
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Saat Rubina sudah dipanggil Rubina disuruh menunggu di ranjang pasien. Sambil menunggu dokter Sean datang, Rubina memainkan ponselnya memeriksa isi sosial medianya. Sampai akhirnya dia mendengar ada suara langkah yang mantap mendekat ke ranjang tempatnya duduk. Berhenti memandang ponselnya dia membawa fokusnya ke depan. Seorang perawat pria sedang tersenyum ramah kepadanya.
"Saya yang akan mengganti perbandi luka Anda Nona Bina.”
“Nggak!” tidak butuh waktu lama Rubina memberikan penolakan. “Saya nggak mau ganti perban ini kalau bukan dokter Sean yang menggantinya."
"Tapi maaf Mbak. Dokter Sean masih ada morning report bersama dokter lainnya di ruang rapat. Dan biasanya untuk tugas ringan seperti ini hanya dikerjakan oleh kami para perawat."
"Pokoknya saya nggak akan ganti perban kalau bukan dokter Sean yang melakukannya. Kalau pun harus menunggu, maka saya akan menunggu sampai beliau datang."
"Apakah ada masalah lagi diruangan ini?" Sean yang baru datang dan mendengar keributan di ruangan ini memilih untuk mampir mengecek. Dia menatap perawat yang ada di ruangan itu dengan tatapan penuh selidik. "Ada apa?" tanyanya sekali lagi.
"Begini Dok. Ada pasien yang hendak mengganti perban lukanya"
"Terus kenapa kamu nggak mengganti perbannya? Apa kamu lupa cara melakukannya?" cecar Sean dengan nada suara yang menyiratkan sebuah ketegasan. "Apa perlu saya mengajarimu cara melakukan penggantian perban yang baik dan benar?" sarkas Sean kepada perawat yang hanya bisa menunduk takut dengan ucapan Sean.
Pada dasarnya semua orang di rumah sakit ini tahu bahwa Sean memiliki wajah yang tampan serta memiliki sikap yang agak dingin. Tapi sekalinya pria itu bicara maka banyak terlebih kepada hal-hal seperti ini—maka pasti akan membuat nyali lawannya auto menciut.
"Bukan begitu Dok! Saya sudah bersiap untuk mengganti perbannya tapi Mbak ini malah memberikan penolakan. Katanya dia hanya ingin mengganti perban lukanya kalau orang yang menggantikannya adalah dokter Sean."
"Harus saya?" tanya Sean yang diangguki oleh si perawat.
Sean jadi penasaran. Segera dia menolehkan muka ke kanan melihat siapa pasien yang punya permintaan tidak masuk akal itu. Saat melihat wajah perempuan menyebalkan yang sedang duduk di ranjang sedang tersenyum sambil melambaikan tangan seketika itu juga tatapan mata Sean berubah jadi lebih tajam.
‘Perempuan sinting ini lagi’ batin Sean.
Mimpi apa dia semalam sampai moodnya pagi ini dirusak kala dia bertemu lagi dengan perempuan sinting yang sangat terobsesi padanya.
Meskipun dia tau kalau perempuan itu adalah cucu dari pemilik tempatnya bekerja tapi tetap saja dia tidak bisa beramah tamah dengan perempuan macam ini.
Rubina mampu merasakan bunyi hentakan jantungnya sendiri saat Sean mulai berjalan mendekat kearahnya. Iris mata kecoklatan milik pria itu membuat alam bawah sadar memaksa Rubina tersenyum kala melihatnya. Tidak peduli bahwa Sean sedang menatapnya tajam, bagi Rubina yang sudah lama merasakan adanya benih cinta, menganggap itu sebagai pemandangan indah yang sayang untuk dilewatkan. Rubina menatap ke arah Sean tanpa mengerjapkan matanya walau itu hanya sekali. Dia benar-benar dimabuk cinta.
"Ini Dok, handscoon dan juga kotak yang berisikan peralatan untuk mengganti perban!" perawat itu membawakan apa saja yang Sean butuhkan dalam mengganti perban luka Rubina.
"Kamu keluar saja, urusan yang satu ini biar saya saja yang menyelesaikannya," titah Sean. "Kenapa kamu menolak perawat yang sudah berbaik hati akan menggantikan perban luka kamu? Kenapa kamu harus membuang waktu sampai menunggu saya yang datang?" tanya Sean. Kala itu dia sedang memperlihatkan mata memicing yang dapat pula diartikan sebagai tatapan yang sedang menuntut sebuah jawaban.
"Tentu aja karena kamu ganteng," bisik Rubina.
"Apa? Saya nggak bisa dengar."
"Aku nunggu kamu soalnya kemarin kamu bilang sendiri kalo kamu yang gantiin perbannya, makanya aku tunggu aja sampai kamu dateng." Sean masih tidak merespon dengan ucapan Rubina. "Oh iya. Tadi aku beli kopi Dok, tapi kok aneh ya dok. Tadinya kan kopinya manis, tapi sekarang rasanya malah jadi hambar coba," Rubina bermonolog saat Sean sedang memasang handscoon pemberian si perawat tadi. "Dok jawab dong! Kok bisa kopi aku ini tiba-tiba jadi hambar. Penyebabnya apa yah Dok?" ujar Rubina terkesan memaksa pria tampan di hadapannya untuk menjawab pertanyaannya yang sebetulnya sangat tidak penting untuk mendapatkan jawaban.
"Pengaruh es batu. Soalnya es batunya cair makanya rasa kopi kamu sekarang jadi hambar. Lagian pertanyaan sesederhana itu saja enggak kamu tahu. Padahal anak SD aja tahu kayak gitu," Sean geleng-geleng kepala. Kesannya sedang meremehkan Rubina.
"Ya aku mana tahu soal beginian, aku kan tahunya mikirin kamu doang."
"Apa kamu bilang?" tanya Sean menyiratkan ketegasan dalam ucapannya.
"Ah? Aku bilang bukan itu jawabannya," jawab Rubina, lebih tepatnya ngeles.
"Terus apa jawaban yang paling masuk akal yang bikin kopi kamu jadi hambar selain karena es batunya yang cair?" tanya Sean terkesan menantang. Dia mungkin memberikan pertanyaan kepada Rubina, tapi fokusnya tetap diarahkan pada aktivitas yang sedang digelutinya.
"Soalnya kopi aku insekyur pas kamu masuk ke ruangan ini. Makanya kopi aku jadi hambar karena seluruh kadar kemanisannya ada sama kamu." Sean memilih untuk tidak meresponnya. Sean hanya fokus dengan tujuan awalnya yaitu mengganti perban lukanya saja. Mungkin dengan begitu Sean akan segera terbebas darinya.
"Awww," sebuah ******* terlepas lagi dari bibir Rubina. Sepertinya dia benar-benar tidak ikhlas untuk membuat Sean tenang. Selalu saja ada masalah yang dibuatnya. Detik selanjutnya Rubina mendapat pelototan dari Sean.
"Aku Cuma buka perban kamu aja, bukan melakukan hal-hal tidak senonoh. Jadi berhenti mendesah karena itu cuma bakalan buat kesalahpahaman untuk orang di luar ruangan ini!" Sean memberi perintah dengan nada suara yang menyiratkan ketegasan.
"Iya, maaf."
"Apa kamu nggak punya kalimat lain selain kata 'maaf', hah?"
"Ada, I love you." Sean semakin habis kesabaran untuk meladeni perempuan sinting yang terus saja mencoba membuat darahnya semakin mendidih saja.
Pokoknya perempuan bernama Rubina itu seakan sengaja ingin memercikkan api didalam diri Sean. Beberapa menit berlalu dengan begitu cepat. Sekarang Sean telah menyelesaikan tugasnya mengganti perban luka perempuan bernama Rubina.
Terlihat Sean yang kini merapikan sebuah kotak berisikan peralatan medis. Setelah itu dia menghampiri tong sampah di dalam ruangan. Dia membuang handscoon bekas ke sana.