
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Rubina memutuskan untuk berhenti menggeluti aktivitasnya. Dia membawa langkahnya menghampiri Sean. Benar saja, Rubina menemukan lebam di beberapa titik di wajah suaminya.
"Wah, kasian banget kamu, By. Tunggu bentar, biar aku sembuhin lukanya. Mmmh... Ngomong-ngomong kotak P3K ada di mana ya?"
Sean dengan pandangan cengo menunjuk ke arah lemari sehingga Rubina segera menuju ke sana untuk mengambil benda yang dicarinya. Sean sampai tidak bisa berkata-kata melihat Rubina masih bisa memperlihatkan sisi baiknya disaat Sean sudah menyakiti hatinya. Sean jadi ragu harus kaget atau justru senang dengan kenyataan ini.
Rubina tidak lupa menutup kembali lemari setelah mengambil kotak dari dalam sana. Kotak itu dia bawa ke depan Sean.
“Sini biar aku bantu sembuhin lukanya kamu!"
Sean tersenyum kaku sambil dia memperhatikan istrinya sedang membuka kotak di tangannya.
"Kenapa kamu masih mau bantu saya padahal saat ini saya udah nyakitin hati kamu, Bi?"
"Hmmm, karena status kamu masih suami aku, By. Jadi udah tugas aku buat bantu kamu."
"Makasih ya!" ujar Sean sambil tersenyum ke arah Rubina yang masih dengan muka datar.
"Ya... Kecuali kalo kita udah cere, beda lagi. Kamu minta iatri sirih kamu aja yang ngobatin!" lanjutnya sambil menyindir Sean, lalu Rubina pun mengeluarkan botol berisikan alkohol dari dalam sana. Alkohol tersebut ditetesi di sebuah kapas. Sean yang tadinya tersenyum pun meredup lagi mendengar lata-kata menohok dari Rubina.
"Coba liat keatas dikit, By. biar aku bisa gampang ngobatin luka kamunya!" perintah Rubina yang membuat Sean mendongakkan kepalanya dengan segera.
"AWWW," Sean langsung merasakan rasa perih ketika kapas menyentuh lukanya dan menghadirkan rasa pedih yang luar biasa. Sungguh rasa pedih itu sangat tidak tertahankan.
"Pelan-pelan dong Bi!" perintah Sean dengan nada lembut sambil dia berdesis berusaha menahannya.
"Kenapa emangnya, By?" tanya Rubina.
"Perih banget," jawab Sean.
"Oh, perih ya?"
"Banget."
"Itu belum apa-apa sih, By?" ujar Kayla.
"Maksudnya?"
"Iya, By. Itu belum ada apa-apanya dibanding rasa perih yang aku dapetin pas kamu bohongin aku. Tenang aja perih yang kamu dapetin pas aku nempelin alkohol ini ke luka kamu bakalan cepet menghilang kok dalam waktu beberapa menit. Sementara luka aku gara-gara kebohongan kamu? Pastinya bakalan ngebutuhin banyak waktu sebelum rasa sakit itu ilamg. Atau mungkin yang lebih parahnya luka itu akan selamanya ada di hati aku." ucap Rubina sambil meletakkan kotak itu di atas nakas. Rubina pergi begitu saja meninggalkan Sean sendirian.
***
"EH, CACA!" secara kontan Rubina mengumbar senyum saat membuka pintu dan menemukan sahabatnya berdiri di depan kamar tempat papinya dirawat. “Masuk, yuk!" ajaknya.
Setelah pulang dari kampus Caca memutuskan untuk mampir menjenguk Ayah Rubina. Tidak dengan tangan kosong, saat itu Caca membawa parsel buah yang segera dia berikan ke Rubina setelah dia masuk ke ruangan. "Nih, Bi, ada sedikit buah-buahan."
"Duh... Sampe repot-repot segala."
"Nggak repot kok, Bi, kan tinggal beli, nggak sampe manjat pohonnya juga kok hehehe," seloroh Caca.
"Ya udah, duduk dulu, Ca!” Rubina mempersilakan sahabatnya untuk ikut duduk bersamanya di sofa yang terdapat di ruangan.
"Ngomong-ngomong lo sendirian aja, Bi?" tanya Caca. "Ibu sama Kakak lo ke mana ?"
"Kak Eme lagi nganterin Ibu balik buat mandi dan ganti baju. Oh ya, trus lo dari kampus langsung mampir di sini?"
"Iya, Bi."
"Lo naik taksi?"
"Nggak. Gue ke sini sama kak Agam."
"Lah, Trus Agamnya ke mana? Kok nggak diajak masuk bareng lo?"
"Di ajak kok. Cuma Kak Agam lagi markirin mobil. Dia nyuruh gue buat masuk duluan!"
Suara ketukan pintu membuat Rubina refleks berkata, "Panjang umur dia. Baru juga kita bahas udah nongol aja," berhenti menatap sahabatnya, Rubina dengan mantap mengalihkan fokusnya ke arah pintu, "Masuk!" Rubina sengaja tidak terlalu mengeraskan volume suaranya karena saat ini sang Ayah sedang tertidur.
Agam baru saja masuk ke ruangan tempat Ayah Rubina dirawat diiringi oleh senyum oleh Rubina tentu saja. Agam yang dijadikan sumber perhatian oleh Rubina dan adik perempuannya merasa sedikit kaku, tapi pada akhirnya Agam memberanikan diri untuk mendekat.
“Duduk, Gam!" begitulah ucapan Rubina sambil dia menepuk sofa di sebelahnya.
"Tuh, bokap gue lagi istirahat. Ya .. Mungkin pengaruh obat yang bikin dia ngantuk."
"Hmm, kalo boleh tau emangnya beliau sakit apa? Kok sampe dilarikan ke rumah sakit tiba-tiba."
"Penyakit Jantung koroner sih kata dokter," Sedikit banyak Agam tahu soal jantung koroner. Dulu opanya juga mengidap penyakit yang sama. Tidak heran kenapa jawaban Rubina membuatnya menegang di tempat.
"Tapi kata dokter kondisi bokap gue udah berangsur membaik kok. Ya kalo bukan hari ini pasti besok Papah pasti udah bisa pulang."
"Syukur deh kalo bentar lagi beliau udah bisa pulang. Oh ya, nih buat lo," Agam memberikan kresek yang ada di tangannya. Kresek itu berisikan sesuatu yang dibelinya saat di jalan tadi. Agam berpikir mungkin saat ini Rubina sedang kurang nafsu makan karena kepikiran dengan sang Ayah yang lagi sakit sehingga Agam pun mampir untuk membeli makanan tersebut.
"Ini apa Gam?" karena makanan itu dibungkus oleh kresek berwarna hitam jadi Rubina tidak melihat isinya secara langsung.
"Itu cilok."
"Cilok?" ulang Rubina.
"Iya, Bi," diikuti anggukan kepala. "Gue beli itu dari pak Musa."
"Pak Musa? Kok gue kayak nggak asing sama nama itu ya,"
Rubina menerawang berusaha mencari nama itu di dalam kepalanya. "Gue kayak akrab banget sama nama itu. Tapi siapa ya?"
"Tentu aja Bi. Lo pasti sangat kenal sama dia. Pak Musa kan langganan beli cilok lo dulu."
"Ah gue baru inget." Rubina tersenyum antusias. "By The Way lo belinya sama dia?"
"Iya, tadi gue sama Caca lewat depan SMA kita dulu. Karena gue sama Caca kebetulan mau dateng jengukin bokap lo makanya gue sengaja beli ini. Kali aja kan lo lagi kangen sama jajanan ini."
"Bukan lagi. Gue beneran kangen banget sama ciloknya pak Musa. Thanks ya, Gam, udah bawain ciloknya!” ujar Rubina dengan wajah berseri-seri.
"Ya udah, Jangan lupa dihabisin ya!"
"Kalo soal itu mah nggak usah ditanya lagi. Udah pasti gue bakalan ngabisinnya. Ini kan jajanan. super enak," puji Rubina.
"Tapi inget ya, tusuk ciloknya jangan ikut dimakan juga," canda Agam lalu dia tersenyum memperlihatkan kesan manis di wajahnya.
"Ya kali Gam," balas Rubina sambil dia menampol bahu Agam pelan. "Lo pikir gue ini monster yang makan segalanya? Lo ini ada-ada aja deh." Rubina menyertakan gelengan kepala yang temponya agak lambat.
"Kali aja kan saking kangennya lo sama ciloknya pak Musa, sampe tusuknya juga ikutan dimakan."
"Lo kali yang kayak gitu. Malah nuduh-nuduh gue lagi."
"Gue kan dari dulu emang nggak suka makan cilok, Bi. Gue mah sukanya makan di kantin sekolah."
"Karena perempuan yang jaga di kantin statusnya janda kan makanya lo selalu nongkrong di sana sama temen-temen lo. Ayo ngaku lo, Gam!"
“Lah, siapa juga yang nongkrong di sana karena Mbak Diana?"
"Ngaku aja lah, Gam. Buktinya sampe sekarang lo masih hapal namanya. Cie yang suka ke kantin karena pengen ngeliat Mbak Diana," goda Rubina sementara Agam mulai memperlihatkan semburat merah di wajahnya tanpa malu.
"Enggak Bi," Agam mengelak tuduhan itu. "Lagian mana sempat gue nyari perhatian sama Mbak Diana? Dari dulu kan fue cintanya ke lo doang, di hati gue cuma ada nama lo. Ya mana sempat gue nyari perhatian cewek lain."
Tersadar dengan ucapannya yang sudah melewati batas, Agam membulatkan matanya hampir sempurna. Sungguh dia tidak ada maksud menyinggung soal masa lalunya yang pernah mengejar-ngejar Rubina. Kalau pun dia mengatakannya, itu karena Agam kecoplosan saja.
'Sial gue keceplosan!' Batin Agam.
Tepat setelah Agam mengatakan itu suasana berubah jadi canggung. Bukan hanya Agam yang merasakan dan memilih menetralkan perasaannya itu lewat embusan napas serta tegukan saliva. Rubina juga. Gadis itu cukup kaget saat tiba-tiba Agam membahas soal masa lalunya.
"Sorry, Bi. Gue nggak ada maksud buat ngebahas masalah masa lalu," sambil memukul bibirnya pelan, "Bibir gue aja nih yang nggak bisa kekontrol."
"Santai aja, Gam. Namanya juga masa lalu kan ya?" ujar Rubina dengan tenang padahal jangan ditanya lagi bagaimana perasaan dirinya saat Agam menyinggung soal masa lalunya.
"Pas di kampus tadi ada tugas Bi," Caca mengambil alih perhatian. Sedari tadi dia memilih diam saja karena dia menikmati saat-saat Rubina dan kakak laki-lakinya sedang membahas soal masa lalu. Sampai akhirnya kilas balik saat mereka masih SMA merujuk ke masalah perasaan.
Caca menyadari adanya perubahan suasana. Seketika suasana jadi sangat canggung. Karena itu Caca memutar otaknya berpikir mencari topik untuk mencairkan kecanggungan yang terjadi.
"Oh ya? Ada tugas apa?" Kayla menanggapi ucapan Caca.
"Ada tugas makalah lagi. Nanti gue kirimin ke lo via chat tugasnya Bi gimana.?" Tutur Caca menghela napas berat. "Ah, kayaknya tar malam gue begadang lagi deh buat ngerjain tugas itu.”
"Emangnya deadline tugas makalahnya kapan? Besok?"
"Nggak, kata dosennya dikumpul minggu depan sih, tapi gue mutusin buat ngerjainnya tar malem supaya ntar nggak kelabakan pas menjelang dikumpul. Beda sama lo yang punya Sean. Pastinya dia bisa bantu lo buat ngerjain tugasnya."
Rubina meneguk salivanya merasakan getir. Entahlah, setelah kejadian hari itu sesederhana mendengar nama Sean saja sudah berhasil membuat mood Rubina rusak. Walau secinta itu dia dengan Sean tapi semenjak kejadian itu Rubina jadi hilang rasa. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan Rubina malah mendapatkan rasa sakit yang sulit untuk dia ungkapkan dengan kata-kata tiap kali memikirkannya.