngomong sama siapa?' alis tebal milik Sean terlihat berkedut. Tangannya masih mengudara, urung menekan sandi pintu apartemen saat tidak sengaja dia mendengar interaksi verbal di dalam. Roman-romannya Rubina seperti sedang membawa seseorang ke apartemen.
Sean yang rasa penasarannya sudah di ujung tanduk akhirnya memasukkan enam digit sandi apartemennya.
Klik!
Pintu terbuka.
"Apa kata kamu barusan? Ayah?" Sean masih bergeming di ambang pintu.
"Iya, By, mulai sekarang aku bakalan nganggep Lion sebagai anak kita. Anggap aja latihan sebelum nantinya kita punya anak beneran. Gimana menurut kamu?"
"Tapi kenapa harus manggil saya dengan sebutan ayah?" ujar Sean terdengar menuntut.
"Iya kan kamu suami aku, By. Emangnya kamu mau aku panggil dengan sebutan Mbak? atau Tante?"
"Bukan gitu maksud saya. Tapi kenapa harus manggil saya dengan sebutan ayah padahal kan kita belum punya anak."
"Iya maka dari itu anggap saja Lion anak kita. Kan kamu pasti nggak mau kalo aku ajakin buat bikin anak beneran."
"Kenapa Lion bisa ada di apartemen?" Dean mengalihkan topik pembicaraan. "Siapa yang bawa dia kesini?” Sean menambah jumlah pertanyaannya.
"Pas aku pulang dari mall sama Rara aku mampir dulu ke rumah Ibu buat jemput Lion."
"Mall?" ulang Sean. Karena satu kata itu akhirnya Sean mengerutkan keningnya lebih dalam dari yang sebelumnya.
"Iya By," jawab Rubina sambil menganggukkan kepalanya.
“Loh bukannya tadi siang kamu ngirim pesan ke saya katanya kamu lagi di kafe sama temen-temen kamu. Atau... kamu bohong soal kamu ke kafe ya?"
"Aku enggak bohong kok, By. Emang bener kalo awalnya aku sama temen-temen aku emang ke kafe. Tapi setelah itu aku sama Rara mutusin buat mampir dulu ke mall buat beli...." Rubina hampir kelepasan soal dia yang mampir ke mall bareng Rara karena dia membeli sebuah lingerie.
"Beli apa?" kadar penasaran yang dirasakan oleh Sean semakin bertambah disaat Rubina memilih untuk membungkam alih-alih memberikan penjelasan secara runtut.
"Adalah pokoknya, kamu nggak perlu tahu."
"Beli apa?" ulang Sean. Sungguh dia sangat penasaran.
Suasana mendadak jadi sunyi karena Sean terus memperhatikan Rubina sementara Rubina masih saja membungkam merapatkan kedua sisi bibirnya. Rubina diam-diam memikirkan alasan yang harus dia sampaikan pada Sean.
Kruk... Kruk...
Suara itu asalnya dari perut Sean. Sean yang memang sangat lapar cuma bisa nyengir kaku di hadapan Rubina.
'Syukurlah suara perut Mas Alvin sekiranya bisa menyelamatkanku dari situasi canggung ini,' Rubina mengucap syukur dalam hati. Setidaknya dia tidak perlu menjelaskan sekarang soal lingerie itu.
"Kayaknya kamu udah kelaperan banget sampe perut kamu koar-koar minta makan. Ayo kita ke meja makan," ajak Rubina. Tentu aja dia bertindak cepat memanfaatkan situasi itu sebelum akhirnya Sean kembali ingat soal pertanyaanya tadi.
"Emangnya ada makanan di meja makan?" bingung Sean karena setahu Sean istrinya itu tidak pandai masak sama sekali.
"Kamu nggak usah banyak nanya. Ikut aku aja!" Rubina balik badan dan memperhatikan Lion yang masih anteng dalam gendongannya. "Sorry ya Sayang. Ibu harus masukin kamu ke kandang dulu, soalnya ibu mau nyiapin makanan buat ayah kamu. Kasian ayah kamu kelaperan abis kerja lembur kayak kuda. Mainnya nanti aja ya, Nak!" Rubina berjalan menuju kandang memasukkan Lion ke sana.
Sean berdecak dan geleng-geleng kepala tentu saja karena melihat gelagat istrinya yang semakin hari semakin aneh.
'Dia kayaknya udah kehilangan kewarasannya. Bisa-bisanya dia memperlakukan Lion kayak anaknya sendiri.' Sean mengatakannya dalam hati. Lebih tepatnya cari aman karena dia tidak sedang ingin berdebat.