I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 44



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Sean disambut dengan senyum ramah oleh teman-temannya. Salah satu dari mereka langsung berkata,


"Akhirnya dokter spesialis bedah kita datang juga. Btw lo dateng ama siapa tuh Sean?" seorang pria bernama Heri yang menanyakannya. Perhatiannya langsung teralih kepada seorang gadis cantik yang datang bersama Sean.


"Ck Lo pake nanya segala lagi Her. Ya pastilah cewek yang dateng sama Sean itu pacarnya," celetuk pria bernama Irfan.


"Dari mana lo tahu kalau cewek ini pacarnya?" Heri kepada Irfan dengan raut muka penasaran tersemat di wajahnya.


"Ya pastilah, liat aja warna baju mereka kenakan. Bukannya itu udah lebih dari cukup buat ngejelasin bahwa keduanya adalah couple. Bener nggak Sean?" kali ini pria bernama Irfan tersebut mengalihkan fokusnya menuju ke Sean.


Sekarang Sean menjadi perhatian orang-orang yang ada di meja. Mereka semua menunggu sampai Sean mengonfirmasi siapa gadis yang datang bersamanya.


"Ya, dia pacar dan sebentar lagi bakalan jadi istri gue," ujar Sean.


Rubina seperti baru saja mendapatkan embusan angin kesegaran. Dia tahu, ini semua cuma sekadar akting. Namun kebahagiaan yang dia dapatkan sangatlah nyata. Ada perasaan senang yang sulit diungkapkan dengan kata-kata saat Sean memperkenalkannya sebagai seorang kekasih. Terkesan sederhana tapi cukup berdampak.


"Ayo duduk!" ajak pria bernama Irfan. "Kok gue ngerasa wajah pacarnya Sean nggak asing yah," Irfan memperlihatkan tatapan yang tengah menerawang sambil memperhatikan Rubina mengubah posisinya jadi terduduk di sebelah Sean. Dia merasa bahwa wajah Rubina begitu familiar di dalam kepalanya.


"Ah iya juga yah. gue pikir gue doang loh yang ngerasa kayak gitu, ternyata lo juga ngerasain hal yang sama, Fan," Heri mengatakannya.


"Rasanya gue kayak pernah ketemu sama dia sebelumnya."


Rubina yang menjadi sumber perhatian teman-temannya Sean pun hanya bisa tersenyum.


"Apa sebelumnya kita pernah ketemu?" Irfan bertanya kepada Rubina. Feeling Irfan. sangatlah kuat bahwa malam ini bukan kali pertama kali dia bertemu dengan Rubina. Ditambah lagi dengan Heri yang juga merasakan hal yang sama- semakin menambah keyakinan Irfan.


"kalian tau keluarga Henney? or Wiriawans?" Nino bertanya.


"Sure, siapa yang nggak kenal sama keluarga Henney yang punya rumah sakit tempat lo kerja kan Sean?" celetuk Heri.


"Wiriawans juga bukan perusahaan abal-abal, gue pengen ngajak kerjasama tapi susah banget jebolnya." lanjut Irfan.


"Ya itu... dia salah satu cucu keluarga Henney sama Wiriawans!"


"You are kidding!" ucap Irfan tidak percaya.


"Really?!" tanya Heri melihat kearah Rubina. Sementara Rubina hanya membuka sudut bibir memberikan jawaban.


"Nama lo Rubina?" tanya Irfan kepada Rubina.


Rubina mengangguk, dia juga menyertakan jawaban singkat, "Iya, nama aku Rubina."


"Oh Hell... ga nyangka gue, bisa ketemu ama orang penting," Irfan melirik Sean. Menemukan pria beriris cokelat itu tersenyum kaku.


"Hmmm," Rubina bergumam.


"Kayaknya buat pertanyaan itu gimana kalo Sean aja yang jawab."


"Ide bagus," jawab Irfan menganggukkan kepalanya disaat yang bersamaan.


Sean terlihat meneguk salivanya. Hal di dunia ini yang paling dia benci adalah saat menjadi sumber perhatian. Seperti saat ini Sean merasa gugup sehingga dia memutuskan untuk meneguk salivanya. Cara itu terbilang mujarab dilakukan oleh Sean saat sedang gugup. Ya, meskipun kegugupannya tidak hilang secara menyeluruh, paling tidak sedikit berkurang.


Berbanding terbalik dengan Sean yang merasa gugup saat menjadi sumber perhatian. Rubina sendiri merasa sangat excited menunggu Sean yang sebentar lagi akan mengeluarkan kalimat manis untuknya.


"Ayo, Sean jawab!" Irfan berujar tidak sabaran. "kita penasaran kenapa lo bisa ketemu dan jatuh cinta sama Rubina, soalnya yang kita tau selama ini lo nggak pernah pacaran atau deket sama cewek."


Nino bisa melihat ketegangan yang terdapat di wajah Sean. Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi Nino tahu sisi Sean yang tidak terlalu suka dengan keramaian. Apalagi saat menjadi bahan perhatian seperti saat ini.


"Gue ketemu Bina pas gue lg magang di SMA nya Bina, setelah itu kita ga ada kontak, dan ternyata Kakeknya Bina sama Kakek gue temenan dan mereka berencana buat jodohin gue sama Bina, so ya... Gue cowok kali, ketemu keseringan sama Bina ya lama-lama perasaan gue ke Bina ya jadi suka, sayang, cinta," Sean yang sudah mewanti-wanti pertanyaan itu akan dia dapatkan-bernapas lega di akhir kalimatnya.


'Syukur gue udah nyiapkan jawaban ini' batin Sean.


"Wuiihhgue dulu mikir, siapa yang bakalan dapet hatinya si Mr. Snowman eehhh... ternyata cuma Rubina yang bisa luluhin hati es batu kita." Kata Heri yang hanya mendapatkan cengiran dari Sean.


"Karena Sean udah dateng, gimana kalo kita langsung makan saja. Gue udah laper banget," kalimat itu disampaikan oleh Nino yang duduk bersebelahan dengan Salsa kekasihnya. Nino sebenarnya tidak lapar-lapar amat karena tadi sore dia sempat makan sandwich dengan Salsa. Pun kenapa dia menyinggung soal makanan itu karena dia tidak tahan melihat Sean yang semakin gugup karena menjadi sumber perhatian.


"good idea," sambung Irfan. "Gue juga udah laper nih."


Mereka pun serentak mengambil makan. Setelah mengambil sesuai dengan porsi masing-masing mereka akhirnya kembali ke meja yang sama.


"gue pikir sikap lo masih sedingin yang dulu Sean. Bahkan kita nggak berekspektasi lo sampe bawa gandengan." Irfan rupanya masih bisa move on dengan pembahasan yang sebelumnya.


"Kira-kira setelah Rendi, siapa lagi di antara kita yang bakal nyusul naik ke pelaminan?" seperti sebelumnya Nino jadi penyelamat dengan mengalihkan pembahasan yang menjurus kepada Sean.


"Kayaknya lo deh, No, yang bakal naik pelaminan setelah Rendi," upaya Nino mengalihkan pokok pembahasan berhasil. Sekarang Irfan malah meladeni ucapannya.


"Gimana Bebz? Katanya kita yang bakal naik pelaminan setelah ini. Kamu udah siap?" tanya Nino kepada Salsa.


"Mendingan abisin aja makanan di piring kamu. Pembahasan nikahnya nanti kita bahas pas berdua aja," respon Salsa.


"Sayang." Rubina baru saja menjadi sumber perhatian saat menyerukan kata 'sayang' disaat orang-orang yang ada di meja itu telah bersiap untuk menyantap makanan di hadapan masing-masing. Semua orang yang ada di meja itu, termasuk Sean menolehkan muka kepada Rubina. "Ada bekas makanan di sudut bibir kamu, sini aku lap pakai tisu," lanjut Rubina sembari membereskan sudut bibir milik calon suaminya dengan selembar tisu.


Rubinq melakukan tugasnya itu dengan begitu cekatan. Bahkan tidak ada keraguan saat melakukannya. Sementara Dean? jangan ditanya lagi. Sean benar-benar kesal lantaran Rubina memanfaatkan kesempatan ini untuk bertingkah semaunya. Dan tentu saja Sean tidak bisa menghalau gerakan Rubinq. Nanti yang ada malah membuat suasana jadi kacau dan rekan-rekannya bakal menaruh curiga tentang hubungan mereka.


'Ck... Sialan! Kenapa dia malah buat gue malu dengan manggil sayang di depan yang lain sih.' Walaupun Sean berusaha untuk menampilkan raut muka biasa saja, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hati Sean sampai mengumpat karena kesal dengan tingkah Rubina.


"Makasih," ucap Sean dengan sedikit senyum dipaksakan setelah Rubina selesai membersihkan sudut bibirnya.