
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Rubina mengedikkan bahunya, menatap dengan ngeri sang suami yang masih memperlihatkan sorot mata tajam yang mengandung emosi.
"Hubby, kamu tuh kalo lagi cemburu ngeri juga ya?" ucapnya pelan. Namun meski ucapannya sangat pelan namun kalimatnya itu masih sanggup untuk dijangkau oleh indra pendengaran Sean.
"Ingat ya, jangan ke rumah Caca, apalagi kalo kamu sampe berpikir buat nginep di sana."
"Tapi By, kali aku nggak nginep di rumah Caca buat ngerjain tugas dari dosen, terus gimana tugasnya bisa beres. Mana deadlinenya besok siang. Kamu kan tau sendiri kalo otak aku tuh nggak encer kayak otak kamu, tugas kayak gitu bakal butuh waktu lama buat aku kerjain. Sementara Caca juga nggak bakal sanggup buat ngerjain tugas itu sendirian," Rubina memperlihatkan muka memelas. "Pliss deh By, aku ke sana kan cuma ngerjain tugas, bukan buat ketemu sama Agam."
"Tapi pada akhirnya kamu bakalan ketemu juga sama dia. Udahlah, mendingan kamu batalin aja rencana buat nginep di rumah Caca. Buat masalah tugas itu biar saya yang bantu kamu nyeleseinnya. Nanti kabarin Caca aja kalo kamu sendiri yang bakalan ngerjain tugas itu."
"Serius By? Emangnya kamu bisa menyelesaikan tugas itu dalam waktu cepat?"
"Kamu ngeraguin kemampuan saya Bina?”
"Ya... Nggak juga sih, tapi kan..."
"Udah kamu tenang aja. Saya selalu pegang kata-katansaya. Buktinya tentang ciuman itu aja udah saya lakuin kan. Apalagi buat cuma hal sesepele ngerjain tugas kamu."
Rubina yang begitu senang karena Sean yang berjanji akan mengerjakan tugasnya sampai tidak sadar ber euforia memeluk tubuh suaminya. Sean yang kaget membelalakkan matanya. Dia ingin mendorong pelan tubuh istrinya agar menjauh, tetapi alam bawah sadarnya tidak membiarkan itu terjadi. Sean malah membiarkan pelukan itu tetap berjalan hingga beberapa menit.
"Ah sorry, By," sebelum akhirnya Rubina mendapatkan amukan dari Sean dia pun menyudahi aksi itu saat tersadar bahwa apa yang dilakukannya salah. Ya walaupun pria di hadapannya adalah suaminya sendiri tapi kan Sean tidak menyukainya. "Aku refleks aja jadinya meluk kamu...," ujarnya menambah jumlah kalimatnya.
"Hhmm.. It's Okay!," Ucap Sean merespon di luar kebiasannya yang selalu memaki tiap kali Rubina melakukan hal-hal di luar batas seperti halnya sekarang. "Hmm... Mendingan kamu mandi sekarang gih! Kamu bau."
"Bau?" Rubina mencium badannya, "Enggak kok, By. Badan aku masih wangi kok, kalo kamu nggak percaya coba aja nih cium."
"Iihh... Nggak-nggak! Udah sana mandi!" usir Sean. "Ato mau saya mandiin?"
"Mau dong," canda Rubina sambil mengedipkan satu matanya.
"Abis itu dikuburin?"
“Astagfirullah, mati dong,” Rubina bergidik. "Emangnya kamu nggak bakalan nangis kalo kejadian itu beneran terjadi? Aku dianterin sama Agam aja kamu udah kebakaran jenggot. Gimana kalau aku mati. Mungkin kamu bakalan nangis darah. Tapi aku seneng sih kalo kamu cemburu sama Agam, itu artinya dibalik sikap benci iamu sama aku tersimpan rasa cinta kan. Aku cuma tinggal nunggu momen yang pas di mana kamu punya keberanian buat bilang secara langsung sama aku."
"Cepet mandi gih, badan kamu makin bau aja," bohong Sean sambil menutup hidungnya.
"Kamu salah tingkah ya? makanya nyuruh aku buat pergi."
"Siapa yang salah tingkah?"
"Tuh wajah kamu udah merah kayak tomat. Kamu nggak usah nahan-nahan, kalo mau senyam-senyum."
Sean meneguk salivanya. Dia memandang ke arah lain dan tersenyum sebentar.
"Kamu barusan senyum kan?"
"Nggak, siapa juga yang senyum," elak Sean.
"Aku liat loh tadi kamu senyum. Udah jangan bohong deh."
"Kamu cuma berhalusinasi kali, udah sana buruan mandi soalnya sekarang saya mau nyiapin makan malam."
"Okay, Okay... Aku mandi dulu."
"Tunggu."
"Kenapa By?"
"Besok kamu pulang jam berapa dari kampus?"
"Maybe sore sih, By. Kenapa emangnya?"
"Besok saya yang jemput. Kita makan di restaurant."
"Cie ngajakin nge-date."
"Kebetulan aja besok saya gajian. Sekali-kali kita makan di luar. Saya juga sekalian mau ngebahas sesuatu yang penting sama kamu.”
'Wuiihh... tumben, ada apa nih? Atau sebenarnya Sean ngajakin gue makan di luar mau ngungkapin isi hatinya?' pikir Rubina berdasarkan feelingnya. ‘Duh gue jadi nggak sabar nunggu sampe besok. Pasti gue bakalan seneng banget kalo emang Sean nyatain cinta.' Rubina menambahkan masih membatin.
"KAMU AMBIL LAPTOP SAMA BUKU-BUKU YANG BISA SAYA GUNAIN BUAT NGERJAIN TUGAS DARI DOSEN KAMU!" titah Sean sesaat setelah mereka berdua menikmati santapan hasil sendiri.
"Nanti ya, By. Aku cuci piringnya dulu. Takutnya kalo disimpen makin tambah numpuk.”
“Kamu ambil aja laptop kamu dan bawa ke meja di ruang keluarga. Kamu tunggu saya di sana. Buat urusan piring ini biar sama saya aja. Saya bisa nyuci lebih cepet dibanding kamu."
"Okay, kalo gitu. Aku ngambil laptop sama buku aku di kamar ya By." Rubina berbalik dan pergi ke kamar. Setibanya di sana, dia hanya mengambil apa yang disuruhkan oleh suaminya dan lanjut dia menuju ke ruang keluarga. Sambil menunggu sampai datang dia memainkan ponselnya. Rupanya ada panggilan tidak terjawab yang berasal dari Caca.
Pasti tujuan Caca menelponnya karena gadis itu akan membahas soal rencana Rubina yang akan menginap di rumahnya itu. Ya, Rubina lupa menelpon Caca untuk mengonfirmasi soal dia yang tidak jadi datang lantaran dia tidak mendapatkan izin dari Sang Suami.
Rubina pun menelpon Caca.
"Iya, Wa'alaikumsalam, Halo, Ca?"
"Bi, lo jadi dateng ke rumah gue nggak?" tanya gadis di seberang sana.
"Duh, sebelumnya sorry yah, Ca!" Rubina mengatakannya dengan perasaan yang menyiratkan perasaan bersalah. "Gue kayaknya nggak bisa dateng ke rumah lo."
"Loh kenapa, Bi?"
"Soalnya gue lagi ada urusan lain," Rubina tidak menjelaskan secara spesifik tentang alasan kenapa dia tidak jadi datang karena sebenarnya ada larangan dari sang suami yang mustahil untuk dia bantah. "Sorry ya Ca!"
"Oh, ya udah nggak apa-apa kok, Bi. Gue cuma mikirin soal tugasnya aja, soalnya kan deadlinenya besok siang. Kira-kira besok bisa selesai gak sih?" khawatir Caca. "Mana dosennya killer lagi. Gak kebayang deh malunya kalo kita sampe diusir dari kelas cuma gara-gara kita nggak ngumpulin tugasnya.”
"Lo tenang saja Ca. Soal tugas itu serahin aja sama gue. Laki gue udah janji kok kali dia yang bakal ngerjain tugasnya. Kita tinggal terima beres aja sih."
"Hah, Serius Bi?"
"Serius Ca." balas Rubina.
"Ah iya, gue lupa. Dia kan dokter. Otaknya pasti encer ya, hahaha."
"Yes. Bener banget, Ca. nggak kayak kita yang otaknya beku hahaha," canda Rubina yang direspon tawa oleh Caca yang ada di seberang sana. "Ya udah, Ca. Gue tutup dulu ya teleponnya. Pokoknya lo tenang aja, buat urusan tugas itu serahin sama gue. Besok pasti bakalan selese kok."
"Oke deh, Bi. Say Thanks kalo gitu ke laki lo... Dah."
"hihu, Iya... Dah," balas Rubina disusul menekan ikon telepon berwarna merah yang terdapat di layar ponselnya.
"Abis teleponan ama siapa?" Sean yang baru saja datang dari arah dapur sontak mengajukan pertanyaan. Dengan mantap pria itu duduk di sebelah istrinya, tentu saja dengan tatapan yang masih tertanam pada bola mata milik istrinya.
"Sama Caca By. Aku ngasih tahu kalo aku nggak jadi nginep di rumah dia." Sean mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Rubina,
"Oh. Ya udah, mana tigas yang harus saya kerjain?"
"Nih, aku disuruh bikin makalah. Selain makalah aku juga disuruh bikin rangkuman buat dijadiin power point."
"Materinya tentang apa?"
Rubina hanya mengedikkan bahunya.
"Aku lupa judul materinya. Yang jelas materinya membahas tentang salah satu bakteri gitu."
"Kamu ini gimana sih, Bi. Materinya aja nggak tau. Kamu dengerin nggak sih pas dosen kamu ngejelasin materinya?"
"Dengerin sih, By. Tapi ya gitu deh, cuma sekedar denger doang. Masuk telinga kanan keluar di telinga kiri hehehe."
Sean pun hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir pada isi kepala istrinya itu.
"Bener-bener ya kamu. Papah kamu udah capek-capek banting tulang buat bayar uang kuliah, eh kamu malah bersikap seenaknya aja.”
"Ck... Papah tuh ga usah banting tulang buat nyekolahin aku By... dia mah tinggal kicep mata aja udah besoknya duit langsung cair hihi... Lagian aku tuh bukannya seenaknya By.”
"Cih... Mentang-mentang cucu dari keluarga kaya raya. Kalo bukan seenaknya, terus itu apa namanya? Hah?"
"Ya mau gimana lagi By. Aku tuh kayaknya salah pilih jurusan deh. Tapi ya karena udah telanjur ambil jurusan itu makanya aku bertahan sampe sekarang."
"Emang siapa yang nyuruh kamu buat ambil jurusan biologi? Kok bisa ngerasa salah ambil jurusan."
"Dulu waktu aku SMA aku tuh pernah dapet nilai seratus pas ulangan harian di pelajaran biologi."
"Nyontek kali."
"Nggak By. Walaupun aku hobi nyontek tapi waktu itu aku bemeran mikirin jawabannya sendiri. Aku juga nggak punya ekspektasi bisa dapet nilai sesempurna itu. Bahkan hari itu aku yang bagiin jawaban ke temen-temen aku yang laen."
Rubina sampai menerbitkan senyum tipis-tipis hanya karena dia mengingat soal kejadian yang telah terjadi cukup lama itu.
"Kamu tau nggak sih By. Hari itu aku berasa jadi orang yang paling pinter di kelas karena aku ngebagiin kunci jawaban sama temen-temen aku."
"Hmmm? Saya jadi penasaran. Waktu itu materi apa yang diuji sampe kamu dapet nilai sempurna?” Sean penasaran. Matanya menyipit menunggu jawabannya dijawab oleh Rubina.
"Waktu itu materinya sistem reproduksi manusia.”
Sean terbatuk oleh tegukan salivanya sendiri. Lalu kemudian dia geleng-geleng kepala.
"Hah... Nggak kaget lagi sih kalo kamu sampe dapat nilai sempurna di materi sistem reproduksi. Kamu kan udah sangat pro dalam hal 'seperti itu.'”
"Dari situ aku jadi suka sama biologi. Bahkan aku sampe kuliah jurusan biologi karena merasa aku punya sedikit bakat di bidang itu. Ya, meskipun pada akhirnya aku rada-rada nyesel sih. Tapi sekarang udah telat buat nyerah. Mau nggak mau, suka nggak suka aku tetep kudu berjuang supaya kuliahnya cepet beres."
"Lagian aneh banget sih. Masa iya cuma karena kamu pernah dapet nilai seratus di pelajaran biologi trus kamu milih buat kuliah di jurusan biologi. Emang kamu pikir pelajaran biologi cuma ngebahas soal sistem reproduksi aja.." Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah sudah berapa kali dia dibikin geleng-geleng kepala oleh tingkah istrinya.
Sean membuka laptop sambil dia juga membuka buku penunjang yang bisa dia gunakan dalam mengerjakan tugas istrinya.
"Mana buku catatannya. Saya mau liat mana aja materi yang harus dijadikan makalah."
Perintah Sean segera mendapatkan sebuah umpan balik dari Rubina. Di menit yang sama Rubina menggunakan tangan kanannya untuk merogoh shoulder bag yang biasanya selalu dia bawa ke kampus. Rubina mengeluarkan buku catatannya dari dalam sana. Menyerahkannya kepada Sean.
"Nih By, buku aku."
"Astaga nih catatan atau apa sih?"
"Catatan By. Sayangnya aja tulisan aku agak jelek.”
"Bukan agak ini mah, jatuhnya emang udah jelek banget."
"Ck, ck," Rubina berdecak. "Kamu kalo urusan nyakitin hati emang paling jago ya. Oh ya, By, gimana kalo aku buatin kamu susu. Lumayan kan buat nemenin kamu ngerjain tugas aku."
"Hm... Boleh. Tapi nggak usah banyak-banyak yah. Pake cangkir aja. Sama satu lagi. Susunya jangan terlalu manis."
"Kenapa By? Karena aku udah manis ya? sampe mandang aku aja udah lebih dari cukup ketimbang harus nambah gula di minuman kamu kan? Iya, kan, By?" sambung Rubina. Selama beberapa saat gadis dengan rambut dicepol asal itu tersenyum menggoda.
Kalau saja Sean tidak berusaha mati-matian menahan salah tingkahnya mungkin sekarang semburat merah serta hawa panas telah menyerang bagian pipinya.
"Ck... Kalo minum susu sambil ngeliatin kamu mah bukannya tambah manis susunya. Yang ada justru malah jadi pait.”
"Tapi..."
"Kalo kamu emang punya niatan buat ngebuatin saya susu, sebaiknya cepet ke dapur sekarang. Jangan menggoda saya terus menerus, atau ntar bibir kamu bakalan..."
"Bibir aku bakalan diapain, By?"
"Saya bakalan cium sampe kamu ngerasa kesulitan buat napas," tidak ada sedikit pun kesan bersahabat yang melekat pada wajah Sean sekarang ini. Begitu pun dengan pandangannya yang terkesan menyiratkan sorot yang tajam- tak ubah laser yang siap mencincang tubuh lawan bicaranya jadi beberapa bagian.
Rubina yang terlalu takut dengan tatapan itu meneguk salivanya perlahan. Setelah itu dia pamit ke dapur untuk membuatkan secangkir susu hangat tanpa gula seperti yang dipesan oleh suaminya.
"Ok, mending aku ke dapur aja deh, daripada tar aku kehilangan nyawa kalo emang kamu beneran nyium aku kayak gitu."
Selepas Rubina pergi ada senyuman yang terbit di bibir Sean.
Sean melirik sekilas kepada cangkir berisikan susu yang dibuatkan istrinya sekitar tiga jam yang lalu. Setelah itu Sean mengembalikan fokusnya kepada layar di depannya sambil tangannya terus merangkai kata jadi sebuah kalimat. Sudah tiga jam lebih dia mengerjakan tugas istrinya dan sampai sekarang pekerjaannya itu belum selesai. Sesekali menguap Sean hampir tak acuh dengan jam yang telah menunjukkan pukul satu malam. Sudah sangat larut tapi Sean tetap harus menyelesaikan tugas ini.
"Kalo kamu udah ngantuk, mendingan kamu tidur duluan aja gih. Nggak usah nunggu saya. Kayaknya tugas makalah ini baru selesai sekitar satu atau dua jam kedepan," ujar Sean kepada istrinya. Dia mengucapkan kalimatnya tanpa membuang fokusnya dari layar laptop.