
When The Storm Come...
Beberapa menit kemudian guyuran air shower yang dingin tidak membuat keduanya kedinginan malah mungkin mengeluarkan keringat, karena setelah itu Hans dan Nadin pun melakukan penyatuan dengan dramatis.
***
"Mas, boleh nggak aku mengenal sosok Azura?!" saat Nadin sudah duduk di meja rias sudah siap dengan baju kerjanya. Hans yang sudah siap pun terdiam setelah mendengar ucapan Nadin.
"Aku nggak akan nuntut kamu untuk segera mencintai aku, Mas... tapi bisakah aku mengenal Azura? aku hanya ingin berdamai sama masa lalu kamu, Mas. Yaitu dengan cara mengenalnya. juga mengenalmu lebih jauh lagi Mas... aku ingin mempertahankan pernikahan kita..."
Hans pun berpikir sejenak lalu beranjak ke laci di nakas sisi tempat tidur lalu membawa sebuah kunci yang diberi gantungan hati. Hans pun memberikan kunci itu ke tangan Nadin.
Nadin tau itu adalah kunci kamar yang tidak pernah dibuka oleh Hans bhkan kemarin dia sampai marah saat Nadin meminta kamar itu untuk dijadikan tempat sholat.
Senyum Nadin seketika terbit melihat ke arah Hans.
"Makasih, Mas. Udah percaya sama aku!" Hans melihat Nadin sejenak, denfan ragu mengecup kening Nadin.
"Saya pergi dulu!"
"Mhh.. hati-hati ya, mas." ucap Nadin saat Hans sudah melangkah keluar dari Apartment.
Saat itu hati Nadin benar-benar berbunga, dia selangkah lebih dekat ke dalam perasaan Hans. dengan di percaya oleh Hans untuk mengenal sosok Azura saja sudah membuat Nadin senang. Jujur Nadin sangat penasaran akan sosok Azura.
Tanpa menunggu waktu Nadin pun melangkah ke depan kamar kenangan Azura, paling tidak Nadin tau kalau kamar itu pasti oenuh dengan photo juga kenangan Hans dengan Azura.
Saat Nadin baru saja akan membuka kunci tak lama Handphonenya berbunyi dan saat dilihat ada bastian yang meneleponnya.
"Iya Tian?!"
"mau aku nunggu berapa lama lagi nungguin kamu yang nggak turun-turun... cepetan, aku udah jamuran ini nunggu kamu..."
"Oh iya-iya aku kebawah sekarang!" ucao Nadin meninggalkan kunci di pintu itu lalu segera pergi keluar dari Apartment.
***
Di tempat butik milik Aquila...
Bastian dan Nadin datang terlebih dulu sekalian mengatur apa saja yang belum beres.
Melihat tampilan Bastian yang terlihat keren, hampir semua wanita yang sudah hadir disana terpusat ke arah Bastian.
Bastian yang dilihat oleh beberapa orang menjadi sedikit risih.
"Nad, ada yang bisa aku bantu?" saat melihat Nadin yang sedang bolak balik di depan nya.
"Ah, nggak usah bentar lagi juga beres kok... eh, by the way, Aquila belum dateng ya?" tanya Nadin.
"Belum tadi sih aku telpon masih di jalan, dia dijemput sama cowok cinta pertamanya."
"Jadi penasaran deh, cinta pertamanya kayak apa? kalo Aquila aja cantik gitu pasti cowok yang dia cintai juga ganteng.."
"Hm.. mungkin, tapi ga seganteng aku kayaknya.."
"cih.. ngarep! udah ah bentar lagi acara dimulai."
***
Saat semua sudah berkumpul dan duduk di kursi yang tengah disiapkan sambil mendengarkan MC membuka acara...
Tak lama lampu pun di matikan dan lampu sorot berpusat ke pintu utama. Disana sudah berdiri Aquila dengan di dampingi oleh seorang pria, tangan Aquila merangkul lengan si pria, Aquila tersenyum kearah para tamu yang tengah hadir disana.
Sementara di deretan kursi depan Bastian dan juga Nadin terdiam kaget melihat siapa pria yang ada di samping Aquila.
Ya.. dia adalah Hans.
Meskipun masih dengan muka datar tanpa senyum, Hans berada di samping Aquila.
"Ya... Nad, iti suami kamu kan? jadi cinta pertamanya Aquila itu suami kamu?"
"I don't know..." ucap Nadin tertahan antara sakit, sedih, kecewa... semua jadi satu.
"Nanti aku bilang sama Aquila kalau--"
"No... Tian, jangan bilang Aquila kalau Hans adalah suami aku, please?!"
"But why?!" Ndin langsyng mengeleng melihat kearah Bastian.
"Pokonya aku bilang jangan ya jangan!" ucap Nadin mulai berkaca-kaca.
Kalian tau... Perasaan Nadin sekarang itu seperti diangkat oleh Hans ke atas, lalu dengan mudahnya dia jatuhkan lagi hingga paling dasar...
Semua tamu mulai berdiri saat Aquila dan Hans berjalan kearah kursi yang disediakan.
"Hey Nad, Tian... kenalin ini Kak Hans, dia yang pernah aku ceritain kemarin sama kamu Nad..." Ucap Aquila pada Nadin dan Bastian kalimat terakhir Aquila sedikir berbisik pada Nadin.
Tentu saja Hans yang melihat ada Nadin dan juga Bastian terkejut dibuatnya.
"Kak Hans, ini loh Nadin dia yang aku pilih jadi desainer di butik aku..." Hans hanya terdiam melihat tajam kearah Nadin.
Tidak ada sanggahan ataupun pernyataan dari Hans kalaunNadin adalh istrinya.
Hati Nadin benar-benar sakit. Bstian yang melihat reaksi Nadin yang hendak menangis langsung menggenggam tangan Nadin dan menriknya menjauh dari Aquila dan juga Hans.
"Loh Hey, Tian.. kalian mau kemana?!" ucap Aquila sedikit berteriak. Hans pun melihat kepergian Nadin dan juga Bastian keluar dari aula butik.
Sementara Bastian masih membawa Nadin keluar sampai ke parkiran.
"See? apa yang kamu harapkan dari suamimu itu?! sudah jelas-jelas istrinya da dihadapanmya tapi dia nggak sekalipun menyanggah kaau kamu adalah istrinya?!" ucap Bastian kesal.
"Tian, kamu bilang cowok cinta pertamanya adalah pacar kakaknya yang sudah meninggal?"
"Hmm... kenapa emangnya?!" Ndin terdiam berfikir.
"Bisa kamu antar aku pulang ke apartment?"
"Tapi.. please Tian..."
Bastian pun hanya menghela napas melihat kearah Nadin kesal cemas semuanya bercampur.
**
Aaarrgghhh sumpah keael bgt sih ga lulus2 review... padahal udah diedit sedemikian rupa gusti....
iisssshhh bt lah ak ga bisa secara detail ungkapin penyatuan Hans sama Nadin padahal itu lagi seru2nya..
asli males bgt.. bt.. pundung, padahal di judul yg lain punya aku ada yg lebih parah lagi... tapi lulus-lulus aja tuh...
sebel sebel sebel