I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 106



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Dia berhak mendapat kebahagiaan lebih dari sekadar pria pembohong sepertimu." Emerald tersenyum miring setelah menampar Sean lewat kata-katanya. "Dari pada kamu ngahabisin waktu buat bertekuk lutut di hadapanku, sebaiknya kamu minta maaf sama Bina. Dia adalah korban. Ya, meskipun kemungkinan dia bisa memaafkan kamu sangat kecil."


SORE, kira-kira sekitar jam empat lebih beberapa menit ketika Sean duduk di balkon apartemen bersama dengan segelas susu hangat yang dia seduh di dapur tadi. Sean memang terlihat begitu tenang tetapi aslinya tidak. Sedari tadi pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang berhubungan dengan masalah hidupnya yang serasa pelik dan tidak ada jalan keluarnya.


Malam ini Rubina memutuskan untuk menginap di rumah Danniel dengan alasan baru keluar dari rumah sakit. Pun sebelumnya Sean meminta Rubina untuk mengizinkannya ikut nginep di sana. Namun Rubina dengan tegas memberikan penolakan sehingga Sean tidak punya pilihan selain balik ke apartemen.


"Hah.... Waktu yang dikasih sama Bina cuma dua minggu tapi sampe sekarang gue masih belum ngelakuin apa-apa buat perjuangin cinta gue. Sampe sekarang Nino juga belum ada kabar soal hasil tes DNA itu."


Seperti gayung yang bersambut, saat itu Sean yang baru saja mengambil ponselnya dari meja hendak menghubungi Nino, namun ternyata Nino lebih dulu menghubunginya.


"Panjang umur nih manusia satu," Sean bergumam sambil menggeser tombol hijau yang terdapat di layar ponsel. Usai melakukan itu ponselnya segera ditaruh di depan telinga kanannya.


"Assalamualaikum, Iya, No?"


"Lo lagi di mana Sean? Gue kebetulan ada di depan apartemen lo nih."


"Gue di apartemen kok. Langsung masuk aja, lo masih apal sandinya kan?”


"Masih," jawab Nino.


"Ya udah lo masuk aja, gue lagi nongkrong santai di balkon yang terhubung sama kamar."


"Biasanya juga lo langsung nyelonong. Kenapa tiba-tiba malu-malu kucing."


"Kan dulu sama sekarang udah beda bro. Ya nggak enak lah gue sama Bina kalo gue langsung nyelonong." Sean langsung tersenyum miris mendengar nama Bina.


"Tenang aja, Bina lagi nggak ada di rumah. Buruan ke balkon, gue tunggu lo di sini," setelah itu Sean memutus sambungan telepon. Dia menunggu kehadiran sahabatnya untuk datang menemuinya.


Begitu Nino sudah ada di balkon Sean pun memintanya untuk duduk di sebelahnya.


"Baru aja gue mau telpon lo, eh lo keburu telpon gue duluan."


"emang ada apa?" tanya Nino.


"Ya itu... Soal tes DNA itu apa udah ada titik terang? Apa lo sudah bicara sama kenalan lo?”


"Kebetulan banget tujuan gue nemuin lo emang buat ngebahas soal itu. Gue baru dapet telpon dari kenalan gue itu. Katanya dia yang bakalan ngurus tes DNA-nya. Dia nyuruh gue buat ngasih tau ke lo buat ngambil sampel rambut anak lo itu," jelas Nino.


"Sampel rambut?”


"Iya, sampel rambut, kayak ga tau aja lo... Dan saran gue mending lo buru-buru temuin si Sarah di rumahnya biar lo bisa segera dapet sampel rambut anak lo itu. Kata temen gue perlu waktu beberapa hari sebelum hasil tesnya keluar."


"Bener juga, gue harus cepet-cepet temuin si Sarah. Pokoknya gue harus cepet nyari tau apa Sheran itu beneran anak gue atau bukan. Kalo emang bukan maka gue bakalan minta pisah sama Sarah," janji Sean.


"Trus gimana kalo misalnya beneran itu anak kandung lo?" Sean terdiam ketika mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak ingin dia dengar.


"Gue nggak tau, No... Saat ini gue beneran nggak bisa ninggalin Bina, gue udah mulai sayang banget sama dia!"


"Trus gimana sama Binanya sendiri?"


"Bina masih marah sama gue, No, tapi wajarlah. Bahkan jika gue yang ada di posisi dia saat ini pastinya gue juga bakalan ngelakuin hal yang sama. Tapi gue juga takut No."


"Takut kenapa emang?"


"Gue takut Bina benaran bakalan ninggalin gue. Gue enggak bisa bayangin hidup tanpa dia."


Nino menganggukkan kepalanya pelan-pelan. Dia kasihan dengan Sean namun disaat yang bersamaan Nino juga mengerti dengan pengajuan perceraian yang hendak dilakukan oleh Rubina. Nino rasa jika dirinya


yang ada di posisi itu maka dipastikan bahwa dia juga akan melakukan hal yang serupa.


Mendesah pelan lalu Nino berkata, "Yang terpenting buat saat ini lo fokus saja sama usaha lo dalam mengetahui apa dia beneran anak kandung lo sama Sarah atau bukan. Setelah itu barulah lo berpikir soal hubungan lo sama Bina."


"Gue bakalan berangkat buat ketemu dia. Mungkin setelah ini gue bakalan langsung berangkat supaya pas nyampe sana nggak terlalu malam."


"Hati-hati di jalan. Nggak


usah ngebut-ngebut!" Nino memperingati karena dia tahu betul bagaimana hobi Sean dalam melajukan motornya kencang-kencang. “Nggak ngebut juga bakalan tetep sampe di tempat tujuan kok. Ya, biar lambat asal selamat," imbuh Nino begitu peduli dengan sahabatnya.


****


Sean belum sempat memutar kunci mematikan mesin motor saat mengangkat tangan melihat arlojinya. Pukul sembilan malam. Itu artinya Sean berkendara dari kota sekitar hampir dua jam. Barulah setelah mematikan mesin motor V4R nya Sean membuka helm yang membungkus kepalanya. Matanya memperhatikan rumah sederhana tempat Sarah tinggal.


Sarah yang sejatinya sedang menidurkan anak laki-lakinya di kamar seketika mengerutkan kening mendengar suara mesin motor di depan rumahnya.


Tidak berangsur, detik selanjutnya Sarah meyakini bahwa pemilik suara mesin motor itu adalah Sean.


Sebelum akhirnya bangkit meninggalkan posisi berbaringnya, lebih dulu Sarah melihat pada Sheran.


Syukurlah, Sheran sudah pulas. Sarah pun menuju ke pintu dan langsung membukanya.


"Feeling aku ternyata emang bener. Orang yang baru datang emang mas Sean," ucapnya bersamaan dengan pandangannya yang mengarah kepada Sean yang sibuk menaruh helmnya ke meja yang ada di teras rumah.


Tidak ada jawaban dari Sean. Seperti biasa, sifatnya dingin seolah dia tidak memiliki secuil pun rasa. Namun seperti biasa pula, Sarah tidak mengenal kata menyerah di dalam kamusnya.


"Mas pasti sangat kelelahan. Ayo masuk!" ajaknya dengan seulas senyum manis.


Sean mengangguk sekali lalu ikut melangkahkan kakinya mengikuti Sarah. Mereka duduk saling hadap-hadapan dengan pembatas sebuah meja kayu.


"Hmmm tunggu sebentar ya Mas. Aku mau ke dapur dulu. Aku mau bikin susu hangat buat Mas Sean. Sepertinya Mas Sean sangat kelelahan setelah sebelumnya Mas Sean mengendarai motor dari kota."


Sarah sudah bangkit saat Sean menahannya lewat sebuah kalimat.


"Aku enggak repot kok Mas, dan lagian pamali menolak istri yang hendak bikin minum."


"Ya udah, terserah kamu aja."


"Tunggu sebentar ya, Mas, aku ke dapur dulu."


Sean duduk sendirian di sofa ruang tamu memperhatikan figura berukuran lumayan yang bertaut di tembok. Di sana ada gambar Sean dan Sarah dalam balutan pakaian yang sangat sederhana. Sarah menggunakan kebaya berwarna putih dan Sean mengenakan kemeja putih dipadukan dengan celana bahan hitam lengkap dengan sebuah peci hitam. Foto itu diambil beberapa jam setelah mereka melangsungkan akad nikah.


Tidak lama duduk sendirian di sana. Sarah yang tadi pamit ke dapur, kini telah kembali dengan sebuah cangkir berisikan susu yang masih berasap. “Kalau misalkan susunya enggak manis, kasih tahu ke aku ya Mas. Nanti aku tambahin gula."


Sean mengangguk sekali.


"Oh iya, Mas Sean tumben banget datang ke sini nggak bilang-bilang dulu ke aku. Padahal kalau mas Sean kasih kabar mungkin aku akan menyiapkan masakan super lezat."


"Sengaja saya datang enggak bilang supaya kamu nggak repot nyiapin segala sesuatu buat nyambit saya. Kamu kan tahu sendiri kalalo saya nggak suka ngerepotin orang lain."


"Pengecualian buat aku dong, Mas. Status aku kan bukan orang lain. Aku adalah istri kamu. Meski sirih tapi di mata agama kita adalah pasangan yang sah."


Sean sungguh malas jika sudah seperti ini, Sarah mulai menegaskan statusnya. Ada kekesalan yang langsung dirasakan oleh Sean. Dari pada kekesalan itu makin menjadi-jadi, dia pun mengubah topik pembicaraan.


Sebelum itu Sean lebih dulu mengeluarkan puluhan lembar rupiah dengan nominal seratus ribu ke arah Sarah.


"Nih, uang bulanan kamu. Sengaja saya nggak transfer soalnya saya juga mau datang buat ngeliat Sheran. Jadi baru sekarang saya ngasih ini ke kamu."


Sarah mengulurkan tangannya menyambut uang pemberian suaminya. “Terima kasih, Mas! Aku janji akan sehemat mungkin dalam membelanjakan uang darimu ini. Oh ya tunggu sebentar ya, Mas, aku mau ke kamar dulu. Aku akan segera kembali."


Sean pikir tujuan Sarah masuk ke kamar adalah untuk menyimpan uang pemberiannya. Namun dugaan Sean salah. Bukan sekadar menyimpan uang pemberiannya, Sean ternyata menemukan sesuatu yang lain pada saat Sarah keluar dari kamar.


"Apa-apaan ini?" kaget Sean memperhatikan Sarah yang baru keluar dari kamar"


***


"KENAPA MAS?" Sarah mengembalikan dengan sebuah pertanyaan. "Kelihatannya Mas Sean kaget banget. Kayak baru ngeliat hantu saja,” Sarah tersenyum tipis-tipis sambil dia memangkas jaraknya dengan sang suami yang masih dengan tampilan muka yang sama saat Sarah baru menampakkan dirinya dari kamar.


"Kenapa kamu berpakaian kayak gitu?" Sean langsung mengajukan protes menemukan Sarah berpakaian seperti itu langsung di hadapannya.


"Emangnya ada yang salah ya Mas kalau aku berpakaian seperti ini?" tanya Sarah. "Hanya ada kita berdua di sini. Sah-sah saja dong kalau aku mengenakan pakaian seperti ini untuk menyenangkanmu."


“Dan apa sekarang kamu liat raut senang sedang tergambar di wajah saya melihat kamu dalam balutan lingerie kuning kayak gini?" tuntut Sean dengan sorot mata tajam, tak ubah elang yang sedang menatap kepada mangsanya.


Bahkan sejak awal kemunculan Sarah dari kamar dia sudah menyadari perpaduan muka kaget dan kesal yang tergambar di wajah suaminya. Tapi karena Sarah termasuk orang yang ambisinya kuat, maka dia tetap akan menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak ingin menyerah sebelum dia mencobanya.


"Kenapa sih, Mas, kamu selalu saja bertingkah kasar sama aku?" Sarah berujar menuntut sebuah jawaban. “Aku mengenakan pakaian seperti ini demi untuk menyenangkan kamu Mas."


"Tapi kenyataannya saya nggak senang ngeliat kamu dalam keadaan kayak gini. Saya ngerasa keganggu liat kamu dalam keadaan seperti ini," aku Sean. Ya, sebagai seorang pria normal yang menyukai lawan jenis, tentu saja seharusnya Sean merasakan perasaan aneh melihat seorang gadis sedang dalam balutan lingerie. Dan anehnya saat itu Sean malah merasa kesal. Sean mengakui dirinya tidak bernafsu kepada Sarah.


Sarah masih belum menyerah. Padahal dia baru saja mendapatkan semprotan langsung dari suaminya. Dia masih saja mencoba mendapatkan apa yang dia inginkan. "Mas, apa yang salah sama kamu?"


"Nggak ada yang salah sama saya."


"Kalau memang tidak ada yang salah kenapa Mas Sean selalu menghindar dariku? Apakah aku kurang begitu cantik?"


Sean diam.


"Aku ingatkan ya Mas. Aku ini istri kamu. Selain kamu punya kewajiban untuk memberikan nafkah berupa uang, kamu juga punya kewajiban untuk memberiku nafkah batin." Sarah melihat suaminya nyaris tidak ada kedipan. Sungguh, Sarah melihat suaminya saat itu tak ubah seorang pangeran. Menurut Sarah, visual Sean saat itu sangat tampan.


"Seperti kesepakatan kita di awal saya hanya akan ngasih kamu uang bulanan, tapi untuk lebih dari itu saya nggak bisa melakukannya."


"Kenapa Mas?" tuntut Sarah.


"Saya nggak punya alasan buat pertanyaan itu. Yang jelas saya nggak akan melakukannya."


Sarah menggigit bibir bagian bawahnya. Sedikit membungkuk tangan kanannya terulur maju menyentuh leher suaminya. Yang sebelumnya menjamah leher kini bergerak naik menyentuh bibir milik Sean yang sangat menggoda.



"Tidak ada salahnya untuk mencobanya Mas. Aku yakin sensasinya akan jauh berbeda dibanding waktu itu Mas Sean melakukannya dalam keadaan mabuk. Tapi sekarang aku akan membiarkan Mas untuk melakukannya dalam keadaan tersadar."


"Sar... Saya..."


"Ayolah Mas, kita bahkan bisa melakukannya di sini. Lagipun saat ini Sheran udah tidur sehingga dia tidak akan terganggu dengan aktivitas kita," cicit Sarah terlihat semakin bergairah saja.


Sean menghela napasnya menahan amarah yang seolah sudah di ujung tanduk. Bukannya peka dengan ketidaksukaan yang Sean tunjukkan, Sarah malah bertingkah semakin jauh. Bahkan semakin brutal. Tanpa meminta izin Sarah menggunakan tangannya hendak membuka kancing kemeja milik Sean.


"SARAH!!!"


Sarah bahkan belum sempat membuka satu pun kancing kemeja milik Sean saat dia tiba-tiba tersentak kaget mendengar suara lantang suaminya sedang menyerukan namanya.


"Kamu tuli atau bagaimana sih? Kalau saya bilang enggak, ya enggak."


Sarah meneguk salivanya. Rasa kecewa langsung menyelimuti perasaannya.


“Baiklah kalau Mas Sean belum siap untuk melakukannya sekarang." Dengan terpaksa Sarah menyerah. Saat ini Sean telah menggambarkan raut muka yang teramat menyeramkan. Bahkan tampilan mukanya saat itu telah membuat bulu kuduknya meremang karena takut.


"Sebaiknya kamu segera ganti baju kamu itu sebelum saya semakin murka." Suruh Sean.


Sarah memutuskan untuk melakukan apa yang diperintahkan Sean tadi. Segera dia kembali ke kamar untuk mengganti lingerie yang tersemat di tubuhnya dengan sebuah piyama persis dengan yang dia kenakan sebelumnya.


Hai... maafkeun telat upnya...


2000 kata sukseslah ya ... maming kali ini...


So Happy weekend and happy reading guys!