
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sean telah menggelengkan di detik awal setelah mendengar bualan tak masuk akal yang Rubina ucapkan.
"Untung kamu cewek. Coba kalo bukan, udah saya bonyokin muka nyebelin itu," padahal saat itu Sean sedang mencoba menakut-nakuti Rubina tapi Rubina meresponnya seolah tidak ada sedikit pun ketakutan yang dirasakannya. "Kenapa malah senyum kayak gitu ngerespon ucapan saya?"
"Lucu aja."
"Lucu? Apanya yang lucu!"
"Kamu," Rubina mencubit pipi milik Sean. Namun tak berangsur tangannya melakukan itu, di detik selanjutnya Sean ikut mengangkat tangan dan menyingkirkan tangan Rubina.
"Do not try anything with me, Bi. If this happens again, be prepared. I will not hesitate to..."
"Kiss me?" potong Rubina.
"In your dreams. saya nggak sudi nyium kamu." Sean berhenti menatap wajah Rubina. Sekarang dia sedang mengambil ponselnya dari dalam saku. Sean memutuskan untuk menelpon Emerald. Dia ingin memberitahu soal dirinya yang akan pulang agak telat karna harus menunggu sampai hujannya reda dulu.
"Halo, Kak!" ucap Sean.
Rubina menolehkan muka saat mendengar keramahan yang terucap dari bibir Sean saat panggilannya terhubung.
"Gini Kak. Saya mau ngabarin kalau saya sama Bina kayaknya bakalan pulang telat. Soalnya sekarang kita juga masih neduh nih di halte. Juga kayaknya hujannya juga bakalan awet."
Rubina hanya bisa melihat Sean sedang menganggukkan kepalanya karena saat itu Sean tidak me-loudspeaker panggilannya sehingga Rubinq tidak bisa mendengar yang Emerald katakan.
"Nggak usah, Kak. Saya sama Bina mau nunggu sampe hujannya reda aja. Iya, thank's ya Kak," setelah itu sambungan telepon pun terputus.
"Aku iri loh sama Kak Eme," ucap Rubina tiba-tiba begitu dia melihat Sean yang menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Iri? Kenapa?" tanya Sean.
"Sebenarnya bukan sama Kak Emerald aja sih. Sama orang lain pun aku iri. Soalnya kan mereka bisa denger nada yang terkesan dari kamu. Sementara aku cuma bisa dengar kamu jawab aku dengan ketus." Rubina menampilkan raut muka seolah-olah sedang sedih. "Padahal aku juga kepingin loh denger kamu jawab aku dengan ramah, kayak tadi, pas kita di depan teman-teman kamu."
Sean tidak merespon. Bahkan sepatah kata pun tidak terucap dari bibirnya. Sean memilih abai dan hanya mendengarkan Rubina berbicara.
"Cuaca kok dingin amat ya..." Rubina mengeluh merasakan hembusan angin yang rasanya menusuk. Mungkin juga karena saat itu dia sedang mengenakan gaun selutut sehingga dingin lebih dirasakannya.
Sean tanpa pikir panjang bangkit dari duduknya.
Rubina memperhatikan Sean yang membuka jas yang dikenakannya. Setelah melepas jasnya, kini hanya sebuah kemeja berwarna putih yang melekat di tubuh Sean.
"Kamu bisa kenakan jas saya biar kamu nggak kedinginan!" Sean tanpa ragu memberikan jas miliknya.
Rubina menyambut jas pemberian Sean dengan semangat empat lima.
"Nggak usah senyam-senyum!" ucap Sean. "Saya ngelakuin ini karena saya udah janji sama kak Eme kalo saya akan ngejaga kamu. Itu aja!" Sean menekankan itu setelah menemukan Rubina tersenyum tipis-tipis.
"Apapun alasannya nggak akan ngubah kenyataan kalo aku sangat senang dapetin jas ini." Rubina memiringkan kepala dan tersenyum.
"Thank's calon suami!"
***
Rubina tersenyum sewaktu turun dari motor.
"Makasih ya calon suami udah ngajakin aku buat dateng ke acara nikahannya teman kamu. Sama aku juga mau bilang makasih udah ngasih aku gaun ini."
Sean yang tidak tahu harus menjawab apa hanya menggerakkan kepalanya sebagai jawaban. Pria itu memperlihatkan sebuah anggukan.
"Sebenernya saya ngerasa nggak enak soalnya telat nganterin kamu pulang."
"Kamu tenang saja. Aku nggak masalah kok. Justru sebaliknya, aku ngerasa senang karena bisa berduaan sama kamu pas di halte tadi. Jadi kamu nggak perlu ngerasa nggak enak."
"Saya ngerasa nggak enak sama Kak Eme dan tante Althea, bukan sama kamu, jadi jangan kegeeran kamu!" Pedas Sean. "Ya udah kalo gitu saya langsung pulang."
"Tunggu bentar!" cegat Rubina.
"Ada apa?"
"Soal janji kamu..."
"Kamu nggak usah khawatir soal itu. Saya bukan orang yang dengan mudah akan meninggalkan janji yang udah saya buat. Seperti janji yang udah saya bilang. Seminggu ke depan saya bakalan nganter jemput kamu ke kampus."
"Lah, bukannya perjanjiannya cuma ke kampus doang ya antar jemputnya?" Seanw mengembalikan pertanyaan.
"Kata siapa? Pokoknya selama seminggu itu kamu harus antar jemput aku. Entah itu ke kampus atau kemana pun."
"Hah... ok, tapi inget, kalo misalkan saya sibuk, kamu bisa pake taksi atau ojek online," respon Sean agak malas. Setelah itu dia menancap gas membawa V4R nya.
Kepergian Sean menyisakan Rubina dengan senyum tipis-tipis tergambar di bibirnya.
"Sean itu udah kayak SnowMan. Sifatnya dingin banget, tapi kok anehnya malah ngangenin yah," beberapa orang mungkin akan menganggap Rubina bodoh karena terus mengejar cinta dari seorang pria dingin. Namun seperti itulah cinta. Rubina tidak terusik sama sekali dengan sikap dingin Sean. Malah Rubina merasa tertantang untuk menghancurkan sikap dingin yang sudah mendarah daging pada diri Sean.
***
Rubina dan Syifa sudah di kamar Rara. Mereka telah mempersiapkan segalanya untuk mengejutkan Rara yang sedang berulang tahun. Syifa bahkan bela-belain untuk pulang kantor lebih cepat untuk ke mall dengan Rubina membeli kado, birthday cake, dan juga peralatan tambahan untuk mengejutkan sahabatnya.
"Fa, ini udah bener kan cara masangnya?" tanya Rubina setelah dia memasang dekorasi pada dinding kamar Rara. "Nggak miring kan gue masang ini?" Syifa memperhatikan hasil dekorasi yang Rubina buat.
"Udah bagus kok, Bi. Sekarang semuanya udah siap, gue juga udah nyiapin korek buat nyalain lilinnya. Sekarang kita tinggal nunggu Rara pulang."
"Ngomongin soal Rara pastinya dia sedih banget deh, soalnya kita nggak ada yang ngucapin ulang tahun. Pasti dia akan mikir kalo kita bakal lupa sama ulang tahunnya."
"Sumpah, semalem tangan gue tuh gatel banget pengen ngucapin. Tapi gegara rencana ini akhirnya gue urungin deh," sahut Rubina.
"Oh iya, tapi ngomong-ngomong jam segini kok tuh anak belum pulang yah? Jangan sampe dia lembur di kantornya. Wah, bisa kering kita nungguin di sini."
"Tunggu deh gue cek dulu." Syifa berinisiatif.
Tok... Tok... Tok...
Bunyi ketukan di pintu berhasil membuat kedua perempuan yang ada di ruangan itu saling menatap mengadu mata. Mereka membagikan ketegangan yang memancar lewat sorot mata. Itu Rara bukan sih yang ngetuk pintu?" tanya Rubina berbisik kepada Syifa. Sementara Syifa hanya mengedikkan bahunya tidak bisa menebak apakah yang mengetuk pintunya adalah Rara atau justru orang lain.
Kayla dan Syifa fokus ke pintu. Ketegangan semakin dirasakan oleh keduanya disaat gagang pintu bergerak pertanda ada orang yang hendak masuk.
"Oalaaaahhh ternyata tante," spontan Rubina mengatakannya diikuti oleh hela napas yang tandanya lega. " Aku pikir Rara yang datang."
"Tante cuma mau ngasih tahu kalo Rara udah ada di jalan. Sebentar lagi dia nyampe sini. Kalian sebaiknya bersiap sekarang!" Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Rara memberitahu. "Kalau begitu tante ke bawah dulu ya supaya Rara tidak curiga."
Tiga puluh menit selanjutnya Kayla dan juga Syifa telah bersiap untuk memberikan kejutan. Syifa adalah orang yang memegang birthday cake sementara di sebelahnya terlihat Rubina yang sedang memegang sebuah party popper.
Terdengar langkah yang semakin mendekat ke pintu.
KLIK!
Begitu pintu terbuka dan menampilkan Rara, saat itu juga Rubina meledakkan party popper di tangan membuat confetti terbang di atas kepala Rara. Rara yang kaget refleks menutup telinganya. Bibirnya terbuka lebar sejurus dengan matanya.
Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday Rara.
Rara tersenyum penuh haru. Binar di matanya terlihat dan mempertegas bahwa dia sangat senang mendapat kejutan seperti ini dari Rubina dan juga Syifa yang merupakan sahabatnya.
"go on, make a wish sebelum lo tiup lilinnya!" titah Syifa yang daritadi memegang kue itu.
Rara menutup matanya. Bibirnya terlihat berkomat-kamit memanjatkan doa. Gadis itu lantas menutup lilin sampai padam sambil diiringi tepuk tangan heboh dari Rubina.
"Makasih ya, gue pikir kalian lupa sama ulang tahun gue. Asal kalian tau aja, semalem gue nungguin banget loh ucapan selamat ulang tahun dari kalian." Rara menjatuhkan air matanya saat mengingat bahwa semalam dia mengira sahabatnya lupa dengan hari spesialnya. "gue pikir kalian sibuk, dan juga gue nggak berekspektasi kalian ngasih kejutan kayak gini."
"Sebenarnya gue sama Bina emang sengaja nggak ngucapin. Soalnya kita berdua sengaja mu nyiapin ini," Syifa menjelaskan.
"Selamat ulang tahun ya, bestie. gue harap lo panjang umur, sehat selalu, dan cepet dapet jodoh. gue juga berharap persahabatan kita langgeng," Rubina mengatakannya lalu menghadiahi Rara dengan sebuah pelukan hangat.
Syifa juga tidak mau kalah, dia mendekat ke meja dan meletakkan birthday cake disana.
Setelah itu dia ikut berpelukan. "Semoga geng Chili bakalan terus ada sampai kita tua nanti."
Rubina menjadi orang pertama yang menyudahi pelukan itu.
"Gue ngebayangin loh kalo misalkan geng Chili terus bertahan sampe kita udah tua, mungkin nggak tar kita masih nongkrong di kafe?"
"Ya kali, kita masih nongkorong-nongkrong sambil selfie-selfie. Yang ada kita jadi bahan gibahan yang masih muda."
"Tapi kayaknya seru deh kalo pas kita udah tua nanti tapi masih nongkrong di kafe."
"Kita pikirin itu ntar saja," sahut Rara. "Sekarang kita makan kuenya aja. gue laper banget nih."