I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 71



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Hubby!" Rubina memelas menyerukan nama suaminya yang berjalan di depannya.


"Apa lagi?" Sean menoleh dan menatap dengan sorot mata kesal. "Kan tadi saya udah bilang agar bawa baju secukupnya aja, tapi kamu malah bebal kalo dibilangin. Ya sekarang kenapa memelas sama saya."


"Tapi kan..."


"Tapi apa? Kamu sendiri yang bebal bawa banyak barang tapi kenapa sekarang malah melibatkan saya? Udahlah, berhenti ngeluh dan bawa sendiri barang-barang kamu." Ucap Sean masa bodo dengan gadis di belakangnya.


Kekesalan Rubina semakin menjadi saja setelah dia sampai di ujung tangga. Mana bisa dia membawa barang-barang yang berat itu sambil menaiki anak tangga? "Hubby!"


"Apa lagi sih?" Sean kembali menoleh ke belakang saat urung menginjak gundukan tangga di depannya.


"Tolongin!" rengek Rubina. Aku nggak bisa bawa barang-barang ini sambil naik tangga. Nanti gimana kalo aku jatoh. Kamu emangnya nggak takut kehilangan aku?"


"Manusia ribet!" meskipun tidak senang tetap saja Sean melakukan apa yang diminta oleh istrinya. "Kamu naik duluan. Simpen aja barang kamu di sini. Tar saya bawa ke kamar."


"Emang suami idaman."


"Berhenti mengoceh atau saya nggak bakalan bantu kamu bawa barang ini ke kamar," ancam Sean ditanggapi senyum oleh Rubina.


"Iya, Iya aku ke atas duluan. Hati-hati ya pas naik tangga sambil bawa barang!"


"Udah, pergi sana!" usir Sean yang sudah tidak tahan melihat Rubina. Sean mengembuskan napas panjang setelah itu. Selama beberapa saat pria itu berkacak pinggang sambil geleng-geleng melihat barang-barang Rubina.


Sebelumnya memang tidak ada jadwal bulan madu pun saat ini kenapa mereka berdua ada di vila, itu semua karena Dimas- kakak Sean yang telah menyewa vila ini untuk tiga hari ke depan. Alasannya sih ini adalah hadiah pernikahan untuk adiknya. Karena telanjur di booking, Sean pun tidak bisa berkata lagi. Sean terpaksa datang ke tempat ini bersama Rubina.


***


JAM menunjukkan pukul empat sore lewat beberapa menit ketika Rubina membuka matanya perlahan. Gadis itu baru saja bangun dari tidurnya. "Astaga aku ketiduran," ucapnya. Sebelum itu Rubina sedang rebahan sambil menerima telepon dari Rara. Entah karena dia memang terlalu lelah setelah perjalanan dari rumah ke vila ini, dia sampai ketiduran.


Rubina menuruni anak tangga untuk mencari suaminya. "Sean ke mana ya?" Rubina mengecek segala tempat yang ada di vila itu. Mulai dari ruang tengah, dapur, dan bahkan toilet juga diperiksanya tapi dia tetap tidak menemukan Sean.


Sekarang sisa satu tempat lagi yang belum sempat Rubina sambangi, yaitu kolam renang yang letaknya di belakang vila.


"Aku cariin ke mana-mana ternyata kamu ada di sini," gumam Rubina melihat Sean yang sedang duduk pada kursi berbahan dasar kayu yang menghadap langsung ke kolam renang.


"Hubby?" panggilnya.


"Hmmm."


"Lagi apa?" tanya Rubina.


"Lagi main petak umpet. Udah tahu lagi main hape pakek nanya segala."


"Aku juga tahu kalau kamu lagi main hape. Maksud aku di ponselnya ada apa sih sampe serius gitu."


"Saya lagi nonton bola."


"Emang suka nonton bola?" tebak Sean.


"Bukan. Aku sukanya sama kamu hehehe."


"Apa sih, nggak lucu."


"Ya harap maklum aja kalau candaan aku nggak lucu soalnya aku emang nggak ada bakat jadi pelawak. Aku cuma jago dalam hal mencintai kamu aja," seloroh Rubina yang tidak mendapatkan jawaban dari Sean. Oh iya, By, sore-sore begini enak kali ya kalau kita berenang. Berenang yuk, biar seger!" ajak Rubina.


"Kamu aja yang berenang. Biar kamu juga ada kegiatan selain ganggu saya."


"Oke. Kalau gitu aku berenang sendirian aja." Rubina yang dalam balutan kaos hitam dengan celana pendek selutut melompat begitu saja. Kesegaran langsung didapatkannya. "By!" suara Rubina terdengar parau ketika meneriaki nama Sean.


Sean melirik, "Kenapa?"


"Tolongin aku!" teriak Rubina sangat lantang. "Aku nggak bisa berenang!"


"Cih... Kamu pikir saya bakalan percaya gitu aja?" melihat Rubina yang hendak tenggelam bukannya membuat kepanikan, malah membuat pria itu melukiskan senyuman yang terkesan meremehkan. Dia jadi teringat kejadian saat dia di pantai ketika Rubina juga berpura-pura sedang tenggelam. Bedanya mungkin terletak pada ekspresinya. Dibanding yang dulu ekspresi kali ini jauh lebih natural. "Akting kamu sangat bagus! Udah layak menang piala oscar hahaha."


Lambat laun Rubina semakin melemah. Dia tidak muncul lagi ke permukaan.


"Bina? Kamu lagi bercanda kan?" cecar Sean yang sebetulnya sudah panik namun berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja. "Bina! Bercanda kamu enggak lucu sama sekali."


"Apa jangan-jangan kali ini tenggelamnya beneran?" Sean ikut meninggalkan kursi tempatnya bersantai. Tanpa pikir panjang pria itu ikut menceburkan dirinya ke kolam renang. Semakin berjalannya waktu keyakinan Sean semakin kuat. Sepertinya kali ini Rubina beneran tenggelam.


***


JANTUNG Sean sedang berpacu tak ubahnya baru selesai lari maraton mengelilingi lapangan sepakbola. Tentu saja demikian karena saat ini dia sedang berusaha untuk mengeluarkan Rubina dari kolam renang sedalam dua meter. Embusan napas Sean masih saja memburu meski telah berhasil membawa Rubina ke tepian kolam.


"Sumpah ya Bi, kalo misalkan kamu bercanda lagi saya nggak akan maafin kamu!" ucap Sean di tengah kepanikan yang dirasakannya.


Tenaga Sean lebih dari cukup untuk menggendong tubuh mungil Rubina. Sean membawa gadis yang sudah tidak sadarkan diri itu ke tepi kolam yang permukaannya datar. Sean membaringkan tubuh gadis itu di sana.


"Bina bangun! Ini nggak lucu sama sekali," Sean masih berharap ini semua hanya bercanda.


Tidak ada umpan balik dari Rubina. Gadis itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sean semakin yakin saja kalau Rubina memang sedang tidak bercanda saat ini. Sean mendekatkan telinganya ke bagian mulut gadis itu untuk memastikan adanya embusan udara.


Sean meneguk salivanya khawatir sembari dia menjauhkan wajahnya. "Please Bi. Kamu nggak boleh sampe kenapa-kenapa. saya nggak akan maafin diri sendiri kalo terjadi sesuatu sama kamu karena insiden tadi."


Sean kembali mendekatkan telinganya di depan mulut gadis itu, tapi sekali lagi Sean tidak merasakan adanya hembusan napas. Berhenti melakukan itu dia memperhatikan bagian dada Rubina. Ternyata juga tidak ada pergerakan kembang kempis seperti lumrahnya saat seseorang sedang bernapas.


Sean semakin panik. Terlihat dari tegukan salivanya. Perasaan campur aduk sedang dia rasakan saat itu. Sebenci-bencinya Sean pada gadis itu bukan berarti dia harus melihat gadis itu dalam keadaan seperti ini. "Sepertinya saya harus melakukan CPR. Maaf ya Bi."


Satu tangan Sean digunakan sebagai alat untuk menjepit hidung milik Rubina, tidak banyak waktu yang terbuang setelah itu. Bibir Sean langsung ditautkan pada permukaan bibir Rubina. Sean menarik napas dalam dan mengembuskannya lewat mulut. Sean bukannya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Justru tujuan dia melakukan itu adalah untuk memberikan napas buatan untuk Rubina. Harapnya kondisi Rubina akan membaik seperti sedia kala.


"Ayo Bina! Kamu harus sadar!" ujar Sean menyemangati Rubina setelah dia memberikan sekali bantuan pernapasan. Masih belum ada perubahan, Rubina masih tidak sadarkan diri.


Sean kembali memberikan CPR. Tidak tanggung dia sampai memberikan bantuan CPR delama beberapa kali. Untungnya CPR itu hanya berhenti pada hitungan kelima. Setelah itu Rubina terbatuk.


"Hah... Syukurlah," Sean membantu memiringkan kepala Rubina, membiarkan gadis itu mengeluarkan air yang sebelumnya masuk ke paru-parunya. Sean baru bisa bernapas lega saat itu. Sungguh, sedari tadi Sean tegang. Walau tegang namun dia tetap melakukan pertolongan pertama kepada Rubina. Selain karena sudah tugasnya selaku seorang dokter untuk membantu mereka yang butuh pertolongan, juga karena statusnya selaku suami yang paling bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan Rubina.