
Nggak lama kita pun pamit ke orang tua Danniel karena udah malem juga, dengan perasaan yang masih sedikit campur aduk kek nano nano.
Gue duduk di mobil sebelah Danniel, dia udah nyalain mobil tapi kita belum jalan sama sekali kita masih diem nggak percaya.
“We did it Niel...” Ucap gue datar masih dengan pandangan mengarah ke depan.
“Hmm... Kita berhasil!” Dia jawab tapi sama kayak gue dengan nada datar.
Percaya nggak percaya. Nggak lama dia nundukin kepalanya di stir mobil sambil ketawa.
“Astaga... Bisa-bisanya Mommy bikin drama kayak gitu...” Nggak lama dia ngangkat kepalanya sambil geleng-geleng dan senyumnya yang merekah.
“Saya pikir tadi kita beneran udahan...” Gue liat Danniel akhirnya. Dan dia pun liat gue sambil megang tangan gue. Lega, pastinya, gue bisa tidur enak makan enak ngapa-ngapain enak. Hayoo apanya yang ngapa-ngapain???
“Secepatnya kamu hubungin papah kamu ya.. Hah.. Dan sekarang sebaiknya kita pulang. Drama ini bikin tenaga terkuras habis, apalagi kamu yang nangis kejer tadi...” Dia senyum lalu nyium kening gue.
“Thank’s honney udah sayang dan cinta sama saya... Dan mau berusaha berkorban buat kita sampai akhirnya kita dapet restu dari Mommy.” Gue pun meluk dia erat sambil menghela napas lega.
Ya.. Kita bahagia udah dapet restu dari Mommy nya Danniel, rasanya perjuangan yang kita perjuangin selama ini dapet balesannya.
Kita nggak ngomong banyak dijalan, saking kagetnya dan lelahnya tadi.
Dan gue baru ngeh jalan yang di lalui Danniel bukan jalan ke Apartement gue.
“Niel, kok jalan kesini? Apartement saya kan kesebelah sana...”
“Pulang ke rumah honney... Kapan kamu belajar jadi nyonya rumah di rumah saya kalo kamu jarang pulang ke rumah saya..”
“Danniel!!!” Gue teriak protes ke dia sambil melihat dia yang lagi ngakak liat ekspresi gue. Punya calon laki gini amat ya...
“Biasain Yang, beberapa bulan lagi juga kamu tinggal disana. Kita nggak akan lama-lama, semua persiapannya akan serba cepet. Dan yang paling penting saya nggak bisa nunggu lagi. Apalagi setelah saya liat badan kamu kemaren...” Candanya bikin gue merinding iih.
“Kamu tuh ya... Mesum mulu!”
“Mesum saya Cuma sama kamu doang, jadi nggak masalah.”
***
AUTHOR POV
Sementara itu di sebuah gudang...
Di sebuah gedung tua...
"Aaaaaaaaakkkkkhhhhh!!!!!" Teriak seorang wanita yang terlihat sangat kesal dan marah sambil mengacak-ngacak segala yang ada di meja.
"Kurang ajar! Danniel Henney, Althea Wiriawan kalian nggak akan bahagia! Gue akan pastiin itu kalian akan menderita.. Nggak akan kubiarkan kalian hidup bahagia... Aaaàkkkkhhhh!!!"
Ya... Dia adalah Nancy dia baru saja mendengar berita dari anak buahnya kalau Mommy nya Danniel yang sudah menerima Althea dan hubungan mereka berdua yang sebentar lagi akan menikah...
"Ada apa ini? Kenapa semua berantakan... Nancy?" Ucap seorang pria yang baru datang dan menghampiri Nancy.
Lalu pria itu melihat berkas yang tercecer di lantai lalu membacanya. Dan pria itu menampkan senyum smirk nya.
"Kamu ini! Tahan emosimu, jangan sampai gara-gara emosi sesaat kamu jadi kamu melakukan hal yang bodoh dan rencana kita yang udah diatur dengan matang jadi gagal gara-gara kecorobohanmu." Ucapnya sambil memeluk Nancy dari belakang sambil menenangkannya.
"We have a plan Nan, dan kamu tau itu harus berjalan dengan baik. Bukan kamu saja yang mau Danniel menderita, saya juga mau membalas perlakuan dia pada Reqi.... Dia harus merasakan kehilangan... Seperti aku yang kehilangan adikku." Ucap pria itu.
Ya... Dia adalah kakak Reqi, Araka selama ini tidak terima atas perlakuan Danniel pada Reqi adiknya. Selama ini dia mencari tahu penyebab kenapa Danniel membunuh Reqi secara tidak langsung dan dia bahkan masih bisa bebas dan hidup dengan nyaman. Araka selama ini merencanakan ingin membalaskan dendam adiknya. Diam-diam dia mengikuti Danniel tanpa sepengetahuan Danniel dan Hans dia mencari tau kegiatan Danniel dan siapa saja yang dekat dengan Danniel. Tadinya Araka mengarah ke Nancy karena dia dekat dengan Danniel dan juga ibunya Danniel, tapi saat Nancy dan keluarganya hancur atas suruhan Danniel dan Araka sadar kalau Nancy juga korban, dia pun mendekati Nancy dan mengajak Nancy kerja sama untuk menghancurkan Danniel.
***
"Bagaimana? Apa yang mengikuti Danniel masih ada?" Ucap seorang paruh baya yang sedang melihat laporan orang kepercayaannya.
"Sekarang sudah tidak lagi pak... Apa tidak sebaiknya Bapak memberitahu Putra Bapak agar lebih berhati-hati?"
Ya.. Dia adalah Tyo Henney P, dia memang tidak pernah melepas Danniel dari jangkauannya, karena namanya banyak sekali yang ingin mencelakai keluarganya terutama putranya. Dan tanpa Danniel ketahui Tyo diam-diam menyuruh anak buah kepercayaannya untuk mengawasinya. Ketika ada masalah Tyo tidak langsung bertindak, dia malah diam dan melihat reaksi Danniel dan apa yang akan dilakukan Danniel, dan sampai sekarang Daniel selalu menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan Tyo.
"Jadi dia kakak dari Reqi? Kita tunggu dulu, Danniel pasti tau apa yang dia lakukan... Saya tau dia pasti merencanakan sesuatu, saya tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Aaaahh apa Daniel masih menyuruh orang untuk mengawasi Althea?"
"Masih Pak..."
Tyo hanya mengangguk sambil melihat photo Araka yang sedang mengikuti Danniel.
"Baiklah.. Kau boleh pergi, Panji... Saya titip Danniel dan Althea!"
"Baik Pak!" Ucap Panji sambil menunduk memberi hormat.