I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 35



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Di depan sana terlihat Rubina yang mengambil Lion dari lantai. Dia memeluknya sambil tersenyum mengejek kepada Sean yang masih berusaha memanggil Lion.


'Ah sial, kenapa Lion terus minta dimanja sama cewek rese itu sih,' lewat batinnya Sean menyampaikan kekesalan yang menyerangnya. 'Jadi bikin mood gue kacau aja,' lanjutnya masih lewat batinnya tentu saja.


Sean masih mencoba peruntungannya, kali ini dia kembali menyerukan nama Lion sambil berpikir positif menganggap Lion mungkin tidak mendengar panggilannya sehingga kucing abu-abu itu tampak abai.


"Lion, come here!" Sean sengaja menaikkan volume suaranya. Lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya berharap Lion akan menghampirinya.


'Ayo dong Lion! Jangan bikin gue malu di depan cewek rese itu,' Sean penuh harap mengatakannya lewat batin.


"Lion come here!" bahkan ucapannya kali ini masih diabaikan oleh Lion. Karena itu Sean jadi kesal sendiri sampai dia tidak sadar membuat bibirnya mengeluarkan bunyi decakan.


'Dasar kucing laknat,'


Karena respon Lion yang terus mengabaikan membuat Sean tidak punya pilihan selain mengambil langkah mendekati Rubina dan mengambil kucingnya secara paksa dari tangan perempuan itu. Tidak hanya mengambil paksa dan membuat Rubina menampilkan muka cengo. Rupanya Sean turut serta mengeluarkan kalimat yang semakin meyakinkan Rubina bahwa pria itu sedang kesal.


"Kamu ngapain Lion sampe dia lengket banget sama kamu?"


"Aku nggak ngelakuin apa-apa kok. Lion sendiri yang deketin aku! Ya... mungkin karena dia tau kalo aku juga suka kucing makanya aku gendong dia dan dia nyaman sama aku," ujar Rubina. Lebih kepada memberikan penjelasan sekaligus membela dirinya sendiri di hadapan Sean.


Saat itu Rubina masih memperhatikan dengan gemas Lion yang kini telah berpindah tangan di dalam pelukan Sean. Karena tidak tahan dengan kegemasannya, akhirnya Rubina kembali mengulurkan tangannya dan menyapu pucuk kepala Lion.


"Kamu lucu banget sih. Ibarat kata kamu tuh gemesin banget." Rubina mengeluarkan decakan takjub saat melantunkan pujian untuk Lion.


"Kamu itu definisi kucing paling ngegemasin tau nggak. Jadi kepingin buat nyium yang punya," senyum mengejek dipersembahkan oleh Rubina bersamaan dengan dagunya yang terangkat-mengadu matanya dengan Sean.


"Apa hubungannya?" sambung Sean cepat. "Kan Lion yang ngegemasin. Kenapa saya yang kamu cium?" bingung Sean. Terlihat jelas dari pandangannya yang kala itu sedang meredup mencurigai.


"Soalnya kamu juga ngegemasin sama kayak Lion. Makanya pas liat kamu aku jadi pengen nyium kamu!"


"Kamu bisa dapetin itu..."


"Hah? Serius?" sambung Rubina cepat. Secara tidak langsung Rubina memotong ucapan Sean.


"Saya belum selesai ngomong! maksudnya kamu bisa dapetin itu cuma di mimpi kamu aja. Untuk di dunia nyata jangan harap itu bakalan kejadian!"


"Tapi..."


"Dan ternyata dugaan saya tadi emang bener. Kamu ini emang pikirannya ke hal vulgar. Buktinya kamu lagi bahas masalah ciuman. Udahlah, sekarang nggak perlu berlagak kayak nggak tau apa-apa. Ngaku aja kalo kamu emang lagi mikirin susu yang lain pas kamu nawarin itu sama saya!" Sean menyimpulkan berdasarkan feeling-nya. "Ck... males deh buat ngomong sama kamu. Saya masih punya banyak urusan yang jauh lebih penting ketimbang harus ngeladenin kamu. Terserah kamu deh mau ngelakuin apa aja pas nunggu ibu saya pulang, yang jelas jangan ganggu saya!" peringatnya sebelum akhirnya dia bergerak membalikkan badan kemudian membawa Lion menuju ke kamar.


***


Saat bangun dari tidur tadi Rubina dapat informasi bahwa pagi ini dia memiliki kelas pagi yang mengharuskannya untuk berangkat ke kampus.


Tadinya Rubina maksa mau naek mobilnya yang baru saja selesai diperbaiki di dealer, tapi Sang Papah dan Ibu melarang keras untuk memperbolehkannya lagi menyetir sendiri alhasil kakaknya jadi tumbal untuk mengantarkannya ke kampus sebelum berangkat ke tempat kerjanya. Makanya Rubina berada disana sekarang.


Rubina membuka matanya. Dia menoleh dan cukup terkejut melihat Marisa-calon ibu mertuanya sedang berjalan menghampirinya. Rubina kalang kabut melepas earphone yang sempat menyumpal salah satu indra pendengarannya. Rubina juga menggunakan tangan kanannya untuk diangkat dan dipergunakan untuk menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga.


"Eh, Tante." Sapanya. Tidak hanya menyapa. Rubina bergerak maju dan segera menyalami punggung tangan wanita itu. "Tante mau ke mana? Buru-buru banget, Tan!" Rubina membuat matanya menyipit tanda sedang penasaran.


"Tante memang lagi mau ketemu kamu, Bi."


"ketemu aku, Tan?" kaget Rubina. "Ada apa yah, Tan?"


"Sebelum bilang, Tante mau tanya dulu sama kamu. Kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke kampus Tan, bareng sama Kak Eme," jawab Rubina.


"Ngomong-ngomong kamu buru-buru banget yah?" tanya Marisa.


"Enggak juga kok, Tan. Sebenarnya jadwal kuliah aku dimulainya dua jam lagi dari sekarang. Tapi karena kebetulan Kak Eme juga mau berangkat ke kantor makanya aku nebeng sama dia aja."


"Kamu keberatan enggak Bi kalau misalkan Tante minta tolong kamu buat mampir ke apartemennya Sean. Soalnya laptopnya ketinggalan. Waktu di meja makan tadi sih dia bilangnya akan mengerjakan sesuatu di laptopnya. Makanya Tante berpikir kalau dia membutuhkan laptopnya."


"Aku bisa kok Tan, tapi emang sekarang Sean masih di apartemennya. Takutnya dia udah berangkat ke rumah sakit, Tan?"


"Kayaknya sih Sean masih di apartemennya soalnya sebelum berangkat dia bilang dia ada urusan di apartement. Dan dia juga bilang sama tante kalau hari ini dia akan berangkat ke rumah sakit agak terlambat dari yang biasanya. Makanya dari itu tante yakin kalau sekarang dia masih di apartemennya."


"Oh ya udah. Tapi aku nggak tahu lokasi apartemennya Sean di mana."


"Tante sudah mencatat lokasi dan juga nomor apartemennya," Marisa merogoh saku dan memberikan secarik kertas berisikan alamat lengkap apartemen putranya. Rubina menyambut pemberiannya itu.


"Ya udah Tan, aku anterin dulu laptopnya Sean. Kalau misalkan Sean nggak ada di apartemennya, aku langsung ke rimah sakit aja kali ya buat ngasiin laptopnya." Rubina menyambut tangan terulur ibu Sean yang menggenggam tas laptop.


"Sebelumnya makasih yah, Bi. Maaf karena Tante jadi ngerepotin kamu lagi."


"Bina nggak ngerasa direpotkan kok, Tan, malah Bina seneng bisa ketemu sama Sean," ceplos Rubina tanpa sadar. Lalu gadis itu membekap mulutnya sendiri. Kemudian di detik selanjutnya Rubina mengklairifikasi,


"Maksud Bina, Bina seneng kok bisa bantu tante dan juga Sean!" di akhir kalimatnya bibir merah muda milik perempuan itu melengkung membentuk senyuman. Padahal dalam hati Rubina merutuki dirinya yang terang-terangan mengakui dirinya merasa senang bisa bertemu dengan Sean.


Bagaimana pun juga Rubina harus jaga image di hadapan calon mertuanya. Paling tidak Marisa tidak boleh tahu kalau Rubina sangat terobsesi untuk mendapatkan Sean.


DI sepanjang jalan menuju ke apartemen Sean. Wajah Rubina tampak berseri. Beberapa kali juga dia membuat bibirnya membentuk lengkungan. Sementara itu posisinya masih sama. Dia duduk sambil memeluk tas berisikan laptop milik Sean yang sebelumnya diberikan oleh tante Marisa. Rubina menganggap bahwa hari ini dia kembali punya rejeki bisa datang ke apartementnya Sean. Hari ini ada progress lagi untuk hubungannya dan Sean.


'Gue harap selalu ada jalan yang baik di dalam hubungan gue sama Sean. Gue pasti bakalan ngejaga hubungan ini baik-baik kalau suatu hari nanti gue dan Sean emang ditakdirkan buat nikah,' janji Rubina.