
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"BINA!"
Suara yang cukup familier itu terdengar disaat Rubina memang sedang diam mencoba mencari bukti agar kedua rekannya percaya soal perjodohannya dengan Sean.
Rubina dan juga kedua rekannya kompak menoleh ke sumber suara.
"SEAN," ucap Rubina kaget. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya.
Bukannya tidak suka dengan kehadiran Sean. Hanya saja kejadian ini sangatlah tidak terprediksi. Makanya Rubina sampai membekap mulutnya di detik awal setelah matanya dengan iris kecoklatan Sean bertemu.
"Saya datang mau jemput kamu. Btw urusan kamu sudah selesai kan?"
"Eu... udah kok," balas Rubina masih tidak percaya. Dia sebenarnya masih ingin berada di tempat itu bersama kedua rekannya. Tapi Rubina juga tidak mau menolak Sean yang sudah datang hendak mengajaknya pulang bareng.
"Ya udah, saya tunggu di parkiran depan!" pamit Sean.
"Guys maafin gue yah, kayaknya gue harus pulang sekarang. Calon suami udah jemput soalnya," canda Rubina kepada temannya yang masih bereaksi kaget. "Oh iya, gimana? Kalian udah pada percaya kan kalo gue sama Sean statusnya dijodohin?"
Rara dan Syifa dengan kompak menganggukkan kepalanya. Keduanya sebenarnya masih tidak percaya bisa melihat Sean. Apalagi kedatangannya jelas untuk mengajak Rubina pulang bareng.
"Sorry yah guys, gue tinggal, oh iya ini duit buat bayar pesenan kalian nanti. Gue kan udah janji pengen traktir kalian. Sekali lagi gue minta maaf yah!" setelah urusan dengan rekannya selesai Rubina dengan wajah bahagianya menghamburkan diri menemui Sean di parkiran.
SEPERTI tadi pagi, saat Sean mengantar gadis menyebalkan itu menuju ke kampus. Sekarang dia juga masih membiarkannya untuk melingkarkan tangan di bagian perutnya. Tentu saja alasannya karena keamanan. Coba bukan alasan keamanan, mana sudi Sean membiarkan Rubina memeluknya seperti itu.
"Kamu ngajakin aku mampir ke sini buat apa Sean?" Rubina bertanya sambil berpikir. "Apa kamu mau ngajak aku kencan? Seperti biasa Rubina mengatakannya dengan penuh percaya diri. Lalu setelah menanyakannya gadis itu pun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"kayaknya mulai dari sekarang kamu belajar deh buat berenti berpikir kejauhan. Saya mampir ke sini soalnya ada pasien sito! Saya mau tanganin dulu pasien, baru saya nganterin kamu. Lagian sejak kapan Klinik adalah sebuah tempat buat kencan?"
Aaaahhh... gitu. Kirain!
"Tapi Di mana pun tempatnya aku bakalan selalu menganggapnya sebagai kencan saat kita lagi barengan."
"Terserah kamu aja. kamu tunggu di sini aja! Nggak usah masuk ke dalem, banyak virus didalem!" Rubina mengangguk sesaat.
***
"Itu apa?" ucap Rubina saat Sean sudah kembali menghampirinya dengan satu buah keresek di tangannya.
"Udah periksa pasiennya? kok bentar? bukannya sekarang jam praktek kamu?!"
"Saya cuma ada tindakan sito doang, setelahnya saya bilang ke suster supaya dokternya diganti sama dr. Ridwan."
"Oh... makasih ya... cuma demi aku kamu rela tuker jam praktek." Sean hanya mencebik.
"Trus itu apaan?!"
"Ck... apaan sih main peluk-peluk sembarangan," emosi Sean saat Rubina memeluk lengan yang membawa kresek.
"Maaf. Tapi hal itu hanya sebuah gerakan refleks soalnya aku terlalu exited."
"Ck... Kayaknya ada masalah sama otak kamu sampai kamu terus aja mengumbar senyum kayak gitu!" Sean berkomentar. Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya dia mengulurkan tangannya yang menggenggam botol berisikan air mineral. Sementara botol berisikan susu itu disimpannya untuk dirinya sendiri.
"Kamu tau nggak, alasan kenapa aku senyum-senyum kayak gini?" Tanya Rubina.
"Saya nggak tau, dan nggak mau tau juga. Dan nggak penting juga buat nyari tau alasan kenapa kamu terus senyum kayak gitu!" ketus Sean. Cukup tajam kalimat yang diucapkannya saat itu tapi bukan perkara serius bagi Rubina yang sudah terbiasa dengan ucapan atau bahkan dengan sikap dingin seperti itu. "Ambil air minum ini!"
Rubina menyambutnya dengan semangat. Tapi saat Rubina menundukkan sedikit kepalanya, saat itu juga dia tersenyum menggoda. "Kenapa kamu cuma ngasih aku air mineral aja. Kenapa nggak minuman kayak yang kamu pegang?"
"Ya udah kalo nggak mau, sini balikin lagi! Udah dikasih hati malah minta jantung. Syukur-syukur saya masih mau bagi," Sean hendak merampas botol di tangan Rubina. Namun Rubina dengan sigap menjauhkan tangannya sehingga Sean tidak berhasil meraih botol di tangannya.
"Emangnya aku pernah minta jantung? Perasaan selama ini aku cuma minta hati kamu kok."
Sean membuka tutup botol minumannya. Rasa hausnya lebih mendominasi dibanding dengan keinginannya untuk meladeni Rubina.
Dengan kepala didongakkan Sean meneguk susu putih itu sampai menyisakan setengahnya saja. Rubina yang berdiri tepat di hadapannya hanya bisa cengo. Dalam hati, gadis itu melantunkan pujian sewaktu melihat gerakan jakun milik Sean naik-turun, bergerak, saat minuman yang sedang diteguknya melewati bagian kerongkongannya. Sean terlihat begitu seksi meski dengan sesederhana meneguk minuman saja.
"Kenapa kamu ngeliat saya terus sih? emang ada yang salah sama muka saya sampe liatinnya kayak gitu?!" cecar Sean memicingkan matanya.
"Hm... Ada yang salah sih sama kamu." Rubina menjawab cepat.
"Apa yang salah?" Tanya Sean makin menaikan nadanya.
"Kesalahan kamu adalah karena kamu terlalu ganteng sampe aku nggak bisa memalingkan mata aku dari wajah kamu. Kamu itu keliatan gimanaaa... gitu pas neguk susu itu. Emang kamu suka banget ya?"
"Cih... Bukan urusan kamu!" setelah kalimat ketus itu tersampaikan. Sean lanjut menghabiskan susu dinginnya yang tadinya baru sempat diteguk setengahnya saja.
"Ngomong-ngomong aku juga punya susu loh, kamu mau nggak! Kalo kamu mau tar aku kasih deh." ucap Rubina dengan cengiran khasnya.
Entah Rubina yang terlalu frontal atau mungkin otak Sean yang gampang mengarahkan segalanya kepada hal-hal yang sifatnya 'jorok' namun yang jelas susu yang masih tersimpan di mulut dan belum sempat diteguk itu berakhir di tanah. Sean baru saja menyemburkannya.
"Bisa nggak sih kamu berenti mikirin hal-hal yang berbau jorok? Saya jadi heran sama kamu. Mungkin benar juga dugaan saya selama ini tentang kamu. Di otak kamu itu hanya menyisakan hal-hal jorok saja."
"Hal jorok apa sih yang kamu maksud? Aku nggak mengerti deh," balas Rubina. Dia menyetel mukanya untuk terlihat sedang tidak mengerti padahal kenyataannya dia sengaja melepaskan kalimat ambigu itu untuk membuat Sean kesal.
"Kamu nggak usah belagak bodoh Bi!" kata Sean dengan tatapan menginterogasi Rubina.
"buat apa juga aku belagak jadi orang bodoh. Tanpa berlagak pun orang-orang akan tau kalo aku emang bodoh. Waktu sekolah aja sering banget dapat nilai 25 di beberapa pelajaran. Yaaa... Jadi, nggak ada alasan aku harus belagak jadi orang bodoh di depan kamu!"
"Aku tau omongan kamu barusan mengarah ke hal yang nyeleneh kan? Ayo mengaku, kamu lagi ngebahas susu yang lain kan?" Sean meloloskan pertanyaan rasa tuduhan terhadap Rubina.
"Aku kan cuma bilang kalau aku punya susu. Dan emang kenyataannya di rumah aku banyak stock susu kok. Kalo emang kamu nggak percaya ayo kamu ikut ke rumah dan periksa di kulkas."
"Kamu pikir saya bisa percaya dengan upaya pembelaanmu barusan?" Sean bergeming selama beberapa saat sebelum akhirnya terlihat gerakan geleng-geleng kepala bertempo cepat mengikuti imbuhannya.
"Tapi aku emang lagi bahas stock susu yang aku simpan ada di kulkas. Hmmm emangnya kamu memikirkan apa?" Rubina menahan senyumnya. "Kayaknya kamu deh yang lagi mikir ke hal-hal aneh." Rubina menyetel tampilan muka tengah berpikir. Lalu di menit selanjutnya terlihat matanya yang melebar, "Atau jangan-jangan kamu lagi mikir..."
"Kita harus pulang sekarang, setelah ini saya masih punya urusan soalnya," Sean yang sedang mendapatkan tatapan meredup dari Rubina memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. Tentu saja hal itu cuma akal-akalan Sean saja demi untuk terhindar dari momen awkward ini. Buru-buru Sean mengambil helm yang sebelumnya dia letakkan begitu saja menutup spion kanan lalu memasangnya membungkus kepalanya.
Hay para readerskoooh...
maafkeun author ya... upnya agak melambat..
othornya lagi ga dalam keadaan fit.. alias sakit... ini juga dikit2 nulisnya... megang hp lama2 pusing... jadi... tolong dimaklum ya.. 🙇🙇