I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 94



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"EH, KAMU, BY!" Rubina kemudian menyengir.


"Gimana rasanya dianterin pulang sama cowok yang mengejar-ngejar cinta kamu sejak SMA?" berhubung Rubina tidak langsung menjawab pertanyaannya sehingga Sean langsung mengembalikan pertanyaan yang sama seperti yang sudah dia ajukan sebelumnya.


"Biasa aja."


"Yakin biasa aja? Kamu nggak ngerasa bahagia? Dia kan orang yang ngejar-ngejar cinta kamu pas masih SMA dulu."


Sebelum akhirnya Rubina memberikan jawaban lebih dulu dia menghela napasnya singkat, “Kan dia yang tertarik sama aku. Dia juga yang ngejar-ngejar cinta aku. Sementara perasaan aku ke dia nol alias nggak ada. Makanya aku jawab biasa saja pas kamu tanya soal perasaan aku dianterin pulang sama Agam."


“Hmmm... Gitu ya...” ucapnya disertai oleh gerakan kepala manggut-manggut.


"Tapi kenapa kamu nanya soal itu? Biasanya juga selalu cuek kan mau aku pergi sama siapa aja. Kenapa tiba-tiba kamu peduli soal itu?" bukan penasaran lagi. Lebih dari itu Rubina sangat-sangat penasaran dengan tingkah aneh suaminya. Setidaknya dua hari terakhir Rubina melihat ada perubahan drastis yang terjadi pada diri suaminya. Rubina menilai bahwa tingkah suaminya sangatlah aneh.


"Bukannya peduli sama kamu. Saya cuma iseng aja nanya. Oh ya, trus pas berangkat ke acara reunian tadi kamu berangkat sama siapa? Sama si bereng... maksud saya sama si Agam juga?" Sean bertanya dengan pandangan meredup. Untungnya dia belum sempat menyempurnakan kalimatnya yang hendak menyematkan gelar berengsek pada Agam.


"Waktu berangkat aku sama Rara. Dia yang jemput ke apartemen."


"Terus pas pulang dari sana kenapa nggak barengan sama Rara lagi? Kenapa harus sama Agam?" cecar Sean lewat dua buah pertanyaan. Ada emosi yang Sean luapkan saat pertanyaan itu dia sampaikan. Sayangnya dia sengaja melembutkan suaranya agar kesan emosi itu tidak dirasakan oleh Rubina.


"Kamu bicara seolah-olah aku dilarang buat pulang barengan sama Agam aja. Kamu sebenci itu yah sama Agam? Kok sampai emosi begitu cuma karena aku dianterin pulang sama Agam?" mata Rubina seketika menyipit memperhatikan lawan bicaranya. "Atau kamu sebenarnya...”


"Atau apa?" potong Sean.


"Atau kamu jeolous soalnya aku pulang bareng Agam?" tuduh Rubina. Bukan asal menuduh. Rubina sampai berasumsi seperti itu karena menilai bagaimana respon suaminya hanya karena dia pulang dianterin sama Agam.


“Kalo emang itu pengaruh jeolous maka terus terang aja aku ngerasa seneng banget. Itu artinya secara perlahan kamu udah punya perasaan lebih buat aku."


"I'm not..." entahlah. Sean juga tidak mengerti dengan dirinya yang tiba-tiba kehilangan keberanian untuk melanjutkan ucapannya. Sean serasa berat untuk menyempurnakan kalimatnya tentang ketidak cemburuannya lantaran dia menyimpan ketakutan untuk merenggut senyuman yang sedang terpatri di wajah sang istri.


"Nggak penting juga buat ngebahas ini. Mendingan saya kembali ke dalem," Sean mengatakannya. Sejurus kemudian dia telah balik badan disusul oleh langkah cepat.


Rubina tidak tinggal diam. Dia ikut mengambil langkah menyamai posisi suaminya. "By, kok tiba-tiba keluar apartemen?" tanya Rubin.


"Pengin nyari angin segar," Sean memberikan alasan.


"Emangnya AC di apartemen lagi rusak ya?"


"AC berfungsi dengan baik kok, saya cuma pengen nyari angin segar aja makanya keluar."


"Kalo angin seger mah di balkon juga bisa dapet By. Nggak perlu sampe keluar gedung segala. Kecuali kalo tujuan kamu bukan buat nyari segar, melainkan nungguin aku pulang."


Ada bunyi decakan yang diperdengarkan oleh Sean,


"Padahal udah cukup lama kita nikah dan sifat ke PD an kamu masih sama kayak dulu. Nggak ada yang berubah meski itu secuil aja. Bahkan menurut saya sifat ke PD an kamu itu makin ningkat. Juara!"


Sean yang lebih dulu masuk ke lift, Rubina mengekor kemudian. Karena di lift hanya ada mereka berdua sehingga Sean kembali membahas masalah yang tadi.


"Kamu belum jawab pertanyaan saya.”


"Pertanyaan yang mana By, yang belum aku jawab?"


"Soal kamu yang milih buat pulang bareng sama Agam ketimbang temen cabe-cabean kamu itu."


"By," tegur Rubina. "Harus berapa kali sih aku bilangin kalau geng aku bukan cabe-cabean."


“Kan emang begitu."


"CHILI Mas, bukan cabe."


"Sama aja."


"Beda By."


"Ya terseralah apa sebutannya. Lagian bukan hal yang penting juga. Mau namanya cabe kek, chili kek, sambal balado kek, yang sekarang mau saya tau kenapa kamu milih pulang bareng sama Agam. Kenapa nggak sama Syifa atau sama Rara aja?"


Ting!


Lift terbuka seketika menjeda kembali percakapan. Tapi Sean tidak menyerah, begitu dia dan Rubina sudah keluar dari lift segera dia menuntut agar Rubina menjawab pertanyaannya dengan berkata, "Jawab pertanyaan saya, Bina!"


Rubina terpaksa menghentikan langkahnya lantaran dia harus menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.


"Kok kedengerannya kamu sangat terobsesi sama Agam ya. Oke aku bakalan jawab pertanyannya. Alasan kenapa aku enggak pulang sama Rara dan Syifa karena rumah mereka dan lokasi apartemen ini nggak searah. Kasian juga sama mereka kalo sampe nganterin aku pulang dulu."


"Kenapa nggak ngehubungin saya aja buat dateng jemput kamu?” Sean bertanya dengan posisi kedua tangannya berada di pinggang.


Rubina meneguk salivanya kasar sebelum memberikan jawaban.


"Emangnya kalo pas saat itu aku nelpon kamu, kamu bakalan datang?”


"Ya pastilah. Dari pada kamu pulangnya sama cowok laen kayak tadi."


"Aneh. Biasanya kamu nggak mau tau urusan aku. Kayaknya emang bener deh kalau kamu lagi cemburu sama Agam. Hayo ngaku," paksa Rubina.


"Jangan ngalihin topik pembicaraan. Selain pulang sama Agam kamu bisa pulang pallke taksi online. Kenapa nggak melakukan itu?"


"Hape aku lobet By."


"Bohong."


"Astaga By. Kamu ini nggak percayaan amat sih jadi orang. Aku serius. Hape aku lobet jadi aku nggak bisa mesen taksi online. Untungnya juga masih ada Agam. Coba kalo nggak, pasti sekarang aku masih di pinggir jalan nungguin taksi kayak orang bego. Trus juga kenapa kamu marah-marah karena masalah itu?"


"Tuh, bibir kamu yang ngerucut jadi bukti kalo kamu marah, trus dari tadi kamu liatin aku juga tajem banget. Kalo kamu terus-terusan bertingkah kayak gitu cuma karena aku pulang sama Agam, jadi jangan salahin aku kalo aku sampe mikir kalo kamu cemburu sama Agam."


"Aku nggak cemburu ya!"


"Mulut kamu mungkin bisa bilang gitu tapi bahasa tubuh sama reaksi kamu ngerespon sebaliknya. Aku anggap kalo kamu lagi cemburu."


***


RUBINA melangkah dengan tidak bersemangat menghampiri apartemen. Hari ini cukup melelahkan. Setelah belajar masak dengan Marisa sampai jam dua belas siang, Rubina melanjutkan jadwal kuliah siangnya. Melelahkan? Bukan lagi, dari pada mengikuti kuliah yang dianggapnya membosankan, dia lebih memilih untuk belajar masak saja seharian dengan ibu mertuanya. Paling tidak Rubina sudah tidak sabar ingin jadi perempuan yang handal dalam urusan masak supaya Rubina bisa memasakkan makanan enak untuk Sean.


"Assalamu alaikum,” salamnya saat berhasil masuk ke apartemen. Tidak ada jawaban. Yang Rubina dengar hanya sebuah suara gaduh yang berasal dari dapur. Baru juga di tengah jalan menuju dapur dan Rubina sudah mendapatkan aroma tumisan yang menusuk indra penciumannya.


“Lagi masak apa By?" pertanyaan disampaikan oleh Rubina saat dia duduk di kursi meja makan.


Sean menjeda aktivitas yang digelutinya. Dia membawa perhatiannya kepada Rubina yang tampak lelah. "Tumben kamu kayak nggak ada semangat. Biasanya juga heboh. Ada apa?"


"Capek aja By, abis dari kampus."


Sean menilik mencaritahu. "Ck... nyari ilmu kok cape."


"Tahu gak sih By, di kelas tadi tuh aku ngantuk parah banget pas dengerin dosen. Sialnya lagi baru masuk kuliah tadi siang dan udah dapat tugas aja. Kata dosennya harus dikumpul besok siang lagi. Gila gak tuh?"


"Biasa aja."


"Buat kamu mah udah pasti biasa aja. Beda sama aku By, yang otaknya pas-pasan. Tapi untungnya sih tugasnya dikerjakan berdua. Jadi bebannya nggak aku tanggung sendiri. Oh iya By. Boleh nggak kalo malam ini aku nginep di rumah temen aku buat ngerjain tugasnya. Soalnya deadlinenya besok siang. Takutnya kalo dikerjain besok waktunya malah nggak cukup."


"Nggak masalah sih, yang penting kamu nginepnya di rumah teman kamu yang cewek."


"Ya iyalah By, ya kali aku nginep di rumah temen cowok. Lagian aku nginepnya di rumah Caca aja kok."


"Caca?" ulang Sean. Entahlah, di detik awal Sean merasa kalau nama itu tidak asing.


"Iya By. Aku kebetulan sekelompok sama dia, jadi malam ini aku berencana buat nginep di rumah dia."


"Wait a minute," Sean menatap dengan serius istrinya, "Caca bukannya adeknya Agam ya?"


"Iya, By. Dia adeknya Agam ." Rubina menjawab.


"Kalo gitu saya nggak bakalan ngijinin kamu buat nginep di rumahnya Caca!" tegas Sean tidak mau tahu.


Pokoknya Sean tidak akan membiarkan Rubina untuk menginap di rumah Caca. Sean sudah cukup resah hanya karena Rubina dianterin balik sama Agam semalam. Dan dia tidak ingin memberikan kesempatan Agam untuk bisa bersama dengan Rubina.


"KOK GITU SIH MAS?" Rubina mengajukan protes sambil memelas ketika tiba-tiba saja Sean melarangnya untuk nginep di rumah Caca. Padahal sebelumnya Sean sudah bilang terserah' yang tentu saja dapat diartikan bahwa Sean menyetujui permintaannya. Tapi belum genap sejam setelah itu Sean lantas menegaskan kalau dirinya tidak akan memberikan ijin untuknya pergi.


"Pokoknya saya nggak bakalan ngasih kamu ijin buat nginep di rumahnya Caca apapun alasannya."


"Tapi By, aku kan mau mengerjakan tugas buat dikumpul besok siang."


"Seperti yang saya bilang sebelumnya kalau saya nggak akan ngasih kamu ijin!"


"Bukannya kamu sendiri yang bilang sama aku kalo aku nggak perlu ijin kamu kalo aku mau ngelakuin sesuatu. Lagian tujuan aku ke sana juga bukan buat main-main kok. Aku ke sana dengan tujuan yang baik. Mau ngerjain tugas."


"Tetep aja apapun alasan yang kamu bilang saya nggak bakalan biarin kamu buat pergi ke sana. Okelah kalo tujuan kamu ke tempat lain saya bakalan bolehin. Tapi kalo tujuan kamu ke rumah Caca maka nggak ada ijin dari saya."


"Kalo aku tetep bakalan ke sana kamu mau apa?" tantang Rubina. Gadis itu membawa bibirnya ke samping tersenyum miring khas sedang meremehkan.


"Ya kalau kamu tetap nggak nurut sama suami, maka siap-siap aja saya bakalan menelpon Ibu buat ngasih tahu kalau anak perempuannya bebal, nggak mau dibilangin!" ancam Sean menjadikan Ibu mertuanya alibi untuk mengancam istrinya. Bahkan raut menantang telah menghilang dari wajah Rubina mendengar ancaman itu, bahkan kini giliran Sean yang memasang tampang menantang seperti yang Rubina lakukan sebelumnya.


"Hubby... Kamu ada masalah apa sih sebenernya? Nggak make sense banget tiba-tiba ngelarang aku buat dateng ke rumahnya Caca. Padahal kan tujuan aku ke sana cuma buat belajar. Pokoknya aku tetep bakalan pergi.”


"Saya nggak akan biarin kamu pergi," Sean berujar tegas.


"But Why? Tell me the reason! Aku nggak akan dengerin kamu kalo kamu nggak ngasih tau aku alesan masuk akal sampe kamu ngelarang aku buat nginep di rumahnya Caca," semenit berlalu dan masih belum ada jawaban. Pria di hadapan Rubina sampai saat ini masih diam dan hanya menggaruk bagian tengkuknya. "Hubby... Kok kamu diam aja? Ayo By dijawab pertanyaan aku!" paksa Rubina karena sedari tadi dia sudah sangat dibelenggu oleh rasa penasaran.


"Karena di sana ada Agam."


"Ya pastilah By. Rumahnya Caca kan rumahnya Agam juga. Otomatis dia pasti ada di sana. Toh tujuan aku ke sana juga cuma buat mengerjakan tugas dari dosen doang. Bukan buat nemuin Agam."


"Terlepas dari tujuan kamu ke sana cuma buat ngerjain tugas sekalipun, tapi kan tetap aja pada akhirnya kamu sama dia bakalan ketemu."


"Emang kenapa, By. kalo aku ketemu sama dia?" tanya Rubina.


"Kenapa kata kamu?" kata Sean dengan mata yang sudah menyipit.


"Apa saya harus ngingetin kamu kalo dia pernah jadiin kamu prioritas di dalam hidupnya. Nggak ada yang tahu, barangkali sampai sekarang dia masih nyimpen perasaan lebih sama kamu."


"Enggak By. Dia udah move on kok dari aku."


"Tahu apa kau soal isi hati dia?"


"Beneran By. Dia sendiri yang bilang kalo dia bakalan belajar buat lupain aku.”


"Siapa tau kan dia bilang gitu cuma buat nutupin perasaan yang sebenernya aja. Bisa aja sampe detik ini dia masih punya perasaan lebih dan dia juga masih punya keinginan yang besar buat balik lagi suka sama kamu."


"Maybe, tapi.... kenapa kamu peduli banget sama Agam?"


“Jelas saya peduli. Gimana kalo dia goda kamu pas kamu lagi di sana." Sean setengah sadar membagikan ketakutannya. Sean antara sadar tidak sadar mempertegas kecemburuan yang dirasakannya.


"Kenapa kamu takut banget kalo Agam ngegoda aku? kamu cemburu kan?"


"Terserah kamu nganggepnya kayak gimana. Yang jelas saya nggak suka pas dia deket-deket sama kamu. Dia benar-benar nyebelin. Dan ya, sebaiknya kamu ikutin perintah saya buat nggak dateng ke sana. Jangan sampe saya ikut ke sana dan ngehajar si Agam itu sampe dia babak belur."