
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
“CK! Kasian banget! Padahal masih muda... Kalo dijadiin sinetron azab mungkin judulnya "karena banyak dosa sama abangnya sendiri malah ketabrak odong-odong!"
Emerald seorang pria yang paling sering adu verbal dengan Rubina baru saja muncul. Kehadirannya menghadirkan aura negative. Bahkan Rubina yang sedang rebahan di kasur pun telah memberikan tatapan mata yang tajam kepada saudara laknatnya itu.
“Udah pernah lihat bantal terbang gak Bang?" sarkas Rubina yang sudah mencengkeram bantal guling di sebelahnya dan sudah bersiap untuk mengarahkannya kepada kakaknya yang banyak bacot! Emerald ingin menggoda adiknya lebih lanjut namun perhatiannya teralih kepada kaos yang dikenakan oleh adiknya kala itu. Sepertinya Emerald sangat familiar dengan benda itu. Mencoba memutar otak mengingat-ingat,
"Ah sialan, kaos itu punya abang kan, de?" tuntut Emerald dengan matanya yang sudah melebar sempurna.
"Emang iya trus kenapa? Masalah?” sengit Rubina. Walaupun dia sedang dalam keadaan sakit bukan berarti dia tidak bisa memperlihatkan kesan yang menantang kakaknya.
“Masalah lah! Aku aja belum pake tuh kaos, Bi! Pas kamu ambil, kaosnya masih ada plastiknya kan?”
“Iya.”
“Ya Allah,” Emerald mengaduh. Bisa dilihat dari intonasi suara serta dari gelagat Emerald yang menggunakan tangannya menjambak rambutnya sendiri, lalu di detik selanjutnya tangan yang sama digunakannya lagi sebagai alat untuk menyapu wajahnya.
"Kenapa sih punya adek gini amat! Untung kamu adek kandung abang, coba kalau bukan. Kamu udah abang jadiin umpan untuk ikan hiu di samudra atlantik."
"Gini doang kok marah-marah. Sebagai saudara tuh gak boleh pelit-pelit. Barang-barang kamu adalah barang-barang aku juga. Begitu pun sebaliknya kamu juga boleh kok pakai barang punya aku."
"Dengerin yah Rubina Henney Wiriawan. Abang enggak pernah pakai barang-barang punya kamu yah. Yang ada kamu tuh yang sering pakai barang-barang punya abang. Hoodie, celana jeans, kaos-kaos juga sering kamu pake. Bahkan sekarang kaos kesayangan abang yang masih diplastikin kamu embat juga."
"Kan abang udah ada kerja jadi udah bisa beli pakaian sendiri, sementara aku kan masih kuliah jadi belum bisa beli pakaian. Tapi aku gak pernah loh, Bang, ngelarang kamu buat mengenakan pakaian punya aku. Kalau Abang mau silakan dipake saja, aku gak keberatan kok. Pilih mana suka, Abang mau rok mini kah, atau mau rok yang mengembang juga ada, atau mungkin mau pakai baju crop top?!" Emerald mengedikkan bahunya, lalu berucap,
"Sinting!" Emerald mungkin terlalu emosi sehingga dia langsung pergi meninggalkan kamar adiknya, menuju kekamarnya sendiri. Tak lupa Emerald menutup pintu kamar adiknya. Menit selanjutnya pintu kamar Rubina kembali terbuka. Awalnya Rubina mengira Emerald yang kembali. Ternyata dugaannya salah. Orang yang baru saja datang adalah Syifa dan Rara. Mereka berdua adalah sahabat Rubina orang yang hendak dia temui di kafe saat kejadian naas tadi pagi pagi menimpanya.
"Lo masih idup kan Bi?" padahal mereka berdua baru datang dan seperti biasa kehadiran mereka sudah membuat riuh suasana kamar Rubina. Syifa adalah orang yang baru saja memberikan pertanyaan seperti itu kepada Rubina.
"Kok bisa ketabrak mobil sih ?" tanya Rara.
"Soalnya kan gue buru-buru. Ya... Mungkin karma juga sih karena gue bolos kuliah.”
“Makanya kalo disuruh kuliah tuh ,jangan bolos,” sambung Syifa yang sudah mengubah posisinya jadi terduduk ditepian ranjang. ”Bebal sih Lo kalo dibilangin.”
Rubina memang baru berkuliah setelah dua tahun gap year. Sebenarnya tidak ada alasan khusus, dia memutuskan untuk tidak langsung kuliah saat tamat SMA karena malas dengan yang namanya mengerjakan tugas. Dan sekarang dia kuliah di jurusan arsitek, tidak ada alasan dia memilih jurusan itu. Karena jujur saja dia benar-benar bingung menentukan pilihan untuk masa depannya. Ya.. sebenernya sih dia nggak kerja pun ga masalah toh kedua orang tuanya kaya raya, punya perusahaan yang berbeda kakeknya punya rumah sakit Henney, Om nya juga memiliki hotel ternama jadi tidak usah susah-susah untuk cari pekerjaan buat Bina, tinggal minta kerja juga dia pasti akan masuk.
Ibunya saja sudah kewalahan dengan tingkah putri sati-satunya itu.
"Terus apa kata dokter?" penasaran Rara.
"Ah iya gue lupa. Untung lo bahas masalah dokter. Gue yakin kalian berdua pasti akan kaget dengan informasi yang bakalan gue sampaikan." ujar Rubina.
"Ada apa?" kompak Rara dan Syifa.
"Setelah tujuh tahun lamanya akhinya gue ketemu sama Sean," Rubina membagikan kabar baik itu kepada kedua rekannya. Setidaknya mereka berdua juga harus tahu soal itu karena mereka berdua adalah saksi bahwa Rubina sangat mengagumi pria itu sejak jaman masih SMA.
"Maksud lo, si penolong kecelakaan dan si kakak Coas itu??? si pria keturunan turki yang bikin kamu tergila-gila saat kita masih SMA?" Syifa bertanya. Mendapat anggukan keyakinan dari Rubina.
"Dia adalah dokter yang menyembuhkan luka gue!" aku Rubina. "Asal kalian tahu, dia makin tampan aja dan makin buat jantung gue deg-degan."
"Gila yah! Tujuh tahun loh kita cari informasi tentang dia tapi gak dapat-dapat. Untuk ukuran manusia dia itu terlalu tertutup. Syifa aja yang ahli dalam urusan men-stalker sampai nyerah dan melambaikan tangan ke kamera kalau disuruh nyari informasi akun sosial medianya si Sean."
"Emang dia masih kenal sama lo?" tanya Rara. Rubina mengedikkan bahunya tidak yakin.
"Kalau itu sih gue kurang tahu ya, tapi yang jelas gue bakalan ketemu sama dia lagi besok. Soalnya besok jadwal gue ganti perban di poliklinik rumah sakit Grandpa. Semoga aja dilancarkan sampai ke pelaminan. Gue janji, gue bakalan buat dia jatuh cinta sama gue!"
"Sadar! Lo tuh bener-bener ambisius tau nggak?!" Rara mengudarakan jempol.
"Tau, padahal banyak banget loh Bi, cowok yang ngejar-ngejar lo, tapi dari sekian banyak orang kenapa lo terus aja mikirin si snowman itu sih?"
"Jawaban gue masih sama sampai sekarang. Alasan kenapa gue masih ngejar cintanya kak Sean, karena dia adalah orang pertama yang membuat jantung gue deg-degan apalagi momen pas gue liat dia nyelametin korban kecelakaan itu. Gue nggak bisa lupain kejadian itu maupun dia. Trus yang terpenting dia adalah malaikat penolong yang Allah kirim buat gue yang buat gue yakin kalo gue cintai sama dia.”