I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 29



'Syukur deh,' Emerald mengucap syukur dalam hati karena dia tidak menghabiskan banyak tenaganya dalam membuat Sean setuju untuk mengantar Rubina ke kampus.


***


"GIMANA KAK? SEAN MAU NGGAK NGANTERIN AKU KE KAMPUS?" Rubina yang kala itu memang sudah sangat rapi dan telah bersiap berangkat ke kampus sepertinya sudah tidak memiliki kesabaran. Emerald bahkan masih di gerbang dan dia malah langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Sean setuju kok. ya udah sana sekarang kamu siap-siap calon suami kamu bentar lagi dateng jemput ke sini. Sekarang sih dia masih manasin mesin motornya."


Wajah Rubina berubah jadi sumringah. Dia sangatlah excited saat menerima kabar bahwa kakaknya berhasil dalam membujuk Sean untuk mengantarnya ke kampus.


"Uuhhh Kak Eme emang manusia "super paling" yang pernah hidup di muka bumi ini," puji Rubina terhadap kakaknya dengan cara yang sangatlah berlebihan. Rubina juga mencubit pipi kenyal milik kakaknya disusul oleh terdengarnya ringisan tanda sakit dari kakaknya.


"Karena Kak Eme udah ngelakuin apa yang menjadi persyaratannya, maka aku maafin Kak Eme."


Tidak lama suara klakson terdengar di sela-sela interaksi verbal yang berjalan di antara Emerald dan Rubina,


"udah sana kamu siap-siap sekarang. Kasian Sean kalo dia harus sampe nunggu kamu lama-lama."


Rubina mengangguk sekali. Setelah itu dia mengambil helm kemudian bergegas membuka gerbang menghampiri Sean. Mungkin efek terlalu bahagia yang mendiami dirinya terlalu menggebu-gebu sehingga Rubina tidak bisa untuk tidak memperlihatkan senyuman melalui bibirnya.


"Ck... nggak usah senyum-senyum gitu?" tanya Dean. Wajahnya seperti biasa. Tegas dan menakutkan. "Kau mau naik sekarang atau mau saya tinggalin?" tanya Sean namun kesannya dia sedang memberikan sebuah ancaman kepada Rubina yang terus saja menyengir, bukannya bergegas untuk mengubah posisinya jadi terduduk di belakang Sean.


"Naik ke mana?"


"Naik ke atas langit gih!" jawab Sean kesal. "Ya naik ke motor lah," koreksinya diikuti oleh tatapan yang kian menajam seiring berjalannya waktu. Tidak hanya wajah buas, Sean turut serta mengakhiri kalimatnya dengan sebuah hela napas kasar. "Aku hitung sampai tiga ya, kalo kamu nggak naik juga di belakang saya, fix saya bakalan tinggalin kamu!" ancam Sean."


Baru setelah hitungan pertama yang tergulir dari bibir Sean sewaktu Rubina kalang kabut mengambil ancang-ancang dan akhirnya duduk di belakang kemudi. Tanpa adanya sebuah perintah tiba-tiba saja Rubina mengulurkan tangannya ke depan.


Rubina memeluk tubuh pria idamannya itu dengan sangat erat seolah tidak ingin kehilangannya saja.


Ada sebuah decakan yang dilepaskan oleh bibir Sean. Sebuah decakan yang sudah menjurus kepada kekesalan. Tidak ingin membiarkan kejadian itu semakin berlanjut Sean memutuskan untuk membawa kepalanya menunduk. Dengan tangannya sendiri dia menyingkirkan tangan milik Rubina yang sudah seenaknya dilingkarkan mengelilingi perutnya.


"Singkirin tangan kamu itu dari badan saya! Kamu nggak berhak buat bertingkah semau kamu," peringat Sean saat dirinya berhasil menjauhkan tangan Rubina dari perutnya.


"Kenapa? Aku kan calon istri kamu," jawab Rubina.


"Baru calon kan? Belum jadi istri sah?"


"Oh..." Rubina membuat kepalanya bergerak, manggut-manggut. "Jadi maksud kamu, aku bebas ngelakuin apa aja setelah nanti kita menikah?"


"Ah terserah kamu..." Sean belum sampai ke tahap di mana dia menyelesaikan kalimatnya ketika dia memenggal kembali kalimatnya. Hal itu terjadi lantaran Rubina yang lagi-lagi menggunakan tangannya untuk dilingkarkan di bagian perutnya. Padahal sebelum-sebelumnya Sean telah memberikan perintah agar perempuan itu berhenti untuk memeluknya. Namun lihat saja apa yang dilakukannya sekarang?


"Saya udah bilang kan, untuk nggak nyentuh saya! Apa telinga kamu lagi bermasalah sampe kamu nggak nurut apa yang udah saya perintahkan sebelumnya?" Sean terlalu malas, bahkan untuk sekadar membalikkan badannya pada Rubina selaku orang yang sedang diajaknya bicara.


"Aku tuh harus meluk kamu Sean. Kalo nggak, ntar aku jatoh. Emangnya kamu rela kalo harus kehilangan calon istri kayak aku kalo misalkan aku jatoh pas kamu ngejalanin motor kenceng?"


Sean sudah tidak merespon lagi. Walaupun dia tahu Rubina hanya memberikan alasan, tapi yang dikatakan oleh gadis itu ada benarnya juga. Kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu otomatis Sean juga turut andil dan harus bertanggung jawab mengingat dia yang mengemudikan motor. Oleh karena itu Sean membiarkan tangan itu melingkari bagian perutnya meski sebenarnya dia tidak suka dengan itu!


***


"INI RESEP OBATNYA, ANDA BISA MEMINTA PERAWAT DI LUAR UNTUK MEMBANTU ANDA MENEBUS OBATNYA." Sean berucap dengan nada lembut kepada pasien wanita paruh baya yang masih di depannya. Sean kemudian mengulurkan tangannya memberikan secarik kertas berisikan resep yang ada di genggamannya.


"Oh iya Dok. Untuk jadwal operasi anak saya gimana? apa sesuai dengan yang dokter jadwalin minggu kemarin?" wanita paruh baya itu bertanya.


"hm... Iya, kalau keadaan putri ibu stabil sampai minggu fepan insya allah operasi tetap akan seperti yang dijadwalkan."


"Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter, Bu."


"Kalau begitu saya permisi dulu, Dok. Saya mau nebus obatnya dulu. Makasih sebelumnya."


"Sama-sama Bu." Sean tersenyum ramah. Jauh berbeda dengan perlakuannya kepada Rubina saat itu. Lagi pula Sean memang selalu memperlakukan semua pasiennya dengan seramah mungkin. Hanya saja sebuah pengecualian berlaku untuk gadis bernama Rubina. Sean pikir gadis menyebalkan itu sama sekali tidak pantas mendapatkan sikap ramah darinya.


Bahkan dengan Sean menyikapinya dengan dingin saja gadis itu terus saja mencoba mencari celah untuk menggodanya. Bagaimana jika Sean menyikapinya dengan ramah layaknya keramahan Sean kepada pasiennya yang lain? Mungkin Rubuna akan menanggapi keramahannya itu dengan perasaan suka. Ah, serius, hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Sean jijik duluan.


Sean membuang jauh-jauh pemikiran tentang Rubu a dari kepalanya. Pria itu bangkit dari duduk dan segera melepaskan jas putih yang membuatnya sedikit kegerahan. Jas itu berakhir tersampir pada gantungan di sudut ruangan.


Kriuuukkkkk...


Sebuah bunyi berasal dari perut Sean yang mengingatkan kalau sekarang sudah waktunya makan siang.


Sean tampak berpikir untuk menu makan siang hari ini.


"Burger atau pizza yah?" Gumam Sean sambil mengambil ponsel dari saku jasnya yang sudah tersampir


itu. Sean mengetuk layar ponsel membuka sebuah aplikasi. Sean pun hendak memesan makanan siap saji secara online. Sayangnya saat ini dia masih terjebak dengan dua buah pilihan. Sean ingin menyantap burger, tapi disaat yang sama juga sebenarnya dia ingin menyantap pizza.


Tok... Tok...


Ketukan di pintu secara kontan membuat pria itu berhenti menatap layar ponsel. Ponsel miliknya ditaruh di meja begitu saja. Sementara pandangannya diarahkan ke pintu ruangan. Sean bergegas mengeceknya.


Pintu terbuka dari dalam. Sean menemukan seorang kurir langganannya sedang menenteng sebuah paper bag. "Orderan makanan untuk dokter Sean," ucapnya.


Bahkan sebelum dia memeriksa isi paper bag itu Sean sudah tahu isinya adalah sebuah burger. Aromanya yang sangat familier tidak bisa mengelabui indra penciumannya.


"Kayaknya salah deh, Pak," jawab Sean dengan kening mengkerut. Sean merasa dirinya belum memesan makanan. Jangankan memesan, Sean bahkan masih belum memutuskan apakah dia akan menyantap pizza atau justru burger untuk mengisi perut kosongnya. Makanya Sean yakin makanan itu bukan miliknya.


Si kurir mengeceknya sekali lagi. "Bener kok Pak. Di sini tertulis dr. Sean Altemose Ahmet," lalu paper bag yang ada di tangannya itu diulurkan lagi ke depan.


Sean pun menyambut pemberian si kurir meski hatinya masih menyimpan keraguan.


"Saya permisi dulu, Pak!"


Sean mengangguk. Dia terlihat tidak begitu fokus karena dia masih mencoba untuk memikirkan siapa orang yang memesan burger menggunakan namanya. Pintu kembali ditutupnya. Langkah Sean lurus menuju mejanya. Sambil duduk dia masih mencoba untuk menebak-nebaknya.


Ting...


Sebuah pesan dari group SMF Bedah masuk. Sean pun mengecek group tersebut.


ADMIN OK


Dokter Sean setengah jam lagi anda ada jadwal operasi di ruang OK. kami sudah mempersiapkannya, dan operasi anda hari ini ada tiga pasien.


ME


Oke, saya makan dulu sebentar baru ke OK


balas Sean dengan cepat, lalu menghela napas berat.